Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Hujan Darah di Awan Hijau
Hujan menderu layaknya ribuan jarum es yang menghujam pelataran batu Sekte Awan Hijau. Kilat sesekali menyambar, menerangi malam yang muram dan wajah-wajah dingin para murid sekte yang berdiri melingkar di bawah payung kertas minyak mereka.
Di tengah pelataran, di kubangan lumpur yang mulai berubah warna menjadi merah pekat, seorang pemuda berlutut sambil memegangi perutnya.
Pemuda itu adalah Lin Tian. Jubah abu-abu kusam yang menandakan statusnya sebagai Murid Luar telah robek tak karuan. Darah segar terus merembes dari luka menganga di pusarnya—titik di mana Dantian, pusat energi dan nyawa bagi seorang kultivator, berada.
"Kau terlalu melebih-lebihkan dirimu sendiri, Lin Tian."
Sebuah suara angkuh memecah deru hujan. Zhao Feng, Tuan Muda dari Puncak Awan Hukuman, menatap ke bawah dengan senyum merendahkan. Di tangannya, sebilah pedang perak panjang masih meneteskan darah panas Lin Tian.
Lin Tian mengangkat wajahnya yang pucat pasi. Bibirnya bergetar karena rasa sakit yang merobek jiwa, namun sepasang mata hitamnya menatap tajam bak belati yang tak bisa dipatahkan.
"Kalian... membawa paksa Lin Xue... Dia baru berusia tiga belas tahun!" suara Lin Tian serak, bercampur dengan darah yang menggelegak di tenggorokannya.
Zhao Feng tertawa dingin, menyarungkan pedangnya dengan gerakan elegan. "Bawa paksa? Sungguh kata-kata yang picik. Adikmu memiliki bakat Tubuh Roh Es yang muncul sekali dalam seratus tahun. Tetua Besar secara pribadi mengambilnya sebagai murid langsung. Dia ditakdirkan menjadi naga yang membumbung di atas awan Sembilan Langit!"
Zhao Feng berjongkok, menarik rambut Lin Tian hingga pemuda itu meringis tertahan. "Sedangkan kau? Kau hanyalah sampah dengan bakat akar spiritual tingkat rendah. Kau adalah cacing di tanah. Apakah kau pikir seekor cacing berhak menghalangi jalan seekor naga?"
"Dia... adikku!" Lin Tian menggeram, mencoba mengerahkan sisa tenaga untuk memukul wajah arogan di depannya.
Namun, tanpa Dantian, ia hanyalah manusia fana biasa yang terluka parah. Zhao Feng mendengus, melepaskan cengkeramannya, dan menendang dada Lin Tian hingga pemuda itu terpental beberapa meter, terbatuk darah bercampur air lumpur.
Rasa sakit di perut Lin Tian tak terlukiskan. Dantiannya ibarat cawan porselen yang dipukul godam; hancur berkeping-keping. Sedikit energi Qi yang telah ia kumpulkan dengan susah payah selama lima tahun di tahap Pengumpulan Qi Tingkat 3, kini bocor keluar dan menguap bersama udara dingin malam itu. Kesia-siaan merayapi tubuhnya. Di dunia kultivasi ini, tanpa Dantian, seseorang bahkan lebih rendah dari seekor anjing peliharaan sekte.
Tiba-tiba, sebuah suara tua yang membawa tekanan energi spiritual luar biasa menggema dari salah satu paviliun di puncak gunung.
"Murid Luar Lin Tian, berani menentang keputusan Tetua dan membuat kekacauan. Sesuai hukum sekte, Dantiannya dihancurkan! Mengingat masa pengabdiannya, nyawanya akan diampuni. Buang dia ke Tambang Batu Hitam di Lembah Kematian!"
Mendengar vonis itu, bisik-bisik mencemooh mulai terdengar dari para murid luar yang menonton.
"Tambang Batu Hitam? Itu adalah tempat di mana udara beracun menggerogoti paru-paru. Manusia biasa tanpa perlindungan Qi tidak akan bertahan lebih dari sebulan di sana."
"Dia benar-benar sudah tamat."
"Salah sendiri tidak tahu diri. Adik perempuannya akan hidup makmur, sementara dia mencari mati."
Zhao Feng menatap Lin Tian untuk terakhir kalinya dengan tatapan jijik. "Kau dengar itu, Sampah? Nikmatilah sisa hidupmu yang menyedihkan di kegelapan."
Zhao Feng berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh para pengawalnya. Dua orang penjaga penegak hukum sekte berwajah kasar maju, tanpa ampun menyeret tubuh Lin Tian yang setengah sadar menembus hujan badai.
Pandangan Lin Tian mulai mengabur. Dinginnya hujan mulai meresap ke dalam sumsum tulangnya, namun api di dalam dadanya menolak untuk padam. Bayangan senyum adiknya, Lin Xue, terlintas di benaknya. Ia tahu, alasan adiknya dibawa bukanlah semata-mata untuk dijadikan murid. Ada desas-desus gelap tentang petinggi sekte yang menggunakan kultivator bertubuh yin murni sebagai kuali hidup (human cauldron) untuk menerobos batas kultivasi mereka.
Aku tidak boleh mati...
Di tengah guncangan kereta tahanan yang membawanya membelah hutan malam, Lin Tian menggigit bibir bawahnya hingga robek. Rasa anyir darah membuatnya tetap sadar.
Mereka mengira menghancurkan Dantianku berarti menghancurkan masa depanku.
Jari-jemari Lin Tian yang penuh luka dan kapalan mencengkeram lantai kayu kereta yang kasar. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Di dunia ini, Qi dikumpulkan di Dantian. Itu adalah hukum besi. Jutaan kultivator mengikuti jalan yang sama selama ribuan tahun.
Tetapi jika langit dan bumi menggariskan bahwa tanpa Dantian seseorang adalah sampah, maka Lin Tian bersumpah untuk menentang langit itu.
Jika cawan itu hancur, maka aku akan menjadikan seluruh tubuhku sebagai cawan! Jika udara menolak untuk masuk, maka aku akan menelannya secara paksa!