NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitrika Shanty

​Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
​Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Atas Ayunan Perak

Kehangatan fajar yang biasanya menyapa Istana Cahaya kini terasa dingin dan mencekam. Meskipun upaya penculikan oleh Nenek Shira berhasil digagalkan, sisa-sisa kabut ungu sihir tidur masih menyisakan aroma pahit di udara. Kamar bayi yang dulunya merupakan tempat paling damai di seluruh kekaisaran, kini menjadi pusat kecemasan bagi sepasang penguasa Kerajaan Li.

​Li Hua duduk di tepi ranjang besar, memandangi Tian Shu dan Li Mei yang tertidur kembali setelah kelelahan mengeluarkan energi insting mereka. Di sampingnya, kaisar Tian Long berdiri mematung, tangannya menggenggam hulu pedang naga hitamnya dengan sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Mereka masih bayi, Tian Long," bisik Li Hua, suaranya parau. "Bagaimana mungkin dunia sudah meminta mereka untuk menjadi prajurit? Kekuatan yang keluar dari tubuh Tian Shu saat memanggil burung-burung itu... itu bukan kekuatan manusia biasa. Itu adalah kekuatan murni dari inti bumi."

​Tian Long berbalik, wajahnya yang tegas kini tampak sangat lelah. "Dan Li Mei... dia melihat serangan itu sebelum terjadi. Dia menangis bukan karena takut, tapi karena dia sudah merasakan rasa sakit sebelum musuh itu melompat masuk. Jika kita tidak bisa mengajari mereka mengendalikan ini, mereka akan menjadi sasaran empuk—atau lebih buruk, mereka akan menjadi penghancur tanpa sengaja."

​Paviliun Bambu: Aliansi yang Tak Terduga

​Di sisi lain kompleks istana, Mu Feng sedang mengobati luka di lengannya. Ia menolak bantuan tabib istana, lebih memilih menggunakan tanaman obat yang ia tanam sendiri. Li Hua datang menemuinya, membawa nampan berisi teh hangat dan kain pembalut luka yang bersih.

​"Kau berhutang penjelasan padaku, Mu Feng," ucap Li Hua sambil duduk di hadapannya. "Nenek Shira menyebutmu sebagai muridnya. Berapa banyak lagi rahasia klan Mu yang belum aku ketahui?"

​Mu Feng menghela napas panjang, asap teh mengepul di antara mereka. "Klan Mu yang kau kenal hanyalah permukaannya, Kakak. Di bawah tanah, di pegunungan terlarang, terdapat sekta yang disebut Penyembah Inti Darah. Nenek Shira adalah pemimpinnya. Mereka percaya bahwa kekuatan Mata Emasmu hanyalah sebuah 'kunci'. Sedangkan kekuatan yang ada pada anak-anakmu... itulah 'pintu' menuju kekuatan dewa yang bisa mengendalikan elemen alam dan waktu."

​Mu Feng menatap mata Li Hua dengan serius. "Mereka tidak akan berhenti. Bagimu, mereka adalah anak-anak. Bagi Nenek Shira, mereka adalah alat untuk membangkitkan Kaisar Kuno yang akan membawa dunia kembali ke zaman kegelapan. Dan yang lebih buruk, berita tentang kekuatan anak-anakmu telah bocor keluar dari tembok istana."

​Diplomasi di Ujung Pedang

​Benar saja, hanya dalam hitungan hari, perwakilan dari tiga kerajaan tetangga kerajaan Angin dari Utara, Kerajaan Bara dari Selatan, dan Federasi Pesisir dari Timur tiba secara mendadak di gerbang kota. Mereka tidak membawa upeti, melainkan ribuan pasukan yang bersiaga di perbatasan.

​Pertemuan diadakan di Aula Utama. Suasana sangat tegang. Para duta besar itu tidak lagi membungkuk hormat seperti biasanya.

​"Yang Mulia Kaisar Tian Long," ucap Duta Besar Utara, seorang pria tua dengan jenggot panjang yang tampak ketakutan. "Kami datang membawa kekhawatiran rakyat kami. Desas-desus tentang anak-anakmu yang bisa menggerakkan badai dan melihat masa depan telah menciptakan kepanikan. Dunia tidak bisa merasa aman jika ada kekuatan sebesar itu yang tumbuh tanpa pengawasan internasional."

​"Pengawasan internasional?" kaisar Tian tertawa dingin, sebuah tawa yang membuat para duta besar saling pandang. "Kalian bicara seolah-olah anak-anakku adalah senjata perang. Mereka adalah bayi yang baru belajar merangkak!"

​"Tapi mereka adalah bayi yang bisa meruntuhkan tembok benteng hanya dengan satu tangisan!" teriak Duta Besar Selatan. "Kami menuntut agar anak-anak itu diserahkan kepada Dewi Netral di Kuil Tinggi untuk dididik secara terpisah dari politik praktis, atau kami akan menyatakan perang serentak untuk menetralisir ancaman ini demi keselamatan dunia!"

​Li Hua berdiri dari kursi permaisurinya. Langkahnya tenang, namun setiap langkahnya memancarkan aura Mata Emas yang tertahan. Ia mendekati para duta besar itu hingga hanya berjarak beberapa inci.

​"Kalian bicara tentang keselamatan dunia," suara Li Hua rendah namun menusuk. "Tapi yang kalian inginkan adalah memastikan bahwa Kerajaan Li tidak menjadi terlalu kuat. Kalian takut suatu hari nanti anak-anakku akan menaklukkan kerajaan kalian. Dengarkan aku baik-baik: Tidak ada ibu di dunia ini yang akan menyerahkan anaknya kepada orang asing hanya karena kalian merasa terancam oleh potensi mereka. Jika perang adalah harga yang harus aku bayar untuk memeluk anak-anakku setiap malam, maka biarlah langit menjadi saksi bahwa aku akan membakar setiap jengkal tanah yang berani melangkah masuk ke rumahku!"

​Latihan di Dalam Sunyi

​Setelah mengusir para duta besar, Li Hua menyadari bahwa ia harus bertindak cepat. Ia membawa kedua anaknya ke sebuah ruang bawah tanah yang dilapisi oleh kristal penetral energi, sebuah ruangan yang dibangun oleh mendiang Mo Ran. Di sana, ia meminta Mu Feng untuk membantu melatih "insting" anak-anak itu.

​Pemandangan itu sungguh luar biasa sekaligus menyedihkan. Seorang balita seperti Tian Shu harus belajar bagaimana cara "menutup" telinganya dari bisikan alam. Li Hua harus mengajari bayi laki-laki itu untuk tidak menanggapi setiap serangga atau burung yang memanggilnya, karena setiap kali ia menanggapi, energi tubuhnya terkuras drastis.

​Sementara itu, Li Mei harus diajarkan untuk tetap fokus pada saat ini. Bayi perempuan itu sering kali menangis histeris karena ia melihat bayangan kehancuran istana di masa depan—mimpi buruk yang belum terjadi namun terasa sangat nyata baginya.

​Li Hua memeluk Li Mei, mengalirkan energi ketenangan dari jiwanya. "Lihat ibu, Li Mei. Jangan lihat masa depan. Lihat mata ibu. Di sini aman."

​Mu Feng memperhatikan dari sudut ruangan. Ia melihat betapa beratnya beban yang dipikul Li Hua. "Mereka akan menjadi luar biasa, Kakak. Tapi kau harus siap. Nenek Shira telah bersekutu dengan para duta besar itu. Mereka tidak menginginkan perdamaian, mereka hanya menginginkan alasan untuk menyerang."

​Pengkhianatan di Dalam Benteng

​Malam itu, saat seluruh istana bersiap untuk kemungkinan pengepungan, sebuah ledakan terjadi di gudang senjata utama. Bukan dari luar, tapi dari dalam. Beberapa pengawal istana yang ternyata adalah anggota Sekta Pemurni Jiwa yang menyamar, mulai membakari lumbung pangan.

​"Ini adalah pengalihan!" teriak Tian Long sambil menghunus pedangnya.

​Di tengah kekacauan, Nenek Shira muncul kembali, kali ini dengan wujud yang lebih mengerikan. Ia menggunakan sihir hitam untuk mengendalikan tubuh beberapa pengawal istana, mengubah mereka menjadi boneka hidup yang tidak bisa merasakan sakit.

​"Li Hua! Berikan anak-anak itu sekarang!" Nenek Shira melayang di udara, rambut putihnya berkibar seperti ular.

​Li Hua berdiri di depan pintu kamar bayi, memegang pedang pendek. Namun, tiba-tiba, Tian Shu yang terbangun dari tidurnya merangkak keluar. Bayi itu tidak menangis. Matanya bersinar hijau terang. Ia meletakkan telapak tangan kecilnya ke lantai.

​Seketika, akar-akar pohon raksasa menjalar keluar dari bawah lantai istana, melilit kaki-kaki para pengawal yang kerasukan dan menghancurkan tongkat sihir Nenek Shira. Kekuatan Tian Shu beresonansi dengan tanah di bawahnya.

​Bersamaan dengan itu, Li Mei berdiri dengan goyah, menunjuk ke arah Nenek Shira. "Api... di sana!"

​Detik berikutnya, sebuah obor yang terjatuh dari dinding tiba-tiba meledak tepat di wajah Nenek Shira, seolah takdir dipaksa untuk mempercepat kejadian yang dilihat oleh Li Mei.

​Nenek Shira terpaksa mundur kembali dengan luka bakar di wajahnya, namun kerusakan sudah terjadi. Sebagian istana hancur oleh akar pohon Tian Shu, dan ketakutan para menteri mencapai puncaknya. Mereka melihat anak-anak itu bukan sebagai manusia, melainkan sebagai entitas yang tak terkendali.

​Tian Long dan Li Hua berdiri di tengah puing-puing. Mereka menyadari bahwa tinggal di istana bukan lagi pilihan yang aman bagi anak-anak maupun bagi rakyat mereka.

​"Kita harus membawa mereka pergi," bisik Tian Long. "Bukan ke biara atau kuil, tapi ke tempat di mana mereka bisa tumbuh sebagai manusia biasa sebelum mereka belajar menjadi penguasa."

​Li Hua menatap kedua anaknya yang kini tertidur lelap di gendongannya, lelah setelah mengeluarkan kekuatan besar. "Ke mana kita akan pergi, yang mulia? Seluruh dunia sedang mencari kita."

​"Ke tempat di mana semuanya dimulai," jawab Li Hua, matanya menatap ke arah Pegunungan Giok yang berselimut kabut. "Ke tempat para leluhur klan Mu menyimpan rahasia tentang bagaimana cara menidurkan kekuatan ini sampai mereka cukup dewasa untuk memikulnya."

​Namun, di perbatasan, pasukan dari tiga kerajaan mulai menyulut obor perang. Langit Kerajaan Li tidak lagi damai. Pertempuran demi melindungi "Dua Bintang" baru saja memasuki fase yang paling berdarah.

1
EF Shahna
kaya nya bakal seru cerita selanjutnya
Dedeh Dian
Hem sangat sangat bagus sekali ceritanya... apalagi bagi AQ yg cepat tersentuh... makasih author
Rika Ashanty: sama-sama ka🙏👍terus jadi pembaca setia ya,maksih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!