Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sebuah perahu tampak terbalik di sebuah pantai. Beberapa bagiannya hancur dan berlubang. Tak jauh dari benda itu berada, tepatnya di dalam hutan, beberapa orang terlihat terbaring tak sadarkan diri, sedangkan sisanya duduk di atas pasir dan batu, sangat kelelahan.
Matahari menyengat terik, disusul oleh angin yang berembus pelan dan sedikit panas. Ombak beberapa kali menghantam pantai dan batu. Kawanan burung bergerak beriringan di atas langit, memekik cukup kencang, membuat sebagian orang terus terjaga.
Dua orang pria terlihat memetik buah-buahan di pohon, terdiam selama beberapa waktu. Luka terlihat beberapa bagian tubuh mereka. Terlihat jelas wajah lelah mereka.
Taro mengembus napas panjang, mengamati buah-buahan dalam keranjang. "Sial! Meski kita selamat dari badai semalam, kita justru terjebak di pulau ini sekarang."
Simon melemparkan sebuah apel pada Taro, memetik sebanyak mungkin buah di pohon. "Kau seharusnya bersyukur karena kita semua berhasil selamat. Keadaan semalam sangat kacau hingga banyak dari kita yang terlempar dari kapal dan nyaris mati tenggelam. Kita beruntung karena tidak ada dari kita yang mati di laut."
"Kau selalu saja berpikir positif dalam berbagai keadaan, Simon."
Taro mengamati keadaan sekeliling sesaat, memejamkan mata ketika angin berembus pelan. "Kau juga harus berpikir hal terburuk dalam berbagai situasi. Lihatlah sekelilingmu sekarang. Pulau ini terbilang kecil dan miskin untuk memenuhi kehidupan kita dalam waktu lama. Kita mungkin hanya bisa bertahan selama beberapa hari di tempat ini. Di saat yang sama, kita juga harus memperbaiki kapal dan alat-alat kita sebelum Galata menemukan keberadaan kita."
"Aku yakin kita bisa segera pergi dari pulau ini setelah semuanya siap. Kita sudah cukup dekat dengan Monteno sekarang. Ketika kapal sudah diperbaiki, kita bisa langsung pergi. Perbaikan alat bisa dilakukan selama kita dalam perjalanan."
"Akan sulit jika Galata menyerang saat kita berada di laut, apalagi kondisi kita masih belum pulih seutuhnya akibat badai semalam. Ditambah, ada kemungkinan jika anggota lain berkhianat demi menyelamatkan diri."
"Kemungkinan itu sangat mungkin terjadi. Faktanya, kita hanya sekumpulan orang asing yang terpaksa menyatu." Simon mengepalkan tangan erat-erat, menoleh ke arah kerumunan anggota di balik semak-semak. "Akan tetapi, aku pikir mereka lebih memilih bergabung dengan kita dibandingkan harus mengalah pada Galata."
Taro menyeka keringat, mengamati awan hitam yang bergerak pelan. Angin panas mulai berubah dingin. Pria itu segera memenuhi keranjang dengan buah-buahan liar.
Simon dan Taro diam selama beberapa waktu, mempercepat pekerjaan mereka. Setelah keranjang penuh, keduanya berjalan mengikuti sebuah jalan setapak. Begitu keluar dari semak-semak, mereka melihat anggota-anggota lain tengah menyiapkan makanan, mengurus orang sakit, dan memperbaiki alat-alat.
Simon dan Taro mengumpulkan makanan di sebuah keranjang, duduk bersama anggota lain. Kelompok itu makan nyaris tanpa memikirkan rasa lezat, memaksakan diri agar tetap memiliki tenaga.
"Bagaimana dengan anggota yang terluka? Apakah mereka sudah bangun dan bisa kembali beraktivitas?" tanya Simon.
"Mereka kebanyakan sudah sadar, tetapi mereka masih sangat lemah sekarang. Sayangnya, beberapa orang masih tidak sadarkan diri meski sudah ditangani. Mereka orang yang nyaris tewas dalam kejadian semalam," jawab seorang anggota wanita yang duduk tidak jauh dari Simon.
"Keadaan kita sangat terdesak sekarang. Selain kekurangan bahan makanan, kita juga tidak memiliki cukup anggota yang siap. Mau tidak mau kita harus meninggalkan orang-orang yang lemah dan sakit jika keadaan darurat terjadi. Sayangnya, jika kita melakukan hal itu, kita akan semakin kehilangan anggota dan membuat keadaan kita semakin buruk," sahut seorang pria berambut panjang, menoleh pada beberapa anggota yang masih terbaring tidak sadarkan diri di bawah pohon.
"Perbaikan kapal akan sedikit terlambat sebab kita kekurangan alat-alat. Jika tidak ada halangan, kita bisa pergi lusa."
"Itu waktu yang cukup lama. Galata bisa saja menemukan kita sebelum kita sempat keluar dari pulau ini. Dengan keadaan kita sekarang, kita tidak akan mampu bertahan."
"Akan sangat berbahaya jika kita memaksakan diri berlayar dengan kapal seadanya. Kita tentu tahu bagaimana ganasnya laut ini semalam. Menggunakan alat-alat kita pun terlalu berisiko karena akan mengundang perhatian Galata."
Tidak ada lagi obrolan di antara orang-orang itu. Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak lama setelahnya, mereka kembali pada tugas mereka masing-masing.
Simon mengembus napas panjang, ikut membantu memperbaiki alat-alat. “Aku belum mendapatkan informasi mengenai pemimpin UltraTech bernama Lorcan sampai saat ini. Apakah dia sudah tertangkap Galata, atau dia sudah membentuk kelompok lain bersama anggota UltraTech?”
"Aku tahu bagaimana perasaan Lorcan saat aku memintanya untuk bekerja sama, terlebih aku adalah orang yang sudah menyusup ke dalam markas UltraTech dan membuat masalah. Dia menolak bekerja sama karena dia merasa mampu melakukan semuanya sendiri."
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Matahari yang memancarkan sinar dan cahaya yang panas mendadak tergulung oleh awan hitam. Bersamaan dengan angin dingin yang berembus kencang dan ombak yang semakin ganas menyerang pantai dan batu karang, hujan deras mendadak mengguyur deras.
Simon, Taro, dan orang-orang berteduh di bawah pohon dan tenda-tenda. Mereka masih berkutat dengan perbaikan alat-alat dan kapal. Petir beberapa kali menggelegar, membuat keadaan terang dan suasana menjadi lebih menyeramkan.
Di tengah ketidakpastiaan nasib yang mereka alami sekarang, mereka fokus untuk melakukan semua hal yang mereka bisa lakukan. Sayangnya, keadaan semakin bertambah buruk karena beberapa pohon tersambar petir dan air mulai naik ke daratan.
Di lokasi yang berbeda, pasukan Galata tengah memeriksa pulau-pulau untuk menemukan anggota yang masih melarikan diri. Mereka berpencar ke berbagai lokasi sampai akhirnya mereka berkumpul di sebuah pulau karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk meneruskan pencarian.
"Aku menemukan benda-benda ini di laut," ujar seorang Galata seraya menyimpan beberapa potongan benda. "Benda-benda ini adalah bagian dari kapal dan beberapa alat buatan UltraTech, Saber, dan DeepCore."
"Orang-orang sialan itu kemungkinan besar menyeberangi laut menggunakan kapal. Mereka sengaja tidak menggunakan alat-alat canggih mereka untuk menghindari sistem kita mendeteksi mereka. Akan tetapi, karena badai semalam, alat-alat mereka justru rusak."
"Kelompokku sudah mengirim pasukan robot untuk menyusuri laut. Berdasarkan informasi, terdapat beberapa pulai di sebelah utara dan timur. Orang-orang itu kemungkinan masih berada di sana."
Sementara itu, dua pasukan khusus pergi ke titik keberadaan Luc dan Graham. Draco mengamati kepergian mereka dari layar, tersenyum.
"Aku mengirim beberapa orang berkemampuan bersama dua pasukan itu. Aku harus waspada sebab Luc dan Graham adalah sosok yang cerdas dan berbahaya. Luc berhasil lolos dari pencarian UltraTech selama ini, sedangkan Graham mampu lolos dari cengkeram UltraTech meski kondisinya sangat terpuruk."
Dua pasukan khusus itu melewati portal yang mendekatkan jarak mereka dengan lokasi keberadaan Luc dan Graham.
Draco tersenyum, melirik ke arah pintu saat seorang bawahannya datang bersama seorang berkemampuan khusus.
"Aku sudah membawa orang yang Anda minta, Ketua," ujar seorang pria tinggi bertopeng harimau.
Draco tersenyum bengis. "Kerja bagus. Aku tidak sabar melihat wajah orang-orang sialan itu.”
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍