NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Selamatkan Aku Farris!

Sambil terus memotong ayam dan menggorengnya di wajan, aku dengar dua cowok itu mengobrol di ruang tamu.

Tanganku memasukkan bawang putih sama rempah-rempah ke wajan saat Farris bicara, “Kamu udah ngelewatin pertunjukan balet yang keren, Bro. Perusahaan yang aku beli bakal jadi yang terbaik di negara ini.”

Balet?

Dia punya perusahaan balet?

Susah saja, membayangkan bos mafia peduli sama seni, apalagi balet.

“Aku enggak tertarik, bro!” jawab Braun “Aku lebih tertarik sama kemampuan meretas kamu. Ada temuan baru soal Noor?”

Aku merasa bisa sedikit rileks sekarang, soalnya suasananya sudah enggak setegang tadi.

Begitu ayamnya matang, aku angkat dari wajan panas. Aku ambil tiga piring, menata irisan alpukat, tomat ceri, sama mentimun di atas selada.

Dengan hati-hati aku taruh irisan ayam panggang di atasnya, lalu balik lagi ke wajan buat menumis jagung. Jagung itu aku taburkan ke atas salad.

Aku terlalu fokus sama apa yang sedang aku kerjakan sampai enggak lagi dengar obrolan mereka saat aku membuat Dressing salad ala minute.

Begitu selesai, aku siram sausnya ke atas salad, terus bersihin pinggiran piring biar tampilannya rapi.

“Lumayan,” suara Farris tiba-tiba muncul di belakangku.

Gila.

Dia membuatku terkejut.

Aku loncat sambil pegang dada, merasakan jantungku deg-degan kencang.

“Ya Tuhan,” kata itu langsung menyelonong keluar dari mulutku. Mataku melotot saat menengok ke arahnya.

Pasti mereka sudah balik ke dapur saat aku lagi bengong.

“Maaf. Aku enggak bermaksud nakut-nakutin kamu,” kata Farris. Dia kelihatan … tulus. “Maaf.”

Braun mendengus kesal sambil jalan ke laci, mengambil alat makan, terus lewat di samping aku dan membanting pisau garpu ke meja dapur.

“Ayo makan!” perintahnya.

Dia duduk, dan Farris ikut gabung.

Saat aku masih berdiri, Braun melirikku dengan tatapan peringatan. Aku langsung duduk tegak dan ambil pisau sama garpu. Aku tarik piringku lebih dekat, potong ayamnya, lalu gigit.

Pandanganku tetap tertuju ke makanan, walaupun kehadiran dua cowok berbahaya dan berkuasa itu membuatku susah menikmati makanannya.

Farris mengerang pelan lalu bilang, “Sausnya enak banget. Gimana caranya kamu bikin rasanya manis tapi pedas?”

“Madu sama mustard,” gumamku tanpa menengok.

“Aku mau kamu bikinin sebotol penuh. Biar bisa aku makan di rumah.”

Kali ini aku menengok Braun. Dia mengangguk.

“Aku boleh pergi sekarang?” tanyaku, enggak mau bikin Braun kecewa.

“Enggak. Habiskan makananmu!”

Aku lanjut makan sambil sesekali melirik mereka. Untuk pertama kalinya sejak aku kejeblos ke dalam mimpi buruk ini, ada rasa hangat sedikit di dadaku saat melihat mereka menikmati salad buatan aku.

Begitu selesai makan, aku langsung berdiri dan ambil mangkuk dari lemari.

Saat aku mulai membuat saus, Farris berdiri dari kursinya, mengambil piring, dan lanjut makan sambil memperhatikan apa yang aku lakukan.

“Kamu suka masak?” tanyanya di sela kunyahannya.

“Iya,” jawabku pelan.

“Kamu kerja di restorannya Nyonya ... benar, kan?”

Aku mengangguk tanpa memberikan detail apa pun.

“Aku baca restoran itu dapat bintang Michelin, sementara kamu kerja di sana?”

Aku mengangguk lagi. Dadaku perih, karena aku enggak tahu apakah aku bakal bisa kerja di restoran itu lagi.

Waktu sadar Braun bisa saja menahanku menjadi tawanan seumur hidup, emosi langsung menghimpit dadaku.

Semua harapan dan mimpiku seperti lepas dari genggaman. Aku harus kehilangan semuanya lagi.

“Kamu enggak apa-apa?” tanya Farris.

Begitu tangannya menyentuh punggungku, aku langsung menjauh dan hampir mejatuhkan mangkuk.

“Udah aku bilang, jangan sentuh dia!” kata Braun ke Farris dengan nada dingin. Lalu ke aku, “Selesaikan sausnya.”

Aku memaksa diri buat mengabaikan rasa hancur di dada. Dengan cepat aku menambahkan rempah-rempah dan mengaduknya.

Begitu selesai, aku taruh mangkuk di meja dan mulai mencari wadah di lemari buat simpan sausnya.

“Kamu lagi nyari apa?” tanya Braun.

“Botol atau apa pun yang bisa aku pakai buat naruh saus,” jawabku.

Dia berdiri, jalan ke kulkas, lalu mengambil sebotol air. Setelah menghabiskan isinya ke wastafel, dia menyodorkan botol itu ke aku.

Aku tuang sausnya pelan-pelan ke dalam botol, lalu taruh di atas meja dekat Farris.

Waktu aku lagi mengumpulkan piring-piring kotor, Braun bicara, “Tinggalin aja ... Pergi istirahat.”

Tanpa menunggu dia berubah pikiran, aku langsung kabur dari dapur.

Begitu aku naik tangga, suara Braun terdengar lagi. “Berhenti coba-coba goda cewek itu. Dia tahanan.”

“Tahanan milik kamu,” gumam Farris. “Aku cuma mau bersikap ramah sama dia, toh dia enggak masalah!"

“Kamu yang lagi nyari masalah!” geram Braun, memperingatkan.

“Broo, kamu tahu Quinn enggak melakukan apa-apa. Enggak ada yang salah sama dia. Kamu lagi nyiksa cewek yang enggak bersalah.”

Dengar omongan Farris, langkahku berhenti di tengah tangga.

“Ginjal Naveen ada di dalam tubuhnya,” geram Braun. Nada suaranya penuh amarah dan rasa sakit yang dalam banget.

“Itu bukan salah dia. Bunuh aja Papanya, terus biarin cewek itu pergi.”

Braun terdiam beberapa detik, lalu bilang, “Jangan ikut campur urusan aku, atau kita bakal punya masalah.”

Karena terlalu nekat, aku pelan-pelan turun beberapa anak tangga dan mengintip ke arah dapur. Di sana, aku melihat mereka berdiri hampir saling berhadapan.

Farris mengeluarkan napas panjang, ekspresi khawatir jelas di wajahnya. Dia taruh tangan di bahu Braun. “Aku enggak mau kamu ngelakuin sesuatu yang bakal kamu sesalin. Aku khawatir sama kamu, Bro.”

“Aku tahu apa yang aku lakuin ... enggak usah khawatir,” jawab Braun.

Nada bicaranya … enggak sekasar biasanya.

Begitu dia berbalik, aku langsung naik lagi dan lari ke kamarku. Kunjungan Farris membuatku melihat sisi lain dari Braun.

Bahkan saat marah pun, dia masih bisa mengendalikan emosinya.

Setelah menutup pintu, aku berdiri sambil menatap lantai.

Farris menganggap aku enggak bersalah dan enggak setuju Braun menahanku sebagai tawanan.

Astaga.

Farris bisa jadi jalan keluar aku dari kekacauan ini.

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!