Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Altar Penebusan dan Darah
Hari itu, langit Jakarta tampak seputih mutiara, seolah-olah alam sedang berusaha menyamarkan noda hitam yang menyelimuti pernikahan agung di Katedral Eduardo. Ratusan bunga lili putih dan mawar impor menghiasi setiap sudut gereja tua yang megah itu. Aroma kemenyan dan wangi bunga memenuhi udara, namun bagi Almira, itu adalah aroma kematian bagi kebebasannya.
Ia berdiri di depan cermin besar ruang rias, mengenakan gaun pengantin sutra yang harganya setara dengan rumah mewah. Renda Prancis yang rumit menutupi kulitnya, dan sebuah tiara berlian bertengger di kepalanya. Namun, di balik riasan wajah yang sempurna karya penata rias ternama, matanya tampak seperti sumur tua yang kering—tak ada lagi air mata, yang tersisa hanyalah kekosongan yang membeku.
"Neng... sudah waktunya," bisik Bi Inah yang diizinkan datang untuk menemani. Wanita tua itu mengusap bahu Almira dengan penuh kesedihan. Ia tahu, di balik kemegahan ini, ada seorang gadis yang sedang dikurbankan.
Almira mengangguk tanpa suara. Ia memegang buket bunga dengan tangan yang dibungkus sarung tangan renda, menyembunyikan getaran hebat yang tak kunjung hilang sejak ia membaca dokumen wasiat malam itu.
Pintu gereja terbuka lebar. Musik organ yang megah mulai bergema, menciptakan suasana sakral yang justru terasa mencekam bagi Almira. Ia melangkah sendirian menyusuri koridor panjang, karena ayahnya—atau pria yang ia duga sebagai ayahnya—telah lama tiada dalam kehinaan.
Di ujung altar, Alexander Eduardo berdiri dengan setelan tuxedo hitam yang sempurna. Ia tampak seperti dewa Yunani yang angkuh, kokoh, dan tak tersentuh. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Almira, ada kilatan emosi yang melintas—sebuah campuran antara rasa puas, rasa bersalah, dan obsesi yang semakin liar. Bagi Alex, pernikahan ini adalah deklarasi kemenangan atas dunia, atas Elara, dan atas Almira sendiri.
Saat Alex meraih tangan Almira di depan pendeta, telapak tangan pria itu terasa panas dan protektif. Ia menggenggam tangan Almira begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis itu akan menguap tertiup angin.
"Kau sangat cantik, Almira," bisik Alex, suaranya rendah dan penuh kepemilikan.
Almira tidak menjawab. Ia menatap lurus ke depan, ke arah salib besar, memohon dalam hati agar Tuhan memberinya kekuatan untuk tidak pingsan di tempat ini.
Acara pemberkatan berlangsung dengan khidmat. Di barisan depan, Elara duduk dengan wajah yang ditutupi cadar hitam tipis, seperti sedang menghadiri pemakaman daripada pernikahan. Matanya yang tajam terus mengawasi setiap gerak-gerik pasangan di altar, menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan bom terakhirnya.
"Alexander Eduardo, apakah engkau bersedia menerima Almira Nindya sebagai istrimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
"Saya bersedia," jawab Alex dengan suara mantap yang menggema ke seluruh ruangan.
"Almira Nindya, apakah engkau bersedia—"
Sebelum pendeta sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah keributan terjadi di pintu masuk gereja. Beberapa orang pria berpakaian hitam merangsek masuk, berteriak-teriak tentang ketidakadilan saham. Mereka adalah para demonstran sewaan yang diatur oleh pihak oposisi dewan direksi untuk merusak citra Alex di depan para investor dan media yang meliput secara langsung.
"Pernikahan ini palsu! Eduardo hanya menginginkan ahli waris untuk mencuri hak kami!" teriak salah satu dari mereka.
Keamanan segera bertindak, namun kekacauan tak terhindarkan. Lampu kilat kamera wartawan menyambar-nyambar seperti petir. Di tengah kegaduhan itu, Elara bangkit dari duduknya. Ia tidak berteriak, ia hanya memberikan isyarat kecil kepada seseorang di lantai atas balkon gereja.
Sebuah lampu gantung kristal yang berada tepat di atas altar tiba-tiba berderit. Rantainya sengaja diputus sebagian.
"Almira, awas!" teriak Alex.
Dalam hitungan detik, insting pelindung Alex bekerja lebih cepat daripada logikanya. Saat lampu kristal raksasa itu jatuh, Alex menarik Almira ke pelukannya dan memutar tubuh mereka.
BRAAAKKK!
Suara dentuman kristal yang pecah menghantam lantai marmer mengejutkan semua orang. Jeritan memenuhi ruangan. Debu dan serpihan kaca beterbangan di udara.
Alex jatuh tersungkur dengan Almira di bawahnya. Punggung Alex tertusuk serpihan kaca besar, darah segar mulai merembes membasahi kemeja putih dan jas hitamnya. Namun, tangan Alex tetap melindungi kepala dan perut Almira, memastikan gadis itu dan janinnya tidak terkena hantaman langsung.
"Alex! Kau berdarah!" Almira berteriak, matanya membelalak melihat noda merah yang semakin melebar di jas suaminya. Untuk pertama kalinya, rasa benci di hatinya kalah oleh rasa takut kehilangan.
Wartawan berebut mendekat, bukan untuk menolong, tapi untuk mendapatkan foto terbaik dari skandal berdarah ini. Para investor berbisik-bisik panik, beberapa mulai meninggalkan ruangan, menganggap kepemimpinan Alex membawa kutukan bagi perusahaan.
"Tuan Alex! Kita harus segera keluar! Para pemegang saham sedang menunggu penjelasan Anda tentang kerusuhan ini di ruang samping!" teriak orang kepercayaan Alex, menarik lengannya. "Jika Anda tidak segera memberikan pernyataan, nilai saham kita akan hancur total!"
Alex meringis menahan sakit di punggungnya. Ia menatap pintu samping di mana para investor berpengaruh sedang menunggu nasib uang mereka. Lalu, ia menatap Almira yang sedang gemetar, wajahnya pucat pasi dan nafasnya tersengal karena syok. Janin di dalam perutnya mungkin juga dalam bahaya akibat tekanan ini.
"Persetan dengan saham," desis Alex.
Ia mengabaikan asistennya. Ia mengabaikan kamera-kamera yang menyorotnya. Dengan sisa tenaganya, Alex kembali menggendong Almira. Darahnya menetes di lantai marmer gereja, menciptakan jejak merah di atas karpet putih.
"Kita ke rumah sakit. Sekarang!" perintah Alex kepada pengawalnya.
"Tapi Tuan, citra perusahaan—"
"Aku bilang rumah sakit! Jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku, aku sendiri yang akan menghancurkan perusahaan itu!" raung Alex dengan kemarahan yang membuat semua orang terdiam.
Di dalam mobil ambulans pribadi yang melaju kencang, Alex terbaring lemas dengan posisi tengkurap sementara paramedis berusaha menghentikan pendarahan di punggungnya. Almira duduk di sampingnya, memegang tangan Alex yang mulai terasa dingin.
"Kenapa... kenapa Anda melakukannya?" tanya Almira dengan isak tangis yang tertahan. "Anda bisa saja meninggalkan saya dan menyelamatkan perusahaan Anda. Itu yang Anda inginkan sejak awal, kan? Kekuasaan?"
Alex membuka matanya sedikit, menatap Almira dengan pandangan sayu namun tajam. "Dua triliun itu... tidak ada artinya jika aku tidak punya seseorang untuk melihatku saat aku pulang, Almira. Aku... aku memang bajingan, tapi aku tidak akan membiarkan sejarah ayahku terulang. Aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian seperti ibumu."
Almira terdiam. Di tengah deru sirine ambulans, ia menyadari sesuatu yang menakutkan. Dinding kebencian yang ia bangun setinggi langit mulai retak. Pria ini, yang telah menghancurkan hidupnya, baru saja mempertaruhkan nyawa dan kekuasaannya demi dirinya.
Apakah ini bentuk manipulasi lain? Ataukah ini adalah cara Alexander Eduardo menunjukkan cinta—sebuah cinta yang cacat, kasar, dan posesif, namun nyata?
Penderitaan batin Almira kini berganti menjadi kebingungan yang menyiksa. Ia mencengkeram tangan Alex, seolah takut pria itu akan benar-benar pergi sebelum ia sempat memberikan jawaban atas janji pernikahan mereka.
Malam itu, Alexander Eduardo menjalani operasi darurat untuk mengeluarkan serpihan kristal dari punggungnya. Almira menunggu di depan ruang operasi, masih mengenakan gaun pengantinnya yang kini ternoda darah Alex. Elara berdiri di kejauhan, menatap dengan kebencian yang mendalam karena rencananya gagal membunuh janin itu, malah justru membuat Alex dan Almira semakin terikat secara emosional.
Pernikahan mereka kini sah di mata hukum dan Tuhan, namun sakramen itu tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan darah. Sebuah awal dari babak baru yang lebih gelap dan penuh intrik, di mana cinta mulai merayap masuk ke dalam sangkar duri yang mereka ciptakan sendiri.