NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6_CARA BERTAHAN ALA NAYLA

Nayla bangun pagi dengan kepala sedikit pening, tapi ekspresinya justru datar, bahkan cenderung santai.

Kalau ada satu hal yang Nayla pelajari sejak kecil, itu adalah satu aturan sederhana:

kalau hidup keras, jangan kelihatan rapuh.

Ia berdiri di depan cermin kamar, mengikat rambut asal-asalan, lalu menepuk pipinya dua kali.

“Udah, jangan drama,” gumamnya pada diri sendiri.

Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar. Azka lewat tanpa menoleh, seperti biasa. Nayla melirik sekilas dari balik pintu, lalu mengangkat bahu kecil.

Cuekin balik aja.

Di meja makan, suasana masih sama, sunyi dan kaku. Nayla duduk, mengambil roti, lalu menggigitnya tanpa ragu. Tidak ada lagi sikap hati-hati seperti hari-hari pertama. Tidak ada lagi rasa sungkan.

Azka melirik sekilas. Biasanya Nayla makan pelan, rapi, nyaris tak bersuara. Pagi ini berbeda. Gerakannya lebih santai, bahkan sedikit sembrono.

Azka mengernyit. “Kamu kenapa?”

Nayla menoleh sambil mengunyah. “Kenapa apa?”

“Berisik.”

Nayla menelan makanannya, lalu tersenyum tipis. “Oh. Kupikir kamu nggak peduli sama apa pun yang aku lakuin.”

Azka terdiam sesaat.

“Jangan kurang ajar,” ucapnya dingin.

Nayla berdiri, mengambil tasnya. “Santai aja. Kita kan orang asing.”

Ia melangkah pergi meninggalkan meja makan, meninggalkan Azka yang untuk pertama kalinya kehabisan respons.

***

Di sekolah, perubahan Nayla langsung terasa. Biasanya ia berjalan menunduk, menghindari pusat perhatian. Hari itu, Nayla melangkah lebih cepat, bahu tegak, ekspresi cuek.

Dani sampai melongo. “Nay… lo kenapa?”

Nayla menyampirkan tangan di bahu Dani. “Kenapa? Aku kelihatan sakit?”

“Bukan,” Dani menggeleng. “Lo kelihatan… beda.”

Sena ikut menoleh. “Lebih galak.”

Nayla terkekeh. “Bagus. Berarti berhasil.”

Mereka belum sempat bertanya lebih jauh ketika suara familiar terdengar dari belakang.

“Eh, Nayla.”

Seorang siswi dari kelas sebelah yang kemarin ikut menertawakan insiden di koridor, menyeringai kecil. “Hati-hati ya kalau jalan. Jangan sampai nyenggol Azka lagi.”

Biasanya, Nayla akan diam. Menunduk. Mengalah. Tapi hari itu, Nayla berhenti. Ia menoleh perlahan, menatap siswi itu tanpa senyum.

“Kalau aku nyenggol dia lagi,” ucap Nayla santai, “paling aku minta maaf lagi. Emang kenapa?”

Siswi itu terdiam.

Nayla melangkah lebih dekat. “Atau kamu mau jadi wasitnya sekalian?”

Beberapa siswa di sekitar mereka menahan tawa. Dani menutup mulut. Sena melongo.

Siswi itu mendengus kesal. “Sok berani.”

Nayla mengangkat bahu. “Daripada sok nyinyir.”

Ia berbalik pergi tanpa menunggu balasan.

Di ujung koridor, Azka yang baru keluar kelas melihat semuanya. Matanya menyipit.

Dia berani.

***

Jam pelajaran olahraga jadi puncaknya.

Hari itu kelas digabung. Murid-murid berkumpul di lapangan. Nayla berdiri di barisan belakang bersama Dani dan Sena.

Azka berdiri di depan, berbicara dengan guru olahraga. Seperti biasa, kehadirannya menarik perhatian.

“Baik,” ujar guru. “Hari ini kita bagi tim. Azka, kamu pimpin satu tim.”

Beberapa siswi langsung bersorak kecil.

“Dan Nayla,” lanjut guru, “kamu ikut tim Azka.”

Beberapa kepala langsung menoleh.

Nayla menghela napas panjang. “Siap, Pak.”

Saat ia mendekat, Azka melirik sekilas, lalu berkata tanpa ekspresi, “Kamu jangan nyusahin.”

Nayla berhenti tepat di depannya. Semua mata tertuju pada mereka.

“Tenang aja,” jawab Nayla santai. “Aku juga nggak berharap kamu ngebantu.”

Beberapa siswa terkejut.

Raka yang berdiri tak jauh hampir tersedak. Dion mengangkat alis.

Azka menatap Nayla tajam. “Apa?”

Nayla menyeringai kecil. “Kupikir kita sepakat nggak saling ngarep.”

Lapangan mendadak hening.

Azka mendekat setengah langkah. “Jaga omongan kamu.”

Nayla mendongak, menatapnya lurus. “Kamu juga.”

Sena menarik lengan Nayla pelan. “Nay…”

Nayla mengibaskan tangan Sena. “Santai.”

Azka terdiam. Bukan karena marah. Tapi karena Nayla tidak lagi terlihat rapuh.

***

Saat permainan dimulai, Nayla bermain serius. Gerakannya agresif, cepat, dan tanpa ragu. Ia tidak jago-jago amat, tapi jelas tidak cengeng.

Saat salah satu siswa hampir menjatuhkannya, Nayla bangkit sendiri.

“Masih hidup,” katanya santai sambil menepuk debu di lutut.

Beberapa siswa tertawa.

Azka memperhatikan dari jauh. Ia tidak suka ini. Bukan karena Nayla berani. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia kehilangan kendali atas cara Nayla bereaksi.

***

Sepulang sekolah, di rumah Mahendra, Nayla masuk dengan wajah biasa saja. Tidak lesu. Tidak murung.

Azka duduk di ruang keluarga, melirik saat Nayla lewat.

“Kamu berubah,” ucapnya tiba-tiba.

Nayla berhenti, menoleh. “Berubah kenapa?”

“Lebih berisik,” kata Azka.

Nayla terkekeh. “Mungkin aku capek pura-pura kalem.”

Azka berdiri. “Jangan bikin masalah.”

Nayla menatapnya datar. “Aku cuma bertahan.”

Azka terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan kelemahan Nayla untuk ditekan.

Nayla melangkah pergi, meninggalkan satu kalimat yang tertinggal di udara. “Tenang aja, Azka. Aku nggak selemah yang kamu kira.”

Dan malam itu, Azka baru menyadari satu hal yang tidak ia rencanakan. Gadis yang ia anggap tak setara itu mulai melawan.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!