NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantu

Setelah menyantap burung bakar gosong itu, Yitno menikmati segelas kopi panas dan rokok. Ia duduk di lantai kamarnya sembari menscrol-scrol updete bokev terbaru. Hingga matanya lelah dan ia memutuskan untuk tidur.

Malam itu Yitno begitu gelisah, walau ia sudah makan burung bakar dan beranjak ingin segera tidur tapi matanya enggan terpejam. Ia pun melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ia bangkit menuju dapur dan berniat membuat kopi lagi.

Currr.. air mengucur perlahan dari termos air panas jadul bermotif bunga, uap panas di iringi aroma nikmatnya kopi menyeruak dari dalam gelas. Kletik..kletik.. ia mengaduk kopi tersebut tiba-tiba ia berhenti mengaduk..

"Sialaaann..!! Aku kan lagi puasa, batasnya cuma jam satu. Hufftt untung aja aku ingat kalau nggak gagal sudah ritualku." Yitno yang tersadar pun meninggalkan gelas kopi tersebut. Baru saja satu kakinya melangkah hendak kembali ke kamar tiba-tiba..

Dokh..!! dokh..!! dokh....!!

Terdengar suara pintu dapur seperti di gedor dari luar. Yitno tertegun, ia memicingkan matanya sembari menajamkan indra pendengarannya.

Dokkh...dokkh...dokkh....

Suara itu kembali terdengar, sontak membuat Yitno begitu takut sekaligus penasaran. Perlahan ia berjalan jinjit mendekatkan wajahnya ke pintu dapur yang terbuat dari lembaran kayu papan sederhana apa adanya itu. Di dekatkannya telinganya menempel ke pintu berusaha mendengar.

"Huuuhhhuuhhuu..."

Terdengar suara Isak tangis seorang wanita di balik pintu Pawon (dapur). Yitno tercekat ia langsung lari tunggang langgang ketakutan menuju kamar ibunya dan memeluk ibunya yang sedang nyenyak tidur.

"Astaghfirullah...!!! Aku mamakmu Yit..!!! Istighfar Yit..nyebut..!! Nyebut...,!!" Ucap ibunya terkejut, ibunya mengira jika Yitno anak lelakinya itu hendak memp3rkos4nya.

"Ada medi Mak...!! (Medi\=hantu)

"Hah..!! Di mana?"

"Pawon Mak,,,aku tidur sama mamak, ya!" Ujar Yitno menenggelamkan wajahnya di ketiak ibunya berusaha bersembunyi

"Halah salah liat mungkin kamu, Yit.!!" Hardik ibunya sembari menoyor wajah dekil Yitno keluar dari ketiaknya, ibunya lalu beranjak berdiri keluar kamar menuju dapur. Yitno yang sangat takut di tinggal sendiri pun mengikuti ibunya dari belakang sembari satu tangannya memegangi daster lusuh Ibunya itu. Ibunya membuka pintu dapur, tapi tak mendapati siapapun berada disana.

"Gak ada apa-apa gini kok! Kamu ngeliatnya di mana, Yit?"

"Gak liat, cuma suaranya dari sini tadi Mak!"

"Halah kucur kamu jadi laki-laki, udah mamak ngantok! kamu masuk kamarmu sana!"

"Aku tidur sama mamak ya, takut aku Mak!"

"Hiiiiisssss...!!! Bikin malu aja..!!"

Alhasil malam itu Yitno tidur bersama sang ibu seperti bocil, ia hanya bisa tengkurap di sebelah ibunya menutup kepalanya dengan bantal, ia takut mendengar sesuatu. Malam itu ia begitu takut hingga tak bisa tidur.

"Suaranya mirip suara Lastri" batin Yitno semakin takut

Beberapa jam kemudian, suara puji-pujian dari masjid terdengar tanda subuh akan datang barulah Yitno merasa tenang dan ia bisa tidur.

Pagi menjelang datang, Suara kokok ayam yang berduet dengan kicau burung burung liar di atas pohon jati serta aroma bau tai sapi dari arah kandang bude Sri menghiasi mewarnai indahnya pagi di desa yang tenang dan asri itu. Yitno terbangun dengan mata masih terkantuk.

Hari itu dia puasa hingga malam hari tepat pukul dua belas malam barulah ia boleh makan. Ia segera mandi dan pergi ke pasar membeli ketan hitam yang ia gunakan untuk makan buka puasanya nanti malam.

Di malam kedua puasanya itu, Yitno memasak ketan hitam yang ia campur bubuk kopi agar terlihat lebih hitam. Ia pun mendadar telur yang juga ia beri bubuk kopi dan ia menggorengnya agak gosong agar terlihat hitam, ia tak lupa memasukan potongan tempe ke bara api di dalam Luweng. (Luweng\=sejenis tempat memasak yang terbuat dari tanah, bata atau semen).

Setelah menyantap semua makanannya, ia tak langsung tidur, ia takut di hantui seperti kemarin. ia sudah menyiapkan ponselnya yang ia putar murotal pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ia berusaha memprotect dirinya dari gangguan hantu yang mengganggunya.

"Apa hantunya si Lastri ya kemarin itu?" Batinnya

Jam menunjukan pukul tiga dini hari, belum ada gangguan yang Yitno rasakan. Hingga terdengar suara masjid, ia merasa tenang. Ia menarik selimutnya dan berusaha tidur. Sejenak ia merasa tertidur tapi tiba-tiba ia seperti terbangun. Ada yang aneh pada tubuhnya, ya! Ia sama sekali tak bisa mengendalikan dan menggerakkan tubuhnya, bahkan hanya menjentikan salah satu jarinya pun ia tak sanggup.

Satu-satunya yang masih bisa ia gerakan adalah bola matanya, ya seluruh indranya berfungsi dengan baik, ia dapat mendengar tetapi ia tak bisa bergerak sama sekali. Ia mulai tersadar, mungkin ini yang orang-orang bilang ketindihan.

Bola matanya bergerak di dalam kelopak matanya yang terpejam. Ia berusaha membuka matanya dengan susah payah, seperti ada daya bertolak belakang yang menghalangi seluruh tubuhnya untuk bergerak.

Akhirnya ia mampu membuka kedua matanya, ia terperangah bahkan ia ingin berteriak, tetapi ia tidak bergerak dan bersuara. Ia menatap sosok wanita tanpa busana yang duduk di perutnya sembari kedua tangan wanita itu mencekik lehernya.

La-Lastri...? Ya wanita itu seperti Lastri, wajahnya begitu pucat bagai mayat yang tewas tenggelam dan sorot matanya seperti manusia yang sedang kesurupan, menyalang tajam dengan pupil mata seperti titik hitam kecil, berbeda dengan manusia biasa.

Yitno tak bisa berbuat apa-apa ia berusaha menggerakkan tubuhnya dan berteriak tetapi entah mengapa ia sama sekali tak bisa melakukannya. Hingga beberapa saat kemudian..

"Hhhhiauiauahhh...hooohhh....huuuffft..." Akhirnya Yitno berhasil menggerakkan tubuhnya, ia menoleh kanan dan kiri mencari keberadaan hantu Lastri tersebut, tapi ia tak mendapati keberadaan hantu itu, ia lalu melihat sela sela genting atap rumahnya yang menyeruak cahaya langit yang temaram, ia sedikit lega ternyata hari sudah pagi..

"Itu tadi apa ya? Di bilang mimpi tapi kok kayak seperti nyata? Batinnya bingung.

Ia segera keluar dari kamarnya, hari telah pagi sekitar pukul enam pagi. Yitno lalu memulai rutinitas seperti biasanya. Ia menyibukan diri membersihkan halaman depan rumahnya, ia membersihkan daun daun pohon nangka yang berjatuhan dan menyiram tanaman bunga ibunya.

Hari itu ia berusaha menyibukan diri selelah mungkin agar waktu malam hari ia kelelahan dan dapat dengan mudah tidur pulas, itu fikirnya saat itu.

***

Di malam ketiga, Yitno menggunakan headset di telingannya. Ia begitu takut jika mendengar suara-suara aneh. Ia berusaha melawan segala gangguan dengan semua akalnya. Sepertinya cara yang ia lakukan cukup berhasil, walaupun ia tetap tidak bisa tidur tetapi itu sedikit mengurangi rasa takutnya.

Tepat pukul 02.00 Yitno sudah tak tahan. Ia menahan rasa kebelet kencingnya. Akhirnya ia memutuskan memberanikan diri pergi ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah, tidak menyatu dengan rumah.

Dengan rasa takut yang amat sangat, ia pun tetap melakukan hajat buang air kecilnya.

Tampak bulu kuduknya merinding bukan main, kepalanya berputar-putar melihat sekelilingnya waspada, sembari terus kencing..

Kkkkrrrrreeeeekkkkkk....

Terdengar suara tali timba sumur, Seperti ada yang menimba air...

"Mak...!!! Mamak bukan...??" Ucap Yitno dari dalam kamar mandi..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!