NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pudar dalam Pelukan Bumi

Kesunyian yang menyelimuti menara observasi setelah badai indigo mereda terasa begitu berat, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi kristal yang menyesakkan. Kemenangan atas teknologi manusia tadi malam menyisakan gema yang panjang, namun fokus Alana kini teralih sepenuhnya pada suara napas yang berat, kasar, dan tidak teratur di belakangnya. Ia berbalik dengan jantung berdegup kencang, dan mendapati Arlo terduduk di lantai, bersandar pada tumpukan jurnal kakek Surya yang sudah menguning dan berdebu.

"Arlo!" Alana berteriak, suaranya melengking di antara dinding kaca. Tangannya secara refleks terulur untuk meraih pria itu, namun ia tersentak saat ujung jarinya menyentuh membran Zona Isolasi. Percikan listrik indigo menyambar, mengingatkannya dengan kejam bahwa ia masih terperangkap dalam sangkarnya sendiri.

Kondisi Arlo jauh lebih buruk dari yang Alana bayangkan. Pria yang sebelumnya tampak seperti pilot perkasa dari era 1970-an yang tak lekang oleh waktu itu kini tampak rapuh, seolah-olah ia terbuat dari kaca yang siap pecah. Rambutnya memutih dengan kecepatan yang mengerikan, helai demi helai kehilangan warnanya tepat di depan mata Alana. Kulitnya menjadi semi-transparan, memperlihatkan aliran cahaya indigo yang redup dan berdenyut tidak stabil di dalam nadinya. Atmosfer bumi yang padat, penuh dengan karbon dan polusi emosi manusia yang berat, bertindak seperti racun asam bagi tubuh Arlo yang sudah tersinkronisasi dengan kemurnian ruang hampa selama setengah abad.

"Jangan... jangan mendekat, Alana," bisik Arlo, suaranya serak seperti gesekan perkamen tua. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menahan Alana agar tetap di tempatnya. "Gravitasi tempat ini... dia sedang menagih utang waktuku yang tertunda. Aku sudah terlalu lama meminjam masa depan, dan sekarang bumi meminta bayarannya."

"Kenapa kau tidak bilang sejak awal?" Alana menangis, air mata kristalnya jatuh dan berdenting di lantai menara, pecah menjadi butiran berlian kecil. "Kau bilang kita akan tinggal di sini, Arlo! Kau bilang kita akan menjaga Navasari bersama, melihat bintang-bintang dari beranda ini!"

Arlo memaksakan sebuah senyum tipis yang menyayat hati. "Aku adalah seorang pilot, Alana. Seorang pilot sejati selalu tahu kapan tangki bahan bakarnya mencapai titik kritis. Aku datang kembali ke bumi bukan untuk menetap... aku datang hanya untuk memastikan jangkarmu tertanam kuat di tanah ini. Sekarang kau sudah aman. Kau sudah menjadi Navigator yang jauh lebih hebat dan lebih murni dariku."

Elian muncul di ambang pintu menara, napasnya tersengal setelah berlari dari halaman bawah. Ia membawa kotak obat tua milik kakek Surya, meski jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu tidak ada obat manusia yang bisa menyembuhkan degradasi dimensi. Ia terpaku melihat kondisi Arlo. Pria yang selama ini ia anggap sebagai legenda hidup, sosok pahlawan yang melintasi waktu untuk menyelamatkan Alana, kini tampak seperti hantu yang sedang memudar ditiup angin pegunungan.

"Elian," panggil Arlo dengan susah payah. Tubuhnya mulai mengeluarkan pendaran cahaya perak yang terlepas ke udara seperti serbuk sari. "Bantu aku berdiri. Bawa aku ke lensa utama mercusuar. Aku harus berada di pusat fokusnya."

Dengan penuh hormat dan kesedihan, Elian memapah Arlo mendekati dinding kaca menara. Arlo menempelkan telapak tangannya yang gemetar ke permukaan kaca yang dingin, tepat di hadapan telapak tangan Alana yang terkurung di dalam Zona Isolasi. Hanya selembar kaca tebal dan lapisan energi tipis yang memisahkan mereka, namun rasanya seperti mereka sedang berdiri di dua sisi lubang hitam yang berbeda—terpisah jutaan tahun cahaya dalam jarak beberapa sentimeter.

"Dengarkan aku baik-baik, Alana," kata Arlo, matanya yang mulai pudar menatap Alana dengan kehangatan terakhir yang ia miliki. "Jika aku tetap tinggal di sini, aku akan hancur menjadi debu organik dalam hitungan jam, dan kau akan kehilangan kontak dengan Navigasi Langit selamanya. Kau butuh seorang saksi di 'sisi lain'. Kau butuh seseorang yang tetap menjaga frekuensi itu agar kau bisa tetap berpijak di bumi tanpa kehilangan jiwamu."

"Tidak! Aku tidak mau kehilanganmu lagi! Aku baru saja menemukanmu, Arlo!" Alana memukul kaca dengan kepalan tangannya, menciptakan riak energi indigo yang menyakitkan matanya sendiri.

"Kau tidak akan pernah kehilanganku. Aku akan menjadi surat cinta yang abadi untukmu. Aku akan menjadi angin yang membawakan aroma tinta mu, dan aku akan menjadi bintang yang membimbing penglihatanmu saat kau tersesat." Arlo merogoh saku jaket kulitnya yang kini tampak kusam dan mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah kompas kuningan tua dengan ukiran bintang jatuh. Ia menyerahkannya kepada Elian untuk diteruskan kepada Alana melalui celah kecil di bawah membran energi. "Alana, kau harus mengirimku kembali. Gunakan sisa energi 'Embun Keabadian' di tubuhmu untuk memicu portal satu arah. Kau adalah satu-satunya yang bisa membuka jalannya sekarang."

Ini adalah pilihan paling kejam yang pernah dihadapi Alana. Mengirim Arlo kembali berarti ia akan tinggal di bumi sebagai "manusia setengah cahaya" yang terisolasi, menghabiskan sisa hidupnya di dalam menara tanpa pernah bisa menyentuh kulit manusia lainnya. Namun, membiarkan Arlo tinggal berarti melihat pria itu mati secara perlahan dan menyakitkan, membusuk oleh hukum fisika yang tidak ia miliki lagi.

"Lakukan, Alana," desak Elian pelan, suaranya pecah oleh isak tangis yang ia tahan. "Ini satu-satunya cara agar dia tetap hidup sebagai cahaya, bukan mati sebagai bayangan."

Alana memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan ingatan tentang surat-surat cinta pertama yang ia temukan di kotak pos kakeknya menguatkan hatinya. Ia menyadari bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki dan mendekap; terkadang, cinta yang paling agung adalah melepaskan agar yang dicintai bisa terus bersinar di tempat yang seharusnya.

Alana mulai memusatkan seluruh energi indigo di dadanya. Kali ini, ia tidak menggunakannya untuk menghancurkan atau menyerang. Ia membentuknya menjadi sebuah pusaran cahaya yang sangat lembut, sebuah kepompong energi yang melingkari tubuh Arlo. Cahaya perak mulai keluar dari pori-pori kulit Arlo, tertarik ke arah langit yang kini tampak terbuka melalui atap menara yang sebagian hancur akibat badai semalam.

"Pergilah, Navigator-ku," bisik Alana, suaranya bergetar hebat. "Terbanglah lebih tinggi dari yang pernah kita bayangkan. Tunggu aku di antara rasi Cygnus. Aku akan menulis untukmu setiap malam."

Arlo mulai melayang, kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi butiran cahaya yang indah, menyerupai kembang api yang meledak dalam gerakan lambat. Sebelum benar-benar menghilang menjadi energi murni, suaranya terdengar jernih, bergema langsung di dalam pusat kesadaran Alana: "Tuliskan surat untukku, Alana. Aku akan membacanya melalui setiap kerlip bintang yang kau lihat. Kita adalah korespondensi yang takkan pernah usai."

Dengan satu kilatan cahaya amber yang hangat, Arlo menghilang. Pilar cahaya emas dari mercusuar Navasari melonjak tinggi ke langit selama beberapa detik, menciptakan garis tegak lurus yang membelah awan, seolah langit sedang memberikan penghormatan terakhir bagi sang putra yang kembali pulang.

Arlo telah pergi.

Alana jatuh terduduk di dalam Zona Isolasinya yang kini terasa sangat luas, sangat sunyi, dan sangat kosong. Ia memegang kompas kuningan pemberian Arlo erat-erat di dadanya. Ia menyadari sesuatu yang aneh: jarum kompas itu tidak menunjuk ke arah utara bumi. Jarum itu bergerak secara vertikal, menunjuk tegak lurus ke arah atas—ke arah di mana Arlo kini berada.

Elian duduk di luar kaca, menyandarkan punggungnya di sana agar Alana tidak merasa sendirian di tengah cahaya. "Dia sudah sampai, Alana. Lihat ke atas."

Di atas mereka, di tengah langit yang mulai fajar, sebuah bintang baru muncul secara mendadak. Bintang itu tidak berkelip seperti bintang lainnya; ia bersinar dengan cahaya amber yang sangat stabil dan hangat. Itulah warna favorit Alana, warna yang dijanjikan Arlo untuknya.

Bab 19 ditutup dengan Alana yang mengambil kembali pena kristalnya. Dengan jemari yang masih gemetar, ia mulai menulis di dinding kaca yang menghadap ke arah bintang amber itu. Surat pertama yang ia tulis bukan untuk orang asing, bukan untuk merayu dunia, melainkan untuk separuh jiwanya yang kini telah menjadi bagian dari keabadian langit malam.

"Babak baru kita dimulai sekarang," gumam Alana, sementara di luar, fajar menyingsing di atas Navasari, menyinari desa yang kini menjadi saksi bisu atas cinta yang melampaui batas atmosfer.

 

 

 

 

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!