Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: KELAS TEORI MONSTER
Kompetisi Nasional Antar-Akademi dibuka dengan upacara meriah di stadion dalam ruangan khusus yang dilengkapi dengan simulator canggih. Puluhan tim dari berbagai akademi Hunter di seluruh negeri berkumpul, masing-masing dengan seragam khas akademi mereka. Suasana penuh semangat kompetisi, namun ada juga ketegangan di udara.
Tim Min-jae—dengan seragam biru tua akademi mereka—berdiri di barisan, memperhatikan pembukaan. Pembicara utama adalah seorang Hunter S-rank veteran yang menekankan pentingnya persaingan sehat dan pembelajaran.
“Kalian adalah masa depan dunia Hunter,” katanya. “Gunakan kompetisi ini bukan hanya untuk menang, tetapi untuk mengukur diri, belajar dari yang lain, dan membangun jaringan yang suatu hari akan menyelamatkan nyawa.”
Setelah upacara, babak penyisihan dimulai. Formatnya adalah rangkaian ujian: teori, kemampuan individual, dan terakhir, simulasi tim. Min-jae merasa siap. Kelas remedial teori dan latihan intensif telah membekalinya dengan baik.
Ujian teori dilakukan di ruang besar dengan komputer. Soal-soal mencakup identifikasi monster, taktik Gerbang, manajemen sumber daya, dan etika Hunter. Min-jae mengerjakan dengan percaya diri. Banyak pertanyaan yang mirip dengan apa yang telah dia pelajari di kelas remedial.
Saat sesi kemampuan individual, setiap anggota tim diuji terpisah sesuai spesialisasinya. Min-jae dihadapkan pada simulator yang menciptakan serangkaian tantangan psikis: mendeteksi monster tersembunyi di lingkungan kompleks, mempertahankan perisai psikis di bawah tekanan, dan menggunakan telekinesis untuk menyelesaikan tugas presisi.
Dia melewati semua tantangan dengan baik. Kemampuan Psionic Shielding dan Psionic Thread-nya sangat berguna. Bahkan, pengawas dari panitia memberikan catatan positif tentang efisiensi energinya.
Setelah ujian individu, hasil sementara diumumkan. Tim mereka berada di peringkat 15 dari 50 tim—posisi yang cukup baik untuk masuk babak simulasi tim.
“Kita masih punya kesempatan,” kata Min-ki. “Simulasi tim adalah kekuatan kita.”
Hari berikutnya, babak simulasi tim dimulai. Tim mereka mendapat skenario: memasuki Gerbang C-rank “Hutan Beracun” untuk mengambil sampel tanaman langka, sambil menghindari atau menetralisir monster yang menjaga area tersebut.
Lingkungan simulator sangat realistis. Pepohonan tinggi dengan daun ungu, udara berbau belerang, dan suara gemerisik yang mengancam dari semak-semak.
“Formasi standar,” komando Min-jae. “Aku sensing depan. Min-ki, jaga belakang. Hana, tengah dengan support.”
Mereka bergerak perlahan. Sensing Min-jae memetakan area, mengidentifikasi tiga monster “Venomous Stalker” yang bersembunyi di antara pepohonan. Monster ini memiliki racun saraf dan bisa menyamarkan diri dengan lingkungan.
“Ada tiga, membentuk segitiga di sekitar tanaman target,” bisik Min-jae. “Mereka bergerak perlahan, mungkin menunggu kita masuk ke jebakan.”
“Strategi?” tanya Hana.
“Kita perlu mengalihkan perhatian mereka. Min-ki, bisa kamu buat gangguan di sisi kiri? Tembak panah energi ke pohon, buat suara besar.”
Min-ki mengangguk, membidik, dan melepaskan panah energi yang mengenai batang pohon dengan ledakan kecil. Dua dari tiga monster bergerak ke arah suara.
“Satu masih di posisi,” lapor Min-jae. “Aku akan coba ganggu dengan ilusi psikis. Hana, siapkan anti-racun jika ada yang terluka.”
Min-jae fokus, menggunakan Psionic Thread untuk menciptakan ilusi samar tentang pergerakan di sisi lain monster. Monster itu ragu, lalu mulai bergerak menjauh dari tanaman target.
“Sekarang! Ambil sampel!”
Hana maju dengan cepat, mengambil sampel tanaman dengan alat khusus. Begitu sampel aman, mereka mundur dengan hati-hati, menghindari area yang masih diawasi monster.
Misi selesai dalam waktu singkat dan tanpa kerusakan. Skor mereka tinggi untuk efisiensi dan taktik.
Babak demi babak mereka lalui. Tim mereka menunjukkan koordinasi yang solid. Min-jae berperan sebagai mata dan telinga tim, sementara Min-ki memberikan serangan jarak jauh yang akurat, dan Hana memastikan ketahanan tim dengan support dan penyembuhan.
Hingga akhirnya, mereka masuk ke babak semifinal, melawan tim dari akademi ternama di kota besar. Tim lawan terkenal agresif, dengan spesialisasi serangan langsung.
Skenario semifinal: pertahanan benteng. Setiap tim harus mempertahankan pos mereka dari gelombang monster virtual, sambil berusaha merebut bendera lawan.
Tim lawan langsung menyerang dengan frontal assault. Min-jae dan timnya memilih strategi bertahan dulu, memanfaatkan sensing untuk memprediksi serangan dan menggunakan lingkungan untuk menghambat lawan.
“Mereka punya dua penyerang jarak dekat, satu support,” analisis Min-jae. “Support mereka punya kemampuan penguatan. Kita harus netralkan support itu dulu.”
Min-ki setuju. “Aku bisa jebak support mereka dengan panah pembatas, tapi butuh waktu.”
“Aku akan bantu,” kata Hana. “Aku bisa beri aura pelambat.”
Mereka menjalankan rencana. Saat dua penyerang lawan mendekat, Hana melepaskan aura pelambat yang mengurangi kecepatan mereka. Min-ki menembakkan panah energi yang menciptakan bidang penghalang di sekitar support lawan, mengacaukan konsentrasinya.
Min-jae menggunakan telekinesis untuk mendorong puing-puing kecil ke arah penyerang, mengganggu keseimbangan mereka. Tim lawan mulai kacau.
Memanfaatkan momentum, Min-jae memimpin tim mereka melakukan serangan balik cepat. Mereka berhasil merebut bendera lawan tanpa kehilangan benteng mereka sendiri.
Kemenangan itu membawa mereka ke babak final.
Di final, mereka berhadapan dengan tim dari akademi yang sama dengan Song Min-hyuk. Tim itu sangat seimbang, dengan taktik cerdik dan pengalaman misi nyata yang lebih banyak.
Skenario final: pertarungan bebas di arena dengan berbagai hambatan lingkungan. Tujuan: melumpuhkan seluruh anggota tim lawan.
Pertarungan berlangsung sengit. Tim lawan memiliki psikis yang kuat yang bisa mengganggu sensing Min-jae. Untuk pertama kalinya, sensing-nya tidak sepenuhnya akurat karena ada 'kabut psikis' yang sengaja dibuat.
“Mereka punka counter untukku,” lapornya pada timnya. “Aku butuh waktu untuk menembus kabut itu.”
“Kami jaga pertahanan dulu,” usul Hana.
Mereka bertahan, menghindari serangan langsung. Min-ki mencoba serangan jarak jauh, tetapi lawan memiliki perisai energi yang kuat.
Min-jae berkonsentrasi, menggunakan Resonansi Jiwa-nya untuk 'merasakan' melalui kabut psikis. Ini lebih sulit, tapi perlahan dia bisa menangkap pola gerakan lawan.
“Support lawan di belakang batu besar sebelah kiri. Dua penyerang mereka bergerak mengapit kita. Mereka akan serang dalam 10 detik.”
Dengan informasi itu, mereka bersiap. Saat serangan datang, mereka tidak terkejut. Min-jae menggunakan Environmental Psionics-nya untuk menciptakan angin kuat yang mendorong debu ke arah lawan, mengganggu pandangan. Min-ki memanfaatkan gangguan itu untuk menembak panah energi ke arah support lawan.
Support lawan berhasil dijinakkan. Tapi dua penyerang lawan masih kuat. Pertarungan berlanjut dengan serangan dan tangkisan.
Di menit-menit akhir, Hana terkena serangan dan terjatuh. Min-jae dan Min-ki berjuang melawan dua lawan sendirian.
“Min-ki, fokus pada yang di kiri. Aku tangani yang kanan,” perintah Min-jae.
Dia menghadapi penyerang lawan yang menggunakan pedang energi. Tanpa kemampuan tempur jarak dekat yang memadai, dia mengandalkan penghindaran dan gangguan psikis. Dia menggunakan Psionic Thread untuk menarik perhatian lawan, lalu dengan cepat menggunakan telekinesis untuk mendorong kaki lawan hingga kehilangan keseimbangan.
Saat lawan terjatuh, dia 'menyentuh' titik tekanan psikis lawan dengan getaran halus, cukup untuk membuat lawan pusing sesaat—cukup lama untuk wasit menyatakan lawan 'lumpuh'.
Di sisi lain, Min-ki berhasil melumpuhkan lawannya dengan panah energi yang tepat sasaran.
Tapi sebelum mereka bisa bersorak, support lawan yang sebelumnya sudah jinakkan ternyata hanya pura-pura. Dia bangkit dan melepaskan serangan energi terakhir ke arah Min-jae yang sedang lengah.
Hana, yang sudah bangkit dengan susah payah, menerjang ke depan dan mengaktifkan perisai penyembuhannya, menahan serangan itu untuk Min-jae.
Serangan itu mengenai Hana, dan wasit menyatakan Hana 'lumpuh'. Tapi itu memberi waktu bagi Min-ki untuk melumpuhkan support lawan dengan panah terakhirnya.
Pertarungan berakhir. Tim mereka menang, tapi dengan korban: Hana.
Wasit mengumumkan kemenangan mereka. Sorak-sorai memenuhi arena. Tapi Min-jae dan Min-ki segera mendekati Hana yang sudah bangkit (karena ini simulasi, 'luka' tidak nyata).
“Hana, kamu gila! Kenapa kamu lakukan itu?” tanya Min-ki, wajahnya campur antara lega dan khawatir.
“Kita tim. Kita saling jaga,” jawab Hana sambil tersenyum lemah. “Dan strateginya berhasil, kan? Kita menang.”
Min-jae merasa haru. “Terima kasih, Hana.”
Upacara penyerahan medali dilakukan setelahnya. Tim mereka meraih juara dua secara nasional—prestasi luar biasa untuk tim dari akademi yang tidak terlalu terkenal. Medali perak itu terasa berat di tangan Min-jae, tapi maknanya lebih berat: bukti bahwa kerja keras, kerja tim, dan saling percaya bisa mengalahkan lawan yang lebih berpengalaman.
Setelah kompetisi, banyak guild yang mendekati mereka, menawarkan kontrak magang. Bahkan guild besar seperti Frost Lotus dan Crimson Dragon menyatakan minat. Tapi Min-jae sudah punya komitmen pada Chrono Vanguard, dan Hana serta Min-ki memilih untuk tetap bersama tim mereka untuk sementara.
Kembali ke akademi, mereka disambut sebagai pahlawan. Prestasi ini meningkatkan reputasi akademi mereka. Bahkan Guru Choi dan Master Yoon memberikan pujian khusus.
“Kalian tidak hanya menang, tetapi menunjukkan kedewasaan dan kerja tim yang luar biasa,” kata Guru Choi. “Itu lebih berharga dari medali apa pun.”
Di tengah kegembiraan, Min-jae tidak melupakan ancaman yang masih berlangsung. Operasi Chrono Vanguard di Crimson Abyss akan segera dimulai. Dia berharap mereka berhasil menyelamatkan siswa yang hilang dan menghentikan uji coba berbahaya itu.
Malam setelah kompetisi, dia mendapat panggilan dari Mi-rae.
“Operasi besok pagi. Kami sudah dapat izin dari Asosiasi Hunter untuk campur tangan karena ada indikasi penipuan dan risiko nyawa. Kamu tetap di akademi. Jangan ikut campur.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi. Fokus pada akademimu. Kami yang akan menangani.”
Min-jae mengerti. Dia bukan petarung lapangan berpengalaman. Tapi dia bisa membantu dengan cara lain.
“Ada yang bisa aku lakukan dari sini?”
“Berdoalah. Dan siapkan dirimu. Karena setelah ini, Ouroboros akan semakin terpojok. Mereka mungkin akan melakukan langkah lebih nekat.”
Peringatan itu mengingatkannya bahwa pertarungan belum selesai. Baru saja dimulai.
Dia menutup panggilan, lalu melihat medali peraknya. Ini adalah bukti bahwa dia dan teman-temannya bisa mencapai hal besar jika bekerja sama.
Dengan tekad baru, dia berjanji pada dirinya sendiri: dia akan terus menjadi lebih kuat, bukan untuk kebanggaan, tetapi untuk melindungi orang-orang yang dia pedulikan, dan untuk menghentikan ketidakadilan seperti yang dilakukan Ouroboros.
Besok, operasi akan berlangsung. Dan setelah itu, apapun hasilnya, perjalanannya akan berlanjut.
Tapi untuk malam ini, dia akan beristirahat, merayakan kemenangan bersama teman-temannya, dan mempersiapkan diri untuk babak berikutnya dalam petualangannya sebagai Kang Min-jae, Hunter dengan hati dan pikiran yang terus berkembang.