Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Duel yang Sudah Ditentukan (1)
Pengumuman itu tidak disampaikan dengan suara keras.
Ia dibacakan dengan nada datar di depan aula latihan terbuka, di bawah langit siang yang cerah, seolah hanya satu catatan rutin di antara banyak urusan sekte lainnya. Seorang pengawas berdiri di atas panggung batu rendah, jubahnya rapi, wajahnya tanpa ekspresi.
“Berdasarkan laporan pelanggaran batas dan potensi gangguan keteraturan sekte,” katanya, “maka diputuskan untuk dilaksanakan duel disiplin antara murid inti Zhao Heng dan murid luar Xu Tian.”
Tidak ada gumaman kaget.
Sebagian murid sudah mendengarnya sejak pagi. Sebagian lain tersenyum kecil, seolah akhirnya mendapatkan hiburan yang mereka tunggu.
“Tujuan duel ini,” lanjut pengawas itu, “adalah untuk menegakkan aturan, memperjelas hierarki, dan mendisiplinkan murid yang gagal memahami posisinya.”
Kata-kata itu terdengar bersih. Resmi. Tidak ada satu pun yang terdengar seperti hukuman.
Xu Tian berdiri di barisan paling belakang. Tangannya dingin. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya mengalir lebih lambat dari biasanya. Ia mendengar setiap kata itu dengan jelas, namun otaknya menolak menerimanya sebagai sesuatu yang nyata.
Duel.
Bukan pembinaan. Bukan teguran.
Duel.
“Apakah ada yang keberatan?” tanya pengawas itu.
Hening.
Beberapa detik berlalu, cukup lama untuk memberi ilusi pilihan. Namun Xu Tian tahu, dan semua orang tahu, bahwa diam adalah satu-satunya jawaban yang bisa diterima.
Jika ia melangkah maju, jika ia membuka mulut untuk menolak, itu bukan lagi soal duel. Itu akan menjadi pembangkangan terhadap sekte.
Pengawas mengangguk kecil, seolah sudah menduga hasilnya. “Karena tidak ada keberatan,” katanya, “maka duel akan dilaksanakan hari ini, di arena latihan utama.”
Beberapa murid bertepuk tangan pelan. Bukan tepuk tangan meriah, tapi cukup untuk menunjukkan persetujuan.
Xu Tian menunduk.
Dadanya terasa sesak. Ia ingin bernapas dalam-dalam, namun udara seolah tidak pernah cukup. Setiap tarikan napas terasa dangkal.
Ia melangkah ke depan ketika dipanggil.
Langkahnya terasa berat. Arena latihan utama terbentang luas, lantai batu yang sudah dipoles oleh waktu dan darah latihan yang tak terhitung. Murid-murid mengelilinginya dari segala arah, berdiri di tepi arena, di tangga batu, bahkan di atas pagar rendah.
Semua mata tertuju padanya.
Ia berdiri sendirian di satu sisi arena.
Di seberangnya, Zhao Heng sudah menunggu.
Posturnya santai. Kedua tangannya disilangkan di belakang punggung. Wajahnya tenang, tanpa sedikit pun ketegangan. Ia bahkan sempat melirik sekeliling, menyapa seorang senior dengan anggukan ringan, seolah ini bukan duel, melainkan latihan biasa.
Kontras itu terasa menyakitkan.
Xu Tian merasakan kakinya sedikit gemetar. Ia menguatkan diri untuk berdiri tegak, meski bahunya masih terasa berat. Luka emosional dari hari sebelumnya belum benar-benar reda. Kata-kata yang menghancurkannya masih berputar di kepalanya, bercampur dengan tatapan dingin yang kini mengarah padanya dari segala sisi.
Pengawas lain masuk ke arena. Usianya lebih tua, wajahnya keras, mata tajam. “Aturan duel sederhana,” katanya. “Tidak boleh membunuh. Selain itu, selama salah satu pihak masih bisa berdiri, duel berlanjut.”
Ia melirik Xu Tian sebentar. Tatapannya dingin, tidak menunjukkan simpati. “Jika kau menyerah, angkat tangan dan ucapkan dengan jelas.”
Xu Tian mengangguk kecil.
Ia tahu. Menyerah pun bukan jalan keluar yang benar-benar aman. Di hadapan semua orang, menyerah hanya akan mengukuhkan segalanya.
“Zhao Heng,” kata pengawas itu.
Zhao Heng mengangguk. “Senior.”
“Apakah kau mengerti tujuan duel ini?”
“Tentu,” jawab Zhao Heng. “Untuk menjaga keteraturan sekte.”
Jawaban itu membuat beberapa murid mengangguk puas.
Pengawas beralih ke Xu Tian. “Dan kau?”
Xu Tian membuka mulut. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. “Aku… mengerti.”
Tidak ada yang bertanya apakah ia setuju.
Pengawas mengangkat tangannya. “Baik. Bersiap.”
Suasana arena berubah.
Bisik-bisik mereda. Tawa kecil menghilang. Semua mata kini fokus ke tengah arena, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang penting, sesuatu yang sah.
Xu Tian berdiri di posisinya, kedua kakinya sedikit terbuka, tangan di sisi tubuh. Ia mencoba mengingat teknik dasar yang pernah ia pelajari. Gerakan yang diulang-ulang di sudut aula, sendirian, tanpa bimbingan senior.
Di seberangnya, Zhao Heng masih tampak santai.
Ia akhirnya menurunkan tangan dari belakang punggung, menggerakkan bahunya sedikit, seolah hanya sedang mengendurkan otot. Aura di sekelilingnya stabil, padat, jauh lebih kuat daripada Xu Tian.
Xu Tian merasakannya.
Perbedaan itu terlalu jelas.
Ini bukan pertarungan dua murid.
Ini adalah penegasan jarak.
Pengawas menurunkan tangannya.
“Mulai.”
Tidak ada aba-aba panjang.
Tidak ada waktu untuk menenangkan diri.
Detik berikutnya, tekanan langsung menyergap.
Zhao Heng melangkah maju satu langkah, cepat dan ringan. Hanya satu langkah, namun jarak di antara mereka seolah lenyap. Xu Tian bereaksi terlambat. Ia mengangkat tangan, mencoba bertahan, namun gerakannya kaku.
Serangan pertama belum datang, namun tubuhnya sudah merespons dengan panik.
Ia melompat mundur setengah langkah, napasnya tersengal.
Zhao Heng berhenti. Ia tidak mengejar.
Ia menatap Xu Tian dengan tatapan datar, seolah sedang menilai sesuatu yang kurang memuaskan.
“Tenang,” katanya pelan. “Ini duel. Bukan hukuman mati.”
Beberapa murid tertawa kecil.
Xu Tian menggertakkan gigi. Ia mencoba menenangkan napasnya, namun dadanya terasa semakin sempit. Setiap tarikan udara terasa seperti menusuk.
Ia sadar.
Sejak awal, duel ini bukan untuk menguji siapa yang lebih kuat.
Ini untuk menunjukkan siapa yang tidak layak.
Di pinggir arena, para pengawas berdiri dengan tangan di belakang punggung. Wajah mereka serius. Resmi. Tidak ada yang tampak terganggu oleh ketimpangan yang jelas di hadapan mata.
Bagi mereka, ini hanya aturan yang dijalankan.
Xu Tian melangkah maju, memaksa dirinya bergerak. Ia tidak bisa terus mundur. Setidaknya, ia harus berdiri.
Zhao Heng menunggu.
Saat Xu Tian masuk dalam jangkauan, Zhao Heng akhirnya bergerak.
Gerakannya bersih. Tepat. Tidak ada pemborosan.
Satu ayunan tangan.
Xu Tian mengangkat lengan untuk menahan, namun benturan itu membuat lengannya mati rasa seketika. Tubuhnya terdorong ke samping, langkahnya kacau. Ia hampir jatuh, namun berhasil menahan diri dengan susah payah.
Suara napasnya terdengar jelas di telinganya sendiri.
Zhao Heng tidak mengejar lagi. Ia berdiri di tempat, menunggu Xu Tian menata ulang posisinya. Sikap itu bukan belas kasihan. Itu keyakinan mutlak.
Di mata Zhao Heng, hasilnya sudah ada.
Xu Tian merasakan panas di lengannya. Rasa sakit menyebar perlahan. Ia tahu ini baru permulaan.
Namun yang paling menyakitkan bukan pukulan itu.
Melainkan kesadaran bahwa semua ini terjadi dengan restu penuh sekte.
Tidak ada yang akan menghentikannya.
Tidak ada yang akan berpihak padanya.
Ia berdiri di arena yang terang, di tengah tatapan dingin dan wajah-wajah puas, menyadari satu hal dengan kejelasan yang menyakitkan.
Duel ini bukan tentang kemenangan.
Ini adalah pembenaran.
Dan ia adalah buktinya.