Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Tidak?
Pagi pertama sebagai pasangan suami istri berjalan jauh lebih mulus dari yang Candy bayangkan. Semua kemungkinan buruk yang sempat memenuhi kepalanya perlahan sirna.
Usai sarapan, masing-masing keluarga kembali ke kediaman mereka. Candy dan Mbok Sarah tidak pulang ke rumah lama, melainkan menuju kediaman keluarga Luneth—rumah barunya.
Meski suasana tadi sudah mencair, rasa kikuk itu belum sepenuhnya pergi. Keluarga baru. Lingkungan baru. Candy bertanya-tanya, apakah tempat ini bisa terasa seperti rumah?
Bagaimanapun, rumah lamanya menyimpan kenangan masa kecil yang tak mudah tergantikan—meski ada Ranti di dalamnya.
"Selamat datang," ucap Berlian sambil merentangkan tangan dan memeluk Candy.
"Makasih, Tante," jawab Candy refleks, ikut membalas pelukan itu.
"Lho! Kok Tante?" Berlian langsung protes.
"Ma-mi," ejanya pelan tapi tegas.
Candy tertunduk, malu-malu. "I-iya, Mami," ucapnya gugup.
"Nah, gitu dong. Kan enak dengernya," sahut Berlian puas.
"Ciao bella zia!" sapa Eira ceria.
"Hah?" Candy tercengang.
"Sayang, Tante Candy tidak mengerti," Rumi menegur lembut. "Pakai bahasa Indonesia, ya."
"Oops, maaf Tante Candy," ucap Eira sambil menutup mulutnya.
Candy tertawa. Gadis kecil itu benar-benar menggemaskan. Tanpa sadar, ia berjongkok menyamakan tinggi mereka.
"Eira cantik dan lucu," gumam Candy.
"Grazie," jawab Eira cepat.
"Eira!" seru Elio dari belakang.
Yang lain terkekeh. Gadis kecil itu memang kesayangan keluarga—satu-satunya cucu perempuan di keluarga Luneth.
Bukan berarti Elio dan Axel tidak disayang. Hanya saja, menurut Berlian, perhatian mereka memang dibagi dengan porsi berbeda.
Alasannya sederhana dan masuk akal: pakaian anak perempuan jauh lebih lucu dan punya lebih banyak pilihan.
Lagipula, kedua cucu laki-lakinya sudah menunjukkan bibit cool—alias dingin—sejak kecil. Berlian masih sering heran bagaimana sifat itu bisa menurun begitu mutlak di keluarga mereka.
Selain itu, kedua cucu laki-lakinya sudah memiliki bibit cool alias dingin. Berlian sampai heran bagaimana bisa gen seperti itu menjadi turunan mutlak di keluarga mereka.
"Oops, aku lupa lagi," kata Eira imut. "Terima kasih, Tante. Tante juga cantik."
Ia lalu mengecup pipi Candy, membuat wanita itu terdiam sesaat sebelum tersenyum lebar.
"Bonjour, Tante," sapa Axel santun.
"Astaga, satu lagi!" seru Elio sambil menepuk keningnya sendiri.
"Hahaha…!" tawa menggema di dalam mansion.
"Oke, cukup ramah tamahnya," Berlian menyudahi sambil bertepuk tangan. "Biarkan Tante Candy istirahat."
"Yah, Eira belum sempat main sama zia Candy," keluh Eira.
Berlian langsung menggendong cucu perempuannya.
"Uch, kasihan sayangnya nonna," katanya manja.
Ia berbalik menjauh, tapi sengaja mengeraskan suara, "Eira pasti ingin punya adik dari zio Revo. Jadi kita harus membiarkan zio Revo dan zia Candy istirahat lebih awal. Mengerti?”
Eira mengangguk. Entah ia benar-benar paham atau tidak. Yang jelas, kata adik sudah cukup membuatnya tersenyum lebar.
"Mam!" seru Rumi tak habis pikir.
Ia menatap ibunya dengan wajah campur aduk. Bagaimana bisa Berlian mengisi otak kecil putrinya dengan kosakata baru yang suatu hari nanti pasti memicu rentetan pertanyaan?
Dulu saja, saat Dante meminta jatah, mereka selalu menggunakan istilah bercocok tanam agar anak-anak tidak mengerti.
Awalnya Eira bertanya apa arti bercocok tanam. Dengan sabar, Rumi menjelaskan—lengkap dengan foto petani di ladang.
Masalahnya, lama-kelamaan Eira mulai curiga. Ia tak pernah melihat kedua orang tuanya melakukan apa yang dilakukan petani itu.
"Habislah," gumam Dante lemah.
Julien tertawa terbahak-bahak.
"Selamat berjuang, Bro."
Axel yang masih kecil hanya memandangi mereka tanpa banyak bertanya—jauh berbeda dengan Eira. Bagi Julien, anak perempuan memang lucu dan menggemaskan… tapi juga ceriwis. Ia sempat bersyukur anak pertamanya laki-laki.
Dante tersenyum tipis. Lalu, dengan nada terlalu tenang untuk disebut biasa, ia berkata, "Baru beberapa waktu lalu, kami mendoakan anak keduamu perempuan."
Julien langsung terdiam.
Senyum santainya lenyap. Wajah lesu kini berpindah ke arahnya.
Kali ini, Dante yang tertawa puas.
Lemparan lelucon antar ipar itu terdengar sangat natural—namun tidak bagi Candy. Wajahnya sudah merah padam karena tanpa sadar ia ikut dijadikan bahan candaan.
"Memangnya kenapa kalau perempuan?" tanya Riora polos.
"Eh—ngga apa-apa, sayang," jawab Julien cepat.
"Pasti banyak tanya seperti Eira," timpal Dante santai.
Julien langsung melirik Dante tajam.
"Wait, di mana Kak Revo?” pertanyaan Rumi memecah suasana.
"Paling sudah ke kamar," jawab Riora terkekeh.
"Astaga, dia dengan santainya meninggalkan istrinya di sini," keluh Rumi. "Candy, kau tahu di mana kamar kalian?" tanya Rumi.
Candy menggeleng pelan. Ia baru tiba, jelas belum tahu tata letak rumah ini.
"Ayo, akan aku tunjukkan," tawar Rumi sambil memeluk sebelah lengan Candy.
"Te-terima kasih, Kak Rumi," ucap Candy gugup sambil melangkah.
Meski Rumi dan Riora berstatus sebagai adik ipar, perbedaan usia mereka cukup signifikan. Namun sikap Rumi yang hangat membuat Candy merasa lebih tenang.
Mereka berjalan beriringan, sesekali Rumi menjelaskan tata letak mansion keluarga Luneth. Tanpa sadar, langkah mereka berhenti di lantai tiga—tepat di depan kamar Revo.
Rumi mengetuk pintu.
Tak lama, pintu terbuka. Revo muncul sambil menerima panggilan telepon, lalu berbalik masuk tanpa banyak bicara.
Rumi memberi kode pada Candy dengan memiringkan kepala.
"Maksudnya apa, Kak?" tanya Candy polos.
"Ini kamarmu. Masuklah," jawab Rumi ringan.
"Hah! Sekamar dengan pria irit bicara itu!" teriak Candy refleks.
"Eh!" Ia cepat-cepat menutup mulutnya sendiri.
"Hahaha… lucu sekali," Rumi tertawa ringan.
"Pria irit bicara,' ulangnya. "Memang cocok sih."
"Ma-maaf, Kak. Kelepasan," ucap Candy malu.
Dasar nih mulut nggak bisa direm, batinnya kesal pada diri sendiri.
"Kakakku memang begitu," ujar Rumi menenangkan.
"Sekarang masuklah. Kau pasti lelah setelah—"
Kalimat itu sengaja ia gantung.
Tanpa menunggu reaksi, Rumi berbalik pergi, meninggalkan Candy berdiri mematung di depan pintu.
"Aduh… masuk—nggak—masuk—nggak?" Candy menghitung dengan jarinya sendiri.
"Mau tidur di luar?" suara Revo terdengar datar.
Salah satu tangannya sudah bersiap menutup pintu.
"Eh, enak aja!" balas Candy spontan.
Tanpa ragu lagi, gadis itu langsung menerobos masuk. Revo sempat terdiam, menatap punggung istrinya dengan ekspresi bingung.
"Bukannya tadi dia yang ragu-ragu?" gumamnya pelan sambil menutup pintu.
"Ini kamar atau kos-kosan sepuluh pintu?" Candy berputar memandangi ruangan.
Revo mendengus pelan. "Dasar kampungan."
Kamar itu memang sangat luas. Selain tempat tidur berukuran king size, terdapat satu tempat tidur single. Tiga sofa empuk dan dua kursi dengan dua meja—satu sedang, satu kecil—tertata rapi. Belum lagi lemari es dua pintu serta kulkas mini di sudut mini bar.
"Haish! Pantesan aja dingin, kulkas aja ditarok di kamar," gumam Candy.
"Kau bilang apa?" tanya Revo.
"Eh—nggak. Nggak ada apa-apa," elaknya cepat. "Kamarnya gede banget," tambahnya gugup.
"Dengar," suara Revo terdengar lebih tegas.
Candy langsung menoleh.
"Ikuti aku."
Candy menurut. Mereka berjalan ke sisi kiri kamar, menuju sebuah ruangan lain. Begitu pintu dibuka, mulut Candy langsung ternganga.
Ruangan itu dipenuhi pakaian, perhiasan, dan alas kaki. Namun bukan isinya yang membuat Candy terperangah—melainkan ukurannya.
---
Note:
Ciao bella zia: Halo Tante cantik.
Grazie: terima kasih.
Bonjour, Tante: halo bibi (Prancis)