Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Rencana Buruk
...Selamat membaca semuanya.. ...
Di dalam mobil Rania merasa dari tadi suasana menjadi canggung, karena Boris hanya diam. Dan jika dia mengajak mengobrol, pria itu hanya menjawabnya dengan singkat.
Mobil melaju entah dibawa kemana, Rania engga bertanya. Dia sudah malas bertanya kembali kepada pria di sampingnya. Deheman kecil dari Boris membuat Rania ikut meliriknya sekilas. Dia diam tapi bibirnya yang mengerucut menandakan bahwa Rania sedang merajuk.
"Kenapa diam saja?" Rania menggeleng kecil, walaupun akhirnya mendengar Boris sudah memulai obrolan kembali, tapi dia justru yang malas mengobrol sekarang.
"Bete ya?" Rania tidak merespon, hanya memandang keluar kaca mobil, melihat jalanan dengan hamparan kota ditambah langit menjelang sore yang indah.
"Mau makan tidak?" Rania menoleh, menatap lekat Boris yang masih fokus pada jalanan.
"Ke rumahmu saja," mendengar jawaban Rania dengan nada dingin, membuat Boris justru menegang. Seakan tenggorokannya tercekat, dia diam tapi mulai melajukan mobilnya ke rumah.
...----------------...
Boris perlahan turun dari mobil untuk membuka gerbang rumahnya, setelah itu masuk kembali ke dalam memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumah. Rania dari tadi enggan turun, Pria itu menoleh melihat tidak ada pergerakan, dia mendekat ingin membukakan pintu mobil untuk Rania.
Rania melirik sinis dan langsung keluar mobil meninggalkan Boris yang bingung memandanginya. Dia buru-buru menyusul Rania yang masuk lebih dulu.
"Eh Kak Rania.." seru Jessy dari dalam rumah, Rania langsung berhambur di pelukan Jessy dengan memasang wajah cemberut.
Menyadari raut wajah tidak menyenangkan dari calon iparnya, Jessy bertanya, "Kakak kenapa? Kak Boris nyakitin Kakak ya?" Jessy memicingkan matanya ke arah Boris yang langsung menggoyangkan kedua tangannya sambil menggelengkan kepala.
Rania menatap Jessy dengan mata berkaca-kaca, bibir yang tertarik ke bawah seakan sedih sekali. Jessy mendekat ke telinga Rania, "Kak Boris tidak mau diajak berhubungan ya Kak?" Rania langsung spontan menganggukkan kepala cepat, Boris yang masih bisa mendengar ucapan mereka semakin merasa gugup. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan bergegas melangkah menuju kamarnya.
Jessy dan Rania yang melihat itu justru kesal dan berdecak, hentakan kaki Rania sangat terlihat bahwa dia merasa marah. Tapi, beberapa detik kemudian dia menatap Jessy dan menggoyangkan lengan wanita itu. Dengan mata memohon, Jessy menganggukkan kepala. Diberi kode sedikit dari Rania, Jessy sudah paham harus membantu sedikit wanita itu untuk melunakan sikap Kakaknya.
Rania menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan Jessy yang ikut berada di sampingnya tidak melakukan apapun.
"Mending Kakak menyusul, Kak Boris. Siapa tau dia sedang.." Jessy menaikkan beberapa kali alisnya sambil tersenyum penuh arti yang terlihat mencurigakan.
Rania tersenyum senang, dan menganggukkan kepala cepat. Langkahnya menyusul Boris yang berada di kamar. Tanpa mengetuk, dia buka pintu Boris yang ternyata tidak terkunci tersebut.
Ceklek.. Mata Rania membulat saat melihat Boris yang tidak memakai baju atasan, hanya menggunakan celana kolor berwarna merah. Rambut yang basah, tubuhnya mengeluarkan aroma sabun dan sangat wangi.
Karena terkejut, Boris juga membulatkan matanya. Memandang wajah Rania dengan rasa gugupnya yang tidak hilang dari tadi.
"Nona, kenapa ke sini?" Rania tidak menjawab, justru dia melangkah mendekati Boris yang ikut melangkah mundur seiring langkah wanita itu.
Sambil mengendus aroma sabun melekat pada tubuh Boris, dia menatap ke arah Boris dengan senyum jahil. Colekan kecil ke lengan kekar Boris membuat pria itu semakin tidak karuan.
"Sengaja mau mandi dulu ya, Ris?" tanya Rania menggoda Boris yang sudah kalang kabut perasaannya.
"Ti-tidak Nona. Seharian kira habis keluar, jadi tidak salah saya mandi, kan?" dengan jawaban yang terdengar gugup, Rania menganggukkan kepala membenarkan ucapan tersebut.
Rania mencolek roti sobek yang terpampang jelas di matanya saat ini, tubuh Boris membeku. Tatapannya seakan berhenti terpaku menatap lekat wanita di depannya yang sangat nakal.
Niat Rania hanya menggoda dan menjahili Boris. Tapi, bukannya pria itu ketakutan justru sebaliknya, dia semakin menantangnya. Boris melangkah maju merapatkan tubuh mereka, hingga mengikis jarak antara keduanya.
"Nona yang memulainya," nada yang terdengar lembut namun tegas, tatapan dalam seakan memuja Rania. Perlahan tangan kekar Boris membelai pipinya, dengan tempo yang sangat lambat. Menikmati semua momen manis mereka.
"Bisakah dilanjut?" tanya Boris dengan suara rendah, bergerak seakan ingin mencapai benda plum yang merona di depannya saat ini. Rania terdiam membeku, karena sebaliknya sekarang, dia merasa gugup dan tidak bisa merespon Boris yang seperti ini. Rasanya dia mendadak membisu, dia mau tapi dia juga belum ingin sekarang.
Boris tersenyum melihat reaksi Rania mendadak terdiam, "jangan nakal dan terlalu berani, takut saya bisa hilang kendali." Cup.. Hanya kecupan singkat yang berani dia berikan untuk Rania.
"Dasar nakal sekali!" Boris mencubit pelan hidung Rania menggunakan jarinya, Rania mengulas senyum manis.
Merasa senang, mau digoda dan diajak berapa kali pun. Boris memilih untuk menunda dan menghindar, dia sudah tahu caranya mengatasi kejahilan Rania yang tidak tahu batas itu.
Perlahan dengan kesadarannya sendiri Rania memilih keluar kamar Boris seakan kabur dari sana daripada berakhir di ranjang.
Boris terkekeh kecil, "lucu sekali! Rasanya ingin sekali aku cepat menikahinya," dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Hari ini kencan pertama mereka di Quite Aquarium, dan menyenangkan sekali bisa berdua bersama Rania. Tidak ada yang tahu, jika dia atasanku. Wanita itu benar-benar bisa mengikuti situasi apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pria bermata biru tajam, menatap foto Rania yang berciuman dengan Boris. Kertas itu diremas kuat hingga tidak berbentuk lagi.
"Catch the man first!" (Tangkap prianya lebih dulu!) suara tegas penuh amarah, tapi sesaat kemudian dia kembali bersuara. "Destroy his body!" (Hancurkan tubuhnya!) aura yang terlihat dingin seakan membuat ruangan menjadi merinding jika melihatnya.
"Then what about that woman, Bos?" (Lalu, bagaimana dengan wanita itu, Bos?" Anak buahnya bersuara, pria yang menyorot tajam penuh emosi menggebrak meja, rasanya ingin meledak saat ini juga.
"Don't touch my woman! Just break the bones of the man who always stands by her side!" (Jangan sentuh wanitaku! Patahkan saja tulang pria yang selalu berada di sisinya!) bentaknya diiringi seringaian jahat yang hampir membuat anak buahnya sendiri terlonjak mundur takut mendapat pelampiasan dari Bosnya. Sebuah putung rokok itu disesap, asap dihembuskan ke udara, diikuti seringaian yang mengerikan.
...Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir di ceritaku. Jangan lupa like dan komen ya semua.
Semoga di tahun baru ini, kita semua diberi kesehatan, dan keberkahan, doakan aku ya gaes, biar aku cepet ketemu sama pasangan.. Aamiin, terima kasih..🤗