Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cerita bersama
Beberapa minggu kemudian, Lwazi mengirim paket yang penuh dengan cerita dan gambar dari rumahnya di Gauteng. Ada foto padang rumput yang luas yang membentang sejauh mata memandang, dengan awan yang bergulir seperti gumpalan kapas di langit biru. Ada juga gambar festival Ubuntu yang meriah—ratusan orang berkumpul bersama, berbagi makanan tradisional seperti pap en vleis, bobotie, dan chakalaka, sambil bernyanyi dan menari bersama bawah sinar matahari Afrika.
“Ubuntu berarti ‘saya adalah apa saya karena kita semua,’” tulis Lwazi dalam pesannya. “Nenek moyang saya selalu mengatakan bahwa makanan adalah jembatan yang menghubungkan hati dan tanah. Setiap hidangan yang kita sajikan adalah cara untuk menyambut tamu dan menghormati leluhur kita.” Siti membaca pesan itu sambil melihat gambar-gambarnya, lalu berbagi dengan teman-teman. “Ini adalah inti dari cerita kita—bagaimana setiap budaya memiliki cara sendiri untuk menyampaikan cinta melalui makanan dan tradisi.”
Tak lama setelah itu, panggilan video dari penerbit Afrika Selatan datang dengan kabar menggembirakan. “Kita akan menerbitkan buku kalian bulan depan, dan mengundangmu ke Festival Budaya Ubuntu di Johannesburg,” ucap wanita penerbit bernama Thandi dengan senyum hangat. “Ada juga undangan dari penerbit Nigeria dan Kenya untuk bertemu penulis dan pembaca di seluruh benua Afrika. Bisa jadi kesempatan besar untuk menghubungkan cerita kita dengan lebih banyak orang.”
Rama segera mulai merencanakan rute perjalanan yang melintasi benua Afrika, mencatat lokasi-lokasi dengan cerita budaya yang kaya. Rian menyusun rencana konten sosial yang akan menampilkan perjalanan dari Johannesburg ke Lagos, lalu ke Nairobi—setiap langkah diisi dengan makanan, tari, dan cerita dari tempat-tempat yang dikunjungi. Siti mulai menyusun adegan baru untuk buku, menggabungkan ide dari Lwazi tentang padang rumput Afrika dengan momen-momen dari teman-teman di seluruh dunia.
Ketika mereka tiba di Johannesburg, udara hangat dan penuh dengan aroma rempah-rempah dari pasar-pasar lokal menyambut mereka. Lwazi menjemput mereka dengan mobil yang penuh dengan senyuman dan lagu-lagu tradisional Afrika. Di jalan menuju lokasi festival, mereka melewati padang rumput yang luas, di mana kawanan zebra dan springbok berlari bebas. “Ini adalah tempat di mana nenek saya sering bercerita tentang bagaimana tanah memberi kita semua yang kita butuhkan,” kata Lwazi dengan suara lembut. “Setiap makhluk hidup di sini saling bergantung—sama seperti kita sebagai manusia di seluruh dunia.”
Di lokasi festival, mereka bertemu teman baru dari berbagai negara Afrika. Ada Amara dari Nigeria yang membawa resep jollof rice yang telah diwariskan selama lima generasi, dan Kaelo dari Kenya yang menceritakan tentang tradisi pembuatan ugali bersama keluarga besar. “Bagaimana kalau kita membuat meja besar di tengah padang rumput, di mana semua orang bisa membawa hidangan khas mereka dari seluruh dunia?” usulkan Amara. “Kiki dan teman-teman bisa membantu memasak bersama—dari paella Spanyol hingga dumpling Cina, dari mochi Jepang hingga jembatan Afrika—semua ditempatkan bersama sebagai simbol persatuan.”
Semua menyetuju dengan antusias. Hari berikutnya, mereka berkumpul di padang rumput yang luas, dengan matahari yang mulai merunduk ke cakrawala. Di tengah padang, mereka membuat meja besar yang ditutupi dengan kain warna-warni seperti kain batik Indonesia dan kente dari Ghana. Setiap orang membawa hidangan mereka—Maria dan neneknya membawa paella yang panas, Sofia membawa hidangan khas Carnaval Brasil, Zoe membawa makanan tradisional Aborigin Australia, Ken membawa mochi dan makanan Hanami Jepang, Ji-woo membawa hidangan Chuseok Korea, Li membawa dumpling Cina, dan teman-teman Afrika membawa hidangan khas mereka.
Komunikasi kadang menyulitkan—beberapa berbicara dalam bahasa Swahili, beberapa dalam Yoruba, dan yang lain dalam bahasa aslinya masing-masing. Tapi seperti biasa, makanan dan tari menjadi bahasa yang dipahami semua orang. Ketika nenek Lwazi yang merupakan seorang penyanyi tradisional mulai bernyanyi dalam bahasa Zulu, semua orang menyanyi bersama dengan irama yang sama, meskipun tidak semua mengerti kata-katanya. Kadang mereka menggunakan gerakan tari dari berbagai benua—tari Aborigin Australia yang lembut, tari Samba Brasil yang penuh semangat, tari tradisional Korea yang anggun, dan tari Afrika yang kuat—untuk menyampaikan rasa syukur dan persahabatan yang mendalam.
Rama merekam setiap momen dengan kamera dan ponselnya—dari wajah-wajah yang bersinar ketika makanan disajikan, hingga pemandangan matahari terbenam yang menerangi langit dengan warna oranye dan merah seperti pernak-pernik Carnaval. Siti mencatat setiap cerita yang mereka dengar—cerita tentang leluhur yang melindungi tanah, tentang harapan yang tumbuh seperti tanaman di musim hujan, tentang persahabatan yang tidak terbatas oleh jarak atau bahasa.
Setelah kembali ke Semarang, mereka menyelesaikan buku keempat dengan judul Cinta yang Menghubungkan Benua. Buku itu tidak hanya berisi cerita Kiki dan teman-temannya, tapi juga kumpulan cerita dari semua teman yang mereka temui di seluruh dunia—dari Valencia hingga Sydney, dari Kyoto hingga Johannesburg. Rian mengunggah video perjalanan terakhir mereka ke padang rumput Afrika ke saluran sosial, dan dalam waktu singkat, video itu menjadi viral dengan jutaan tayangan dari berbagai negara.
Malam itu, mereka berkumpul lagi di perpustakaan yang sudah seperti rumah bagi mereka. Bulan bersinar terang di atas langit, dan layar ponsel mereka penuh dengan wajah teman-teman dari seluruh dunia—Spanyol, Brasil, Australia, Jepang, Korea Selatan, Cina, Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, dan masih banyak lagi. Setiap orang menunjukkan sesuatu yang spesial—Maria menunjukkan taman sayuran di mana dia menanam bahan-bahan paella, Sofia menunjukkan kostum baru untuk Carnaval tahun depan, Zoe menunjukkan anak-anak yang sedang belajar tari Aborigin, Ken menunjukkan pohon sakura yang dia tanam di halaman rumahnya, Ji-woo menunjukkan persiapan untuk Chuseok tahun depan, Li menunjukkan kelas pembuatan dumpling yang dia ajarkan, dan Lwazi menunjukkan anak-anak yang sedang bermain di padang rumput sambil menyanyi lagu yang mereka pelajari dari video teman-teman di luar Afrika.
Rama menyalakan lampu kecil di tengah meja, dan Siti berdiri sambil memegang salinan buku yang baru jadi. “Kita mulai dengan hanya satu ide—cerita tentang persahabatan dan makanan,” katanya dengan suara yang penuh perasaan. “Sekarang, kita telah membangun jaringan cinta dan cerita yang melintasi seluruh dunia. Setiap cerita yang kita dengarkan dan bagikan membuat kita lebih kaya, dan membuat dunia terasa lebih kecil dan lebih hangat.”
Rian mengangguk, lalu menunjukkan pesan baru yang masuk dari sebuah penerbit di Italia. “Mereka ingin menerjemahkan buku kita ke bahasa Italia, dan mengundang kita ke festival makanan di Florence,” katanya dengan senyum. “Mereka bilang ada seorang koki yang ingin berbagi cerita tentang pasta keluarga dan tradisi makan malam bersama.”
Siti tersenyum, lalu melihat ke arah layar ponsel di mana semua teman mereka sedang menunggu. Dia mengetik pesan singkat yang akan dikirim ke semua orang: “Kita akan terus bercerita, terus berbagi. Tak peduli seberapa jauh, cinta dan cerita akan selalu menghubungkan kita. Dan sekarang, kita punya cerita baru yang akan kita mulai—di tengah kota Florence yang indah, dengan pasta yang lezat dan teman-teman baru yang menunggu.”
Di layar ponsel, muncul balasan dari semua arah dunia—semua dengan kata-kata yang sama: “Mari kita mulai cerita baru ini bersama.”