NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 Kerinduan Tanpa Nama

Angin sepoi menerpa rambutku. Raka mengajakku jalan melalui jalur berbeda dari yang aku lalui sebelumnya. Meski rasanya membuang waktu, tapi pemandangan ini tidak dapat diabaikan.

Sebentar berjalan, aku menyadari kalau jalanan di desaku cukup bagus juga, tidak kalah dengan kota. Aspal hitam basah, marka jalan dan tiang pendek beton pembatas, sangat kontras dengan mentari di depanku.

Melirik ke kanan, di balik beberapa rumah yang menghalangi, air terjun raksasa tampak menyemburkan air yang sangat banyak, ke sungai jernih di bawahnya.

Sedangkan di kiri, ada bukit tinggi yang di selimuti rumput tebal, dengan anak tangga batu menuju langsung ke pohon keramat di desa ini.

"Raka. Di atas, Mbah Rerindang masih ada?!" Tanyaku, dengan suara tinggi yang hendak mengalahkan angin.

"Oh?! Masih. Kemarin sempet ada dahannya yang patah. Warga sempet panik pas denger suara keras di atas, kita pikir mbah tumbang." jawab Raka dengan teriakkan yang tidak kalah kencang.

Rerindang adalah nama pohon besar yang kami tuakan di desa ini. Seingatku, dia sudah ada dan di ceritakan dari buyutnya buyutku. Tapi aku yakin, Rerindang sudah berdiri jauh sebelum mereka.

Pohon besar dengan akar gantung yang menjulur turun, dahan dan ranting yang tinggi juga melebar, membuat bentuk Rerindang menyerupai payung besar.

"Kalo panen raya masih lama, Raka?"

"Sebentar lagi kok, kamu liat pohon di sekitar bukit. Udah mulai berbunga semua, kan? Setahuku, kalau udah mekar, panen raya dimulai."

Oh iya, setelah Raka berkata demikian, aroma bunga sepintas melintas ke dalam hidung. Meski punya tanggal pasti, acara panen raya yang diadakan sebagai rasa syukur, selalu ditandai oleh bunga di bukit itu.

Motor berlaju kencang menuruni jalan aspal, menuju rumahku. Meski bukit Rerindang sudah terlewati, aku mulai membayangkan dan teringat akan acara panen raya sebelum-sebelumnya.

Meski tidak banyak yang bisa diingat, namun aku dapat merasakan energinya. Aroma sore yang lembab, tawa, tarian yang diiringi musik, dan anak kecil yang berlarian.

Hanya potongan dari pita ingatan itulah yang dapat aku ingat.

Kami sampai di depan rumahku, ibu sedang menampi beras menggunakan tampah. Suara srek dari beras yang dilempar ke atas dengan wadah bambu terlantun merdu..

Ibu melihatku, lalu ke arah Raka. Matanya tampak heran mungkin karena aku yang sebelumnya berangkat sendiri kini pulang berdua.

"Eh... kok kamu pulang nya sama Raka? Kamu, nggak kenapa-kenapa di jalan kan?" Ibu segera menghentikan kegiatannya dan mendekat.

Ibu memegang pipiku, mengecek setiap jengkal mencari luka. Aku mundur sedikit untuk menghindar, "... Gak apa-apa buk, cuma gak sengaja aja papasan sama Raka. Terus diajak pulang bareng."

Ibu menatap Raka dari ujung kepala hingga kaki, lantas melempar senyum. Ia menyuruh Raka menunggu di sini, masuk sebentar dan memberikan satu rantang berisi lauk hari ini.

"Ibu titip ya buat mamah kamu, Raka."

Raka menerima rantang itu dengan kedua tangan, sedikit kikuk tapi jelas senang. "Wah… makasih banyak, Buk. Nanti saya sampaikan ke mamah."

Ibu mengangguk, lalu kembali menatapku sekilas tatapan yang mengandung sesuatu yang tidak ia ucapkan. Raka pamit, menstarter motornya, dan melaju pelan keluar halaman sambil melambaikan tangan.

Begitu suara motor menjauh, ibu menutup pagar bambu dan menatapku lagi, kali ini lebih lama. "Kamu itu ya… kalau pulang sama Raka, bilang dulu. Ibu kira kamu kenapa-kenapa."

Aku menghela napas. "Tadi tuh beneran cuma ketemu di jalan, Buk."

Ibu tidak menjawab. Ia hanya berjalan kembali ke tampahnya, tapi gerakannya lebih pelan dari sebelumnya. Seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.

Aku ikut duduk di anak tangga teras, memperhatikan ibu menampi. Gerakan tangannya teratur, tapi wajahnya tampak memikirkan sesuatu.

"Buk," panggilku pelan, "panen raya tahun ini… bakal rame kayak dulu, kan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!