Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah makan malam Kenanga kembali ke kamarnya. Biasanya dia selalu membantu bibi membersihkan meja dan mencuci piring, tapi kali ini malas. Wanita itu ingin melihat kamera CCTV yang dia pasang di kamar Davina, apakah bekerja dengan baik atau tidak.
Kenanga memang sudah memasang semua CCTV yang dibeli. Ada yang dia pasang di ruang makan, ruang keluarga dan gazebo di samping rumah. Semua kamera CCTV tersambung dengan ponselnya jadi dirinya dengan mudah melihatnya. Kenanga tersenyum puas karena gambar yang dilihat sesuai dengan apa yang diinginkan.
Pintu kamar terbuka, tampaklah Bima sedang memasuki kamar dengan lesu. Kenanga pun segera menutup layar ponselnya dan membuka sosial media miliknya agar sang suami tidak mencurigainya. Apalagi Bima juga selalu saja mencurigainya telah melakukan sesuatu.
"Kenanga, kenapa kamu terlihat aneh seharian ini. Kamu sebenarnya ada masalah apa?" tanya Bima yang begitu yakin ada sesuatu pada istrinya.
"Aku tidak ada masalah apa-apa, Mas. Justru kamu yang aneh, dari tadi nanyain Aku ada masalah apa nggak. Apa kamu ingin aku ada masalah?" tanya Kenanga yang sudah kesal juga.
"Bukan seperti itu, tapi kamu benar-benar aneh hari ini. Kamu tidak seperti biasanya."
Kenanga memutar bola matanya malas. Tentu saja sikap dia sekarang berbeda, tidak mungkin bisa sama seperti dulu karena sekarang sudah tahu segalanya. Semoga saja dirinya bisa memiliki bukti kejahatan suaminya jadi bisa segera pergi dan menggugat cerai.
"Aku baik-baik saja. Kamu saja yang terlalu berlebihan. Sudahlah, aku mau tidur."
Kenanga pun merebahkan tubuh dan menyelimutinya sampai batas dada. Bima yang masih ingin bertanya pun akhirnya mengurungkan niatnya. Mungkin memang dirinya saja yang terlalu khawatir dengan rahasianya, makanya terus saja mencurigai Kenanga. Pria itu pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, barulah mengikuti Kenanga menuju alam mimpi.
Dua hari telah berlalu, sampai hari ini masih belum ada bukti soal perselingkuhan Bima dan kejahatan yang lainnya. Kenanga jadi bingung harus bagaimana untuk mencari tahu semuanya agar bisa dijadikan bukti untuk mengajukan gugatan cerai. Sepertinya tidak cukup hanya mengandalkan kamera CCTV, dia harus mencari cara lain untuk mencari bukti.
Kenanga pun menghubungi seseorang yang cukup lama terlupakan. Semoga saja nomornya masih tersimpan karena dulu mereka cukup dekat.
"Ada apa, Kenanga? Tumben kamu menghubungiku. Aku pikir kamu sudah lupa punya sepupu sepertiku," tanya seseorang yang berada di seberang sana.
Dia adalah Fadli—sepupu Kenanga. Hubungan mereka dulu cukup dekat. Namun, setelah menikah Kenanga membatasi diri agar tidak bergaul dengan laki-laki meskipun itu sepupunya. Itu semua juga atas permintaan Bima, jadi dia terpaksa menjaga jarak dengan semua laki-laki di keluarganya.
"Apa kamu memiliki kenalan seorang detektif?" tanya Kenanga yang tidak ingin berbasa-basi.
"Detektif? Kenapa kamu mencari detektif? Kamu lagi mata-matain siapa?"
"Jangan banyak tanya. Punya atau tidak?"
"Kamu jawab dulu pertanyaanku dong, kamu sedang memata-matai siapa? Apa jangan-jangan suamimu itu selingkuh?"
Tebakan Fadli benar, tapi kita Kenanga terlalu malas untuk menjelaskan apa yang terjadi. Lagipula itu juga bukan sesuatu yang perlu orang lain ketahui.
"Ya sudah kalau kamu tidak punya kenalan."
Kenanga akan memutuskan sambungan telepon. Namun, di seberang Fadli berteriak terlebih dahulu. "Jangan tutup dulu teleponnya! Kamu sekarang gampang sekali emosian. Aku ada beaaberapa nanti aku kirimkan profilnya. Kamu tinggal pilih mau yang mana ada nomor ponselnya juga di sana. Kamu bisa menghubunginya secara langsung."
"Oke, terima kasih."
Kenanga pun segera memutuskan sambungan telepon. Padahal Azriel masih ingin berbincang banyak hal. Hubungan keduanya dulu dekat, tetapi sudah cukup lama mereka tidak berbagi kabar. Meskipun kesal, dia tetap mengirimkan apa yang dijanjikan tadi.
Walaupun Azriel sangat penasaran apa yang ingin dilakukan temannya itu, tetapi dia bukanlah orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Nanti juga akan ada saatnya untuk dirinya mengetahui kebenaran.
Tidak berapa lama Kenanga mendapat pesan dari sepupunya. Sebuah dokumen identitas beberapa detiktif swasta, serta apa saja yang menjadi keahliannya. Setelah melihat-lihat akhirnya Kenanga pun memutuskan untuk menghubungi salah satu diantaranya. Dia meminta detektif itu untuk menyelidiki tentang sang suami dan apa saja yang sudah dilakukannya.
Kenapa juga meminta detektif itu untuk menyelidiki tentang Alicia. Dia juga ingin tahu masa lalu mereka, apa masih ada yang ditutupi darinya atau selama ini dikatakan sang suami memang benar.
Esoknya saat malam hari setelah selesai makan malam, Kenangan melihat sang suami memasuki kamar Davina. Dia merasa curiga jika ada sesuatu yang ingin dilakukan sang suami dan itu rahasia. Terlihat Bima menoleh ke kiri dan kanan sebelum masuk, seolah tidak ingin ada yang tahu jika pria itu memasuki kamar putrinya.
Kenanga segera pergi ke taman belakang dan membuka ponselnya. Tidak lupa juga memakai earphone agar bisa mendengar apa saja yang mereka bicarakan. Tidak mungkin dia mengeraskan volume ponselnya, khawatir jika mengundang perhatian kalau ada yang lewat.
Meskipun suara yang dihasilkan begitu kecil. Namun, Kenanga masih bisa mendengarnya dengan baik.
"Ada apa, Davina? Kenapa kamu meminta Papa masuk ke kamar kamu? Apalagi kamu juga bilang agar Mama Kenanga jangan sampai tahu," tanya Bima pada putrinya.
Davina pun berdiri dan menyerahkan sebuah kertas.
"Apa ini?"
"Papa baca saja."
Terlihat Bima sedang membuka kertas tersebut dan membacanya. Kenanga jadi penasaran surat apakah yang diberikan Davina pada papanya. Sampai-sampai dirinya tidak boleh tahu.
"Pertemuan orang tua mahasiswa? Terus kenapa harus sampai meminta Papa ke sini? Kenapa tidak memberikannya sama mamamu saja."
"Mama siapa, Pa? Mama Kenanga atau Mama Alicia?"
"Tentu saja Mama Kenanga. Semua orang tahu siapa mamamu."
"Dan semua orang juga tahu jika Mama Kenanga bukan ibu kandungku."
"Memangnya kenapa? Selama ini juga selalu Kenanga yang datang."
"Tapi kali ini aku ingin Mama Alicia yang datang, Pa. Aku ingin memperkenalkan Mama Alicia pada teman-temanku, pasti mereka semua iri karena mamaku begitu cantik," ujar Davina dengan tersenyum membayangkan apa yang terjadi.
"Apa Mama Kenanga tidak cantik dan membuatmu malu jika datang ke sekolah?"
"Tidak juga. Aku hanya ingin memperkenalkan mana kandungku saja."
"Davina, sekarang belum saatnya. Kalau Mama Kenanga tahu, dia akan sangat marah karena merasa dibohongi."
"Karena itu jangan sampai Mama tahu. Mama juga nggak akan tahu kalau di sekolah ada pertemuan wali murid. Mama itu 'kan juga nggak begitu dekat dengan orang tua lainnya, tidak seperti mamanya teman-temanku yang solid dengan orang tua mahasiswa lainnya. Mereka bergabung dalam satu arisan. Mama Kenanga saja yang nggak pernah mau ikut gabung."
"Bukan nggak mau ikut gabung, tapi mereka suka sekali membicarakan kejelekan orang lain karena itu Kenanga tidak suka."
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu