Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Mayor 3
*
*
Pukul 06.00 wib Qistina keluar dari kafe, semalam ia menginap di sana. Hal itu sering ia lakukan jika sengaja mengambil job di luar jam shiftnya. Pihak Kafe juga menyediakan ruangan istirahat khusus bagi karyawan seperti Qistina.
Motor masih di bengkel, jadilah ia pulang dengan berjalan kaki. Sebenarnya jaraknya lumayan dari rumah, perlu sekurang-kurangnya tiga puluh menit untuk sampai ke rumah kontrakan. Tapi itu bukan lah kendala yang berarti bagi Qistina, gadis itu sudah terlatih menghadapi situasi-situasi sulit. Jadi dia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Langkah Qistina terhenti oleh suara rem menjerit.
Disusul dentuman keras.
Sebuah motor tergeletak di aspal, beberapa meter dari sebuah truk yang berhenti miring. Helm berguling pelan, lalu diam. Qistina refleks berlari mendekat, jantungnya berdetak tidak karuan. "Kecelakaan, ya Allah kasihan sekali." pekiknya cemas.
Seorang pria tergeletak tak bergerak. Darah mengalir dari kepalanya, membasahi jalan. Di sampingnya, seorang wanita berusaha bangkit sambil menahan sakit. Bajunya robek, lutut dan lengannya penuh luka, tapi matanya masih terbuka—panik.
"Mas… mas bangun…" suara wanita itu gemetar.
Tangis kecil terdengar. Seorang balita perempuan, mungkin belum genap dua tahun, duduk di aspal sambil menangis, wajahnya kotor, tubuhnya gemetar ketakutan.
Qistina tidak tega melihatnya, langsung menggendong anak itu, mendekapnya ke dada. Tangis kecil itu mereda perlahan, berubah jadi isakan pendek yang tersengal.
"Tenang ya dek, tenang tidak akan terjadi apa-apa." Qistina sambil mengelus lembut puncak kepala balita itu.
"Tolong…" wanita itu menatap Qistina, matanya basah. "Tolong ikut saya ke rumah sakit. Anak saya…"
Kalimatnya terputus. Tangannya gemetar saat mencoba meraih putrinya.
"Iya Bu, Ibu tenang dulu." kata Qistina, meski suaranya sendiri bergetar. "Saya akan ikut." tanpa ragu-ragu.
Sopir truk turun dari mobilnya, wajahnya pias.
"Bawa ke rumah sakit, saya akan bertanggung jawab. Tolong panggilkan ambulan."
Beberapa orang berkerumun, salah satu dari mereka menelpon Ambulan.
Sirene ambulans mulai terdengar dari kejauhan. Orang-orang membentuk lingkaran cemas. Qistina tetap berdiri di sana, memeluk erat tubuh kecil yang hangat di pelukannya.
Balita itu menyandarkan kepala di bahu Qistina, napasnya masih terisak, tapi aman—untuk sementara.
Dan di pagi yang seharusnya biasa itu, Qistina ikut masuk ke dalam kekacauan yang tak pernah ia rencanakan.
***
Ambulans berhenti mendadak di depan pintu IGD. Pintu terbuka. Suara roda brankar beradu dengan lantai, cepat dan tergesa. Pria itu langsung didorong masuk, tubuhnya kaku, wajahnya pucat, darah masih terlihat di pelipisnya.
"Pasien kecelakaan lalu lintas!"
"Trauma berat!"
"Hubungi Dokter Albie!"
Suara-suara itu berlapis, saling menyahut.
Mendengar nama dokter Albie, Qistina berdiri sedikit menjauh, memeluk balita perempuan yang kini terdiam di dadanya. Mata kecil itu terbuka lebar, menatap langit-langit rumah sakit yang asing. 'Aduh, dokter itu. Aku lupa kalau ini rumah sakit Pusat.'
Wanita yang tadi masih berdiri dan menyelesaikan administrasi tiba-tiba limbung. Tubuhnya melemah sebelum sempat berkata apa-apa. Beruntung seorang perawat sigap menangkapnya.
"Tolong Ibu ini butuh perawatan, tekanan darahnya sepertinya turun," pekik perawat itu.
Brankar lain datang. Wanita itu dibaringkan, didorong masuk ke dalam IGD, menyusul suaminya—tanpa sadar, tanpa sempat menoleh.
Qistina tercekat.Ia sendirian kini. Bersama seorang anak yang bahkan tidak ia kenal namanya.
Ia melirik jam dinding, jarumnya menunjuk di angka delapan. Waktu semakin menipis, karna hari ini ada jadwal Quis dari dosen pengampu. 'Gimana ini, aku bisa terlambat. Bisa-bisa Bu Rahma nggak izinkan aku masuk. Mana penting banget buat nilai ku. Lagian kenapa tadi aku nggak berfikir dulu, main bantuin aja. Padahal hidupku penuh masalah dan sebenarnya juga butuh bantuan. Malah sok-sokan bantu orang, duh!'
"Maaf bu, ada luka di siku anaknya. Mari kami bantu obati." kata seorang perawat sambil melirik balita di pelukan Qistina.
Reflek Qistina memeriksa,benar ada luka di siku balita itu. "Saya bukan Ibunya, Ibunya tadi pingsan dan di bawa ke ruang IGD. Saya cuma nolongin jaga anak ini."
"Anak pasien kecelakaan tadi?"
Qistina mengangguk.
"Kalau begitu, tolong tunggu dulu disini ya mbak. Sampai wali pasien itu datang. Keluarganya sedang perjalanan kemari."
Tidak ada pilihan lain. Qistina akhirnya duduk sambil memeluk balita itu. 'Mau gimana lagi, kasian juga kalau aku tinggal anak ini.'
Karna sering terlibat kesulitan empati Qistina sangat tinggi jika di hadapkan situasi yang seperti itu. Dia dengan mudah ikut merasakan, meski terkadang dia malah jadi kerepotan.
Ia duduk di bangku ruang tunggu, balita itu masih melekat di dadanya, jari-jari kecil menggenggam kerah jaketnya seolah takut dilepaskan. Qistina menepuk-nepuk punggung kecil itu pelan, mencoba menenangkan.
"Sebentar ya," bisiknya lirih. "Mama kamu nanti bangun."
Jam dinding bergerak pelan. Setiap detik terasa panjang. Pintu IGD terbuka dan tertutup berkali-kali, tapi tidak satu pun membawa kabar yang ia tunggu.
Qistina tetap di sana. Menjaga.
***
Pintu ruang operasi terbuka perlahan. Cahaya putih di dalam meredup saat pasien didorong keluar di atas brankar. Selang napas masih terpasang. Monitor portabel berdetak stabil—tanda kehidupan yang berhasil dipertahankan.
Albie berjalan di sisi brankar, melepas sarung tangan sambil tetap menatap wajah pucat pasien itu. Tatapannya fokus, memastikan tidak ada yang terlewat.
"Tekanan stabil, Dok." lapor Naufal sambil menyesuaikan alat. "Kita bawa ke ICU?"
Albie mengangguk. "Tolong di enam jam pertama jangan sampai lengah, pasien ini perlu pemantauan ketat."
Brankar bergerak menyusuri lorong. Roda berdecit pelan di lantai rumah sakit yang dingin. Beberapa perawat mengiringi, sigap, tanpa bicara yang tidak perlu.
"Nyaris," ujar Naufal akhirnya, lirih.
Albie tidak menoleh. "Tapi ini belum selesai. Enam jam pertama setelah operasi kita masih belum bisa lega."
Mereka berhenti sejenak di depan pintu ICU. Seorang perawat membuka jalan. Pasien itu didorong masuk, meninggalkan lorong yang kembali sunyi.
Albie berdiri diam sesaat. Napasnya berat, tapi teratur. Ia baru menyadari pegal di bahu dan lehernya setelah semua selesai.
"Good job," kata Naufal singkat.Albie hanya mengangguk.
Naufal berjalan selangkah lebih dulu dari Albie, namun terhenti saat matanya tertumbuk pada sosok perempuan yang sedang mengelus-elus kepala balita yang ada di gendongannya.
"What? We can never predict what will happen."
Albie ikut berhenti, "Apaan?"
"Aku yakin itu cewek yang kemarin kan?" sambil menunjuk ke arah perempuan itu. Mata Albie mengikuti arah telunjuk Naufal. Dan benar, itu Qistina!
"Jadi dia punya anak, apa dia janda muda?" Naufal sambil menoleh.
Albie mengernyitkan dahi, "Masa sih?"
"Bie, ternyata dia mengalami kehidupan yang berat. Ngurus anak di usia muda begitu kan nggak gampang."
"Nggak mungkin, hasil tes kemarin dia masih perawan"
"Jadi itu anak siapa?"
Albie menaikkan bahunya, "Ya...nggak tahu. Tanya aja sendiri."
"Kamu nggak tertarik buat nanya?"
"Nggak, aku sudah nggak mau berurusan dengan cewek drama itu. Pusing!"
"Tapi, Bie..."
"Bodo amat! Aku mau ke toilet, kebelet."
Entah karna beneran kebelet atau ingin menghindari, Albie pergi meninggalkan Naufal yang masih penasaran.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
Bberapa negara melegalkan eutanasia, sementara yang lain melarangnya....