Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Setelah jam menunjukkan pukul tujuh malam Zian pamit pulang. Zian memang sekarang sudah tidak lagi ikut balapan setelah ayahnya memberikan pilihan untuk masa depannya.
Zian hanya fokus dan belajar sesuai permintaan sang ayah. Tapi Zian juga sebenarnya tidak begitu saja meninggalkan basecamp-nya. Sebenarnya basecamp mereka itu bukan hanya tempat nongkrong mereka tapi lebih ke seperti bengkel tempat mereka memodifikasi motor yang akan mereka gunakan untuk balap. Di lantai atas mereka ada beberapa kamar yang selalu di pakai oleh mereka yang menginap di sana.
Kini motor Zian sudah sampai di depan rumah. Zian bisa melihat ada mobil yang cukup asing terparkir di halaman rumahnya.
"Om, mobil siapa?" tanya Zian kepada salah satu prajurit yang berjaga di rumahnya.
"Katanya teman komandan Mas."
"Makasih ya Om, saya pamit dulu masuk."
"Silahkan Mas."
Walaupun Zian itu keras kepala tapi soal sopan santun Regina dan Dandi selalu mengutamakan. Mereka harus menghormati dan menghargai orang yang lebih tua dari mereka jangan pernah memandang mereka dari kasta nya saja, itu pesan yang selalu orang tuanya katakan.
Zian pun memutuskan masuk lewat pintu samping kalau lewat pintu depan pasti tamu ada di ruang tamu. Tapi Zian salah ternyata pintu samping yang langsung mengarah ke area ruang makan ternyata tamu yang disedang berkumpul di sana.
"Assalamualaikum," ucap Zian.
"Waalaikumsalam," jawab serempak.
"Sini bang kita makan bareng," ajak sang Mama.
"Salim dulu sama Om Anggoro dan Tante Rasti," sambung ibunya.
Zian pun mencium punggung tangan tamu orang tuanya. Bukan hanya mereka berdua tapi di sana juga ada anak mereka Nia dan Jeni yang masih tiga tahun. Iya, yang datang adalah keluarga baru Anggoro.
Setelah bersalaman dengan tamu ayahnya Zian di suruh untuk gabung untuk makan. Mau tak mau Zian pun ikut duduk di samping Zahra adik bungsunya.
"Pak Dandi gimana masalah perjodohan anak kita. Bukannya waktu itu Pak Dandi pernah membicarakan tentang hal ini," celetuk Rasti.
"Maaf sebelumnya Bu Rasti, kalau boleh tahu sejak kapan suami saya mempunyai rencana seperti itu? Perasaan suami saya belum bicara apapun tentang hal ini sama saya," Regina sambil melirik ke arah suaminya.
Dandi yang peka langsung menyanggah ucapan dari Rasti.
"Maaf Bu Rasti pak Anggoro sebelum saya tidak pernah membicarakan masalah perjodohan tentang anak saya. Saya hanya bicara tentang kerajaan sama dengan perusahaan Pak Alex."
"Masa Pak Dandi lupa. Kita membicarakan hal ini waktu meeting di perusahaan Pak Dandi."
"Masa meeting membicarakan perjodohan," gumam Zian yang terdengar adiknya. Zahra pun menyenggol lengan kakaknya.
"Maaf Pa aku ijin ke kamar dulu ada tugas yang harus segera di selesaikan buat besok."
Papa dan Mamanya pun mengangguk mengijinkan Zian pergi karena mereka tahu kalau Zian pasti tidak mau.
Di dalam kamar Zian duduk di meja belajarnya sambil menggenggam ponselnya melampiaskan kekesalannya terhadap teman dari ayahnya yang mengatakan tentang perjodohan.
"Gila aja gue mau di jodohin sama cewek kayak dia. Masih jauh di atas Anggie," cibir Zian.
"Pokoknya gimana pun caranya gue gak mau di jodohin sama cewek ondel-ondel itu. Apaan masa mau bertamu ke rumah orang pake baju kayak gitu gak sopan banget."
Zian pun akhirnya memutuskan untuk main game online saja ponselnya bersama temannya sambil rebahan di kasurnya. Tak lama pintunya ada yang mengetuk tapi Zian tidak mendengar karena telinganya tertutup headset. Hingga akhirnya sang Papa yang datang ke kamarnya membuka pintunya dan menarik headset di telinganya.
"Papa," cicit Zian yang kaget sambil menutup ponselnya.
"Kamu pantesan aja Papa ketuk pintu sampai teriak manggil-manggil tapi gak di buka ternyata telinganya di tutupi ini," cibir ayahnya sambil memperlihatkan headset.
"Maaf Pa," Zian sambil menunduk.
Dandi keluar menuju balkon kamar anaknya Zian pun mengerti dan langsung mengikuti sang papa dibelakangnya. Mereka duduk di kursi besi sambil melihat indahnya malam.
"Abang udah milih antara mau masuk Akmil atau mengurus perusahaan?"
"Aku mau kuliah aja Pa mau buat perusahaan kayak papa," celetuk Zian.
"Kenapa gak masuk Akmil?"
"Abang takut nanti nasib istri Abang kayak Mama."
"Emang kamu udah punya pacar?"
"Kalau pacaran sih belum Abang lagi memantaskan diri dulu."
Dandi mengangkat alisnya sambil memandang anaknya, "maksudnya memantaskan diri gimana bang?"
"Abang pernah menyatakan cinta sama cewek tapi kakaknya cewek Abang bilang 'jajan masih minta sama orang tua aja udah mikirin masa depan'," Dandi mengangguk dan tersenyum. Ternyata pemikiran anaknya sekarang sudah cukup dewasa.
"Abang mikir ulang emang bener juga apa yang dikatakan Bang Asa waktu itu makanya Abang mau berubah dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Seperti yang selalu Papa bilang kalau aku harus berubah jadi lebih baik dari kemarin."
"Makanya kamu sekarang fokus buka bengkel di basecamp kamu?" tebak sang Papa.
Zian mengangguk, memang Zian sekarang sudah berubah ke arah yang lebih baik. Ternyata alasannya itu Dandi sebenarnya sudah tahu karena istrinya selalu cerita tentang anak-anaknya. Zian termasuk keras kepala walaupun sang ayah sudah memukul nya karena dia sering balapan ilegal tapi Zian tak pernah mendengarkan. Tapi sekarang Zian berubah karena seorang perempuan. Dandi jadi tertarik ingin melihat perempuan yang di sukai anaknya sampai sampai bisa merubah anak yang keras kepala itu.
"Boleh Papa kenal sama cewek kamu itu?"
"Nanti Abang pasti ajak ke sini tapi gak sekarang. Nanti kalau Abang sudah bisa memantaskan diri Abang dulu baru Abang akan kenalin dia sebagai calon istri dan di bawa ke sini."
"Kamu baru juga SMA udah mikirin calon istri. Pantesan kakaknya cewek itu bilang kayak gitu," Dandi sambil tertawa.
***
Setelah pulang dari rumah Dandi Rasti terlihat sangat marah saat Dandi dan istrinya menolak masalah perjodohan anak mereka. Dandi sampai mengancam akan memutuskan kerja sama dengan perusahaan dimana suaminya kerja kalau mereka masih membicarakan perjodohan.
"Aku gak terima ya Mas anak aku di tolak begitu saja sama keluarga Pak Dandi. Kurangnya apa coba Nia. Dia cantik juga seksi," Rasti marah.
"Ma gimana kalau aku pindah sekolah aja di sekolah Kak Zian supaya aku lebih gampang buat mendekati kak Zian nya," celetuk Nia.
"Boleh juga ide kamu sayang supaya kamu lebih dekat lagi sama Zian. Kamu harus coba cari perhatian Zian bagaimana caranya supaya Zian bisa suka sama kamu."
"Itu masalah mudah Ma," Nia sambil menjentikkan jarinya.
Anggoro hanya menyimak percakapan istri dan anak sambungnya itu tanpa mau menyela. Tapi Anggoro baru ingat saat mereka melihat Zian ada di rumah sakit dulu waktu Anggie sakit. Ada hubungan apa antara Zian dan sang anak bungsunya tapi Anggoro tidak mau ambil pusing membiarkan saja apa mau mereka.
"Mama ingat gak waktu kita ke rumah sakit nengokin Anggie," ibunya mengangguk. "Di sana kan ada Kak Zian. Ada hubungan apa antara Anggie dan kak Zian?"
"Biarin aja kamu jangan pedulikan Anggie yang penting sekarang kamu harus bisa membuat Zian jatuh hati sama kamu. Kalau kamu berhasil jadi pasangan Zian pasti semua gampang. Hidup kita tidak akan seperti ini terus."
"Tapi Ayah juga udah kaya kok Ma. Hidup kita juga gak kekurangan apapun semenjak Mama sama ayah nikah."
"Kaya apaan masih kerja di perusahaan orang lain itu bukan kaya. Kalau kaya itu punya perusahaan sendiri baru itu namanya kaya," Anggoro melengos mendengar istrinya bicara seperti itu karena Anggoro juga menghindari perselisihan diantara mereka. Sebenarnya Anggoro menyesal sudah menikah dan mengkhianati Anggun tapi apa boleh buat semua sudah terjadi ada anak yang harus Anggoro pertanggung jawabkan atas perbuatannya.
"Mama gak boleh kayak gitu kasian ayah," Nia merasa gak enak melihat Anggoro yang dihina sang ibu seperti itu setelah banyak yang ia lakukan untuk keluarganya.
"Biarin aja emang kenyataannya seperti itu mau gimana lagi. Pokoknya kamu harus bisa menaklukkan hati Zian gimana pun caranya sini Mama bisikan cara menggaet cowok supaya gak bisa berpaling dari kamu," Rasti pun membisikkan sesuatu di telinga Nia.
...****************...
Kira-kira apa ya yang dibisikin Rasti pada anaknya?