NovelToon NovelToon
Buku Harian Sang Antagonis

Buku Harian Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
​Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Sial, sialan!".

“Ratna Menur benar-benar mencariku? Gila! Dia itu heroine utama, kenapa malah mendatangi markas penjahat tanpa alasan dan menginap seharian semalam? Ada apa dengan otaknya?!”

Jantung Jaka Utama berdegup kencang. Dia panik sampai merasa kulit kepalanya kesemutan, seolah rambutnya mau rontok semua. Hal yang paling dia takuti adalah jika Ratna Menur nekad menerobos masuk ke kamar Naningsih!

Dengan asisten pribadinya yang punya perangai sedingin es dan kejam itu, kalau sampai mereka tertangkap basah dalam situasi memalukan, bukankah Naningsih akan mencincang Ratna Menur jadi perkedel?

Kalau Ratna Menur mati, apa gunanya aku akting jadi penjahat yang nunggu dipukuli sampai mati?

“Eh, tunggu sebentar!” Jaka menghentikan langkah, alisnya berkerut tajam. “Mungkinkah sistem kasih hadiah [Aji Kebangkitan Sukma] karena sudah memprediksi kalau Ratna Menur bakal mati? Terus aku terpaksa pakai hadiah itu buat menghidupkannya lagi supaya plot aman?”

“Terus setelah hidup lagi, dia bakal dapat salah satu kekuatanku? Dengan kata lain, sistem narik balik hadiahnya secara halus? Itu sih namanya...”

“Benar-benar licik kayak asu!”

Semakin Jaka memikirkannya, semakin dia yakin sistem sengaja mengerjainya, meski dia tidak punya bukti kuat.

Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan kebaya biru laut yang anggun berjalan mendekat dari arah depan. Wanita itu berjalan santai dengan tangan di belakang punggung, menyenandungkan tembang kecil sambil melompat-lompat lincah seperti burung pipit. Begitu melihat Jaka, matanya berbinar dan dia berseru girang.

“Sinuwun!” (Panggilan sayang/hormat untuk suami).

Sinuwun? Suara ini? Aksen ini... jangan-jangan?

Jaka Utama mendongak dengan ngeri. Dia segera memutar badan dan berbalik arah secepat kilat, pura-pura tidak melihat siapa pun. Di dalam hatinya, dia sudah mengutuk habis-habisan.

“Bangsat! Bukannya si Hana Yudaningrat itu harusnya ada di Padepokan Tanpa Beban!”

“Kenapa orang gila ini malah muncul di tengah hutan begini. Tamat riwayatku!”

“Plotnya sudah nyemplung ke jurang tanpa dasar!”

Namun, sebelum Jaka bisa lari jauh, Hana Yudaningrat sudah melesat ke depannya dalam sekejap mata.

“Sinuwun!” Han Yudaningrat langsung memeluk Jaka, bahkan menenggelamkan wajah Jaka di dadanya, mendekapnya dengan sangat erat.

“Lepas... lepaskan aku! Siapa suamimu! Pergi sana!”

Jaka berjuang mati-matian melepaskan diri. Dia menunjuk hidung bangir wanita itu dan memarahinya tepat di depan muka.

“Asal kamu tahu ya! Kalau bukan karena kamu maksa orang tuaku buat nikahin kita sebelum mereka meninggal, aku pasti sudah suruh Naningsih buat habisin kamu sepuluh ribu kali!”

Meskipun Jaka bingung kenapa Hana Yudaningrat muncul, demi menjaga peran antagonis di buku aslinya, dia harus tetap galak. Dalam naskah aslinya, hubungan mereka memang sangat buruk. Jaka sangat membenci Hana Yudaningrat karena merasa dijebak dalam pernikahan itu, padahal dia mengejar Ratna Menur.

“Sekarang, pergi! Pergi sejauh mungkin dari mataku! Aku muak melihatmu!”

Setelah puas memaki, Jaka berjalan pergi dengan kaki menghentak-hentak karena kesal. Sialan, urusan Ratna Menur saja belum beres, sekarang Hana Yudaningrat malah muncul di sini. Bikin mual saja.

Sistem! Woi sistem, ngomong dong! teriaknya dalam hati, tapi nihil jawaban.

Hana Yudaningrat melesat lagi menghalangi jalan Jaka. Dia memanyunkan bibirnya dengan wajah memelas. “Sinuwun, hutan ini kan angker dan berbahaya. Aku takut Sinuwun luka, makanya aku lari ke sini buat lindungin Sinuwun. Tapi Sinuwun malah jahat dan ngusir aku. Aku sedih banget, hiks~”

Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Gerakan manja yang dibuat-buat itu bikin Jaka merinding disko. Tapi dalam hati, Jaka tetap mengakui kalau akting wanita ini jempolan.

“Ya sudah, nangis saja sana sampai puas, tapi sambil jalan menjauh!” Jaka tidak sudi peduli. Dia cuma mau balik ke kapal udara pribadinya buat ngecek keadaan Ratna Menur.

“Sinuwun, jangan usir aku dong. A-aku bakal patuh kok. Lihat ini, aku bahkan mau 'ngiris' daging buat Sinuwun!”

Han Yuqing mengeluarkan sebilah pisau kecil dari cincin pusakanya. Dia menyingsingkan lengan kebayanya, memperlihatkan deretan bekas luka yang mengerikan dan rapat di kulitnya.

“Sinuwun, lihat ya!”

Dia menekan ujung pisau ke pergelangan tangannya. Lalu...

Sreet!

Pisau ditarik cepat. Tanda merah menganga muncul di lengannya, darah segar langsung mengalir deras. Daging yang terkoyak itu sangat mengerikan untuk dilihat.

“Tuh, aku nggak bohong kan? Sinuwun suka lihatnya? Hehehe.” Hana Yudaningrat tersenyum cerah. Bekas luka kupu-kupu di pipinya ikut berkerut seiring senyumnya, membuat wajahnya tampak sangat menyeramkan.

Jaka merinding sampai ke tulang sumsum. “Kamu... kamu wanita sarap!!!” teriaknya ngeri, lalu dia langsung lari tunggang langgang ketakutan.

Sial, nggak mungkin balik ke kapal kalau begini caranya. Kalau dia ikut masuk, bisa gila aku lihat dia siksa diri sendiri terus!

“Sinuwun, jangan tinggalin aku! Huwaa menyeramkan Hana Yudaningrat berteriak sambil mengejar Jaka seperti lintah yang menempel di kulit.

Mati saja kamu sekalian! maki Jaka dalam hati, sama sekali tidak memedulikan air mata palsu Hana Yudaningrat di belakangnya.

Aksi kejar-kejaran ini berlangsung sampai seharian penuh. Keesokan harinya saat fajar tiba, Jaka terbangun di dalam sebuah gua kecil. Begitu buka mata, dia melihat Hana Yudaningrat sedang memegangi lengannya sambil tersenyum manis.

“Sinuwun, selamat pagi.”

Selamat pagi mbahmu!

Jaka memasang wajah ketus. “Kamu sudah pegangi lenganku seharian semalam, nggak capek apa? Kamu itu manusia atau kukang?” Dia mencoba menarik lengannya, tapi tenaganya kalah kuat.

“Di sisi Sinuwun, aku nggak capek sama sekali, hehe.” Hana Yudaningrat tersenyum sampai matanya menyipit. “Sinuwun mau sarapan apa? Biar aku masakin ya?”

Ugh, bener-bener cobaan hidup.

Jaka tahu Hana Yudaningrat cuma cari muka supaya bisa pegang kekuasaan di Padepokan Tanpa Beban buat balas dendam ke Padepokan Matahari nanti.

“Ya sudah... aku mau sate daging hutan. Bisa kamu buatin?” Jaka pura-pura setuju. Ini kesempatan emas. Saat dia lengah, Jaka bisa pakai [Ajian Panglimunan] buat kabur.

“Bisa banget~” Hana Yudaningrat tersenyum manis lalu melepaskan tangan Jaka dan berdiri. Dia berdiri tepat di mulut gua supaya Jaka tidak bisa kabur. Dia tidak peduli Jaka membencinya. Yang dia pikirkan adalah bagaimana cara hamil anak Jaka supaya Padepokan Tanpa Beban jadi miliknya seutuhnya untuk menghancurkan musuh-musuhnya.

Heh heh heh.

Tatapan gila melintas di mata Hana Yudaningrat saat dia menyiapkan alat panggang. Saat dia sedang sibuk membelakangi Jaka itulah, Jaka segera mengaktifkan Ajian Panglimunan dalam diam, tubuhnya menyatu dengan udara, dan dia menyelinap keluar gua dengan selamat.

“Sinuwun, mau paha rusa atau sapi? Dagingnya segar lho... eh?”

Hana Yudaningrat berbalik sambil memegang dua paha berdarah yang besar. Pluk! Daging itu jatuh ke tanah saat dia melihat Jaka sudah tidak ada.

“Sinuwun kabur lagi ya? Heh... heh... heh...”

Hana Yudaningrat tertawa gila sampai tubuhnya gemetar. Dia mengeluarkan pisau lagi dan menyayat perutnya sendiri. Melihat darah mengalir dan merasakan perih yang luar biasa, barulah dia merasa tenang. Dia memungut daging tadi, menyenandungkan tembang kecil, dan mulai membakar daging seolah tidak ada kejadian apa-apa.

1
_Khayy☕
Semangat thor bagus banget nih novel🤣🤭🤭😍😍
_Khayy☕
Katanya dua,banyak bener tambahannya 🤣
_Khayy☕
Wkwkw Belajar Fiqih nih🤣
_Khayy☕
Semangat min🤭 gacor nih Novel
_Khayy☕
Juozz😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!