NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Bila ada penghargaan untuk manusia yang paling ingin menghilang dari muka bumi dalam hitungan detik, aku pasti akan keluar sebagai juara pertamanya.

Posisi kami saat ini beneran bencana bagi harga diriku. Arkan masih mengurungku di atas lantai karpet beludru, wajah tampannya hanya berjarak beberapa senti dari hidungku, sementara di ambang pintu, empat orang penting dari Mahardika Group sedang menonton kami dengan ekspresi yang bermacam-macam. Ada yang menahan tawa, ada yang terharu, dan ada yang pura-pura batuk sambil memandangi langit-langit kamar.

Arkan, dengan kecepatan gerak seorang atlet profesional yang harga dirinya sedang berada di ujung tanduk, langsung melompat berdiri. Dia membetulkan letak kemeja kerjanya yang agak kusut, lalu berdeham sangat keras untuk mengembalikan wibawa bos besarnya yang baru saja runtuh berkeping-keping.

"Papa... Ibu... kenapa tidak memberi tahu lewat Hadi kalau sudah sampai di bawah?" tanya Arkan dengan suara baritonnya yang mendadak kembali dingin dan datar, meskipun aku bisa melihat ujung telinganya memerah padam karena malu.

Aku sendiri langsung berguling ke samping, memeluk Si Guling Stroberi erat-erat sebagai tameng pelindung, lalu bangkit berdiri dengan gerakan secepat kilat. Muka guling stroberiku langsung pindah ke wajahku. Rasanya panas sekali, seperti baru saja disiram kuah bakso yang masih mendidih.

"Aduh, Arkan! Naura!" Danastri—ibuku tercinta—melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengusap air mata haru di sudut matanya. "Ibu beneran tidak menyangka kalau kalian berdua ternyata sudah se-romantis ini di dalam kamar. Ibu kira Arkan ini orangnya kaku seperti tiang listrik, ternyata kalau sama istri agresif juga ya."

"Bukan begitu, Bu! Ini tadi... ini tadi cuma kecelakaan!" seruku panik, mencoba membela diri sambil menyembunyikan piyama katun motif anak ayamku di balik guling.

Om Surya melangkah maju, menjabat tangan salah satu komisaris berambut putih di sebelahnya sambil tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana, Pak Baskoro? Pak Tirto? Anda berdua bisa melihat sendiri kan? Anak dan menantu saya ini beneran tinggal bersama dan sedang menikmati masa-masa kasmaran mereka. Rumor yang disebarkan oleh Dimas soal pernikahan rekayasa itu jelas-jelas cuma bualan sampah untuk mengacaukan stabilitas perusahaan."

Pak Baskoro, komisaris senior yang terkenal paling galak di dewan direksi, mengangguk-angguk sambil membetulkan letak kacamata bacanya. "Ya, ya, saya bisa melihat buktinya dengan sangat jelas. Tapi... ekhem, Tuan Arkan, lain kali kalau sedang melakukan 'inspeksi' pribadi seperti tadi, tolong pintu kamarnya dikunci rapat ya. Kami yang sudah tua-tua ini jadi agak jantungan melihat adegan anak muda zaman sekarang."

Arkan hanya bisa mengatupkan rahangnya rapat-rapat, tidak bisa membantah kata-kata sang komisaris senior. Dia melirikku dengan tatapan mata elangnya yang tajam, seolah-olah mau bilang: *Ini semua gara-gara kamu dan guling stroberimu!*

"Nah, karena kami sudah di sini, sekalian saja kami mau melihat-lihat kesiapan kamar kalian," kata Om Surya sambil berjalan memutari ranjang besar berbalut seprai sutra hitam milik Arkan. "Dimas itu menyewa detektif yang sangat jeli. Dia pasti akan mencari tahu apakah ada tanda-tanda kalau kalian berdua sebenarnya tinggal terpisah."

Jantungku langsung berdisko lagi. Waduh, gawat! Kamar ini kan sebenarnya murni milik Arkan. Pakaianku baru saja dijejalkan asal-asalan ke dalam lemari beberapa menit yang lalu!

Pak Tirto, komisaris satunya lagi, berjalan mendekati bilik *walk-in closet* yang pintunya agak terbuka. Dia mengintip ke dalam, lalu dahinya langsung mengernyit tebal.

"Arkan... ini penataan pakaian jenis apa ya?" tanya Pak Tirto bingung. "Saya tahu kamu orangnya sangat perfeksionis soal gradasi warna baju. Tapi kenapa di sebelah jajaran jas Tom Ford hitammu yang mahal itu... ada selembar kain batik longgar berwarna merah menyala dengan motif awan besar yang agak robek di bagian ketiak?"

Aku langsung menepuk jidatku sendiri. Waduh, daster mega mendung keberuntunganku ketahuan!

Arkan memejamkan matanya sejenak, menahan denyutan stres di pelipisnya. Namun, otak encer sang CEO ini beneran bekerja dengan kecepatan luar biasa dalam situasi krisis. Dia langsung melangkah mendekati Pak Tirto dengan wajah lempeng tanpa dosa.

"Itu... itu adalah daster kesayangan istri saya, Pak Tirto," jawab Arkan dengan suara tenang yang dibuat-buat. "Naura tidak bisa tidur kalau tidak memakai daster itu. Dan bagi saya pribadi... daster itu punya aura keindahan tersendiri yang tidak bisa ditandingi oleh baju desainer mana pun."

Aku melotot mendengar jawaban Arkan. Sejak kapan si kulkas dua pintu ini bicaranya jadi manis beracun begini?

"Oh, ya? Indah di bagian mananya, Arkan?" tanya Om Surya memanas-manasi dengan senyum jahilnya.

Aku yang tidak mau kalah, langsung ikut menimpali sambil tersenyum manis bin terpaksa. "Betul, Om... maksud saya, Papa. Mas Arkan ini paling suka kalau saya pakai daster batik itu. Katanya, kalau saya pakai daster itu, aura tubuh saya mendadak jadi sangat adem dan menenangkan... mirip seperti ubin masjid jami di siang bolong."

*Uhuk!*

Pak Baskoro dan Pak Tirto langsung kompak batuk bersamaan mendengar penjelasanku yang kelewat kreatif. Sementara itu, Arkan langsung memandangiku dengan tatapan mata yang kalau bisa mengeluarkan sinar laser, badanku pasti sudah bolong-bolong saat ini juga. Pujian tadi beneran sukses menghancurkan reputasi ketampanannya dalam satu detik!

Ibu yang merasa suasananya makin seru, langsung berjalan menuju meja rias di pojok ruangan. Beliau melihat deretan botol skincare milikku yang berantakan, bersanding langsung dengan botol parfum mahal milik Arkan yang desainnya sangat elegan.

"Wah, lihat ini! Sikat gigi mereka bahkan sudah dipajang bersama di dalam gelas kaca kamar mandi," seru Ibu dengan wajah gembira.

Pak Baskoro mengangguk puas setelah melakukan penilaian menyeluruh di dalam kamar. "Baiklah, Surya. Saya rasa inspeksi mendadak kita sore ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kebenaran hubungan mereka. Besok pagi dalam rapat pleno gabungan pemegang saham, saya sendiri yang akan menjamin bahwa posisi Arkan sebagai CEO baru tidak akan bisa diganggu gugat oleh pihak mana pun, termasuk Dimas."

Om Surya tersenyum puas, beban berat di pundaknya kelihatan langsung runtuh. "Terima kasih banyak atas dukungannya, Pak Baskoro, Pak Tirto. Mari kita kembali ke kantor untuk merapikan berkas pelantikannya."

*Klik.*

Suara pintu depan apartemen yang menutup rapat menandakan bahwa rombongan inspeksi dadakan itu akhirnya resmi pergi.

Keheningan total langsung menguasai ruang tengah apartemen mewah itu. Aku mengembuskan napas panjang yang sudah kutahan sejak tadi, lalu langsung menjatuhkan badanku ke atas sofa kulit di ruang tamu dengan posisi telentang. Rasanya seluruh energiku tersedot habis untuk akting drama kolosal tadi.

"Jantungku beneran mau copot, Arkan!" seruku sambil menutupi wajahku memakai Si Pipi. "Bisa-bisanya mereka datang tanpa mengetuk pintu depan dulu!"

Arkan tidak langsung menjawab. Dia berjalan pelan mendekati sofa tempatku berbaring, lalu berdiri tegak tepat di sampingku dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Suasana kamarnya yang hangat membuat bayangan tubuh besarnya menghalangi cahaya lampu ruangan, mengurungku dalam fokus pandangannya.

"Ubin masjid, huh?" suara Arkan terdengar sangat rendah, namun ada nada sindiran tajam yang bercampur dengan getaran geli di dalamnya.

Aku membuka guling stroberiku sedikit, mengintip wajah tampannya dari balik celah kain bulu. "Ya... habisnya aku bingung mau jawab apa! Pilihan kata dari mulutmu tadi juga kelewat puitis tahu! Daster robek begitu dibilang punya keindahan tersendiri. Penonton kan jadi curiga kalau kita tidak berimprovisasi!"

Arkan mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang sangat langka akhirnya terukir di sudut bibirnya. Dia duduk di tepi sofa, posisinya sangat dekat dengan kakiku. Pria ini kalau sudah kehilangan mode galak kantornya beneran kelihatan berkali-kali lipat lebih manusiawi dan... tampan.

"Tapi taktikmu tadi cukup bagus, Naura," ujar Arkan tulus, membuatku langsung menurunkan guling stroberiku total karena kaget mendapat pujian dari si raja kritik ini. "Kalau kamu tidak memotong omongan Pak Tirto soal daster itu, dia pasti akan memeriksa lemari lebih dalam lagi dan bisa menemukan kalau pakaian kita penyusunannya belum menyatu sempurna."

"Tentu saja! Aku ini kan manajer iklan jenius kebanggaan Mahardika Group," sahutku bangga sambil menepuk dadaku sendiri dengan gaya kocak.

Arkan terkekeh rendah, suara tawa yang begitu renyah dan hangat hingga membuat dadaku mendadak berdesir aneh lagi. Dia mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, jari-jarinya yang panjang menyentuh ujung rambutku yang agak berantakan, merapikannya ke belakang telingaku.

Pandangan mata elangnya mengunci mataku dengan kedalaman perasaan yang membuat seluruh lelucon di ujung lidahku langsung menguap lenyap. Tatapan mata yang penuh kehangatan dan rasa sayang ini... beneran bukan bagian dari akting untuk dewan komisaris lagi. Ini murni, nyata, dan datang dari dalam hatinya.

"Terima kasih, Naura," bisik Arkan pelan, suaranya terdengar sangat tulus di telingaku. "Terima kasih karena sudah mau berjuang bersama saya menghadapi kerumitan keluarga ini. Posisi CEO itu... bukan cuma soal kekuasaan bagi saya, tapi tentang janji saya pada Kakek William untuk menjaga warisan kerja kerasnya dari orang-orang licik seperti Dimas. Dan hari ini, kamu sudah menyelamatkan janji itu."

Aku terdiam, menatap mata elangnya yang berkilau lembut di bawah temaram lampu apartemen. Rasa baper yang luar biasa langsung merajalela di dalam dadaku, membuat ritme jantungku berjalan tidak keruan. Siapa yang menyangka kalau bos diktator yang dulunya hobi membuatku lembur semalaman ini, kini bisa bersikap se-manis dan se-bucin ini di depanku?

"S-sama-sama, Arkan..." jawabku mendadak gugup, salah tingkah karena kedekatan posisi kami. "Lagipula... ini kan juga demi biaya operasi Ibuku. Jadi kita ini mitra kerja yang saling menguntungkan."

Arkan tersenyum miring, lalu dia membungkukkan badannya sedikit, membawa wajahnya mendekati wajahku hingga aku bisa merasakan embusan napas hangatnya yang berbau wangi *mint* pasta gigi.

"Hanya sebatas mitra kerja, Naura?" goda Arkan dengan suara serak-serak basahnya yang sangat seksi. Tangan hangatnya berpindah mengusap pipiku dengan gerakan ibu jari yang sangat pelan, memicu aliran listrik hangat yang membuat seluruh badanku lemas tak bertenaga. "Setelah kejadian jatuh bersama di atas lantai karpet tadi... saya rasa hubungan kemitraan kita sudah mengalami kenaikan pangkat yang cukup signifikan."

Wajah guling stroberi kembali berkuasa di mukaku. Aku buru-buru mendorong dada bidangnya yang keras memakai Si Pipi dengan wajah panik yang menggemaskan. "Arkan Mahendra! Ingat aturan belum sah ya! Tidak boleh ada adegan melompat pagar sebelum ada penghulu! Sana, kembali ke kamarmu sendiri! Inspeksinya kan sudah selesai!"

Arkan tertawa lebar—sebuah tawa lepas yang sangat lepas dan tampan yang belum pernah dia perlihatkan pada siapa pun di dunia ini selain padaku. Dia berdiri dari sofa, lalu mengambil bantal besarnya yang sempat tertinggal di atas kasur hitam tadi.

"Baik, baik. Saya akan kembali ke pos penjagaan saya di sofa ruang tamu," ujar Arkan sambil berjalan menuju pintu kamar luar dengan gaya santai. Namun, sebelum benar-benar melangkah keluar, dia berbalik dan menatapku dengan senyum miringnya yang penuh pesona. "Tidur yang nyenyak, ubin masjidku. Jangan lupa mimpi indah tentang pelantikan CEO kita besok pagi."

*Bukk!*

Aku melempar sebuah bantal sofa kecil tepat ke arah punggungnya, namun pria itu dengan lincah berhasil menutup pintu kamar lebih cepat sambil tertawa renyah dari luar. Aku kembali merebahkan badanku di atas kasur sutra hitamnya yang wangi aroma tubuh Arkan, memegangi dadaku yang masih berdetak kencang dengan senyum lebar yang tidak bisa hilang dari bibirku sepanjang malam itu.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!