NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.

Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.

Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Perpisahan Sementara

Pagi di Roma terasa dingin dengan langit mendung tipis. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi apartemen kecil Alya.

Di dapur, Alya sedang menyiapkan sarapan sambil sesekali melirik jam dinding.

Hari ini Leon akan kembali ke Indonesia.

Dan entah kenapa…

Suasana rumah terasa lebih sunyi sejak pagi.

“Mamaaa…”

Liora berjalan keluar kamar sambil mengucek mata. Rambut kecilnya berantakan lucu dan boneka kelincinya masih dipeluk erat.

Alya langsung tersenyum kecil.

“Pagi sayang.”

Namun baru beberapa langkah, Liora langsung melihat Leon yang sedang duduk di sofa sambil mengetik sesuatu di laptop.

“Om!”

Anak kecil itu langsung berlari kecil lalu naik ke pangkuan Leon tanpa izin.

Leon refleks memeluk tubuh mungil itu agar tidak jatuh.

“Pagi.”

“Kamu kerja terus.”

“Iya.”

“Kasian laptopnya.”

Leon mengernyit kecil.

“Kenapa laptopnya?”

“Dia capek.”

Alya spontan tertawa kecil dari dapur.

Sementara Leon hanya bisa menatap datar putrinya sebelum akhirnya sudut bibirnya naik tipis.

“Masuk akal.”

Liora tersenyum puas lalu memeluk leher Leon kecil.

“Mama bilang Om hari ini pergi.”

Suasana mendadak sedikit berubah.

Tatapan Leon perlahan melembut.

“Iya.”

“Kejauhan?”

“Hm.”

Liora langsung cemberut.

“Nggak boleh.”

Deg.

Leon terdiam sesaat.

Begitu juga Alya yang mendengar dari dapur.

“Aku harus kerja,” jawab Leon pelan.

“Aku ikut.”

Leon terkekeh kecil.

“Sekolah gimana?”

“Aku sekolah di sana.”

“Temennya siapa?”

Liora berpikir serius beberapa detik lalu menjawab polos—

“Om.”

Alya langsung menutup wajah menahan senyum.

Sementara Leon benar-benar tidak bisa menahan tawanya kali ini.

Suara rendah hangat itu memenuhi apartemen kecil mereka.

Dan lagi-lagi…

Pemandangan itu membuat hati Alya terasa aneh.

Terlalu hangat.

Terlalu nyaman.

Seolah Leon memang sudah menjadi bagian dari hidup mereka sejak lama.

---

Sarapan berlangsung jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Liora terlihat murung sejak tahu Leon akan pergi.

Bahkan anak kecil itu terus menempel pada pria tersebut sambil makan.

“Lio.”

“Hm?”

“Kamu nanti harus nurut sama Mama ya.”

Liora mengangguk pelan.

“Om balik lagi?”

Leon menatap gadis kecil itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab—

“Iya.”

“Janji?”

Deg.

Pertanyaan sederhana itu membuat Leon diam sesaat.

Karena selama hidupnya…

Ia jarang memberi janji pada siapa pun.

Namun sekarang ada sepasang mata kecil yang menatapnya penuh harap.

Dan Leon sadar—

Ia tidak ingin mengecewakan anak ini.

“Janji.”

Liora langsung mengulurkan jari kelingking kecilnya.

“Pinkie promise.”

Leon sedikit bingung.

Alya langsung menjelaskan pelan sambil tersenyum kecil.

“Kalau janji harus pakai itu.”

Leon memperhatikan jari kecil Liora beberapa detik sebelum akhirnya ikut mengaitkan kelingkingnya pelan.

“Udah,” ujar Liora puas.

Dan anehnya…

Janji kecil itu terasa jauh lebih serius dibanding kontrak bisnis miliaran yang pernah Leon tanda tangani.

---

Beberapa jam kemudian mobil menuju bandara sudah datang.

Liora langsung memeluk Leon erat sebelum pria itu masuk mobil.

“Jangan lama-lama…”

Leon mengusap rambut kecil putrinya lembut.

“Iya.”

“Mama nanti sedih.”

Alya langsung membeku.

“Lio…”

Namun Leon justru menatap Alya pelan.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Dan lagi-lagi jantung Alya berdetak tidak normal.

“Aku balik secepatnya,” ujar Leon lirih.

Entah kenapa kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lebih dalam dari sekadar urusan pekerjaan.

Liora akhirnya melepas pelukannya pelan.

Namun tepat sebelum Leon masuk mobil, anak kecil itu tiba-tiba berkata—

“Om…”

“Hm?”

Liora menggigit bibir kecilnya malu-malu sebelum akhirnya berbisik pelan—

“Aku sayang Om.”

Deg.

Waktu seolah berhenti sesaat.

Tubuh Leon langsung membeku.

Tatapan pria itu perlahan berubah sangat lembut.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Hatinya terasa benar-benar penuh.

Leon menunduk lalu mencium pucuk kepala Liora pelan.

“Aku juga sayang Lio.”

Air mata Alya hampir jatuh melihat pemandangan itu.

Karena ia tahu…

Perasaan di antara ayah dan anak itu sudah tumbuh terlalu dalam untuk dipisahkan lagi.

1
wulaniii
gais komen like dan kasih gift dong biar tambah semangat 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!