GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bayang-bayang Keluarga Tanudjaya
Sinar matahari pagi menembus masuk lewat celah-celah tirai jendela besar di ruang kerja Aditya, namun suasana di dalam ruangan itu sama sekali tidak terasa cerah atau hangat. Udara terasa berat dan penuh dengan rasa penasaran yang bercampur rasa waspada. Di atas meja kerja yang luas itu, sudah berserakan berbagai dokumen, berkas, dan laporan yang dikumpulkan oleh tim peneliti dan pengacara yang bekerja sama dengan Pak Herman. Semua berkas-berkas itu berisi riwayat hidup, sejarah bisnis, serta silsilah keluarga dari salah satu keluarga terbesar dan paling berpengaruh di negeri ini: Keluarga Tanudjaya.
Aditya duduk di kursi kerjanya dengan raut wajah yang sangat serius dan fokus. Matanya menelusuri setiap baris tulisan dan informasi yang ada di hadapannya dengan sangat teliti, seolah sedang mencoba menyatukan kepingan-kepingan teka-teki yang rumit dan berbahaya. Di sampingnya, Luna duduk diam dengan hati yang berdebar-debar, sesekali ikut membaca informasi yang ada namun lebih banyak menatap wajah kekasihnya dengan pandangan yang penuh perhatian dan rasa cemas.
"Lihatlah ini, Luna..." ucap Aditya pelan, memecah keheningan yang cukup lama menyelimuti ruangan itu. Ia menunjuk sebuah foto hitam putih yang cukup tua namun masih terlihat jelas gambarnya. Foto itu menampilkan sekelompok orang yang berpakaian sangat rapi dan mewah, terlihat sedang berpose bersama di depan sebuah rumah besar yang megah dan indah.
"Di sini tertulis bahwa ini adalah foto keluarga besar Tanudjaya sekitar 40 tahun yang lalu, tepat di masa-masa saat Nenek Sinta masih hidup dan bekerja di kediaman Kakek Pratama. Lihatlah pria yang berdiri di barisan depan, paling kiri. Namanya adalah Arthur Tanudjaya. Beliau adalah anak kedua dari pendiri keluarga Tanudjaya, dan pada masa itu dikenal sebagai sosok yang paling cerdas, paling ambisius, namun juga paling kejam dan tidak kenal ampun di antara saudara-saudaranya. Beliau adalah orang yang paling dicurigai oleh Pak Herman dan juga berdasarkan tulisan di buku harian Kakek Pratama."
Jantung Luna seakan berhenti berdetak sejenak saat matanya tertuju pada sosok pria di dalam foto itu. Walaupun hanya sebuah foto lama dan hitam putih, namun raut wajah pria itu terlihat sangat tegas, dingin, dan memancarkan aura kekuasaan yang begitu kuat dan menakutkan. Ada sesuatu di tatapan matanya yang membuat bulu kuduk Luna meremang seketika, seolah pria itu adalah sosok yang benar-benar berbahaya dan tidak bisa dianggap remeh.
"Arthur Tanudjaya..." gumam Luna pelan, suaranya nyaris berbisik. "Jadi... kemungkinan besar dialah ayah kandung dari Ibu Laras, dan kakek kandungku sendiri? Dia yang dimaksud oleh Kakek Pratama sebagai orang yang berkuasa namun berbahaya itu?"
Aditya mengangguk perlahan dengan tatapan yang masih terfokus pada foto di hadapannya. "Besar kemungkinannya begitu, Sayang. Kalau kita lihat latar belakangnya, karakternya, serta waktu dan tempat kejadiannya, semuanya sangat cocok dan saling berhubungan. Arthur Tanudjaya pada masa itu adalah pria yang sangat berkuasa, sangat berpengaruh, dan memiliki segalanya. Namun, beliau dikenal sangat tertutup, misterius, dan memiliki reputasi yang cukup buruk. Beliau tidak pernah menikah seumur hidupnya, dan tidak pernah diketahui memiliki keturunan. Itulah sebabnya, jika benar beliau memiliki anak dari hubungan dengan Nenek Sinta, hal itu pasti akan menjadi aib besar dan masalah yang sangat serius bagi nama baik dan kehormatan keluarga besar Tanudjaya. Itulah sebabnya semuanya harus ditutup rapat dan dirahasiakan selamanya."
Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa seolah sedang memegang sebuah rahasia besar yang sangat berharga namun juga sangat berbahaya, rahasia yang bisa mengubah seluruh hidupnya dan juga kehidupan banyak orang lain dalam sekejap mata. Ia tidak menyangka bahwa darah yang mengalir di tubuhnya ternyata berasal dari keluarga yang begitu hebat, begitu berkuasa, namun juga begitu menakutkan dan penuh intrik.
"Terus... sekarang di mana dia, Aditya? Apakah Arthur Tanudjaya masih hidup? Atau sudah meninggal?" tanya Luna dengan nada yang penuh rasa ingin tahu namun juga sangat cemas dan khawatir.
Aditya mengambil lembaran kertas lain dari tumpukan berkas di hadapannya, lalu membacanya sekilas sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya itu.
"Berdasarkan data yang kita dapatkan, Arthur Tanudjaya dikabarkan meninggal dunia sekitar 15 tahun yang lalu akibat sakit keras. Namun... ada hal yang cukup aneh dan membuat penasaran, Sayang. Kabar kematiannya tidak pernah dipublikasikan secara luas, tidak ada pemakaman umum, dan tidak ada pemberitaan di media massa sama sekali. Semuanya dilakukan secara tertutup dan sangat rahasia, seolah-olah keluarga Tanudjaya sengaja ingin menghapus jejak keberadaan Arthur dari sejarah keluarga mereka. Ada banyak desas-desus yang beredar, ada yang bilang beliau memang sudah meninggal, namun ada juga yang bilang beliau masih hidup dan memilih menyembunyikan diri di tempat yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Sampai sekarang pun, kebenarannya masih menjadi misteri besar yang tidak ada yang tahu pasti."
Mata Luna semakin terbelalak mendengar penjelasan itu. Semua hal yang berkaitan dengan asal-usul keluarganya ini ternyata penuh dengan rahasia, misteri, dan hal-hal yang tidak masuk akal. Mulai dari hubungan terlarang, identitas yang disembunyikan, hingga kematian yang tidak jelas kebenarannya. Semuanya terasa begitu rumit dan seolah sedang terperangkap dalam sebuah jaring laba-laba yang besar dan gelap.
"Kalau begitu... kalau Arthur Tanudjaya memang sudah meninggal, apakah kita masih perlu takut? Atau apakah masih ada orang lain di keluarga itu yang akan menganggap keberadaanku sebagai ancaman atau masalah bagi mereka?" tanya Luna lagi, berusaha mencari kepastian dan ketenangan hati.
Aditya menatap Luna dengan tatapan yang dalam dan serius, lalu ia meletakkan berkas-berkas yang dipegangnya kembali ke atas meja, dan memegang kedua tangan Luna dengan lembut namun tegas.
"Dengar aku baik-baik, Sayang. Meskipun Arthur Tanudjaya sudah benar-benar meninggal dunia, bahaya dan masalahnya belum tentu hilang begitu saja. Keluarga Tanudjaya adalah keluarga yang sangat besar, sangat kompleks, dan memiliki aturan serta nilai-nilai yang sangat ketat dan keras. Di dalam keluarga besar itu, nama baik, kehormatan, dan kekuasaan adalah hal yang paling utama dan paling dijaga, bahkan di atas segalanya. Jika sampai diketahui publik bahwa ada keturunan haram, hasil dari hubungan terlarang yang tidak direstui, hal itu akan menjadi aib terbesar yang bisa menghancurkan nama baik mereka dan memecah belah kekuasaan yang sudah mereka bangun selama puluhan tahun. Dan kamu, Luna... kamu adalah satu-satunya keturunan langsung dari Arthur Tanudjaya. Kamu adalah pewaris sah dari sebagian besar kekayaan dan aset yang dimiliki oleh Arthur Tanudjaya, yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Keberadaanmu adalah ancaman terbesar bagi posisi dan kekuasaan anggota keluarga Tanudjaya yang lain, terutama bagi keponakan-keponakan Arthur yang sekarang memegang kendali atas kekayaan dan bisnis keluarga itu."
Jantung Luna serasa mau copot mendengar penjelasan yang begitu panjang dan serius itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keberadaannya ternyata memiliki nilai yang begitu besar dan sekaligus begitu berbahaya. Ia sama sekali tidak menginginkan harta atau kekayaan keluarga Tanudjaya itu, ia bahkan baru saja mengetahui keberadaan mereka, namun kenyataannya keberadaannya saja sudah dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan oleh orang-orang yang serakah dan haus kekuasaan itu.
"Jadi... maksud Aditya, mereka akan menganggapku sebagai musuh? Mereka akan berusaha menyakitiku atau melenyapkuku hanya karena aku ada dan berhak atas sebagian harta mereka? Padahal aku sama sekali tidak menginginkan semua itu, Aditya. Aku tidak butuh harta mereka, aku hanya ingin tahu asal-usulku dan hidup tenang bersamamu..." ucap Luna dengan suara yang bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa sedih dan takut.
Melihat ketakutan dan kesedihan yang terpancar jelas dari wajah kekasihnya, hati Aditya terasa teriris sakit. Ia segera memeluk tubuh Luna erat-erat, memberikan rasa aman dan perlindungan yang sepenuhnya dibutuhkan oleh gadis itu saat ini. Ia mencium puncak kepala Luna dengan penuh rasa sayang dan kasih sayang yang begitu besar.
"Aku tahu, Sayang... Aku tahu kamu tidak menginginkan semua itu. Aku juga sama, aku sudah punya segalanya dan aku tidak butuh harta keluarga Tanudjaya. Tapi, sayangnya itulah kenyataan pahit yang harus kita hadapi. Di dunia ini, kekuasaan dan uang bisa membuat orang-orang menjadi buta dan jahat. Mereka tidak akan peduli apakah kamu menginginkan harta itu atau tidak, mereka hanya akan melihat fakta bahwa kamu berhak memilikinya, dan itulah yang membuat mereka merasa terancam. Itulah sebabnya, keberadaanmu harus tetap kita rahasiakan sebaik mungkin, dan kita harus selalu berhati-hati serta waspada. Kita tidak tahu kapan atau dari mana bahaya itu akan datang, tapi kita harus selalu siap menghadapinya."
Luna membalas pelukan Aditya dengan erat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia merasa begitu bersyukur dan beruntung memiliki Aditya di sisinya, sosok yang begitu kuat, begitu bijaksana, dan begitu menyayanginya, yang selalu siap melindunginya dari apa pun dan siapa pun. Tanpa Aditya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan bagaimana ia akan menghadapi semua masalah besar dan rumit ini sendirian.
"Terus... apa rencana kita selanjutnya, Aditya? Apakah kita akan diam saja dan pura-pura tidak tahu apa-apa? Atau kita akan berusaha menemui keluarga Tanudjaya dan memberitahu kebenaran ini kepada mereka?" tanya Luna pelan setelah cukup lama mereka berdiam diri dalam pelukan yang hangat itu.
Aditya perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Luna dalam-dalam dengan tatapan yang penuh perhitungan dan strategi.
"Kita tidak akan terburu-buru mengambil langkah yang gegabah, Sayang. Menemui mereka secara langsung saat ini juga sama saja dengan memasukkan tangan ke dalam mulut harimau. Kita belum tahu siapa saja orang-orang yang ada di dalam keluarga itu, siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang berbahaya, apa saja kekuatan dan kelemahan mereka, serta apa rencana dan niat sebenarnya yang mereka miliki. Langkah kita selanjutnya adalah mengumpulkan lebih banyak informasi lagi, mempelajari seluk-beluk keluarga Tanudjaya, mengenali orang-orang penting di dalamnya, dan mencari tahu apakah ada orang yang mungkin bisa kita jadikan sekutu atau setidaknya orang yang berpikiran jernih dan tidak jahat di antara mereka."
Aditya kembali menunjuk ke arah salah satu foto yang ada di meja kerjanya, foto yang menampilkan sekelompok orang muda yang tampak sangat berkelas dan berwibawa.
"Lihatlah ini, Luna. Ini adalah generasi penerus keluarga Tanudjaya saat ini. Di sini ada tiga orang yang memegang peran paling penting dan memiliki kekuasaan terbesar di dalam keluarga dan bisnis mereka. Yang pertama adalah Reynold Tanudjaya, anak tertua dari kakak pertama Arthur. Dia sekarang memegang posisi sebagai pemimpin utama seluruh bisnis keluarga Tanudjaya. Dia dikenal sebagai orang yang sangat tegas, disiplin, namun juga sangat kaku, konservatif, dan sangat memegang teguh kehormatan serta nama baik keluarga. Dia adalah orang yang paling mungkin menganggap keberadaanmu sebagai aib besar dan ancaman yang harus segera diselesaikan."
"Yang kedua adalah Julian Tanudjaya, anak ketiga dari kakak kedua Arthur. Dia adalah orang yang sangat cerdas, pandai bergaul, dan memiliki banyak koneksi di mana-mana. Namun, dia juga dikenal sangat ambisius, licik, dan sangat menginginkan kekuasaan serta posisi tertinggi. Dia adalah tipe orang yang akan melakukan cara apa saja, bahkan cara yang kotor dan curang, demi mencapai tujuannya sendiri."
"Dan yang ketiga adalah Clarissa Tanudjaya, anak tunggal dari adik perempuan Arthur. Dia adalah satu-satunya wanita dalam generasi penerus keluarga itu yang memiliki pengaruh besar. Dia dikenal sangat cantik, cerdas, namun juga sangat dingin, tertutup, dan sulit ditebak. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya, dan apa tujuan yang sebenarnya dia inginkan. Dia adalah sosok yang paling misterius di antara mereka semua."
Luna mendengarkan penjelasan Aditya dengan sangat saksama dan hati-hati. Ia mencoba membayangkan sosok-sosok orang yang disebutkan oleh kekasihnya itu, dan merasakan betapa berat dan rumitnya tantangan yang sedang mereka hadapi saat ini. Tiga orang yang berbeda karakter namun sama-sama memiliki kekuasaan dan pengaruh yang luar biasa besar, dan mereka harus berhadapan dengan orang-orang ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, di masa depan nanti.
"Mereka semua terlihat sangat hebat dan berkuasa, Aditya... tapi juga terlihat sangat menakutkan dan sulit didekati. Apakah kita benar-benar harus berhadapan dengan orang-orang sebesar dan sekuat itu? Aku jadi merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan mereka semua..." ucap Luna dengan nada yang penuh keraguan dan rasa rendah diri.
Aditya tersenyum lembut, lalu ia mengusap rambut panjang Luna dengan penuh kasih sayang dan rasa bangga.
"Jangan pernah merasa kecil atau tidak berdaya, Sayang. Kamu adalah wanita yang paling hebat, paling kuat, dan paling berharga yang pernah aku kenal. Kamu memiliki darah yang sama hebat dan kuatnya dengan mereka, kamu memiliki kecerdasan dan keberanian yang tidak kalah dari mereka, dan yang paling penting, kamu memiliki hati yang tulus, jujur, dan penuh kasih sayang yang tidak dimiliki oleh kebanyakan dari mereka. Kita tidak akan melawan mereka dengan kekuatan atau kekayaan, tapi kita akan melawan mereka dengan kebenaran, kecerdasan, dan persatuan kita berdua. Dan percayalah, Sayang... selama kita saling mencintai, saling mendukung, dan saling percaya, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa mengalahkan kita."
Kata-kata Aditya seolah menjadi obat penenang yang ampuh bagi hati dan pikiran Luna. Ia merasa kembali mendapatkan semangat dan kepercayaan dirinya yang sempat hilang sejenak. Ia menatap mata Aditya dengan penuh cinta dan keyakinan yang besar. Ia tahu bahwa apa pun yang akan terjadi nanti, selama ia bersama Aditya, ia akan selalu merasa kuat dan mampu menghadapi apa pun.
"Terima kasih, Aditya... Terima kasih sudah selalu ada untukku dan selalu meyakinkanku. Aku merasa jauh lebih kuat dan berani sekarang berkatmu. Aku siap, Aditya. Aku siap menghadapi apa pun dan siapa pun demi kebenaran dan demi kebahagiaan kita berdua," ucap Luna dengan penuh tekad dan semangat yang membara di dalam dadanya.
Aditya tersenyum lebar dan sangat bangga melihat perubahan sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. Ia mencium kening Luna dengan penuh rasa sayang dan rasa hormat.
"Bagus sekali, Sayang. Itu Luna yang aku cintai dan banggakan. Nah, untuk langkah selanjutnya... ada sebuah acara besar yang akan diadakan oleh keluarga Tanudjaya tiga hari lagi. Sebuah pesta ulang tahun untuk mendiang pendiri keluarga mereka, yang sekaligus menjadi ajang pertemuan dan pergaulan bagi seluruh kalangan atas, orang-orang berpengaruh, dan keluarga-keluarga besar di negeri ini. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk bisa hadir, melihat langsung suasana di sana, mengenali anggota keluarga Tanudjaya, dan mencari tahu lebih banyak informasi tentang mereka. Aku sudah mendapatkan undangan resmi untuk kita berdua, dan kita akan hadir di sana sebagai perwakilan dari keluarga Pratama."
Mata Luna terbelalak kaget dan tak percaya mendengar penjelasan itu. Ia tidak menyangka bahwa rencana mereka akan berjalan secepat ini, dan bahwa mereka akan segera bertemu dan berhadapan langsung dengan keluarga Tanudjaya dalam waktu yang sangat dekat.
"Kita... kita akan pergi ke pesta keluarga Tanudjaya? Kita akan bertemu langsung dengan Reynold, Julian, Clarissa, dan yang lainnya?" tanya Luna dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa kaget dan gugup yang luar biasa besar.
Aditya mengangguk mantap dengan senyum yang penuh percaya diri dan semangat.
"Betul sekali, Sayang. Ini adalah langkah besar dan berani, tapi ini juga satu-satunya cara tercepat dan paling efektif untuk memulai penyelidikan kita. Di sana, kita akan melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, bagaimana karakter dan sifat asli mereka, dan kita akan mencoba mencari celah atau petunjuk apa pun yang bisa membawa kita lebih dekat pada kebenaran. Tentu saja, kita akan sangat berhati-hati dan menjaga rahasia identitasmu sebaik mungkin. Kita akan berpura-pura menjadi tamu biasa, dan tidak ada yang akan tahu siapa kamu sebenarnya. Ini akan menjadi pengalaman yang sangat menegangkan dan berbahaya, tapi aku yakin kita akan mampu melewatinya dengan baik, sama seperti saat kita melewati bahaya-bahaya yang lain sebelumnya."
Jantung Luna berdegup kencang, bercampur antara rasa takut, gugup, namun juga rasa penasaran dan semangat yang tinggi. Ia tahu bahwa pesta itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan yang baru, sebuah pertarungan yang nyata, dan ujian yang berat bagi mereka berdua. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak akan berjalan sendirian, dan bahwa Aditya akan selalu ada di sampingnya untuk membimbing, melindungi, dan mendampinginya di setiap langkah yang diambilnya.
"Baiklah, Aditya... Aku siap. Aku akan ikut bersamamu ke mana pun kamu pergi, dan aku akan melakukan apa pun yang diperlukan demi kebenaran dan keselamatan kita. Aku berjanji akan berhati-hati dan tidak akan melakukan hal yang ceroboh," ucap Luna dengan penuh kesungguhan dan tekad yang kuat.
Aditya tersenyum puas dan sangat bahagia mendengarnya. Ia menggenggam tangan Luna erat-erat, seolah mengikat janji dan persatuan mereka yang kokoh dan tak terpisahkan.
"Baguslah, Sayang. Aku sangat bangga padamu. Tiga hari lagi, kita akan melangkah masuk ke sarang singa, ke dunia yang penuh kemewahan, kekuasaan, intrik, dan bahaya. Tapi ingatlah satu hal, Sayang... apa pun yang terjadi di sana, apa pun yang kita lihat atau kita hadapi, kita adalah satu tim, kita adalah satu kesatuan, dan kita akan selalu saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Bersama-sama, kita tidak akan takut pada apa pun."
Babak baru yang penuh kemewahan, ketegangan, dan bahaya pun akhirnya terbuka lebar di depan mata mereka. Sebuah pesta besar keluarga Tanudjaya yang akan menjadi panggung pertama pertemuan antara keturunan Pratama dan keturunan Tanudjaya, di mana rahasia-rahasia masa lalu perlahan akan mulai terkuak, dan takdir mereka pun akan mulai berputar ke arah yang tidak terduga.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷