"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."
Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Raja Tidur
i
Pagi itu pada pertengahan bulan Juli, seperti biasa, aku masuk ruang kelas tepat pukul 08:00 atau sekitarnya. Masih, tidak ada bedanya dengan saat MOS. Bukan karena jam pelajaran mulai waktu itu, hanya saja aku telat beberapa menit dan gerbang sudah ditutup. Padahal aku sampai sekolah pukul 07:03 WIB.
Yah, mau tidak mau aku harus mendengar omelan satpam atau guru piket, setelah itu lari-lari muterin lapangan sepak bola sambil gendong tas dan bawa buku-buku paket besar. Coba bayangin rasanya gimana?
Aku tidak sengaja, bahkan tak pernah kupikirkan untuk datang terlambat. Selain ketinggalan pelajaran dan dapat banyak poin, hukuman merupakan salah satu hal paling utama yang membuatku sangat ingin tidak mengulanginya. Meski aku terus terlambat saat MOS, dan kembali melakukannya empat hari ke depan.
Yah, bagaimanapun aku sudah dan selalu berusaha agar berangkat lebih awal. Tapi, angkutan umum tidak pasti ada, selagi ada seringnya penuh. Kadang juga kalau longgar, tidak sampai tujuanku ke Purwokerto. Terlebih rumahku ke sekolah butuh waktu satu jam berkendara.
Memang menunggu angkutan umum itu persis seperti menunggu cinta sejati. Lama, dan tidak kunjung datang.
* * *
ii
Sampai di kelas, aku duduk di kursiku di bagian kiri paling belakang. Mengacuhkan seruan teman-teman yang meledekku.
Di sana, aku kembali merasa heran dengan pria yang duduk di sisiku. Aku tidak tahu siapa namanya, yang pasti dia selalu tidur di kelas dan tidak pernah mendapatkan hukuman, membuatku iri.
Dan, saat itu juga tanpa sadar hatiku berharap pelajaran nanti ada guru yang menyuruhnya untuk maju dan mengerjakan soal di depan. Aku yakin, dia akan gelagapan dan akhirnya mendapat hukuman. Semoga ini tidak terhitung sebagai doa yang buruk.
Namun harapanku tak kunjung terwujud hingga bel istirahat berbunyi. Merasa kesal, sembari bangkit, tanpa sadar aku berseru lirih. "Dasar, Raja Tidur!"
* * *
iii
Waktu istirahat. Tadinya aku mau ke kantin, tapi Kelvin, teman sekelas, Ketua Kelas X-11 memintaku untuk pergi ke perpus sebentar soalnya ada yang mau dibahas. Jadi aku menurutinya dan pergi bersama Gyan, teman sekelas yang duduk di depanku.
Di perpustakaan, selain aku, Gyan, ada juga Kelvin, Arya—teman duduk Kelvin, dan pengunjung lainnya yang mencari buku atau membahas sesuatu seperti kami.
Hal yang dibahas adalah keinginan mereka agar aku mengikuti seleksi LCC kelas yang bakal diadain dua minggu lagi. Kata mereka, seleksi ini buat nentuin kandidat paling tepat untuk ikut LCC sekolah bulan depan, dan juga mereka dapat info itu dari ketua OSIS.
Aku sih ga terlalu tertarik sebenarnya, tapi sebagai wujud pertemanan, aku terus menanggapinya dan meminta kejelasan soal apa saja yang akan dikeluarkan.
Waktu kami sedang ngobrol, muncul seorang sembari bilang permisi. Kelvin, Arya, dan Gyan, tahu siapa dia.
Orang itu namanya Ateg, singkatan dari Ayu Teguh, nama panjangnya. Dia kelas X-5, datang memberiku surat, katanya itu surat titipan dari teman SMP-nya, tapi tidak disebut nama temannya itu dan berlalu begitu saja.
Dengan banyak rasa heran, kubaca surat itu:
“Lutfi, ada kost khusus putri di dekat sini, tiga blok ke Utara dari Masjid Agung. Coba cek dulu. RT.”
Aku makin kebingungan dibuatnya. Pertama, siapa pengirimnya; kedua, kenapa bisa tahu namaku; ketiga, buat apa ngasih tahu kost khusus putri ke aku; dan terakhir, apa maksudnya RT. Emang itu singkatan dari Rukun Tetangga, mirip seperti pak RT barang kali, atau Ruang Tunggu.
Entahlah, aku tidak mengerti. Hanya muncul berbagai jawaban konyol di kepalaku, khususnya tentang pengirim dari RT ini.
Kelvin nanya, ingin tahu isi surat itu, tapi kubilang itu hanya surat iseng. Selanjutnya langsung kumasukan kedalam saku baju, dan kembali menyimak Kelvin yang banyak bicara tentang ini itu yang menurutku sangat membosankan.
Sejak itu, aku sudah tidak bisa konsentrasi dengan percakapan mereka. Otakku, entah gimana, sebagian besar, terus melayang-layang kepada RT.
Apa maksudnya?
* * *
iv
Pelajaran terakhir di hari Kamis.
Aku sangat senang akhirnya Pak Edi, guru fisika menunjuk siswa secara acak untuk mengerjakan soal di papan tulis. Kulihat beberapa teman lain ketakutan karena materi hari ini cukup membingungkan, untuku tentunya, karena aku tidak suka perhitungan.
Sebenarnya jika ada pembagian kelas jurusan sejak kelas X pasti aku akan lebih memilih masuk kelas bahasa.
Di sisi kiriku, seorang pria masih saja tertidur menghadap tembok. Membuatku makin merasa jengkel, meski aku hanya berani melirik ke arahnya. Tapi, setidaknya saat itu, aku sedang semangat-semangatnya berharap Pak Edi akan menunjuk dia untuk mengerjakan latihan soal.
Melihat dia tidak bisa mengerjakan, dan akhirnya mendapatkan hukuman. Mungkin, itu cukup adil bagiku yang selalu dihukum cuma gara-gara telat 3 sampai lima menitan.
Satu per satu siswa ditunjuk, kini tersisa soal nomor lima yang kata beliau soal paling susah karena harus menggunakan tiga rumus untuk mendapatkan hasil terakhir.
Aku gemetaran, sungguh menggunakan satu rumus saja tidak bisa kukerjakan.
Kulihat samar, wajah Pak Edi mengarah ke sisi belakang, mungkin sedang memilih siswa yang baginya acuh, atau tidak memerhatikan, atau mungkin juga dianggap tidak bisa. Entahlah aku hanya menebak.
Dan seketika jarinya menunjuk ke arah tempat dudukku. Untuk sesaat kegembiraan melingkupiku, karena kupikir Pak Edi memilih pria yang terus tidur di kelas. Namun segala rasa itu lenyap seketika setelah beliau berkata: “Ya, kamu siswi yang rambutnya panjang, yang duduk di barisan paling belakang.”
Aku tersentak, menengok-nengok kepala. Barang kali aku salah mengira jika Pak Edi menunjukku. Tapi beliau kembali berkata: “Iya kamu, kerjakan soal terakhir.”
Kaget, takut, bingung, dan kesal bercampur aduk dalam perasaaku. Aku sangat tidak menyangka Pak Edi dan guru-guru lain mengacuhkan pria di sisiku yang terus saja tertidur sepanjang waktu.
Aku bangkit dari dudukku, menatap ke arah pria itu kesal. Lalu menghembuskan napas dan melangkah penuh rasa takut, sedang hatiku memberontak marah. “Untung banget sih kamu Raja Tidur?!”
Mendadak langkahku terhenti, dan kembali memandangnya. Aku tersadar sesuatu. “RT, bisa juga singkatan dari Raja Tidur. Apa dia yang megirim surat itu?”
“Ada apa? Ayo maju.” ujar pak Edi membuatku syok.
Aku mengambil spidol dari meja guru, kemudian menuju papan tulis. Dan terdiam di sana hingga bel pulang sekolah berbunyi.
* * *
v
Dua jam setelah pulang sekolah. Aku sudah berganti pakaian, makan siang, dan menyuci gerabah. Tapi aku masih belum bisa move on dari soal sebelumnya. Terlebih karena Pak Edi memintaku untuk kembali mengerjakannya di pertemuan besok. Lebih parahnya, di hari Jumat, pelajaran fisika berada pada jam pertama.
Aduh! Aku pusing memikirkan berbagai cara untuk mengatasinya. Mengingatnya saja membuatku merasa penuh beban.
Bagaimanapun dulu, aku hampir semingu sekolah SMA namun selalu masuk kelas sekitar jam delapan. Jadi, selain telat, soal-soal tentang rumus dan perhitungan memberikan masalah lebih untukku.
Dengan berat hati, saat itu aku kembali meraih buku fisika dan bolpoin. Ketika mau membukanya, mendadak ponselku berdering.
Kuambil, dan tampak pada layar Kelvin menelponku. Kujawab dan menyapanya. “Hallo,”
“Hai. Kamu lagi ngapain?”
Sungguh aku kesal mendengar pertanyaannya. Memang apa urusan dia bertanya hal tidak penting di kondisi seperti ini? Ah, bikin BT aja. “Duduk,”
“Oooh.... kamu udah ngerjain soal tadi?”
“Belum,”
“Aduh, terus gimana?”
Terus gimana katamu? Aku tidak habis pikir kenapa Kelvin menelponku hanya untuk itu. Setidaknya, sebagai pria seharusnya menawarkan bantuan meski sendirinya tidak bisa. Tapi, boro-boro dia lakuin. “Ga tau, tapi mau aku kerjain.”
“Oooh.... bisa?”
“Engga,”
“Mau aku bantuin?”
“Caranya?”
“Ya, ga tau sih. He he he.”
Ketawa lagi. Udah deh, bikin aku makin sebel saja. “Kamu belum ngerjain?”
“Aku sih, udah nyoba tapi hasilnya kebanyakan. Mungkin salah,”
Aku menghembus napas panjang penuh kekesalan. Makin tidak nyaman dengan percakapan ini. “Ya udah, aku mau ngerjain dulu.”
“Oooh.... iya, semangat ya?”
“Makasih, dah.”
Tuuut.... tuuut.... tuuut. Akhirnya telfon terputus. Aku merasa cukup lega, meski masih tersisa kekesalan yang lain. Jadi, aku beranjak dari meja belajarku dan menuju ruang tengah. Menonton TV.
* * *
vi
Selepas shalat Isya, aku menemui ayah yang baru saja duduk dan meletakan kopi di atas meja. Kemudian menyapanya dan meminta beliau membantuku mengerjakan soal di buku tulisku. Namun jawaban yang kudapat: “Ayah ya ga bisa fisika. Coba kamu cari di buku paket, pasti ada contohnya.”
Aku merengek namun beliau mengacuhkanku dengan terus mementik jari kepada burung perkututnya. Aku menyerah, dan pergi, lalu duduk di depan meja belajar setelah mengambil buku paket.
Sungguh rasanya sangat malas untuk menggarap soal-soal perhitungan, terlebih fisika yang begitu banyak rumus. Tapi, jika tidak kukerjakan sekarang, entah apa yang akan terjadi padaku besok. Jadi, kuraih buku paket fisika sesuai kata ayah, mungkin ada contoh di sana.
Ketika kubuka beberapa lembar mendadak secarik kertas terjatuh. Meraihnya dan aku terkejut. Kertas itu berisi semua jawaban soal kemarin secara lengkap, mulai dari keterangan, alasan penggunaan rumus, pengolahan rumus, dan keterangan hasil akhirnya. Melihatnya saja, membuatku paham seketika.
Tapi, aku juga heran, setidaknya siapa yang mengerjakan dan menaruhnya di dalam buku paketku. Padahal, Kelvin saja yang terbilang cukup pintar di kelas kebingungan di soal terakhir.
Kubaca kembali tiap tulisannya dengan teliti, dan selain jawaban ada kalimat disana:
“Lutfi, semoga ini bisa membantumu. Tapi besok jangan telat, kalau telat lagi aku bakal menghampirimu. RT.”
RT lagi? Ini pengirim yang sama?
Aku bangkit dan meraih ransel. Mencari surat sebelumnya. Kemudian mencocokkan dengan tulisan di lembar kertas berisi jawaban soal kemarin.
Dan, lagi-lagi aku terkejut setelah tahu tulisannya benar-benar sama persis. Jadi, kecurigaanku benar, kalau dia adalah pengirim yang sama. RT.
Sesaat otakku menayangkan pria yang duduk di sisiku dan selalu tidur sepanjang waktu.
“Apa dia yang mengirimnya? Tapi, aku tidak melihatnya mengerjakan soal kemarin. Ah, sudah pasti bukan dia orangnya. Dan,”
Mengulang pesan di kertas kedua. ....besok jangan telat, kalau telat lagi aku bakal menghampirimu.... “Sembarangan! Akan kubuktiin kalau besok aku ga telat!” kataku kesal. Lalu menyalin jawaban.
* * *
vii
Besoknya, tiada disangka, aku datang jauh lebih siang dari biasanya. Setengah delapan. Bukan sengaja, supaya aku bertemu si pengirim surat dengan inisial RT, tapi karena kondisi jalan sedang perbaikan, sehingga macet cukup lama.
Aku ingat, saat itu satpam dan guru piket tidak mengomel seperti sebelumnya. Mereka hanya menatapku tajam dengan wajah jengkel, dan itu jauh lebih membuatku tidak nyaman.
Selanjutnya aku mendapat hukuman yang sangat menyebalkan. Mengambil absen semua kelas X sampai kelas XII.
Berhubung kelas XII IPA berada di lantai dua—di atas ruang guru, jadi aku tidak perlu mengambilnya. Dan, tujuanku saat itu pertama kali langsung menuju ruang kelas XI IPA.
Kenapa?
Sudah pasti karena kelas IPA terkenal dengan siswa paling tenang, sehening kuburan barang kali. Namun, memang, meminta absen kepada kakak kelas tetap harus menyiapkan mental yang besar.
Sekitar pukul delapan kurang seperempat aku baru saja keluar dari ruang kelas XI IPA-2. Mendadak ada sesuatu yang menekan pundakku dari arah belakang.
Agak takut dan terkejut, aku memberanikan diri untuk membalik badan. Dan, tampak di depanku berdiri seorang pria yang juga mengenakan seragam pramuka lengkap lengan panjang dengan hasduk yang ujung hingga sepertiga bagiannya dislempangkan di pundak kiri. Dia juga memegang bolpoin. Mungkin itu benda yang dia gunakan untuk menekanku.
“Absen,” katanya.
Aku heran, bingung. Berpikir barang kali dia orang yang kukenal. Namun hasilnya nihil.
“Absen,” ujarnya lagi dengan menjulurkan tangan.
“Apa maksudmu?”
“Guru piket nyuruh kamu masuk.”
“Jangan ngawur! Aku diminta ambil absen seluruh kelas.” jawabku dan berlalu.
Namun lagi-lagi pundak kiriku ditekan dengan benda keras itu. Memaksaku kembali menghadapnya.
“Absen,”
“Kamu ngeselin banget sih?”
Tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya, jawaban yang kudapat justru pria itu dengan sigap meraih buku absen dari tanganku dan berlalu begitu saja menuju kelas XI IPA-1.
“Hey, tunggu!” Aku berseru.
Seketika guru di kelas XI IPA-2 keluar dengan ekspresi marah. “Kamu ngapain di situ?! Sana masuk!”
Tersentak sekaligus takut. Aku hanya mengangguk dan menuruti perintahnya.
Sungguh, saat ini, ketika mengingat kejadian itu, membuatku jengkel sekaligus senyum-senyum sendiri. Selain kedatangannya yang tiba-tiba, nada datar dan raut wajah tanpa ekspresinya membuatku terpesona saat ini. Tapi tidak di mataku yang dulu.
Saat itu, aku hanya menganggapnya pengganggu yang sangat menyebalkan. Karena terus mengulang hal yang sama hingga satu minggu kedepan.
* * *
viii
Selama satu minggu sebenarnya aku merasa ada hal aneh, yakni: setiap aku masuk kelas, si Raja Tidur selalu tidak ada. Bukan aku mencarinya, tapi sebelum pria itu datang meminta absen, dia—yang duduk di sisiku—pasti sudah tertidur pulas di kelas.
Tapi kini, dia masuk kelas selalu sepuluh hingga lima belas menit setelah aku duduk di kursiku. Dan jika kuingat-ingat, wajah keduanya sama.
Waktu itu, hari Kamis, selepas menyerahkan absen kepada pria menjengkelkan aku masuk kelas dan meminta maaf kepada guru, lalu duduk di kursiku. Kemudian berbisik kepada siswi yang duduk di depanku.
“Gyan.... Gyan,”
Dia menoleh sedikit ke sisi kanan sambil mengawasi guru yang sedang mengajar. “Iya, apa?”
“Cowo yang duduk di sebelahku, sih kemana?”
“Emangnya kenapa?”
“Ya, aku cuma pengin tahu.”
“Kamu sih, telat terus.”
“Ya, maaf.”
“Ya udah lupain. Pokoknya, dia pasti izin pas tengah delapan. Dan, S-E-L-A-L-U.”
“Gitu yah, makasih.” kataku menutup pembicaraan setelah merasa guru mengetahui kami saling berbisik dengan batuk yang bagiku terdengar sangat dibuat-buat.
Melirik ke kursi pria itu. “Sepertinya kau memang orang aneh.” Menghembus napas. Aku makin tidak bisa menahan rasa penasaranku tentang dirinya. Jadi aku merogoh laci miliknya dan meraih sesuatu.
Meletakan di depanku. Tampak buku tulis yang telah diberi lembar cokelat dan plastik sebagai pelindungnya. Aku sempat tertawa ketika membaca keterangannya.
Nama : Tanya sendiri :-p
Kelas : Di SMAN Purwokerto
Mapel : Mata Pelajaran
Sekolah : SMA
Cukup mengejutkan untuk buku milik seorang pria SMA jika ditimbang dari segi kerapian. Kupikir dia sama seperti pria lain yang suka menggunakan satu buku untuk semua pelajaran. Terlebih karena kebiasaannya tidur di kelas, Jadi terkesan sangat pemalas. Tapi dugaanku keliru.
Membuka buku di depanku. Aku kembali terkejut setelah melihat kalimat di sana. Selain tulisan itu sama persis dengan surat yang kuterima, kata-kata yang ditulis juga membuatku syok sekaligus merasa tidak enak hati.
“Raja Tidur, itulah caramu memanggilku pertama kali. Kalau disingkat jadi RT. Lucu juga, aku berterimakasih padamu, Lutfi idolaku.”
Jadi, pria nyebelin itu si Raja Tidur, dan dia juga yang ngirim surat ke aku. Terlebih, aku tidak menyangka, kenapa dia diam-diam mengidolakanku? Maksudku, bukannya aku tidak suka diidolakan, hanya saja aku tak mengerti alasannya.
Soalnya, dia kan selalu tidur di kelas. Jadi kupikir, dia tidak tahu sesuatu tentangku. Lagi pula, aku juga tidak melakukan sesuatu yang mencolok seperti siswa lain. Aduh! Aku makin pusing dibuatnya.
Beberapa saat, otak, pikiran, khayalan terus larut dalam kedilemaan tentang si dia. Namun mendadak aku mengingat kalimat di surat sebelumnya, kalau RT akan menemuiku jika aku datang terlambat. Dan benar, dia memang melakukannya.
Untuk apa?
Aku masih belum tahu. Jadi, saat itu juga aku memutuskan untuk mencari tahu alasannya besok dengan sengaja terlambat.
* * *
ix
Hari Jumat di depan UKS, aku memejam, memantapkan diri sebelum menuju ke kelas XI Bahasa. Beberapa hari lalu, dia selalu datang sebelum aku selesai mengambil absen di kelas XI IPA, tapi saat itu dia tidak juga muncul.
Ketika akhirnya aku membuka mata dan hendak melangkah, tiba-tiba dia berdiri di depanku sembari berkata: “Dasar Ratu Absen, mau telat sampai kapan?”
Terkejut sekaligus lega, meski agak jengkel mendengar pertanyaannya. Maksudku, kenapa dia memanggilku Ratu Absen?
Yah, memang benar kalau aku teramat sering telat, tapi apa tidak ada sebutan lain yang lebih halus, seperti misalnya.... lupakan itu! Pokoknya, aku tidak suka disebut-sebut dengan nama lain. Aku ini sudah punya nama, Lutfi Nurtika.
Batinku hanya bersontak sendiri tanpa berani menyampaikan keluhanku. Dan saat itu, aku hanya bertanya: “Maaf?”
Tak ada tanggapan, dia hanya terus memandangku.
“Sebenarnya, kamu ini siapa?”
Tampak wajahnya sedikit bingung. “Siapa? Kita ini satu meja.”
Aku terkejut. Jadi siswa di depanku benar-benar pria yang sama seperti dugaanku. Dia pria aneh yang terus menggangguku ketika meminta absen, dan dia yang selalu duduk di sisiku dengan selalu tertidur setiap waktu, dia juga si pengirim surat berinisial RT.
Agak lega rasanya setelah tahu seperti apa orangnya. Meski saat itu aku masih belum tahu namanya.
“Absen.” katanya sembari menjulurkan tangan seperti biasa, memaksaku keluar dari khayalanku.
Hari itu, aku menyerahkannya cuma-cuma lalu melangkah pergi. Aku sangat yakin kalau dulu, dia pasti kaget.
Setelah berjalan cukup jauh darinya aku mengumpet dari balik batang pohon yang berada di jalan dekat lapangan berlantai semen, sembari mengamati pria itu. Tampak dia tidak curiga. Pria itu melangkah menuju kelas XI Bahasa, kemudian keluar masuk berdasarkan urutan dari 1 hingga 4. Lalu menuju ke tangga.
Saat itu juga aku sadar, yang dilakukannya adalah menggantikan hukumanku. Tapi, aku masih belum mengerti alasan dia bertindak demikian. Padahal, aku sudah cukup kasar dengan mengatainya Raja Tidur.
Aku melangkah menuju ruang kelasku dengan rasa sesak di dada. “Mungkin aku harus bilang makasih sebelum rasa ga enak ini makin ganggu aku.”
* * *
x
Di ruang kelas X-11, sewaktu istirahat. Aku masih duduk di kursiku dan melambaikan tangan kepada Gyan yang baru saja beranjak dari duduknya untuk menuju kantin. Sebenarnya aku juga ingin pergi ke sana untuk membeli makanan ringan, tapi sebelum itu, aku merasa ada hal yang harus kuselesaikan saat itu juga.
Kupandang ke sisi kiri, tampak dia masih tertidur atau semacamya. Entahlah, aku tidak bisa melihat wajahnya.
Jantungku berdegup kencang, entah kenapa. Sebelumnya, tidak pernah kurasakan canggung seperti saat itu. Cukup lama, tapi akhirnya aku berkata: “Makasih.”
“Hmmm.... buat apa?”
Mendengar responnya yang cepat membuatku terkejut sekaligus memunculkan berbagai pertanyaan dalam benakku. Yah, kenapa dia menjawab? Apa dia pura-pura tidur atau memang sudah bangun? Apa mungkin dia memang cepat tanggap?
Sekitar satu atau dua menit, aku kembali bersua, “Soalnya kamu selalu gantiin tugasku ambil absen.”
Greg!!! Meja bergerak tiba-tiba hingga membuatku tersentak. Saat itu, aku sangat yakin kalau dia terkejut karena aku tahu perbuatannya itu.
Lama kutunggu. Semenit, lima menit bahkan hampir tujuh menit masih tak kudengar suara apapun darinya.
Merasa kesal, aku kembali berkata: “Jangan pura-pura tidur!”
Jawaban yang kudapatkan justru suara dengkuran lirih. Hal yang paling membuatku ilfil.
Segera aku bangkit dari tempat dudukku, kemudian melangkah pergi dengan rasa jengkel. “Dasar Raja Tidur.”
saya berharap author membalas nya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak
aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
lanjuuuut!
🆙🆙🆙🆙
up terus