BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU
"Kamu menyebut slide kelima ini sebagai sebuah mahakarya, Naura?"
Suara bariton itu tidak keras. Namun, nadanya sanggup membuat pendingin ruangan di ruang rapat lantai lima Gedung Mahardika Group terasa beralih fungsi menjadi pembeku daging.
Arkan Mahendra mengetuk-ngetukkan pena Montblanc-nya ke atas meja marmer. Ketukan berirama konstan yang terdengar seperti hitungan mundur bom waktu bagi telingaku. Mata elangnya menatap lurus ke arah proyektor, sama sekali tidak sudi melirik ke arahku yang sudah berdiri selama empat puluh lima menit dengan tumit stiletto tujuh sentimeter.
"Tiga minggu, Pak Arkan. Saya dan tim melakukan riset pasar secara mendalam untuk kampanye produk ini—"
"Riset pasar atau menyalin tren murahan dari media sosial?" Arkan memotong cepat, dingin, tanpa riak. Jari telunjuknya yang kokoh terangkat, menunjuk layar besar di belakangku. "Target audiens kita adalah kelas A+. Konsumen yang membeli estetika, gengsi, dan eksklusivitas. Desain warna fuchsia bertabrakan dengan font neon ini? Ini bukan kampanye iklan mobil mewah. Ini pasar malam."
Gigi gerahamku bergemeletuk. Kuku-kuku jariku tertanam kuat di telapak tangan, meninggalkan bekas bulan sabit yang memutih demi menahan gejolak di dada. Di sebelah kananku, Riko—rekan satu timku—menunduk begitu dalam sampai dahinya hampir menyentuh permukaan meja. Pengecut. Dia yang bersikeras memasukkan warna fuchsia itu dalam rapat internal minggu lalu, tetapi sekarang mendadak menjelma menjadi pajangan meja yang bisu.
"Kita butuh sesuatu yang mencolok untuk menarik perhatian generasi muda, Pak," ujarku, mencoba mempertahankan sisa-sisa profesionalisme yang mulai terkikis habis. "Konsep *disruptive marketing* ini—"
"Saya tidak membayar mahal seorang Senior Copywriter hanya untuk mendapatkan konsep sekadar 'yang penting mencolok'." Arkan menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit premium. Kemeja hitamnya yang terpasang sempurna tanpa cela sedikit pun seolah menegaskan bahwa pria ini memang tidak punya ruang untuk sebuah kesalahan. "Kamu tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini, Naura. Desain ini sampah. Dan jujur, saya mempertanyakan bagaimana kamu bisa lolos proses seleksi tiga tahun lalu."
Kata *tidak kompeten* dan *sampah* menghantam ulu hatiku, memicu sengatan panas yang langsung naik ke kepala.
Selama tiga tahun, aku bertahan di bawah kepemimpinannya. Aku menahan makian saat dia menelepon jam dua pagi hanya untuk mempermasalahkan satu tanda koma yang kurang estetis di takarir draf iklan. Aku menahan diri saat dia merobek proposal kerja keras timku tepat di depan wajah kami. Namun malam ini, di depan seluruh jajaran direksi yang menatapku dengan campuran rasa kasihan dan syok, bendungan kesabaranku jebol total.
Aku melangkah maju dua kali. Kupastikan hak sepatuku berbunyi nyaring di atas lantai granit, memecah keheningan ruang rapat yang mencekam.
"Cukup, Pak Arkan Mahendra yang terhormat." Aku melipat tangan di depan dada, membalas tatapan matanya yang sedingin es kutub. "Anda boleh mengkritik konsep saya, tetapi Anda tidak punya hak untuk menghina kompetensi saya secara personal."
Satu ruangan mendadak menahan napas. Direktur Pemasaran di ujung meja bahkan sampai menjatuhkan pulpennya hingga menggelinding ke lantai.
Arkan menaikkan sebelah alis tebalnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai meremehkan yang membuat darahku makin mendidih. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali untuk mendikte saya?"
"Saya tidak mendikte. Saya hanya menyatakan fakta," ujarku dengan suara yang diusahakan tetap stabil walau dadaku bergemuruh hebat. "Faktanya, Anda adalah manusia paling menyebalkan yang pernah saya temui di planet ini. Anda perfeksionis yang sakit jiwa. Anda tidak punya hati, tidak punya empati, dan tahu apa? Dengan sifat Anda yang serupa robot rusak begini, Anda pasti akan mati sendirian tanpa ada satu orang pun yang sudi datang melayat!"
"Naura!" Riko berbisik panik, menarik ujung blender blusku. Aku mengibaskannya kasar.
Aku melepas tali ID card Mahardika Group dari leherku dengan satu sentakan tajam. Benda plastik itu mendarat dengan bunyi keras tepat di depan tumpukan dokumen dokumen Arkan.
"Mulai detik ini, saya mengundurkan diri. Silakan cari copywriter robot lain yang mau diperbudak oleh iblis seperti Anda."
Aku berbalik, menyambar tas kerja di atas kursi, dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat. Pintu kaca tebal itu kubanting hingga bergetar hebat, menimbulkan gema yang memuaskan di sepanjang koridor.
Udara malam Jakarta menyergap begitu aku keluar dari lobi gedung. Angin berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku yang terlepas dari jepitan. Adrenalin yang tadi membubung tinggi mendadak surut drastis, menyisakan kenyataan pahit yang perlahan merayap naik ke permukaan otak.
Cicilan KPR rumah di Tebet yang masih tersisa dua belas tahun lagi. Tagihan kartu kredit bulan ini. Biaya obat Ibu yang tidak murah.
"Bodoh, Naura! Mulutmu benar-benar tidak punya saringan!" aku memaki diri sendiri di dalam taksi daring yang membawaku pulang. Aku menyandarkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Namun, di sela-sela kepanikan finansial yang mulai membayangi, ada rasa lega yang luar biasa. Beban tak kasat mata di pundakku selama tiga tahun ini menguap. Aku bebas dari cengkeraman bos iblis itu.
Kebebasan itu bertahan tepat tujuh hari.
Selama seminggu, kegiatanku beralih menjadi pengirim CV masal ke puluhan agensi iklan di Jakarta, memasak untuk Ibu, dan berpura-pura bahwa hidupku sedang sangat baik-baik saja. Aku sengaja belum memberi tahu Ibu kalau aku sudah menjadi pengangguran sukses. Jantung Ibu terlalu rapuh untuk menerima kejutan sedramatis itu.
"Naura, pakai baju yang rapi. Malam ini kita ada janji makan malam keluarga," suara Ibu terdengar dari balik pintu kamar sore itu, membuyarkan fokusku yang sedang menatap layar laptop.
Aku membuka pintu kamar, mendapati Ibu sudah rapi dengan kebaya modern berwarna salem. Wajahnya yang pucat tampak dipoles riasan tipis, tetapi binar di matanya tidak bisa berbohong. Ada kebahagiaan yang jarang kulihat sejak Ayah meninggal dua tahun lalu.
"Makan malam keluarga? Sama siapa, Bu? Kan keluarga kita cuma tinggal kita berdua," tanyaku sambil merapikan kaus rumahan yang sudah melar di bagian leher.
Ibu tersenyum misterius, lalu menepuk pipiku lembut. "Sahabat lama almarhum Ayahmu. Mereka baru kembali dari luar negeri minggu lalu dan ingin menyambung silaturahmi. Sekaligus... ada hal penting yang mau dibicarakan."
"Hal penting apa?" Firasatku mendadak tidak enak. Sesuatu yang dingin merayap di tengkukku.
"Sudah, jangan banyak tanya. Cepat mandi. Pakai gaun warna navy yang Ibu belikan bulan lalu. Jangan membuat Ibu malu di depan mereka." Ibu batuk kecil, tangannya menekan dada kirinya sejenak. Efek penyumbatan katup jantungnya makin sering kambuh belakangan ini, membuat kulitnya terlihat makin transparan di bawah lampu kamar.
Rasa cemas langsung mengalahkan rasa penasaranku. "Ibu tidak apa-apa? Obatnya sudah diminum, kan?"
"Sudah. Ibu bakal sembuh total kalau kamu penurut malam ini," bisik Ibu dengan nada setengah mengancam, namun matanya memancarkan permohonan yang teramat sangat.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Demi segenap senyum Ibu sebelum jadwal operasi besarnya bulan depan, aku rela memakai gaun paling tidak nyaman di dunia sekalipun.
Restoran privat di hotel bintang lima kawasan Jakarta Pusat itu bernuansa klasik Eropa yang kaku. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki, menciptakan atmosfer yang terlalu formal hingga membuatku makin gugup. Pelayan bersetelan jas membimbing aku dan Ibu menuju sebuah ruangan VIP di sudut paling ujung bangunan.
Di dalam ruangan, sepasang suami istri paruh baya berpenampilan elegan sudah menunggu di meja bundar besar. Pria itu, yang berwajah tegas namun memiliki gurat ramah di matanya, langsung berdiri saat melihat kedatangan kami.
"Danastri!" sapanya hangat pada Ibuku. "Sudah lama sekali tidak berjumpa."
"Surya... Amelia..." Ibuku membalas pelukan wanita paruh baya yang tampak anggun dengan untaian mutiara yang melingkar di lehernya.
Aku berdiri agak canggung di belakang Ibu, meremas tali tas tangan kecilku sambil memaksakan senyum terbaik yang kupunya.
"Ini Naura?" Tante Amelia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya berbinar tulus, tanpa ada kesan menghakimi. "Cantik sekali. Persis seperti yang sering diceritakan almarhum Wijaya semasa hidup."
"Terima kasih, Tante," ujarku sopan, melangkah maju untuk menyalami mereka berdua bergantian.
Om Surya terkekeh pelan, melambaikan tangannya di udara. "Jangan panggil Tante dan Om. Mulai malam ini, biasakan panggil Mama dan Papa."
Darahku mendadak berhenti mengalir ke otak. Jantungku melewatkan satu detak berharga. "Maaf?"
Ibuku langsung memegang tanganku erat. Jarinya yang agak dingin meremas jemariku dengan kuat, memberikan kode visual yang sangat jelas: *diam, ikuti saja, dan dengarkan*.
"Naura," Om Surya—atau pria yang menyuruhku memanggilnya Papa—berbicara dengan nada yang berubah serius namun penuh wibawa. "Dulu, saat perusahaan keluarga kami hampir hancur karena krisis besar, Ayahmu adalah orang pertama yang mengulurkan tangan tanpa berpikir dua kali. Dia menjual seluruh aset berharganya demi menyuntikkan modal ke perusahaan kami. Tanpa pengorbanan Wijaya, tidak akan pernah ada Mahardika Group hari ini."
*Mahardika Group?*
Nama itu menghantam dinding kesadaranku seperti godam tak kasat mata. Kepalaku mendadak pening secara instan. Nama itu terlalu familiar. Terlalu traumatis untuk didengar kembali setelah seminggu penuh masa pemulihan mental.
"Sebelum Ayahmu berpulang," lanjut Om Surya, matanya menerawang menatap barisan hidangan yang mulai disajikan pelayan, "kami berdua punya satu janji yang belum sempat terpenuhi. Kami ingin menyatukan dua keluarga ini secara utuh. Kami sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putra sulung kami."
Tubuhku menegang kaku di atas kursi empuk restoran. Napas seolah tersangkut di tenggorokan, menolak untuk keluar. Perjodohan? Di era modern seperti ini? Yang benar saja!
Aku ingin langsung berdiri, memprotes keras, dan mengatakan bahwa ide ini sangat konyol. Namun, lirikan mata Ibu yang penuh harap di sebelahku, ditambah dengan napasnya yang terdengar agak berat dan tersengal, membuat seluruh kata protes itu membeku di kerongkongan. Ibu menaruh seluruh harapan sisa hidupnya pada momen malam ini. Aku tahu itu.
"Dia agak terlambat karena harus menyelesaikan rapat darurat dengan investor asing di kantor," ujar Tante Amelia sambil melirik jam tangan bertatahkan berlian di pergelangan tangannya. "Namun dia berjanji akan langsung menuju ke sini begitu selesai."
Tepat saat kalimat itu berakhir, pintu geser kayu ek ruangan VIP terbuka dari luar.
Langkah kaki yang tegas dan ritmis terdengar di atas lantai sebelum menginjak karpet. Aroma parfum mahal perpaduan kayu cendana dan *ambergris* yang sangat kukenal—dan teramat sangat kubenci hingga ke sumsum tulang—mendadak memenuhi ruangan, menggusur aroma melati yang sedari tadi menguar dari sudut meja.
Aku menoleh lambat-lambat, memejamkan mata sejenak untuk berdoa dalam hati agar ini hanyalah perwujudan mimpi buruk akibat sindrom pasca-trauma menghadapi atasan yang gila kerja.
Namun, doa itu tidak dikabulkan.
Seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap tiga potong berdiri tegap di ambang pintu. Rambut hitamnya tertata rapi tanpa ada satu helai pun yang mencuat salah tempat, membingkai wajah dengan rahang tegas yang kaku dan sepasang mata elang yang tajam luar biasa. Dia sedang melonggarkan ikatan dasi sutranya dengan satu tangan, tampak sedikit lelah namun tetap memancarkan aura dominasi yang pekat dan mengintimidasi.
Langkah pria itu mendadak terhenti di tengah ruangan.
Mata elangnya terkunci tepat pada wajahku yang membeku. Untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, aku melihat topeng datarnya yang sempurna itu retak. Kedua alis tebalnya bertaut rapat, menciptakan kerutan dalam di antara kedua matanya.
Arkan Mahendra.
Bos iblis yang baru seminggu lalu kukutuk di depan mukanya agar mati sendirian dalam kesepian, kini berdiri tiga meter di depanku dengan sebuah status baru yang tidak pernah terbayangkan dalam skenario terburuk hidupku sekali pun.
"Arkan, mari masuk. Kenalkan, ini Naura. Calon istrimu," suara Om Surya terdengar ceria, memecah keheningan yang mendadak mencekam dan sarat akan ketegangan tak kasat mata.
Arkan menatapku tajam, matanya menyipit berbahaya seolah-olah aku adalah penyusup yang sengaja merencanakan konspirasi tingkat tinggi untuk menjebak hidupnya. Sementara itu, di bawah taplak meja marmer yang mewah, aku mengepalkan kedua tinjuku hingga buku-buku jariku memutih sempurna, menahan keinginan kuat untuk melemparkan garpu perak di depanku tepat ke arah wajah tampannya yang menyebalkan itu.
Kiamat yang sesungguhnya baru saja resmi dimulai, dan iblis penguasanya kini sedang berjalan mendekat ke arah mejaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments