Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kesalahan di Rue de Rivoli
Halo, pembaca setia! 👋
Perkenalkan, saya Aliska Rosemary. Ini adalah karya perdana saya di NovelToon. Saya sangat berharap kalian menikmati perjalanan cinta yang akan kita jelajahi bersama.
Sebelum memulai, izinkan saya memperkenalkan sedikit tentang dunia cerita ini:
-Latar Tempat: Paris**, Prancis**. Di sinilah aroma kopi, hujan, dan ketegangan asmara bertemu.
-Kiandra Zanitha (21): Mahasiswi Culinary Arts asal Indonesia yang anggun, sopan, namun punya hati sekuat baja. Dia terjebak dalam situasi rumit karena prinsip "anak baik" yang selalu dia pegang teguh.
-Enzo Romano (34): Dosen kuliner berkarakter Italia yang provokatif, sinis, dan sangat karismatik. Di balik sikap otoritasnya, tersimpan sisi domestik yang hangat—dan mungkin sedikit obsesif.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Mari kita saksikan bagaimana Kiandra dan Enzo menavigasi batas tipis antara dosen-mahasiswa dan teman sekamar.
Jangan lupa, saya juga baru membuat akun Instagram @rosemaryaliska. Silakan follow untuk update terbaru dan ngobrol santai seputar cerita ini. Selamat membaca!
--
Bab 1: Kesalahan di Rue de Rivoli
Angin musim gugur Paris menyapu wajah Kiandra tanpa ampun. Dinginnya bukan sekadar menyentuh kulit, tapi seolah menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat gadis itu merapatkan mantel wolnya. Di depannya, gerbang Le Cordon Bleu berdiri megah, sebuah simbol dari mimpi yang ia bawa jauh-jauh dari Jakarta.
Kiandra meremas tali ranselnya kuat-kuat. Jantungnya berdegup kencang, ritme yang sama saat ia pertama kali memegang pisau dapur di Rumah Makan Lestari milik ibunya. Ia mematung selama tiga detik, membiarkan matanya merekam setiap detail arsitektur bangunan itu sebelum akhirnya melangkah masuk.
Begitu pintu terbuka, aroma mentega yang gurih dan ragi yang sedang mengembang langsung menyergap indra penciumannya. Bau surga, pikirnya.
"Bienvenue, Mademoiselle Zanitha," sapa seorang staf kampus dengan senyum formal sambil menyerahkan map biru berisi jadwal orientasi.
"Merci," jawab Kiandra. Suaranya agak bergetar. Antara antusias dan ingin pingsan karena gugup, bedanya tipis sekali.
"Kiandra! Oh my God, beneran kamu ya!"
Seorang gadis dengan rambut bob ber-highlight ungu muncul dari balik pilar, melambai heboh seolah sedang memandu pesawat mendarat. Kiandra tertegun sejenak.
"Mei? Mei Ling?"
Mei Ling langsung menghambur dan memeluk Kiandra erat. "Gila, akhirnya jagoan Valorant aku menampakkan wujud aslinya! Ternyata aslinya mungil banget, beda sama avatar Sage kamu yang sangar itu."
Kiandra tertawa kecil, merasa sedikit lebih rileks. "Kamu juga beda banget, Mei. Di sini kamu kelihatan kayak Chef beneran, bukan healer yang hobi teriak-teriak di voice chat."
"Iyalah! Anyway, kamu sudah ke apartemen? Sudah drop barang?"
Kiandra menggeleng. "Habis ini. Papa yang urus semua lewat agen, aku tinggal ambil kunci saja."
"Sip, kabari aku kalau sudah beres. Jangan sampai tersesat, ya. Paris itu labirin, salah belok sedikit bisa-bisa kamu sampai di Belgia," canda Mei Ling sebelum berpamitan menuju kelas praktiknya.
***
Pukul tiga sore, Kiandra berdiri di kantor agen properti dengan perasaan yang mulai tidak enak. Monsieur Lefebvre, sang agen, menyerahkan kunci perak dengan ekspresi wajah yang tampak... bersalah?
"Ada masalah, Monsieur?" tanya Kiandra hati-hati.
M. Lefebvre berdehem, merapikan tumpukan kertas di mejanya. "Ada sedikit miskomunikasi, Mademoiselle. Teman sekamar Anda... dia sudah tinggal di sana selama tiga tahun."
"Iya, Papa bilang dia mahasiswi juga, kan? Senior aku?"
"Namanya Enzo Romano," Monsieur Lefebvre menjeda kalimatnya, menatap Kiandra lurus-lurus. "Dia pria, umur tiga puluh empat tahun, Mademoiselle."
Dunia Kiandra seolah berhenti berputar. "Pria? Tapi orang tua aku minta teman sekamar wanita!"
"Kontrak Clause de Solidarité sudah ditandatangani oleh ayah Anda. Secara hukum, kalian terikat. Deposit tidak bisa kembali, dan mencari unit lain di Distrik 1 saat musim begini adalah kemustahilan."
Kiandra terduduk lemas di kursi kayu kantor itu. Bayangan wajah tegas Papanya langsung melintas. Uang puluhan juta rupiah akan hangus jika ia membatalkan ini. Ia terjebak. Selama satu tahun penuh, ia harus berbagi atap dengan pria asing.
"Tenang, Ki. Dia pasti sudah tua. Mungkin om-om brewokan yang hobi baca koran dan tidak akan mengganggumu," batinnya mencoba menghibur diri saat ia melangkah menuju Rue de Rivoli.
Apartemen itu berada di lantai empat sebuah gedung bergaya Haussmann yang elegan. Dengan tangan gemetar, Kiandra memasukkan kunci. Klik.
Interior minimalis modern dengan langit-langit tinggi menyambutnya. Wangi sandalwood dan sedikit aroma lemon yang segar mengambang di udara, sangat maskulin. Namun, yang membuat bulu kuduk Kiandra berdiri adalah suara gemericik air dari balik pintu kaca buram di sisi lorong.
Dia lagi mandi.
Kiandra buru-buru menyeret kopernya menuju kamar nomor dua yang pintunya terbuka. Jantungnya berpacu liar. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu.
"Oke, tenang. Dia cuma orang asing. Umurnya tiga puluh empat tahun, kata agen tadi. Dia mungkin pria pekerja yang tau sopan santun."
Lima belas menit berlalu. Tenggorokan Kiandra terasa kering kerontang karena panik yang tak kunjung reda. Ia butuh air. Setelah memastikan suasana di luar sepi, ia mengintip lorong. Kosong.
Dengan langkah berjinjit, ia menuju dapur marmer yang desainnya elegant tapi minimalis. Ia mengambil gelas kristal, mengisinya dengan air dingin, dan menenggaknya cepat. Matanya terpejam, menikmati kesegaran yang membasahi kerongkongannya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka tepat saat Kiandra menurunkan gelasnya. Uap panas mengepul keluar, membawa aroma sabun maskulin yang tajam, segar, dan sangat intim.
Enzo Romano melangkah keluar.
Kiandra membeku. Gelas di tangannya nyaris terlepas saat matanya menangkap sosok pria itu. Enzo hanya mengenakan handuk putih kecil yang melilit sangat rendah di pinggulnya—begitu rendah hingga garis otot di bawah perutnya terlihat jelas menuju ke area terlarang.
Kulitnya berwarna olive khas Mediterania, masih basah dan berkilau tertimpa lampu dapur. Otot perutnya keras, terdefinisi sempurna seperti pahatan patung Renaissance. Bahunya lebar, mendominasi ruang sempit di lorong itu.
Enzo berhenti tepat di depan meja makan, rambut cokelat gelapnya yang basah meneteskan air ke dadanya yang bidang. Ia menatap Kiandra dengan mata hazel yang tajam, keemasan di bawah cahaya lampu.
"Jadi, kamu 'gangguan' baru yang dikirim agen itu?" suara Enzo berat, dalam, dengan aksen Italia yang kental dan provokatif.
"Aku... Kiandra," cicit Kiandra. Wajahnya memanas hebat. Ia belum pernah melihat pria sedekat ini, apalagi dalam kondisi nyaris polos.
Enzo mencondongkan tubuhnya ke arah meja, membuat aroma tubuhnya yang panas dan lembap menyerang pertahanan Kiandra. Kiandra mundur selangkah hingga punggungnya menabrak pinggiran meja marmer yang dingin.
Enzo tersenyum miring, tatapannya menyapu tubuh mungil Kiandra dengan cara yang membuat gadis itu merasa telanjang.
"Jangan pingsan dulu, cantik. Aku tidak menggigit... kecuali diminta."
Pria itu terkekeh rendah, lalu hendak berbalik menuju kamarnya. Namun, nasib berkata lain. Sudut handuk putih yang longgar itu tersangkut di ujung lancip meja makan marmer saat Enzo bergerak.
Waktu seolah melambat. Kiandra melihat kain putih itu tertarik kencang. Gravitasi bekerja dalam satu detik yang mematikan.
Slip.
Handuk itu meluncur turun tanpa hambatan, jatuh menumpuk di lantai kayu.
Napas Kiandra tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak, terkunci pada pemandangan di depannya. Tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh Enzo sekarang. Dari belakang, ia bisa melihat lekukan bokong yang kencang, namun saat Enzo sedikit menoleh, Kiandra bisa melihat semuanya.
Tubuh bagian depan pria itu sempurna. Dan di sana, di antara pangkal pahanya yang kokoh, sesuatu yang besar dan berat menggantung dengan angkuh, tampak mulai bereaksi karena suhu dingin yang tiba-tiba.
Kiandra langsung menutup mulut dengan kedua tangan, seluruh tubuhnya bergetar hebat antara syok dan rasa panas yang meledak di perut bawahnya.
Enzo tetap berdiri tenang. Tidak ada tanda-tanda malu atau panik. Ia justru menoleh sedikit, melirik Kiandra yang sudah seperti patung bernapas dengan wajah semerah kepiting rebus.
"Ups," ucap Enzo pendek, datar, tanpa beban.
Ia membungkuk perlahan, memamerkan otot punggungnya yang bergerak seksi saat memungut handuk itu. Sementara Kiandra, ia merasa dunianya baru saja meledak menjadi jutaan keping di lantai Rue de Rivoli.