*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan yang Tidak Di Rencakan
Hari ke-63.
Dua minggu setelah lamaran kedua.
Hidup rasanya tenang banget. Tenang sampai Evelyn jadi curiga.
Dia bangun jam 6 pagi, perut mual.
Bukan mual mabuk. Tapi mual yang bikin dia lari ke kamar mandi sebelum sadar.
Matthias terbangun, langsung duduk.
“Kamu kenapa?”
Evelyn keluar, muka pucet.
“Nggak tahu. Mungkin kecapean. Kemarin gambar sampai jam 2.”
Matthias nggak percaya gitu aja.
Dia ambil jas, telepon dokter pribadi.
“Jam 9 pagi. Dokter ke rumah.”
Evelyn mau protes, tapi nggak ada tenaga.
Perutnya masih mual, dan tiba-tiba dia ngerasa aneh.
Kayak ada yang beda. Tapi dia nggak berani ngasih nama.
---
Jam 9.30, dokter datang.
Cek tekanan darah, tanya siklus, cek suhu.
Terus dia ngeluarin test pack dari tasnya.
“Bu Evelyn, coba ini dulu. Hasil lab lengkap keluar sore.”
Evelyn diem.
Tangannya gemetar waktu nerima test pack itu.
Matthias berdiri di belakangnya, nggak ngomong. Tapi napasnya kedengeran berat.
5 menit kemudian, dua garis merah muncul.
Jelas.
Nggak bisa salah.
Evelyn ngeliat ke cermin.
Nggak nangis. Nggak ketawa.
Cuma kosong.
Matthias di belakangnya langsung narik dia peluk.
“Kamu… hamil?”
Evelyn mengangguk pelan.
“Iya.”
Nggak ada yang ngomong 30 detik.
Terus Matthias ketawa kecil.
Nggak keras. Tapi lega banget.
“Gue bakal jadi bapak.”
Evelyn akhirnya ketawa juga.
Nangis.
Campur aduk.
Dokter yang masih di kamar mandi batuk pelan.
“Selamat ya. Tapi Bu Evelyn butuh istirahat. Jangan stres. Dan jangan kerja berat.”
Matthias langsung Jawab spontan.
“Dia nggak kerja apa-apa lagi. Aku yang kerja.”
---
Berita itu nggak langsung disebar.
Cuma Nyonya Alina dan Om Dimas yang dikasih tahu sore harinya.
Nyonya Alina langsung nangis sambil peluk Evelyn.
“Alhamdulillah… alhamdulillah… cucu Mama.”
Om Dimas pura-pura tegar, tapi matanya berkaca-kaca.
“Jaga dia baik-baik, Matthias. Kalau kamu bikin dia stres, aku pecat kamu.”
Matthias cuma ketawa.
“Siap, Pak.”
Malamnya, mereka makan malam cuma berempat.
Nggak ada wartawan. Nggak ada postingan.
Cuma ada lilin, makanan favorit Evelyn, dan obrolan pelan tentang nama bayi.
“Kalau cowok, gimana kalau Arka?” kata Nyonya Alina.
“Arka Virel? Kedengeran kayak superhero,” kata Evelyn sambil ketawa.
Matthias ngangguk.
“Gue suka. Arka. Kuat.”
Evelyn ngeliat Matthias.
Dia tahu Matthias senang. Tapi ada takut di matanya.
Takut ngulangin masa lalu. Takut gagal jadi bapak.
Evelyn genggam tangannya di bawah meja.
“Lo nggak sendirian, Matthias. Gue di sini.”
Matthias balas genggaman itu.
“Aku tahu. Makanya aku nggak takut.”
---
Dua hari kemudian, berita bocor juga.
Entah dari siapa.
Judulnya: _“Evelyn Virel Hamil Anak Pertama Matthias Virel!”_
Komentar pecah dua lagi.
Ada yang happy.
Ada yang nyinyir: _“Anak kontrak juga?”_
Evelyn nggak buka komentar.
Dia lagi mual-mual, tidur siang di studio.
Matthias yang ngadepin wartawan di depan gerbang.
Satu kalimat doang:
“Ini kehidupan pribadi kami. Tolong hormati.”
Selesai.
Nggak ada drama.
Nggak ada klarifikasi panjang.
Malamnya, Evelyn bangun karena mimpi buruk.
Mimpi dia di pengadilan 3 tahun lalu.
Dihujat. Ditunjuk-tunjuk.
Dia bangun kaget, napas ngos-ngosan.
Matthias langsung bangun, nyalain lampu.
“Kamu mimpi apa?”
Evelyn nggak jawab.
Dia peluk Matthias erat.
“Gue takut, Matthias. Takut sejarah keulang.”
Matthias elus punggungnya pelan.
“Nggak akan. Kali ini gue di sini. Gue nggak akan diem.”
Evelyn ngangguk di dadanya.
“Janji?”
“Janji.”
Mereka nggak tidur sampai jam 3 pagi.
Cuma ngobrol. Tentang bayi, tentang masa depan, tentang takut yang manusiawi.
---
Minggu ke-8, USG pertama.
Evelyn gugup banget.
Tangan dingin. Kaki gemetar.
Matthias genggam tangannya dari awal sampai akhir.
Layar USG nyala.
Ada titik kecil. Detak jantung.
Duk… duk… duk…
Dokter senyum.
“Selamat. Janin sehat. Umur 8 minggu. Detak jantungnya kuat.”
Evelyn nutup mulut.
Air mata jatuh.
Matthias di sampingnya nggak bisa ngomong.
Dia cuma genggam tangan Evelyn lebih erat, kayak takut lepas.
Di mobil pulang, mereka diem lama.
Sampai Matthias tiba-tiba parkir di pinggir jalan.
Dia keluar, buka pintu Evelyn, peluk dia di pinggir jalan.
Nggak peduli orang liat.
“Terima kasih,” bisiknya.
“Buat apa?”
“Karena kamu milih hidup sama aku.”
Evelyn balas peluk.
“Gue milih hidup sama lo, Matthias. Setiap hari.”
---
Malamnya, Evelyn upload foto USG di Instagram pribadi.
Captionnya singkat:
_“Keluarga kecil kami. 2026.”_
Nggak ada penjelasan panjang.
Nggak ada klarifikasi.
Cuma foto, dan hati yang tenang.
Komentar langsung banjir.
90% selamat.
10% nyinyir.
Evelyn matiin notifikasi.
Yang penting, Matthias lihat, senyum, lalu cium keningnya.
“Cukup. Itu aja yang gue butuh.”
---
Hari ke-70.
Evelyn mulai mual lagi pagi ini.
Tapi kali ini dia bangun dengan senyum.
Karena di sampingnya, ada Matthias yang udah nyiapin air jahe hangat.
Di perutnya, ada kehidupan kecil yang bikin dia nggak takut lagi.
Masa lalu udah selesai.
Kontrak udah robek.
Sekarang… mereka punya masa depan dan sedang menantikan Buah Hati mereka..
---
Bersambung....