"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan kekasih
Mendengar sindiran tajam dari Clarissa, wajah Kanaya seketika memerah karena malu sekaligus tidak enak hati kepada teman-teman yang lain. Perasaan bersalah langsung berkecamuk di dalam dadanya. Ia tidak ingin kehadirannya di kelompok ini dianggap sebagai beban atau memicu perpecahan sejak hari pertama.
Tanpa membalas ucapan Clarissa, Kanaya langsung bangkit berdiri dari kursinya. Dengan gerakan cepat, ia meraih kemoceng bulu ayam yang tergeletak di atas meja terdekat.
"Maaf, Clarissa, maaf teman-teman semua. Nggak kok, aku nggak apa-apa," ujar Kanaya dengan nada suara yang bergetar namun berusaha tetap tegar. "Ini cuma luka kecil, aku masih bisa banget buat bantu bersih-bersih."
Dengan tangan kirinya yang bebas, Kanaya mulai mengibaskan kemoceng ke atas permukaan meja kayu yang berdebu, mengabaikan denyut perih di jari manis kanan yang seolah mengingatkannya untuk tidak banyak bergerak. Ia sengaja menyibukkan diri agar tidak perlu menatap mata Clarissa ataupun pandangan kasihan dari anggota kelompok lainnya.
Melihat tindakan Kanaya, Wisnu sempat melangkah maju hendak menahan perempuan itu lagi, namun Lisa dengan sigap memberikan kode gelengan kepala kepada Wisnu. Lisa tahu, jika Wisnu kembali melarang Kanaya, hal itu justru akan membuat Clarissa semakin meradang dan menyudutkan Kanaya.
Di dekat jendela, Arman menatap Kanaya yang sedang membelakanginya dengan dada yang terasa sesak. Rahangnya mengeras menahan emosi mendengar kalimat ketus Clarissa tadi. Ia sangat mengenal Kanaya—mantan kekasihnya itu adalah sosok yang mandiri dan paling benci dituduh manja. Arman ingin sekali maju untuk membelanya, namun ia sadar, posisinya saat ini tidak memiliki hak apa pun untuk ikut campur.
Ruangan yang sempat tegang itu perlahan kembali riuh oleh suara sapu dan kain pel, meskipun kini diselimuti oleh kecanggungan yang kentara di antara mereka semua.
Di tengah riuh suara sapu yang bergesekan dengan lantai dan debu yang beterbangan, semua anggota tampak fokus dengan tugasnya masing-masing demi meredakan ketegangan yang sempat terjadi. Kanaya terus mengibaskan kemocengnya tanpa menoleh, sementara Lisa sibuk mengomandoi bagian sudut ruangan.
Melihat situasi yang mulai kondusif namun masih terasa dingin, Wisnu meletakkan kain lapnya. Dengan langkah tenang namun tegas, ia berjalan menghampiri Clarissa yang sedang menyapu di dekat pintu keluar. Tanpa menimbulkan kecurigaan anggota lain, Wisnu mencengkeram lengan Clarissa dengan lembut namun bertenaga, lalu menariknya keluar menuju koridor samping Kantor Kepala Desa yang sepi.
Gerakan yang cepat itu luput dari pandangan hampir semua orang. Namun tidak dengan Mely.
Mely yang sejak tadi memang peka dengan dinamika sosial di kelompok mereka, tidak sengaja menangkap basah momen pergerakan Wisnu. Rasa penasaran yang membuncah membuat mahasiswi Ekonomi itu perlahan meletakkan alat pelnya. Ia berpura-pura ingin membuang air kotor ke toilet belakang, namun langkahnya memutar, mendekati sekat dinding kayu yang membatasi ruangan diskusi dengan koridor samping.
Mely menahan napasnya, menempelkan telinganya ke dinding kayu. Suasana koridor yang sepi membuat bisikan emosional di luar terdengar cukup jelas di telinganya.
"Clar, lo apa-apaan sih tadi di dalam? Nggak perlu kekanak-kanakan begitu sampai bawa-bawa masalah pribadi ke urusan KKN," terdengar suara Wisnu, rendah namun penuh penekanan, menahan amarah yang tertahan.
"Oh, jadi sekarang gue yang kekanak-kanakan?" Clarissa mendengus sinis, suaranya bergetar menahan emosi. "Lo yang apa-apaan, Wisnu! Lo pikir gue buta? Tatapan lo, perhatian lo ke Kanaya itu beda banget! Lo sengaja kan manfaatin posisi lo sebagai ketua buat deketin dia di depan mata gue?"
"Kanaya itu anggota gue, Clar! Jari dia terluka, wajar kalau gue sebagai ketua kelompok minta dia istirahat," tegas Wisnu, mencoba membela diri.
"Halah, klise! Lo nggak pernah berubah ya," cibir Clarissa dengan nada pedih yang tiba-tiba menyeruak. "Dulu waktu kita masih pacaran, lo juga selalu pakai alasan 'tanggung jawab' buat perhatian ke cewek lain. Dan sekarang, setelah kita putus, lo langsung cari sasaran baru di depan muka mantan lo sendiri? Tega ya lo, Nu."
Mata Mely spontan membulat sempurna di balik dinding. Jantungnya berdegup kencang karena syok.
Mantan kekasih?! batin Mely berteriak kaget.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau teka-teki sikap ketus Clarissa sejak kemarin bukan karena sifat aslinya yang egois, melainkan karena ada masa lalu yang belum usai antara dirinya dengan sang ketua kelompok. Hubungan rumit di posko KKN Sukamukti ini ternyata jauh lebih kusut dan sarat akan rahasia daripada yang Mely bayangkan sebelumnya.