NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 SWMU

Nadia melangkah gontai menaiki tangga marmer menuju kamarnya. Kata-kata Bramantya di ruang makan tadi masih terngiang-ngiang, berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Aku tahu apa yang kau lakukan semalam dengan menuangnya ke pot tanaman. Bagaimana pria itu bisa tahu? Apakah ada kamera tersembunyi di sudut langit-langit yang tinggi itu? Ataukah para pelayan di rumah ini sebenarnya adalah mata-mata yang melaporkan setiap gerak-geriknya?

Ia masuk ke kamar dan segera mengunci pintu, meskipun ia tahu kunci itu tidak akan berarti apa-apa bagi sang pemilik mansion. Nadia bersandar pada pintu, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Suasana kamar yang mewah itu kini terasa semakin mencekik. Lampu-lampu kristal yang berpendar redup seolah menertawakan ketidakberdayaannya.

Tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit, ketukan yang sudah ia duga itu terdengar.

Tok. Tok. Tok.

Bi Inah masuk dengan nampan peraknya. Di atasnya terdapat segelas susu putih kental yang masih mengepulkan uap tipis. Baunya manis, ada aroma vanila dan kayu manis yang menenangkan, namun bagi Nadia, bau itu kini terasa seperti aroma ancaman.

"Susu Anda, Nona. Tuan Bramantya berpesan agar saya memastikan Nona meminumnya sampai habis di depan saya," ucap Bi Inah dengan nada tanpa emosi yang sama seperti biasanya.

Nadia menatap gelas itu, lalu menatap Bi Inah. "Kenapa, Bi? Kenapa harus sekarang? Kenapa harus di depanmu?"

Bi Inah tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung seperti patung penjara, menunggu dengan sabar. Nadia tahu ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, Bramantya sendiri yang mungkin akan datang ke sini dan memaksanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nadia meraih gelas itu. Cairannya terasa hangat di telapak tangannya.

Ia mendekatkan gelas itu ke bibirnya. Pikirannya berteriak untuk menolak, namun tatapan tajam Bi Inah—yang seolah membawa perintah langsung dari Bramantya—memaksanya untuk meneguknya. Nadia meminumnya perlahan. Rasanya manis, sangat nikmat sebenarnya jika saja ia tidak tahu bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik rasa manis itu.

"Sudah habis, Bi," kata Nadia sambil menunjukkan gelas yang kini kosong.

Bi Inah mengangguk sedikit, mengambil gelas itu, dan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nadia kembali mendengar suara kunci yang diputar dari luar. Klik.

Nadia segera berlari menuju kamar mandi. Ia mencoba memancing kerongkongannya agar memuntahkan cairan itu kembali. Namun, usahanya sia-sia. Susu itu seolah sudah terserap dengan cepat ke dalam aliran darahnya. Hanya dalam hitungan menit, sensasi yang ia takuti itu datang.

Kepalanya mulai terasa ringan, seolah ia sedang melayang di awan. Pandangannya terhadap perabotan kamar mulai mengabur, meliuk-liuk seperti bayangan di bawah air. Nadia berusaha melangkah menuju tempat tidur, namun kakinya terasa seberat beton. Ia terjatuh di atas tumpukan bantal dengan napas yang mulai melambat.

Ini bukan kantuk biasa. Ini adalah kegelapan yang dipaksakan. Ini adalah penyerahan diri secara total yang tidak ia inginkan.

"Tidak... jangan lagi..." gumam Nadia lirih, namun suaranya sendiri terdengar sangat jauh di telinganya.

Dalam keadaan setengah sadar itu, ia merasakan dunia di sekelilingnya mulai menghilang. Namun, indra pendengarannya seolah menjadi lebih tajam sesaat sebelum ia benar-benar tenggelam. Ia mendengar suara pintu yang terbuka—suara yang sangat halus, hampir tak terdengar.

Lalu, aroma itu kembali. Cendana yang hangat dan dinginnya udara malam.

Nadia merasa seseorang berdiri di sisi tempat tidurnya. Ia ingin membuka mata, ingin melihat wajah pria itu dan meneriakkan semua kemarahannya, tetapi kelopak matanya terasa seperti telah dilem rapat. Ia hanya bisa merasakan kehadiran yang begitu kuat, sebuah energi yang mendominasi seluruh ruangan.

Sebuah tangan yang besar dan hangat menyentuh pipinya. Ibu jari pria itu mengelus tulang pipi Nadia dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia.

"Kau selalu mencoba melawan, Nadia," bisik suara rendah Bramantya. Suara itu bergetar di dekat telinganya, mengirimkan gelombang sensasi asing yang membuat Nadia ingin menangis sekaligus merasa aman secara paradoks. "Padahal, semua yang aku lakukan adalah agar kau tidak perlu merasakan sakitnya dunia luar."

Nadia merasa Bramantya duduk di tepi tempat tidur. Kasur itu sedikit amblas di bawah beban tubuh pria itu. Nadia bisa merasakan napas hangat Bramantya di kulit lehernya. Pria itu menyentuh liontin gembok yang melingkar di leher Nadia, mempermainkannya dengan ujung jari.

"Kenapa kau begitu keras kepala?" bisik Bramantya lagi. "Ayahmu tidak pernah menghargaimu. Dia meninggalkanmu dengan tumpukan utang dan musuh di setiap sudut jalan. Tapi di sini... di pelukanku... kau adalah ratu."

Bramantya menarik selimut hingga ke bahu Nadia, membungkusnya dengan hati-hati. Nadia merasakan pria itu mendekat, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipisnya. Itu bukan kecupan paman kepada keponakan. Ada rasa lapar yang terpendam, ada kepemilikan yang mutlak dalam sentuhan itu.

"Mimpilah yang indah, kecilku. Mimpilah tentang aku. Karena di dunia nyata, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku lagi," ucap Bramantya dengan nada yang hampir menyerupai nyanyian pengantar tidur yang mengerikan.

Lalu, segalanya menjadi sunyi. Nadia merasa dirinya terseret lebih jauh ke dalam lubang hitam yang disediakan oleh susu hangat itu. Pikirannya mati, raganya lumpuh, meninggalkan dirinya menjadi boneka hidup bagi pria yang mengawasinya di dalam gelap.

Keesokan paginya, sinar matahari menyengat kelopak mata Nadia. Ia terbangun dengan rasa mual yang hebat dan kepala yang berdenyut seolah dihantam palu godam. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong selama beberapa saat, mencoba mengumpulkan serpihan ingatan dari malam tadi.

Sentuhan di pipi... bisikan di telinga... kecupan di pelipis...

"Apakah itu nyata?" bisik Nadia pada dirinya sendiri.

Ia bangun dengan terhuyung-huyung dan berjalan menuju cermin besar. Matanya yang sembap menatap bayangannya sendiri. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat lehernya di cermin.

Liontin gembok itu masih di sana. Namun, di kulit lehernya yang putih, tepat di atas liontin itu, terdapat sebuah tanda kemerahan kecil. Bukan memar akibat benturan, melainkan bekas tekanan yang sangat spesifik—seperti bekas kecupan yang ditinggalkan dengan sengaja.

Nadia menyentuh tanda itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Rasa dingin seketika menjalar ke seluruh tulang belakangnya. Itu bukan mimpi. Bramantya benar-benar masuk. Pria itu menyentuhnya saat ia tidak berdaya di bawah pengaruh obat.

Kemarahan yang murni mulai membakar di dalam dada Nadia, mengalahkan rasa takutnya. Ia tidak bisa terus begini. Ia tidak bisa menjadi tawanan yang setiap malam "ditidurkan" hanya untuk menjadi objek obsesi pamannya sendiri.

Nadia meremas pinggiran meja rias hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap gelas susu yang sudah kosong di atas meja samping tempat tidurnya. Bramantya Mahendra mengira dia telah menang. Dia mengira dengan mengunci pintu dan memberikan minuman bius, dia bisa menaklukan Nadia.

"Kau salah, Paman," bisik Nadia dengan tatapan mata yang kini berubah menjadi tajam dan penuh tekad. "Jika kau ingin bermain dengan kesadaranku, maka aku akan menunjukkan padamu betapa berbahayanya seseorang yang tidak lagi memiliki rasa takut."

Nadia segera bersiap. Hari ini Bramantya berjanji akan membawanya ke kota untuk urusan dokumen. Itu adalah kesempatannya. Kesempatan untuk mencari bantuan, atau setidaknya, mencari tahu apa sebenarnya yang dicampurkan ke dalam susu hangat setiap tengah malam itu.

Namun, saat ia melangkah keluar kamar, ia melihat Bramantya sudah berdiri di ujung lorong, menunggunya dengan setelan jas abu-abu yang sempurna dan senyum yang tampak begitu protektif.

"Kau tampak segar pagi ini, Nadia. Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Bramantya, matanya menatap tepat ke arah leher Nadia, ke arah tanda merah yang ia tinggalkan semalam.

Nadia memaksakan sebuah senyum tipis—senyum pertama yang ia berikan pada pria itu. "Sangat nyenyak, Paman. Terima kasih atas susunya. Itu benar-benar minuman yang membawa kantuk luar biasa."

Bramantya tampak sedikit terkejut dengan perubahan sikap Nadia yang mendadak manis, namun kemudian ia tertawa kecil—suara tawa yang rendah dan penuh kemenangan. Ia mengulurkan lengannya agar Nadia bisa menggandengnya.

"Baguslah. Mari kita pergi. Hari ini akan menjadi awal yang baru untukmu, dan untuk kita."

Nadia menyambut lengan itu, merasakan otot-otot keras di balik jas mahal Bramantya. Di dalam hatinya, Nadia berjanji: ini bukan awal dari hidup barunya sebagai tawanan, melainkan awal dari rencananya untuk menghancurkan sang paman dari dalam sangkar emasnya sendiri.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!