Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Sean Jahat!
"Jahat..! Sangat jahat..!! Hiks---
Alissa mengurung dirinya di kamar. Menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut dan menangis tersedu-sedu.
Apa salahnya. Dia hanya ingin memetik satu tangkai bunga mawar. Tapi Sean malah menuduhnya ingin merusak. Alissa hanya minta satu, bukan seribu.
Dan dia juga tidak tahu. Ini mungkin hanya masalah sepele. Namun entah mengapa hatinya sakit dan ingin menangis.
"Jika memang untuk Stella, kenapa ditanam di sini? Kenapa tidak ditanam di rumah tempat Stella tinggal saja. Menyebalkan!"
"Awas saja kau, Sean. Aku akan menendangmu sampai terlempar ke matahari. Biar terbakar sekalian!"
"Dasar pria gila. Psikopat. Incest. Jahat durjana!"
"Sudah puas mengataiku?" entah kapan laki-laki itu datang ke kamarnya.
Menyadari keberadaan Sean, Alissa semakin merapatkan selimutnya. Rasa kesal yang belum sempat mereda kini seperti api yang tersembur oleh angin.
"Kenapa kau di sini! Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu, dasar jelek!" usir Alissa tanpa repot-repot membuka selimut.
Alissa tidak mendengar balasan dari Sean. Namun suara langkah sepatu yang semakin mendekat, membuat Alissa tahu, jika Sean belum pergi. Laki-laki itu malah mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat ku bilang!" teriak Alissa dari dalam selimut. Mengabaikan rasa pengap yang semakin menjadi.
"Jangan sentuh!" Alissa memindahkan posisinya ketika merasakan sentuhan pada punggung yang terlapis selimut.
Sean menghela nafas panjang. Mencoba menarik selimut tebal yang membungkus tubuh istrinya.
"Kau akan kehabisan nafas jika terus menerus di dalam sana." kata Sean pelan.
"Baguslah! Syukur-syukur aku mati! Supaya kau bisa menikah dengan Stella!" balas Alissa dengan suara serak akibat terlalu lama berteriak dan menangis.
"Alissa--
"Pergi!"
"Kau ini keras kepala sekali." Sean mulai geram. Dia bukan orang penyabar. Tapi Alissa seakan-akan menguji kesabarannya.
"Terserah padaku. Lebih baik kau per--aakhhh!!"
Alissa berteriak histeris ketika selimutnya dibuka secara paksa. Membuat wajah sembabnya terlihat jelas di mata Sean. Dengan kesabaran yang sudah habis, Sean lempar selimut itu pada lantai.
"Kau menangis hanya karena bunga?" tanya Sean tak habis pikir.
Alissa menatap Sean penuh permusuhan. "Aku menangis karena menikah denganmu!"
"Ceraikan aku!"
Sean mulai jengah dengan kata cerai. Itu saja yang selalu Alissa bicarakan ketika mereka bersama. Seperti tidak ada pembicaraan yang lain saja, dengusnya malas.
Laki-laki itu mengambil segelas susu yang tadi dibawanya lalu menyodorkannya pada Alissa.
"Minumlah susu ini."
Buru-buru Alissa menutup mulutnya. Menggeleng ribut tanda menolak. "Tidak mau!"
"Kau harus mau." kata Sean terkesan memaksa.
"Tidak! Aku tidak suka susu!"
"Kau harus membiasakannya. Karena mulai sekarang kau akan selalu meminum susu."
Mendengarnya, membuat Alissa menatap Sean tajam. "Jangan memaksaku! Kenapa tidak kau saja yang meminum susu itu?!"
Sean tidak marah. Dia malah terkekeh kecil. Kembali meletakan susu itu pada atas nakas, laki-laki itu menatap Alissa penuh arti.
"Aku lebih suka meminum susu dari sumbernya langsung."
Alissa mengikuti arah pandang Sean. Menyadari apa yang laki-laki itu tatap, Alissa semakin berang. Dengan kesal ia menerjang suaminya itu hingga membuatnya terjengkang pada kasur.
"Dasar ca-bul!" amuknya dengan memukuli dada bidang Sean.
"Pria ca-bul gila! Ceraikan aku, sia-lan!"
"Pria jelek! Jahat! Kau jahat Sean!"
"Aku membencimu!"
Sean mencoba menghentikan pukulan Alissa yang membabi buta. Menahan tangan istrinya, Sean membalikkan badan hingga kini posisi mereka terbalik.
Alissa yang terkurung menjadi panik. Badannya tidak bisa digerakkan ketika suaminya itu mengunci pergerakannya.
"Sudah puas mengamuknya?" tanya Sean dengan intonasi yang rendah.
"Lepaskan aku!" Alissa mencoba memberontak. Walaupun itu hanya sia-sia karena tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding dengan Sean.
Alissa seperti kelinci yang tertangkap oleh singa.
"Kau banyak berubah Alissa..." gumam Sean. Matanya menatap lurus tepat pada netra hanzel milik istrinya.
Alissa yang ditatap seperti itu mengedarkan pandangannya. Tatapan Sean mengerikan. Dia tidak berani berlama-lama menatapnya.
"Katakan padaku, apa rencanmu." tekan Sean. Satu telapak tangannya menangkup pipi Alissa. Memaksa perempuan itu agar mau menatapnya.
"Rencana apa yang kau maksud?"
Sean berdecih mendengarnya. "Tidak kah semua ini hanyalah sandiwaramu untuk menarik perhatianku? Kau pikir aku bodoh Alissa?"
Memahami apa isi kepala Sean tentang dirinya, membuat Alissa tersenyum sinis.
"Kau terlalu percaya diri Tuan Sean Balrick yang terhormat! Kau pikir aku hanya bersandiwara?" Alissa tertawa sarkas. "Ceraikan aku, dan kau akan percaya seberapa ingin, aku pergi dari hidupmu!"
"Kau!" Sean menggertakkan giginya kesal.
"Kenapa Sean?" Alissa tertawa remeh.
"Apa kau merasa kehilangan? Oh, atau kau merasa kehilangan harga diri? Perempuan yang selalu mencari perhatianmu kini telah berpaling. Kau menyesal sekarang?" tantang Alissa. Entah darimana keberanian itu datang.
Sean berdecih. "Kau tidak sepenting itu Alissa. Sampai aku harus menyesali perubahanmu."
"Jika begitu ceraikan aku." Alissa tatap Sean dengan tegas.
"Bebaskan aku, Sean."
Antagonis itu terkekeh kecil. "Sayangnya...tidak segampang itu." Sean belai pipi kiri Alissa menggunakan telunjuknya.
"Seperti kau yang memaksa masuk ke kehidupanku, maka aku juga akan mempersulit dirimu untuk keluar."
"Lagipula, berani sekali kau. Ingin pergi dengan membawa sesuatu milikku?" Sean berdecih. "Jangan harap Alissa."
Alissa terkejut. Kata-kata Sean terdengar ambigu. Laki-laki itu tidak mungkin tahu kebenarannya kan. Sean tidak mungkin mengetahui kehamilannya kan. Mendadak Alissa menjadi panik.
"Apa maksudmu?" tanyanya meminta penjelasan.
Sean tidak menjawab. Ia malah menegakkan tubuhnya lalu mengambil gelas susu untuk ditengguknya.
"Sean, katakan padaku. Apa maksudmu!" seru Alissa ketika Sean tak kunjung menjawabnya.
"Sean---emhhh!!"
Mata Alissa seketika membola. Ketika tanpa aba-aba Sean menci-umnya. Memaksa Alissa membuka mulut dan melesakkan susu yang ternyata masih tersimpan di mulutnya.
Kepala Alissa menggeleg memberontak. Lalu dengan sigap, Sean tahan wajah istrinya agar tidak lagi bergerak. Laki-laki itu memaksa Alissa menelan susu dari mulutnya.
Selesai dengan tujuannya, Sean melepaskan ciu-mannnya. Sedikit menjauhkan wajahnya dengan nafas yang memberat. Berbanding terbalik dengan nafas Alissa yang memburu.
Wajah Alissa memerah. Entah karena kesal atau karena ciu-man dari suaminya. Dan pemandangan itu membuat Sean mengumpat dalam hati. Sia-lan bagian bawahnya kini terasa sesak.
Tatapan marah, Alissa tunjukkan pada Sean. "Dasar gila!"
Laki-laki itu hanya terkekeh. Mengusap bibir Alissa yang basah dan sedikit membengkak.
"Sekarang, habiskan susumu."
"Tidak sudi!"
Bukannya marah karena penolakan dari Alissa, Sean hanya mengangguk kecil.
"Ternyata kau lebih suka meminum susu menggunakan cara seperti tadi ya?" ujarnya.
"Baiklah, dengan senang hati aku akan mengabulkannya."
Alissa panik ketika Sean kembali ingin menenggak susu itu. Dengan kasar is rampas gelas itu dari Sean lalu menenggak isinya hingga tandas.
Melihat itu Sean terkekeh geli, ia usap bibir atas Alissa yang kini basah akibat susu.
"Pintarnya istriku ini." ucapnya menepuk-nepuk puncak kepala Alissa.
"Dia...harus tumbuh dengan sehat."
Alissa menegang. Dia siapa yang Sean maksud?! Apakah dugaannya benar?!
Sean menyunggingkan satu sudut bibirnya.
"Benarkan Alissa?"