NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjumpaan yang Tak Terduga- Masa Kini

Sejak malam pertama yang menyiksa beberapa hari yang lalu akibat perlakuan paksa Brian, Arumi merasa dunianya telah runtuh. Kini, pria itu sedang berada di Prancis untuk menghadiri sebuah festival film bergengsi.

Arumi menatap layar ponselnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Di sana, dibawah langit Prancis yang cerah, Brian tampak begitu lepas. Lengan kekar pria itu melingkar posesif di pinggang seorang aktris cantik yang tertawa manja di pelukannya. Arumi segera menutup halaman layar ponsel, namun bayangan kemesraan itu terlanjur menempel di ingatannya, membuat kamar yang dingin ini terasa semakin mencekam.

Suara ketukan pintu memecah keheningan. Tante Widia berdiri di ambang pintu, melemparkan senyum hangat yang sedikit mengobati rasa sepi Arumi.

"Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?" tanyanya lembut.

​"Tante... " Arumi bangkit dan langsung memeluk wanita paruh baya itu. Wangi parfum mewah terpancar dari tubuh Widia yang masih terlihat sangat anggun di usianya yang tidak muda lagi. "Tante ke mana saja? Kenapa meninggalkan aku sendiri?"

​"Hei, aku tidak ke mana-mana. Aku hanya harus menjalankan tugas dari Brian untuk mengelola perusahaan sebentar," jawab Widia sambil mengusap punggung Arumi.

​"Masuklah, Tante," Arumi mempersilahkan Widia masuk ke dalam kamar utama milik Brian.

​Widia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, lalu tersenyum penuh arti. "Sejak kapan kamar Brian yang estetik dan elegan ini berubah menjadi ramai dengan bunga? Dan lihat seprai itu, apa kau yang memasangnya?"

​"Iya, Tante," jawab Arumi singkat.

​Widia mengelus lengan Arumi dengan sayang, seolah tahu apa yang sedang dirasakan keponakannya. "Apa kau tidak ingin ke kantor? Sudah lama sejak Adrian tiada, kau tidak pernah kembali ke perusahaan."

Arumi menunduk, memainkan jemarinya. "Brian melarang ku ke sana, Tante. Aku juga tidak mengerti kenapa."

​Widia menghela napas panjang. "Tante juga akan memintanya meninggalkan dunia aktor. Dia harus fokus menjalankan perusahan Aditama."

"Aku paham, Tante. Mungkin dia hanya sedang mencari waktu yang tepat," sahut Arumi, mencoba membela pria yang bahkan tidak memikirkannya di sana.

​"Tante juga sangat tidak suka dengan wanita yang dirumorkan bersamanya itu," tambah Widia dengan nada tidak senang.

​Arumi tersenyum pahit. "Aku tidak peduli, Tante."

​"Ya, anggap saja wanita itu lebah pengganggu. Jangan kau masukkan ke hati, Sayang."

​"Jelas aku tidak memikirkannya. Terserah dia mau punya banyak kekasih pun, aku benar-benar tidak peduli," sahut Arumi mantap, meski hatinya terasa seperti diremas.

​Mendengar itu, Widia justru menunjukkan ekspresi gemas. "Oh, Tuhan! Kalau aku jadi kamu, sudah ku datangi dia ke Prancis, ku paksa pulang, lalu ku kunci di dalam kamar untuk bercinta sampai dia kapok!"

​Arumi seketika tertawa lepas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Tante Widia yang selalu blak-blak kan dan punya cara unik untuk menghiburnya.

​Tiba-tiba, ponsel di tangan Arumi bergetar. Nama Brian terpampang di layar. Belum sempat Arumi bereaksi, Tante Widia dengan usil menyambar ponsel itu dan mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video.

Layar ponsel kini menampilkan sosok Brian yang sedang duduk bersandar. Kemejanya terbuka beberapa kancing di bagian atas, memperlihatkan dadanya yang bidang. Wajah tampannya yang tampak lelah namun tetap dominan seketika membuat pipi Arumi memerah diam-diam.

​"Hey, bocah tengik! Kenapa tidak pulang-pulang? Apa kau tidak merindukan kami?" seru Tante Widia sambil memenuhi layar ponsel Arumi dengan wajahnya sendiri.

"Di mana Arumi?" tanya Brian dingin, mengabaikan pertanyaan tantenya begitu saja.

​"Arumi sedang sibuk, tidak bisa diganggu," goda Widia sambil melirik Arumi yang tampak salah tingkah.

​"Ayolah, Tante. Berikan ponsel itu ke Arumi. Aku ingin bicara padanya," desak Brian dengan nada memerintah.

​Widia mendengus. "Ya, ya, aku juga akan pergi. Dan kau, kapan kembali? Apa belum puas bermain-main disana?" sindir Widia tajam.

​Brian hanya menaikkan alisnya, tampak malas menjawab sindiran tantenya.

​Widia kemudian menoleh ke arah Arumi. "Arumi, Tante pulang dulu ya, Sayang. Ini suamimu sepertinya sudah rindu berat," ucap Tante Widia dengan suara keras agar terdengar sampai ke seberang telepon.

Widia mengecup pipi Arumi sekilas. Dari layar ponsel, terlihat tatapan Brian memperhatikan interaksi mereka dengan intens.

​"Ya, Tante. Hari-hati di jalan," sahut Arumi lembut.

​Widia hanya melambaikan tangan, lalu beranjak pergi dan menutup pintu kamar dengan rapat, meninggalkan Arumi sendirian di dalam kamar bersama sosok Brian yang menatapnya dari balik layar.

​Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari bibir Arumi, layar ponselnya itu tiba-tiba menggelap. Ponselnya mati total karena ia lupa mengisi dayanya sejak tadi pagi. Arumi terpaku menatap layar hitam itu, merasa bodoh sekaligus cemas.

Di belahan dunia lain, Brian menatap layar ponselnya yang kini hanya menampilkan tulisan Call Ended dengan geram. Ia mengumpat kasar, lalu melempar benda mahal itu ke atas ranjang hotelnya. Rasa tidak puas dan rasa haus akan kehadiran Arumi yang selama beberapa hari ini ia tekan, tiba-tiba memuncak hanya karena melihat wajah cantik istrinya di layar tadi.

​Wajah Arumi yang merona benar-benar mengganggu pikirannya.

Detik itu juga, Brian menyambar interkom dan menghubungi asisten pribadinya. "Siapkan jet sekarang juga. Aku pulang ke Jakarta malam ini," perintahnya mutlak, tanpa mau mendengar protes soal jadwal penghargaan film yang belum usai.

​Ia tidak bisa lagi mengabaikan bayangan Arumi. Ia harus menemui wanita itu, sekarang juga.

Arumi menatap ponselnya yang mati dengan helaan nafas panjang. Baru saja ia hendak meraih kabel pengisi daya, suara ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini lebih mendesak.

Arumi buru-buru membuka pintu. Seorang pelayan berdiri di sana dengan sikap sopan. "Nyonya Muda, ada tamu di bawah yang mencari Anda," lapor pelayan itu.

​"Tamu? Siapa?" tanya Arumi heran.

"Beliau tidak menyebutkan nama, Nyonya."

"Baiklah, terima kasih. Aku akan segera menemuinya," jawab Arumi.

​Saking penasaran nya, Arumi menutup pintu kamar dan bergegas pergi, sampai-sampai ia lupa bahwa ponselnya masih tergeletak mati di atas meja. Ia turun ke lantai bawah, melangkah dengan anggun menuruni anak tangga satu per satu. Matanya tertuju pada sosok pria yang berdiri membelakanginya di ruang tamu. Punggung pria itu tampak tegap, namun ada kesan asing yang membuat jantung Arumi berdegup lebih kencang.

Langkah kaki Arumi melambat saat pria itu berbalik sepenuhnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama satu detik. Wajah itu... wajah yang pernah sangat ia kenal sebelum ia menikah dengan Adrian.

"Mike?" suara Arumi bergetar tertahan di kerongkongan.

Mike, mantan kekasihnya semasa sekolah yang kini menjadi rekan bisnis mendiang Adrian, tersenyum tipis. Tatapannya menyapu sosok Arumi dari kepala hingga kaki dengan cara yang membuat Arumi merasa tidak nyaman.

​"Lama tidak bertemu, Arumi. Kamu terlihat... Jauh lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu di pemakaman Adrian," ucap Mike dengan suara bariton yang tenang, namun tatapannya serasa ingin menerkam Arumi.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!