Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 6_Penyamaran Yang Berbahaya
Adrian menatap layar laptop, matanya yang tadi lembut saat menatap Arumi, kini berubah menjadi sedingin es.
"Biarkan mereka membeli sahamnya di harga tinggi, besok pagi rilis berita tentang penemuan sengketa lahan di wilayah tersebut dan begitu harga jatuh beli kembali semuanya melalui perusahaan cangkang kita di Singapura. Hancurkan mereka dalam satu gerakan." seru Adrian dengan tatapan tajamnya.
Sambil memberikan instruksi yang bisa meruntuhkan perusahaan lawan, tangan Adrian tetap memegang sepotong roti murah yang diberikan Arumi sebagai bekal.
Inilah kontras kehidupan Adrian sekarang yaitu mengendalikan miliaran rupiah sambil berpura-pura menjadi kuli angkut.
Sementara itu, di rumah, Arumi kembali menjadi sasaran amarah.
Setelah memasak daging sapi yang dikirim misterius tadi, Bu Ratna melarang Arumi menyentuh satu potong pun.
"Kau itu cuma numpang di sini bersama suamimu yang miskin itu, daging ini terlalu mewah untuk lidah kalian. Sana makan tempe goreng saja!" ketus Bu Ratna.
Arumi menghela napas, ia sudah terbiasa, namun yang membuatnya sedih adalah saat Pak Broto kembali datang ke rumah.
"Mana suamimu yang gagah-gagahan itu, Arumi?" tanya Pak Broto sambil duduk dengan kaki terangkat satu di kursi ruang tamu.
"Kudengar dia jadi kuli panggul? Hahaha! Gaji kuli panggul sehari cuma seratus ribu. Butuh berapa tahun dia bisa bayar hutang ibumu?"
"Dia sedang berusaha Pak Broto, tolong hargai kami," jawab Arumi tegas.
Pak Broto berdiri, mendekati Arumi dengan tatapan licik. "Dengar Arumi, aku beri kau tawaran terakhir. Tinggalkan pria gembel itu dan jadilah istri ke empatku, dan aku tidak hanya akan menganggap lunas hutang ibumu, tapi aku juga akan membelikan Siska mobil baru, bagaimana?"
"Sampai mati pun aku tidak akan mau!" seru Arumi.
Bu Ratna yang mendengar itu langsung keluar dari kamar dan menjambak rambut Arumi.
"Anak kurang ajar! Berani kau bicara begitu pada Pak Broto?! Dia itu penyelamat kita!"
"Penyelamat apa, Bu? Dia ingin menjualku!" Arumi menangis, mencoba melepaskan tangan ibunya.
Saat ketegangan itu memuncak, tiba-tiba pintu depan terbuka dengan keras.
Adrian berdiri di sana, bajunya basah oleh keringat, dan ia membawa sebuah bungkusan koran.
"Lepaskan istriku," suara Adrian rendah, namun memiliki kekuatan yang membuat ruangan itu mendadak dingin.
Bu Ratna refleks melepaskan jambakannya, Adrian berjalan mendekat, ia berdiri di antara Arumi dan Pak Broto.
Ia melemparkan bungkusan koran itu ke meja yang isinya adalah tumpukan uang tunai dengan pecahan seratus ribuan.
"Itu sepuluh juta rupiah, angsuran pertama untuk hutang ibu saya." kata Adrian tenang.
Semua orang di ruangan itu melotot, sepuluh juta? Dari mana seorang kuli panggul bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam setengah hari?
"K-kau... kau merampok ya?!" tuduh Siska dengan suara bergetar.
Adrian melirik Siska dengan sinis. "Aku bekerja lembur di gudang yang sedang melakukan pengiriman besar, mereka butuh orang yang cepat, dan aku memberikan hasil yang memuaskan. Itu uang halal."
Sebenarnya, itu adalah uang yang ditarik Hendra dari ATM pribadi Adrian, namun Adrian menyusun cerita sedemikian rupa agar terlihat masuk akal.
Pak Broto mengambil uang itu, menghitungnya dengan tangan gemetar. "Ini... ini asli, tapi tetap saja masih kurang empat puluh juta lagi! Dan bunganya terus berjalan!"
"Jangan khawatir, Pak Broto," Adrian melangkah maju, membuat pria tambun itu mundur ketakutan.
"Dalam tiga minggu ke depan sisa hutang itu akan lunas, tapi ingat satu hal yaitu mulai detik ini, jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini untuk menggoda istriku. Jika itu terjadi, uang ini akan menjadi uang terakhir yang pernah kau lihat dalam hidupmu." tegas Adrian.
Aura kepemimpinan Adrian yang keluar secara tidak sengaja membuat Pak Broto tidak berani menjawab.
Ia segera pergi dari rumah itu dengan perasaan dongkol bercampur takut.
Malam harinya, di dalam gudang, Arumi mengobati tangan Adrian yang tampak lecet (Adrian sengaja menggesekkan tangannya ke tembok agar terlihat seperti habis bekerja berat).
"Mas, dari mana sebenarnya uang itu? Aku takut Mas melakukan hal yang berbahaya," bisik Arumi sambil meneteskan obat merah.
Adrian menatap wajah Arumi yang begitu dekat dengannya, ia bisa mencium aroma sabun melati yang murah namun menyegarkan dari tubuh istrinya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang suami, Arumi. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita lagi."
Arumi menatap mata Adrian. Ada ketulusan yang luar biasa di sana. "Terima kasih, Mas Ian. Tapi jangan paksa dirimu terlalu keras. Aku tidak butuh uang banyak, aku hanya butuh Mas tetap di sampingku."
Adrian menarik Arumi ke dalam pelukannya, untuk pertama kalinya, sang CEO merasa bahwa semua harta bendanya di kantor tidak ada artinya dibanding pelukan gadis ini.
Namun ia tahu penyamarannya tidak boleh terbongkar terlalu cepat, ia ingin menghancurkan musuh-musuhnya termasuk keluarga Arumi yang toxic dengan cara yang paling menyakitkan bagi mereka yaitu dengan menunjukkan bahwa orang yang mereka hina adalah orang yang memegang nasib mereka di telapak tangannya.
"Arumi," bisik Adrian.
"Mulai besok, aku akan membawamu keluar dari rumah ini sesekali.
Aku ingin kau melihat bahwa dunia ini luas, bukan hanya sebatas dapur dan hinaan ibumu."
Arumi mengangguk dalam pelukan Adrian, ia merasa aman, untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Namun di luar sana, Hendra baru saja mengirimkan pesan mendesak yaitu "Tuan Muda, dewan komisaris mendesak pertemuan darurat besok pagi. Mereka curiga Anda menghilang karena diculik."
Adrian menghela napas, permainan ini semakin rumit, ia harus tetap menjadi suami miskin di malam hari, dan tetap menjadi raja bisnis yang tak terlihat di siang hari.
Pagi itu, Adrian berangkat lebih awal dengan alasan ada shift tambahan di gudang logistik.
Namun, langkah kakinya tidak tertuju pada bangunan gudang yang berdebu, melainkan pada sebuah mobil SUV hitam yang sudah menunggu di tikungan gang yang sepi, Hendra dengan sigap membukakan pintu untuk tuannya.
Di dalam mobil, suasana langsung berubah mencekam.
Adrian tidak langsung menanyakan soal grafik saham atau perkembangan proyek propertinya.
Ia justru duduk diam dengan rahang yang mengeras, menatap ke jendela dengan tatapan yang mampu membuat nyali siapapun menciut.
"Hendra," suara Adrian rendah, namun penuh penekanan.
"Paket makanan yang aku suruh kirim kemarin... apakah kau yakin kurirnya memberikannya secara pribadi kepada Arumi?"
Hendra sedikit berkeringat, ia sudah mengenal Adrian selama sepuluh tahun dan tahu bahwa nada suara seperti itu berarti ada badai yang akan datang.
"Laporannya sudah diterima oleh penghuni rumah, Tuan Muda. Kurir mengatakan bahwa Ibu mertua Anda yang menerimanya karena Nyonya Arumi sedang berada di belakang."
Adrian memukul sandaran tangan di kursi mobilnya.
Dugh!
"Itu masalahnya! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri semalam. Arumi hanya makan tempe goreng dan sisa nasi dingin, sementara Ibu dan adiknya berpesta daging sapi dan buah-buahan impor yang aku kirimkan khusus untuk memperbaiki gizi istriku. Mereka bahkan tidak membiarkan Arumi menyentuh satu potong apel pun!"
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡