Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
11. TGD.11
Persiapan keberangkatan ke Jepang ternyata jauh lebih sibuk daripada yang Shelly bayangkan. Bukan hanya soal paspor atau visa, tetapi soal bagaimana ia membawa "jiwa" desanya ke negeri Sakura tersebut.
Karena Shelly harus berangkat di akhir musim dingin, ia membutuhkan pakaian tebal. Ia tidak ingin menghabiskan uang beasiswanya hanya untuk membeli jaket mahal yang hanya dipakai sekali. Beruntung, seorang dosen yang mengagumi kegigihannya meminjamkan sebuah jaket winter tebal berwarna krem.
"Pakai ini, Shelly. Di sana sangat dingin, berbeda dengan udara sawah kita," ujar sang dosen sambil tersenyum.
Satu minggu sebelum keberangkatan, sebuah paket tiba di asrama. Paket itu dibungkus dengan kardus bekas mie instan yang diikat tali rafia dengan sangat kuat. Saat membukanya, air mata Shelly jatuh. Di dalamnya terdapat:
Syal rajutan tangan: Hasil karya Ibu yang dikerjakan setiap malam setelah pulang dari pasar. Warnanya hijau tua, seperti warna padi yang subur.
Jimat keberuntungan:Bukan mantra, melainkan sebuah amplop kecil berisi segenggam tanah dari galengan sawah Bapak. Di kertas selipannya, Bapak menulis dengan huruf kapital yang kaku: “BIAR KAMU GAK LUPA BAU TANAH KELAHIRANMU."
Sambal teri dan kering tempe: Yang sudah dikemas sangat rapi dalam plastik kedap udara agar tidak bocor di koper.
Saat mengurus visa di Jakarta, Shelly bertemu dengan peserta lain dari berbagai universitas bergengsi. Mereka membicarakan tentang gadget terbaru, persiapan belanja di Shibuya, dan merek koper mahal. Shelly hanya diam, memeluk ranselnya yang berisi dokumen penelitian tentang sistem irigasi hemat air.
Seorang peserta laki-laki bertanya, "Shelly, apa yang paling ingin kamu lihat di Jepang? Gunung Fuji atau Tokyo Disneyland?"
Shelly tersenyum tipis, lalu menjawab dengan tegas, "Saya ingin melihat Prefektur Niigata. Saya ingin melihat bagaimana mereka bisa menghasilkan beras terbaik dunia meski lahan mereka terbatas. Saya ingin membawa rahasia mereka pulang untuk Bapak saya."
Mendengar jawaban itu, suasana seketika hening. Shelly tidak sedang mencari hiburan; ia sedang menjalankan misi suci.
Malam sebelum keberangkatan, Shelly melakukan panggilan video dengan keluarganya. Di layar ponsel yang retak di sudutnya, terlihat seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Ada Bapak, Ibu, si Bungsu, bahkan Abangnya yang baru pulang dari sawah.
"Nduk, nanti kalau di pesawat jangan lupa baca doa," pesan Ibu berkali-kali.
"Pak," ucap Shelly pelan. "Tanah sawah yang Bapak kirim akan Shelly bawa terus. Biar orang-orang di Jepang tahu, kalau padi yang akan Shelly pelajari di sana, suatu saat akan tumbuh di tanah kita juga."
Bapak mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca di bawah lampu kuning rumah mereka. "Bapak sudah siapkan kemeja batik darimu buat syukuran kecil-kecilan besok sama tetangga. Biar mereka tahu, anak petani desa kita bukan cuma bisa sampai ke kota, tapi sampai ke ujung dunia."
### Di Bandara Soekarno-Hatta
Pukul 04.00 pagi, Shelly berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional. Ia mengenakan syal hijau rajutan Ibu dan jaket pinjaman dosennya. Di tangannya, paspor Indonesia ia genggam erat.
Saat ia melangkah melewati pintu sensor, ia merasa seolah-olah seluruh desanya ikut berjalan di belakangnya. Ia bukan lagi Shelly yang ketakutan saat pertama kali naik bus antar kota. Ia adalah Shelly yang siap menaklukkan dinginnya Jepang demi membawa kehangatan bagi keluarganya di rumah kayu.