Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 6: Perbedaan yang Terlihat
Aku nggak tau harus pegang sendok yang mana.
Di meja ada... satu, dua, tiga—EMPAT sendok garpu. Empat. Buat apa? Emang orang makan pake empat mulut?
Yang kiri kecil. Yang kanan gede. Yang atas... itu sendok atau garpu sih? Kok bentuknya aneh gitu. Dan yang paling luar... pisau? Buat apa pisau? Ini nasi goreng, bukan daging keras yang harus dipotong.
"Zahra? Kenapa nggak dimakan?"
Aku kaget. Arkan udah mulai makan steak-nya pake pisau-garpu dengan gerakan yang... elegan. Tangannya bergerak natural. Pisau di tangan kanan, garpu di tangan kiri, motong daging dengan sudut sempurna, terus masukin ke mulut tanpa bunyi.
Sementara aku?
Aku masih bingung mau pegang yang mana.
"Aku... aku bingung, Mas..." Suara ku pelan. Malu. "Sendoknya... banyak banget..."
Arkan berhenti makan. Natap aku. Terus... terus dia senyum. Bukan senyum ngejek. Tapi senyum... hangat?
"Oh iya. Maaf. Aku lupa kamu nggak biasa makan di tempat kayak gini." Dia taro pisau-garpu. "Yang kamu pake itu aja." Dia nunjuk sendok-garpu yang paling dalem. "Yang lain nggak usah dipikirin. Itu buat dessert sama soup. Kamu kan pesen nasi goreng, jadi cukup sendok-garpu biasa."
"O-oh... oke..." Aku ambil sendok-garpu yang dia tunjuk. Pelan. Kayak takut salah lagi.
Mulai makan. Tapi... tapi entah kenapa tanganku gemetar. Sendoknya bunyi KLETUK kena piring. Garpu ku nyangkut di nasi. Gerakan ku... kaku. Nggak natural kayak Arkan.
"Zahra."
Aku angkat muka.
"Santai aja. Nggak ada yang ngejudge kamu disini."
"Tapi aku... aku kayak orang desa yang baru pertama kali ke kota..." Air mata mau keluar. Lagi. Kenapa aku cengeng banget sih hari-hari ini?
"Memangnya kenapa kalau kayak orang desa?" Arkan natap aku serius. "Aku juga dulu nggak bisa pake sendok-garpu dengan bener. Kakak aku dulu ngajarin sampe aku bisa. Sekarang gantian aku yang ajarin kamu. Nggak ada yang memalukan dari belajar."
"...Mas nggak... nggak malu liat aku kayak gini?"
"Malu kenapa? Kamu nggak salah apa-apa. Lagian..." Dia senyum lagi. Senyum yang bikin dada ku aneh. "...aku suka liat kamu apa adanya. Nggak perlu pura-pura jadi orang lain."
Aku nggak tau kenapa... kata-kata itu nyentuh.
"...makasih, Mas."
"Sama-sama. Sekarang makan. Pelan-pelan aja. Kita nggak buru-buru kok."
---
Aku makan sambil sesekali nyuri-nyuri pandang ke Arkan. Dia makan dengan tenang. Postur tubuhnya tegak. Gerakan tangannya smooth. Bahkan cara dia ngusap mulut pake tissue pun... rapi.
Beda banget sama aku yang makannya kayak lagi perang—nunduk, cepet-cepet, takut ketahuan nggak sopan.
"Zahra, kamu sholat dimana biasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba. Aku hampir keselek.
"Ha? Sholat?"
"Iya. Kamu kan muslim. Pasti sholat lima waktu. Kalau lagi diluar, kamu sholat dimana?"
"Oh... aku... aku biasanya sholat di musholla terdekat. Atau kalau nggak ada, ya di tempat yang bersih aja. Pake sajadah lipet yang selalu aku bawa di tas." Aku tunjuk tas kain lusuh ku yang tergeletak di kursi sebelah. "Kenapa Mas nanya?"
"Aku cuma pengen tau. Soalnya... aku nggak ngerti soal Islam. Aku Kristen. Jadi aku penasaran... gimana sih kehidupan orang muslim sehari-hari."
"Mas... Mas mau tau soal Islam?"
"Iya. Boleh kan?"
Aku diem sebentar. "Boleh, Mas. Cuma... aku takut salah jelasin. Aku bukan ustadzah atau apa. Aku cuma... cuma muslim biasa yang berusaha taat."
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau denger dari kamu. Pengalaman kamu."
Aku ambil napas. "Ya... aku sholat lima waktu. Subuh, dzuhur, ashar, maghrib, isya. Kadang tepat waktu, kadang telat. Tergantung kerjaan. Tapi aku usahain nggak sampai bolong. Terus aku puasa Senin-Kamis kalau sempet. Puasa wajib Ramadhan jelas. Terus... aku baca Qur'an kalau lagi senggang. Meskipun nggak setiap hari. Terus aku... aku berusaha jadi orang baik. Nolongin orang. Jujur. Nggak nyakitin siapa-siapa." Aku nunduk. "Meskipun aku kadang gagal juga sih. Kadang aku bohong buat Bapak. Kadang aku marah-marah. Kadang aku... aku merasa iri sama orang yang hidupnya lebih enak. Aku... aku nggak sempurna."
Arkan diem. Dengerin dengan serius.
"Tapi aku percaya, Mas. Aku percaya Allah sayang sama aku. Meskipun hidup aku susah, meskipun aku sering nangis, meskipun aku nggak punya apa-apa... aku percaya ada hikmahnya. Ada rencana Allah yang lebih baik dari rencana aku."
"...kamu kuat ya, Zahra."
"Nggak kok. Aku lemah. Aku cuma... cuma berusaha bertahan."
"Bertahan dengan iman. Itu bukan hal yang mudah." Arkan senyum. "Aku salut sama kamu."
Aku nggak tau harus jawab apa. Jadi aku cuma senyum kecil.
"Mas gimana? Mas Kristen kan? Berarti Mas... ke gereja?"
"Iya. Tiap Minggu. Kadang Rabu juga ada ibadah. Aku baca Alkitab, doa sebelum tidur, doa sebelum makan. Aku percaya sama Yesus. Percaya Dia Juru Selamat." Arkan natap aku. "Tapi... aku nggak fanatik. Aku respect sama agama lain. Aku percaya semua agama ngajarin kebaikan."
"...Bapak aku bilang beda, Mas."
"Beda gimana?"
"Bapak bilang... kalau aku terlalu deket sama orang Kristen, nanti aku bisa... bisa terpengaruh. Bisa goyah imanku." Aku gigit bibir. "Bapak bilang, Islam sama Kristen nggak bisa bersatu. Karena... karena perbedaan keyakinannya terlalu besar."
Arkan diam lama.
"...Bapak kamu nggak salah. Perbedaan keyakinan memang besar. Aku percaya Yesus itu Tuhan. Kamu nggak. Kamu percaya Muhammad Nabi terakhir. Aku nggak." Dia napas panjang. "Tapi... apa perbedaan itu harus bikin kita jadi musuh? Apa perbedaan itu harus bikin kita nggak bisa saling menghormati? Saling... peduli?"
"Mas... aku nggak bilang kita musuh. Cuma... cuma aku takut, Mas. Takut kalau... kalau kita terlalu deket, nanti malah jadi masalah besar."
"Masalah buat siapa?"
"Buat kita berdua. Buat keluarga kita. Buat... buat iman kita."
Arkan natap aku dalam. "Zahra, aku nggak mau ngubah kamu. Aku nggak mau kamu ninggalin agama kamu. Aku cuma... aku cuma mau kenal kamu. Sebagai manusia. Bukan sebagai muslim atau Kristen. Tapi sebagai Zahra."
Dan kata-kata itu...
Kata-kata itu bikin aku pengen nangis. Lagi.
---
Selesai makan, kami keluar restoran. Arkan nganterin aku ke halte bus terdekat—karena aku nolak dia anter sampe rumah. Terlalu memalukan kalau tetangga liat aku turun dari mobil mewah.
"Zahra, ini." Arkan ngeluarin sesuatu dari dompet. "Buat ongkos pulang. Sama buat jajan."
Uang. Lima lembar lima puluh ribuan.
"Mas, nggak usah—"
"Udah. Ambil aja. Kamu tadi berangkat kesini pasti abis ongkos banyak kan?"
Aku diem. Bener sih.
"...makasih, Mas. Nanti aku balikin—"
"Nggak usah dibalikin. Anggep aja uang jajan dari temen." Dia senyum. "Lagian aku seneng kok bisa ngajakin kamu makan."
"...Mas beneran nggak mau apa-apa dari aku?"
"Apa yang aku mau?"
"Entah... mungkin... mungkin Mas mau... mau aku jadi... jadi..." Aku nggak bisa lanjutin.
Arkan ketawa. "Kamu pikiran kemana sih? Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma mau kamu bahagia. Itu aja."
Bahagia.
Kapan terakhir kali aku bahagia?
"...Mas, aku... aku nggak ngerti kenapa Mas sebaik ini. Tapi... tapi aku bersyukur ketemu Mas. Beneran."
"Aku juga bersyukur ketemu kamu, Zahra."
Kami berdiri di halte. Hening. Cuma suara kendaraan lewat. Angin sore yang mulai dingin. Dan degupan jantung ku yang... kenapa sih makin lama makin kenceng?
"Zahra, aku boleh minta sesuatu?"
"Apa, Mas?"
"Nomor HP kamu. Biar aku bisa hubungin kamu kalau ada apa-apa."
"Mas kan udah punya nomor aku. Dari kartu nama Mas kan—"
"Iya, tapi aku mau kamu yang nyimpen nomor aku juga. Biar kamu bisa hubungin aku kalau butuh apa-apa."
Aku ragu. Tapi... tapi akhirnya aku kasih nomor HP ku. Dia langsung nyimpen. Terus nelpon. HP ku berdering—nada dering bawaan, suara nyaring yang memalukan.
"Nah. Sekarang kamu punya nomor aku juga. Jangan sungkan kalau mau hubungin aku. Oke?"
"...oke, Mas."
Bus dateng. Bus kota yang udah penuh sesak. Aku naik. Berdiri di ujung, pegangan tiang.
Dari jendela, aku liat Arkan masih berdiri di halte. Melambaikan tangan. Senyum.
Dan aku... aku balas lambaian.
Bus jalan. Arkan makin jauh. Makin kecil. Sampe akhirnya hilang.
Aku pegang dada.
Kenapa... kenapa rasanya sakit tapi hangat di saat yang sama?
---
Sampe rumah sakit—karena aku langsung ke RS, nggak pulang dulu—udah maghrib. Aku sholat di musholla RS. Sendiri. Di ruangan kecil yang lantainya dingin, dindingnya polos, dan ada mukena lusuh yang baunya apek.
Sujud.
Doa.
"Ya Allah... hamba bingung. Hamba... hamba nggak ngerti apa yang hamba rasain sekarang. Hamba ketemu laki-laki yang baik. Tapi dia Kristen. Hamba tau ini salah. Hamba tau hamba nggak boleh... nggak boleh terlalu deket sama dia. Tapi... tapi kenapa hati hamba nggak bisa bohong?"
Air mata netes ke sajadah.
"Ya Allah... tolong tunjukin jalan yang bener buat hamba. Jangan biarkan hamba... jangan biarkan hamba tersesat..."
---
Aku masuk kamar rawat Bapak. Bapak lagi duduk di kasur, baca Qur'an. Kacamata bacanya yang udah baret dipake. Bibirnya bergerak pelan—ngikutin bacaan.
"Bapak..."
Bapak angkat muka. "Zahra. Dari mana? Dari tadi Bapak cari kamu."
"Zahra... Zahra cari angin sebentar, Pak. Di taman RS."
Bohong. Lagi.
"...kamu ketemu dia kan?"
Aku kaget. "Siapa, Pak?"
"Laki-laki yang bantuin kita. Arkan."
Aku nggak bisa jawab.
"Zahra, Bapak tau kamu bohong. Mukamu keliatan... keliatan beda. Mata kamu berbinar. Pipi kamu merah. Kamu... kamu abis ketemu dia kan?"
"...iya, Pak."
Bapak nutup Qur'an. Pelan. "Zahra, duduk sini."
Aku duduk. Bapak pegang tangan ku.
"Zahra, Bapak nggak mau larang kamu berteman sama siapa aja. Tapi Bapak mau kamu inget satu hal." Dia natap aku dalam. "Jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia."
Jatuh cinta.
Kata-kata yang bikin dada ku sesak.
"Bapak tau kamu masih muda. Kamu butuh temen. Kamu butuh orang yang peduli. Tapi... tapi jangan sampai kamu kehilangan arah. Jangan sampai kamu ninggalin agama kamu karena cinta dunia."
"Bapak... Zahra nggak akan ninggalin agama Zahra. Zahra janji."
"Janji itu mudah diucapin, Zahra. Tapi susah ditepatin. Apalagi kalau udah menyangkut hati." Bapak pegang dada ku. "Hati ini... lemah. Gampang tergoda. Makanya Bapak minta kamu hati-hati."
"...Zahra ngerti, Pak."
"Kamu ngerti?" Bapak naikkan suara. Dikit. "Kalau kamu ngerti, kenapa kamu masih ketemu dia? Kenapa kamu nggak jaga jarak?"
"Bapak... dia... dia udah nolongin kita. Dia udah bayarin rumah sakit. Dia... dia orang baik, Pak..."
"Bapak nggak bilang dia orang jahat! Tapi dia Kristen! Dia nggak seiman sama kamu! Kalau kamu terlalu deket, nanti gimana? Kamu nikah sama dia? Anak kamu dibiarin jadi apa? Kristen atau Islam?"
Aku nggak bisa jawab.
"Zahra... Bapak nggak mau kamu sengsara. Bapak sayang sama kamu. Makanya Bapak ngingetin sekarang, sebelum terlambat."
"...Bapak, Zahra nggak akan jatuh cinta sama dia. Zahra janji. Dia cuma temen. Cuma... cuma temen..."
Tapi kenapa aku ngerasa... ngerasa janji itu bohong?
---
Malem itu, aku duduk di kursi samping kasur Bapak. Bapak udah tidur. Napasnya teratur. Damai.
Aku buka HP. Ada satu pesan masuk.
**Arkan Alexander:**
*"Udah sampe? Hati-hati di jalan ya. Makasih udah mau makan sama aku hari ini. Aku seneng."*
Aku baca pesan itu berkali-kali.
Jempolku pengen bales. Tapi... tapi aku ragu.
Akhirnya aku ketik:
*"Udah sampe, Mas. Makasih udah traktir. Maaf merepotkan."*
Send.
Beberapa detik kemudian, dia bales:
*"Kamu nggak merepotkan kok. Kapan-kapan kita makan lagi ya. Aku pengen ngobrol lagi sama kamu."*
Ngobrol lagi.
Aku senyum. Entah kenapa.
Tapi senyum itu langsung ilang pas aku inget kata-kata Bapak.
"Jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia."
Aku tutup HP. Simpen di saku.
Natap Bapak yang tidur pulas.
"...Bapak, maafin Zahra. Zahra... Zahra nggak tau harus gimana..."
---
Besok paginya, Bapak diperiksa dokter. Dr. Rani bilang kondisi Bapak udah stabil. Bisa pulang tiga hari lagi.
"Tapi pasien harus kontrol rutin. Obatnya harus diminum teratur. Dan hindari stress."
"Iya Dok. Zahra akan jaga Bapak baik-baik."
Dr. Rani senyum. "Kamu anak yang baik. Semoga Bapak cepat sembuh."
Setelah dokter pergi, aku rapiin selimut Bapak. Bapak lagi minum air putih dari gelas plastik.
"Zahra, nanti kalau Bapak udah pulang, kamu jangan ketemu dia lagi ya."
Aku berhenti rapiin selimut.
"...Pak, kenapa—"
"Bapak serius. Kamu jangan ketemu dia lagi. Cukup sampe disini aja. Ucapin terima kasih, terus putus kontak."
"Tapi Bapak—"
"Nggak ada tapi. Ini perintah Bapak."
Perintah.
Bukan permintaan. Perintah.
"...iya, Pak. Zahra... Zahra ngerti."
Tapi dalam hati, aku nangis.
Karena aku tau...
Aku tau aku nggak bisa janji itu.
Karena entah sejak kapan...
Arkan udah jadi bagian dari hari-hari ku.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 7...**