Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Kabar Buruknya
...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...
Sambil mengecek jam, aku mengernyit saat melihat sudah jam enam pagi.
Naveen pergi ke klub semalam dan enggak pulang. Aku kira dia lagi kencan sama cewek, tapi biasanya dia selalu pulang jam enam, buat mandi dan sarapan sebelum kita pergi.
Aku ambil HP dari meja dapur dan menelepon nomornya sambil menyeruput kopi.
Bukannya berdering, panggilannya langsung masuk voicemail. Aku menunggu bunyi bip sebelum bicara, “Kamu mendingan datang ke sini dalam lima menit, deh! Atau ... Hemm!”
Aku matikan dan masukkan HP ke saku jas aku. Pakai setelan jas biru tua yang dibuat khusus, aku siap mulai kerja. Banyak urusan yang harus dibereskan.
Aku benci menunggu, dan Naveen tahu itu.
Dia enggak pernah mengabaikan teleponku.
Itu bukan kebiasaannya.
HPku bergetar. Aku kira itu Naveen. Ada rasa lega waktu aku angkat, tapi yang muncul bukan namanya.
Gustav.
...📞...
"Ya?"
^^^“Kamu harus datang sekarang. Aku ada di gang dekat Rumah Sakit Primaya. Aku kirim sharelocnya.”^^^
Keningku langsung berkerut.
“Kenapa? Ada apa?”
^^^“Ayo, Braun!”^^^
Rasa cemas yang tadi sempat reda langsung kembali, menghantam dadaku kayak ledakan nuklir.
"Naveen?"
^^^"Iya."^^^
"Aku OTW sekarang!"
Aku menjatuhkan cangkir kopi ke wastafel, lari keluar dapur, dan masuk lift ke penthouse aku. Sepanjang jalan turun ke garasi, pikiranku dipenuhi segala kemungkinan buruk soal Naveen.
Apa dia berantem?
Apa dia kenapa-kenapa?
Begitu pintu lift terbuka, aku langsung lari keluar. Marius dan Chooper sudah siaga.
“Ada apa?” tanya Marius.
“Kita harus ke Naveen,” jawabku sambil masuk ke pintu belakang Bentley.
Chooper duduk di balik kemudi.
“Di mana dia?”
Aku kirim koordinatnya ke HP Chooper.
"Lokasinya dekat Rumah Sakit Primaya. Gustav udah di sana. Cepat!"
Di perjalanan, aku menelepon Gustav lagi. Begitu dia angkat, aku langsung bertanya.
...📞...
“Apa yang terjadi? Dia baik-baik aja?”
^^^“Nanti aku jelasin pas kamu sampai,”^^^
Suaranya tegang.
Dari nadanya saja, aku tahu ini bukan kabar baik.
Naveen.
“Katakan sekarang,”
Suaraku dingin dan enggak kasih ruang buat dia membantah.
^^^"Lazuar nerima telepon dari sepupunya yang kerja sebagai perawat di rumah sakit. Dia ngenalin Naveen waktu dia dipaksa ikut ngerjain sesuatu yang mencurigakan."^^^
Gustav mendadak diam.
“Dia masih hidup?”
^^^"Braun .…"^^^
Dia mengerang.
Enggak.
Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhku, disusul rasa sakit yang enggak ada putusnya, mencabik-cabik jantungku.
Gustav berdeham.
^^^“Kamu harus cepat ke sini.”^^^
“Kita tinggal beberapa menit lagi,”
Suara aku keras dan tegas.
Dadaku seperti tertutup es.
Dia belum mati.
Dia baru dua puluh tahun.
Aku melakukan segalanya buat melindungi dia.
Naveen belum mati.
Enggak mungkin.
Pikiranku berputar enggak karuan. Begitu mobil berhenti di mulut gang, aku dorong pintu Bentley sampai terbuka dan langsung lari begitu kakiku menyentuh tanah.
...📞...
“Kamu di mana?”
Aku geram ke telepon.
^^^“Aku lihat kamu!”^^^
Gustav pun muncul.
Begitu aku sampai ke dia, kami berlari melewati deretan tempat sampah di sisi gang, sampai gang itu terbuka menuju ke lahan kosong. Sebuah truk tanpa tanda pengenal dikelilingi anak buahku.
“Ini parah, Braun,” kata Gustav. “Siap-siap.”
Pandanganku langsung ke lengan kananku.
“Buat apa?”
Dia geleng-geleng kepala. Kulitnya pucat, dan dia kelihatan kayak mau muntah.
Waktu kami mendekati pintu truk yang terbuka, dia bilang, “Human trafficking.”
Hidup di dunia kriminal, aku tahu persis apa artinya itu.
Amarah meledak di setiap darah tubuhku, sampai rasanya badanku gemetar.
Enggak ada cara buat menyiapkan diri. Begitu aku naiki empat anak tangga, dan masuk ke dalam truk, rasanya udara langsung keluar dari paru-paruku.
Bagian dalam truk itu dilengkapi unit bedah portabel. Lazuar, salah satu anak buah aku, berdiri di samping seorang perempuan, yang aku duga sepupunya.
Dua tubuh pria enggak dikenal tergeletak di lantai. Kotak pendingin ada di atas meja.
Lalu mataku jatuh ke tubuh Naveen.
Ya Tuhan.
Aku sudah melihat banyak hal menjijikkan sepanjang hidupku, tapi cuma dengan melihat itu saja, perut aku langsung mual. Aku mati-matian menahan diri biar enggak muntah.
Ada sayatan panjang dari atas dadanya sampai ke perut.
“Aku udah coba jahit,” kata si perawat, suaranya gemetar.
Pandanganku pindah ke dia. Dia langsung mundur, mecoba sembunyi di balik sepupunya.
“Ceritain apa yang terjadi,” perintahku, suaraku rendah dan mematikan.
“Sa—saya didekati salah satu dokter,” katanya cepat, setiap kata dipenuhi ketakutan. “Dia nanya apakah saya mau kerja tambahan. Waktu dia jelasin apa yang mau dilakukan, saya setuju ... karena saya tahu Marunda menentang perdagangan organ, dan saya butuh semua informasi yang bisa saya dapat. Saya juga pikir saya bisa nolong pasiennya. Saya menelepon Lazuar, dan dia langsung datang.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan gemetar.
“Saya lari ke sini, tapi waktu saya sampai … Naveen udah di mesin bypass. Mereka udah ngeluarin organ-organnya dan lagi siap-siap buat packing.”
Air matanya jatuh.
“Saya minta maaf, Tuan Baek. Enggak ada yang bisa saya lakuin.”
“SEMUA KELUAAARRR!” bentakku sambil menatap tubuh Naveen. “SEKARAAAANG!”
Baru setelah pintu menutup, aku mendekat ke meja operasi.
Wajah Naveen memar. Hidungnya patah. Mata kirinya bengkak. Ada darah kering di sisi kepalanya dan bekas ungu di lehernya.
Aku terus mengecek tubuhnya, melihat kulit sobek di jari-jarinya. Enggak ada luka tembak. Enggak ada luka tusuk.
Pandanganku kembali ke wajahnya. Kulitnya pucat pasi, dingin kayak mayat. Rasa jijik dan menakutkan menghantamku sampai aku mundur selangkah.
Aku angkat tangan, pegang belakang leherku, dan geleng-geleng kepala.
“Enggak .…”
Cuma erangan itu yang keluar dari mulutku.
Aku mendekat ke meja operasi, menunduk di atas adikku, dan menangkap wajahnya yang memar dengan tangan gemetar.
Begitu aku merasakan dinginnya tubuh dia, napasku langsung terhenti, jeritan pilu langsung keluar dari dalam jiwaku.
Aku tempelkan dahiku ke dahinya. Rasa sakit karena kehilangan adikku, membuatku merasa berdarah-darah.
Dalam hidup dan pekerjaanku, aku sudah kehilangan banyak orang. Tapi enggak pernah kayak begini.
Kesedihan yang dalam bercampur sama amarah yang enggak terkendali, menyeretku ke tepi jurang kegilaan.
Aku berdiri lagi, hampir enggak bisa mengatur napas, lalu pandanganku menyapu ruangan itu sekali lagi.
Begitu mataku jatuh ke kotak pendingin, aku langsung lari ke arah meja itu.
Ini jelas operasi buat mengejar mereka. Aku buka kotak pendingin itu satu per satu, dan di dalamnya, ada organ-organ.
Semuanya dilabeli rapi. Organ apa, dari siapa, dan mau dikirim ke mana.
Begitu aku lihat jantung Naveen, getaran keras langsung menyambar seluruh tubuhku. Rasanya seperti lantai di bawah kakiku pun ikut bergetar.
Aku enggak bisa berpikir jernih. Dengan tangan gemetar, aku angkat wadah berisi jantung Naveen, lalu tubuhku ambruk. Aku jatuh terduduk dan memeluk wadah itu erat-erat ke dadaku.
Aku terpejam, mendengar napasku sendiri bergetar di bibirku.
Dan kemudian .…
Aku dengar tawa Naveen.
Aku lihat senyumnya yang selalu menular.
Semua kenangan tentang dia menyerbu aku sekaligus.
Aku enggak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum akhirnya kesadaranku kembali.
Kesedihanku bercampur sama amarah, berubah jadi keputusan mutlak buat balas dendam.
Aku akan memburu setiap orang yang terlibat.
Sampai sungai darah mengalir di jalanan Jakarta.