Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Perpisahan yang Menitipkan Api
Di ruang guru yang sejuk oleh hembusan AC yang stabil, suasana terasa sangat formal dan kaku, menyerupai ruang sidang di mana masa depan seseorang sedang dipertaruhkan. Dinding-dinding yang dipenuhi piagam penghargaan seolah ikut mengawasi jalannya pertemuan pagi itu. Kepala sekolah duduk di kursi kebesarannya didampingi beberapa guru senior yang menatap Ella dengan pandangan penuh harapan sekaligus bangga. Di sisi lain meja, Aji duduk dengan kaki bersilang, tampak begitu tenang dan dominan dalam almamater universitas elitnya. Ia terlihat seolah sudah menyiapkan naskah sambutan selamat datang untuk Ella di kampus prestisius itu.
"Ini adalah kesempatan emas yang hanya datang sekali seumur hidup, Ella," ujar Sang Kepala sekolah dengan suara lembut namun sarat akan penekanan. "Tidak semua siswa, bahkan yang terpintar sekalipun, mendapatkan karpet merah seperti ini. Aji sudah membukakan jalan yang sangat lebar dan mulus untuk masa depanmu."
Ella menunduk dalam-dalam. Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, meremas ujung rok seragamnya yang mulai terasa lembap oleh keringat dingin. Ia bisa merasakan beban ekspektasi seluruh sekolah ada di pundaknya. Namun, di balik keraguan itu, ada sebuah prinsip yang sudah ia tanam kuat-kuat sejak semalam. Ella mengambil napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian, sebelum akhirnya ia mendongak dan menatap satu per satu orang dewasa di depannya dengan tatapan yang luar biasa mantap.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak Kepala sekolah, Bapak Ibu guru... dan juga untuk kamu, Aji," suara Ella terdengar jernih, bergema di ruang guru yang sunyi. "Setelah mempertimbangkannya dengan matang, saya memutuskan untuk tidak bisa menerima tawaran itu."
Ruangan itu seketika hening, seolah-olah semua mesin AC berhenti berputar dalam sekejap. Pak Kepala sekolah tampak terkejut hingga sedikit memajukan tubuhnya. Aji, yang semula tampak sangat yakin, kini sedikit mengernyitkan alisnya. Ia tidak menyangka bahwa rencananya yang sempurna akan menemui penolakan secepat ini.
"Kenapa, La? Apa soal biaya?" sela Aji dengan nada persuasif yang tetap tenang. "Kamu tahu universitas ini menyediakan beasiswa penuh untuk biaya kuliahmu. Kamu tidak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk pendidikan di sana."
"Benar, Aji. Tapi beasiswa pendidikan tidak akan menanggung biaya hidup di sana sepenuhnya," jawab Ella dengan suara yang kini lebih tegas. "Keluargaku berasal dari ekonomi rendah. Ayah dan ibuku sudah bekerja terlalu keras untuk menyekolahkanku sampai titik ini. Jika aku pergi ke luar negeri, mereka pasti akan memaksakan diri bekerja dua kali lebih keras hanya untuk mengirimkan uang saku tambahan, karena mereka tidak ingin aku terlihat kekurangan di negeri orang. Aku tidak mau kebahagiaanku dibangun di atas penderitaan dan kelelahan mereka."
Ella berhenti sejenak, menatap Aji yang terdiam. "Selain itu, aku masih sangat mencintai tanah air ini. Aku ingin menempuh pendidikan di negeri sendiri, membuktikan kepada dunia—dan pada diriku sendiri—bahwa aku bisa sukses meski berangkat dari sini. Aku ingin membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu harus diekspor ke luar negeri untuk dianggap berharga."
Pak Kepala sekolah menghela napas panjang. Ada gurat kekecewaan karena sekolah mungkin kehilangan satu prestasi internasional, namun ada rasa bangga yang jauh lebih besar melihat integritas dan bakat karakter yang dimiliki siswi terbaiknya itu. Aji pun terdiam seribu bahasa. Sebagai orang yang mengenal Ella sejak lama, ia tahu bahwa jika Ella sudah bicara soal prinsip dan keluarga, tidak akan ada logika atau angka yang bisa mengubah keputusannya.
Ketika Ella berjalan kembali menuju kelas XII IPA 1, kabar mengenai penolakannya belum tersebar, namun sisa-sisa ketegangan dari kedatangan Aji tadi pagi masih sangat terasa di udara koridor. Begitu pintu kelas terbuka, Rizki dan Wawan yang sejak tadi gelisah seperti cacing kepanasan langsung berdiri serentak. Mereka menatap Ella dengan penuh tanda tanya, mencoba membaca raut wajahnya.
Aji berjalan di belakang Ella, masih dengan gaya karismatiknya yang tak tergoyahkan. Ia berhenti tepat di depan bangku Ella. Sebelum benar-benar berpamitan untuk kembali ke Jakarta—dan kemudian ke luar negeri—Aji melakukan sesuatu yang membuat seisi kelas menahan napas secara kolektif.
Dengan gerakan yang sangat santai, luwes, namun terasa begitu intim dan penuh kepemilikan, Aji mengulurkan tangannya. Ia mengusap rambut Ella dengan lembut, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi dahi gadis itu seolah itu adalah hal paling wajar yang pernah ada.
"Keputusan yang sangat berani, La. Kamu memang selalu mengejutkanku," bisik Aji, cukup keras untuk didengar oleh Rizki dan Wawan. "Tapi ingat satu hal, pintu itu selalu terbuka. Kalau kamu berubah pikiran atau merasa dunia di sini terlalu sempit untukmu, aku akan selalu ada di sana menunggu."
Tak berhenti sampai di situ, Aji mencondongkan tubuhnya lebih dekat dan memberikan sebuah kecupan lembut yang mendarat tepat di pucuk kepala Ella. Ella hanya terpaku, matanya membelalak karena kaget; ia tidak menyangka Aji akan melakukan tindakan seberani itu di depan umum.
Di barisan depan dan belakang, dua pasang mata menatap adegan itu dengan urat-urat leher yang menegang hingga tampak seperti akan meledak. Rizki meremas pulpen di tangannya begitu kuat hingga terdengar bunyi krak yang memilukan dari plastik yang mulai retak. Giginya bergemeletuk menahan amarah yang membara. Sementara di belakang, Wawan mencengkeram pinggiran meja kayunya hingga jari-jarinya memutih, kukunya seolah ingin menembus serat kayu.
Keduanya memiliki dorongan liar untuk melompat, menarik kerah kemeja Aji, dan melayangkan pukulan telak ke wajah sombong itu. Namun, sebuah janji tak tertulis pada Ella untuk tidak membuat drama perkelahian lagi demi ketenangan gadis itu seolah menjadi rantai yang mengikat mereka di kursi masing-masing. Mereka hanya bisa duduk diam dengan kepala yang terasa panas, mengepulkan asap emosi yang nyaris kasat mata.
Aji kemudian memutar tubuhnya, menatap Rizki dan Wawan secara bergantian dengan pandangan yang sangat merendahkan—sebuah tatapan "Predator Puncak" yang melihat dua mangsa kecil yang tidak berdaya. Sorot matanya seolah berkata dengan lantang: 'Lihat, aku bisa menyentuhnya sesuka hatiku, melakukan hal yang tidak berani kalian lakukan, dan kalian hanya bisa menonton seperti pecundang.'
"Oke semuanya, aku pamit dulu. Sukses buat ujian kalian," ujar Aji sambil melambaikan tangan ke seluruh kelas dengan senyum yang sangat menawan, membuat beberapa siswi lain (kecuali Ella) tersipu malu.
Di ambang pintu kelas, Aji berhenti sejenak. Ia melirik kembali ke arah Rizki dan Wawan yang masih menatapnya dengan pandangan penuh dendam. Aji tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat mengejek, tawa seorang pemenang yang tahu persis di mana letak kelemahan lawan-lawannya.
"Berita tentang kalian berdua menarik juga," ujar Aji sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Ternyata perebutan kursi ketua kelas di sekolah ini sudah naik level menjadi perebutan hati, ya? Haha! Sungguh menghibur!"
Aji melenggang pergi dengan langkah ringan dan tawa kemenangannya yang menggema di koridor, meninggalkan suasana XII IPA 1 yang kini lebih panas daripada kawah gunung berapi. Rizki dan Wawan saling lirik sekejap dengan tatapan yang tadinya bermusuhan kini menyatu dalam satu rasa yang sama: Rasa terhina.
Mereka menyadari satu kenyataan pahit; mereka baru saja dipecundangi oleh seorang alumni yang levelnya jauh di atas mereka. Kedatangan Aji bukan sekadar menawarkan beasiswa, melainkan sebuah pengingat bahwa jika mereka tidak segera berubah, jika mereka tidak melakukan sesuatu yang besar untuk memantaskan diri, maka Ella—cahaya yang kini sudah mulai bersinar itu—akan diambil oleh seseorang yang jauh lebih siap untuk menjaganya. Api persaingan antara Wawan dan Rizki kini tidak lagi soal siapa yang paling jagoan atau siapa yang paling populer, melainkan siapa yang paling mampu mengejar ketinggalan mereka agar bisa berdiri sejajar di samping Ella.