NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan singkat

Lobi utama Hoffmann Motors—yang biasanya sunyi, megah, dan penuh wibawa—kini terasa seperti ruang interogasi tak resmi. Langit-langit tinggi berlapis kaca memantulkan cahaya pucat pagi itu, membuat lantai marmer tampak dingin dan kejam. Setiap langkah kaki Max dan Sophie menggema jelas, seolah gedung itu sendiri tengah mengamati siapa yang masih pantas berdiri di dalamnya.

Di dekat area tengah lobi, beberapa jajaran direksi tingkat menengah telah berdiri berbaris rapi. Setelan mahal mereka tak mampu menyembunyikan kegelisahan yang mengendap di balik senyum-senyum tipis. Ada yang tampak terlalu ramah, ada pula yang terlalu santai—keduanya sama palsunya.

“Selamat pagi, Tuan Maximilian.”

Suara itu datang dari Tuan Meyer, pria berambut abu-abu dengan wajah licin dan senyum yang selalu berhasil bertahan di era kepemimpinan Richard Hoffmann. Nadanya sengaja dikeraskan, cukup untuk menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Kami terus terang terkejut melihat Anda datang secepat ini,” lanjut Meyer, kepalanya sedikit dimiringkan. “Kami pikir Anda masih sibuk… mengurusi masalah keluarga di kantor polisi.”

Kata keluarga diucapkannya dengan jeda yang disengaja, sarat sindiran. Beberapa pria di belakangnya saling pandang sebelum terkekeh pelan—tawa singkat, terkontrol, namun cukup jelas untuk menunjukkan keberpihakan.

Sophie menangkapnya semua.

Ia tetap melangkah setengah langkah di belakang Max, posturnya lurus, wajahnya netral. Namun matanya bergerak cepat, tajam, mencatat siapa yang tertawa, siapa yang berpura-pura tak mendengar, dan siapa yang menunduk terlalu cepat. Ini bukan sekadar pertemuan; ini peta awal musuh dan sekutu.

Langkah Max berhenti.

Ia berdiri tepat di hadapan Meyer. Tidak ada amarah di wajahnya, tidak ada nada tinggi, tidak ada gerakan agresif. Justru ketenangannya yang membuat udara di antara mereka mendadak berat.

Tatapan Max turun sedikit, sejajar dengan mata Meyer—dingin, fokus, dan tanpa sedikit pun keraguan.

“Masalah keluarga sudah selesai, Meyer,” ucapnya pelan, suaranya datar namun mengandung tekanan yang sulit dijelaskan. “Sekarang aku di sini untuk mengurusi masalah sampah yang menumpuk di perusahaan ini selama aku pergi.”

Senyum Meyer membeku.

Max mendekat setengah langkah, cukup untuk membuat Meyer secara refleks menahan napas. “Jika kau cukup cerdas,” lanjutnya tanpa menaikkan suara, “kau akan mulai membersihkan mejamu. Jika tidak—”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi imajinasi untuk bekerja.

“—aku yang akan melakukannya untukmu.”

Tidak ada lagi tawa.

Keheningan jatuh di lobi seperti palu. Beberapa direksi menelan ludah, yang lain mengalihkan pandangan. Meyer berdiri kaku, wajahnya memucat, bibirnya terbuka seolah ingin membalas, namun tak satu kata pun keluar.

Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Max berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju lift eksekutif di ujung lobi. Setiap langkahnya terukur, penuh kendali, seakan ia baru saja menandai wilayahnya kembali.

Sophie mengikuti di belakangnya.

Saat melewati barisan direksi itu, ia memberikan tatapan singkat—tajam, penuh penilaian, dan dingin. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya sorot mata seorang wanita yang sedang menyusun daftar, mengingat setiap wajah yang berani menunjukkan pembangkangan di menit-menit pertama kepemimpinan Max kembali.

...****************...

Suasana di dalam ruang rapat eksekutif jauh lebih panas daripada lobi di luar. Ruangan berbentuk oval itu didominasi meja jati raksasa dengan permukaan mengilap, dikelilingi dua belas kursi kulit hitam berharga mahal—masing-masing ditempati wajah-wajah yang terbiasa memerintah, bukan diperintah. Dinding kaca antipeluru memantulkan bayangan mereka, membuat ruangan terasa sesak meski luas.

Begitu Max melangkah masuk dan duduk di kursi kepemimpinan di ujung meja, atmosfer seketika berubah. Percakapan terputus. Beberapa direktur merapikan dasi, yang lain menyilangkan tangan—gerakan kecil yang mengkhianati kegelisahan.

Sophie mengambil posisinya di sisi kanan Max, setengah langkah ke belakang. Tablet tipis sudah berada di tangannya, ekspresinya tenang, nyaris netral. Ia tahu, di ruangan ini, ketenangan adalah senjata.

“Baik,” suara berat memecah keheningan.

Tuan Henderson, pria berambut perak dengan rahang keras dan cincin emas besar di jari telunjuknya, menyandarkan tubuh ke kursi. Sebagai pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Hoffmann, ia terbiasa berbicara seolah ruangan itu miliknya.

“Langsung saja ke intinya,” katanya dingin. “Citra perusahaan hancur akibat skandal ayahmu, Max. Pasar panik, media haus darah. Kami tidak bisa membiarkan seorang pemuda yang—maaf—belum teruji menangani krisis sebesar ini.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya mengendap.

“Oleh karena itu, kami mengusulkan mosi tidak percaya untuk melengserkanmu. Pagi ini.”

Beberapa kepala mengangguk setuju. Ada yang pura-pura menatap berkas di depan mereka, ada pula yang sengaja menatap Max seolah menantang.

Max tidak langsung bereaksi.

Ia justru menyandarkan punggungnya dengan tenang, melipat tangan di depan dada. Gerakannya lambat, penuh kontrol—gerakan seorang pria yang tahu ia memegang kendali, meski semua orang di ruangan ini berharap sebaliknya. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Tidak ada keterkejutan.

“Hm.” Max menghela napas pendek. “Mosi tidak percaya berdasarkan apa, Henderson?”

Ia mencondongkan kepala sedikit, tatapannya menusuk. “Berdasarkan kekhawatiran terhadap stabilitas perusahaan… atau berdasarkan rasa takut kalian karena tidak ada lagi Richard yang bisa kalian suap?”

Udara seketika menegang.

“Jaga bicaramu!” bentak seorang direktur di sisi kiri meja, wajahnya memerah. “Kami punya data bahwa investor mulai menarik diri. Saham melemah!”

“Benar,” sambung yang lain. “Beberapa mitra strategis sudah meminta klarifikasi resmi!”

Di sinilah Sophie bergerak.

Tanpa suara berlebihan, ia melangkah maju. Dengan gerakan profesional dan terukur, ia membuka tabletnya dan menekan beberapa ikon. Dalam hitungan detik, layar besar di belakang Max menyala, menampilkan grafik dinamis dan data pasar real-time.

Semua mata otomatis beralih padanya.

“Maaf memotong, Tuan-tuan,” ucap Sophie. Suaranya jernih, tenang, dan penuh keyakinan—bukan suara seorang sekretaris, melainkan seorang analis yang tahu persis apa yang ia bicarakan. “Data yang Anda sebutkan adalah data lima jam lalu, sebelum pembukaan bursa Eropa.”

Ia menggeser grafik, menampilkan tren terbaru. “Jika Anda melihat layar ini, Anda akan menemukan fakta yang sedikit… bertolak belakang.”

Beberapa direktur maju ke tepi kursi mereka.

“Penangkapan Richard Hoffmann,” lanjut Sophie, “justru meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang. Pasar melihat ini sebagai internal cleansing. Transparansi. Pemutusan rantai korupsi.”

Ia berjalan perlahan mengitari meja, sepatu haknya berdetak pelan di lantai kayu—ritme yang menambah tekanan psikologis. Tatapannya menyapu satu per satu wajah para direktur.

“Lebih dari itu,” katanya, kini lebih rendah namun tajam, “kami menemukan beberapa aliran dana janggal dari rekening operasional perusahaan ke akun pribadi… beberapa dari Anda.”

Ia berhenti di belakang kursi Henderson.

“Dalam satu tahun terakhir,” sambungnya, “jumlahnya cukup signifikan untuk disebut kejahatan finansial.”

Ruangan membeku.

Wajah Henderson memucat. Seorang direktur lain terlihat berkeringat, jari-jarinya gemetar di atas berkas. Tidak ada yang menyangka wanita yang mereka anggap sekadar asisten manis itu membawa pisau setajam ini.

“Jika mosi tidak percaya ini dilanjutkan,” Sophie menutup dengan tenang, “Tuan Maximilian Hoffmann tidak akan ragu menyerahkan hasil audit forensik ini kepada pihak berwenang. Dan seperti yang kita semua tahu…”

Ia tersenyum tipis. “Pihak berwenang sedang sangat bersemangat akhir-akhir ini.”

Keheningan jatuh begitu berat hingga nyaris terasa fisik.

Max tersenyum kecil, nyaris tak terlihat—senyum seorang pria yang tahu ia memilih partner yang tepat. Ia lalu memajukan tubuhnya ke arah meja, telapak tangannya menekan permukaan kayu jati dengan pelan namun mantap.

Auranya berubah.

Kini ia bukan sekadar CEO muda. Ia predator di wilayahnya sendiri.

“Jadi,” ucap Max dengan suara rendah, dalam, dan mengancam, “apakah kita akan melanjutkan mosi tidak percaya ini…”

Tatapannya menyapu ruangan, berhenti sejenak di setiap wajah yang pucat.

“…atau kalian ingin mulai bekerja dengan benar—di bawah komandoku?”

Tak ada jawaban.

Hanya pertukaran pandang yang gugup di antara tikus-tikus peninggalan ayahnya—makhluk yang kini sadar bahwa mereka salah menilai kombinasi mematikan antara kekuatan Max Hoffmann dan kecerdasan Sophie Miller.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, keseimbangan kekuasaan di ruangan itu benar-benar berubah.

...****************...

Pintu kayu ek yang berat itu akhirnya tertutup rapat, meredam suara langkah kaki para direktur yang keluar dengan bahu merosot dan wajah sepucat kertas. Ruangan yang tadinya penuh dengan ketegangan dan aroma pengkhianatan itu kini mendadak sunyi, menyisakan keheningan yang melegakan.

Max masih duduk di kursinya, namun ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia memutar kursi ke arah Sophie yang masih berdiri di samping layar proyektor, tampak begitu bersinar dengan sisa-sisa aura kepemimpinannya.

"Audit forensik dan ancaman penjara?" Max terkekeh rendah, suaranya terdengar sangat bangga. "Aku bahkan tidak tahu kau sudah menyiapkan kartu as itu, Sophie."

Sophie mematikan tabletnya dan berjalan mendekat ke arah Max dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Aku putri Hans Adler, Max. Ayahku selalu bilang, jika kau ingin menghadapi tikus, kau harus tahu di mana mereka menyimpan cadangan makanannya. Aku hanya melakukan sedikit riset tadi malam saat kau sedang sibuk memikirkan cara melindungiku."

Max meraih tangan Sophie, menariknya dengan lembut hingga wanita itu berdiri tepat di antara kedua kakinya yang terbuka. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Sophie, menenggelamkan wajahnya sejenak di perut wanita itu sambil mengembuskan napas panjang.

"Kau luar biasa," bisik Max serak. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sini jika kau tidak berdiri di sampingku."

Sophie menyisir rambut Max yang sedikit berantakan dengan jari-jarinya, memberikan sentuhan yang menenangkan. "Kita adalah partner, Max. Sudah kubilang, aku bukan hanya sekadar pajangan."

Max mendongak, menatap Sophie dengan mata yang berkilat penuh gairah dan kasih sayang. Ia menarik tubuh Sophie hingga terduduk di pangkuannya. Di ruangan luas yang menjadi simbol kekuasaan Hoffmann ini, Max tidak lagi peduli pada kamera CCTV atau kemungkinan ada staf yang masuk.

"Kau benar. Kau jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan," gumam Max. Ia mendekatkan wajahnya, menghapus jarak di antara mereka. "Dan itu membuatku semakin gila padamu."

Max mencium Sophie dengan cara yang berbeda dari biasanya—bukan ciuman lembut yang menenangkan, melainkan ciuman yang intens, menuntut, dan penuh dengan adrenalin kemenangan. Sophie membalasnya dengan sama kuatnya, lengannya melingkar erat di leher Max, membiarkan rasa syukur dan cinta menyatu dalam napas mereka yang memburu.

Di tengah ciuman itu, Max berbisik di bibir Sophie, "Hanya satu masalahnya..."

"Apa?" tanya Sophie terengah.

"Sekarang aku benar-benar tidak ingin kau keluar dari ruangan ini. Aku ingin mengunci pintu ini dan menjadikanmu milikku di sini, sekarang juga," goda Max dengan kerlingan nakal yang membuat jantung Sophie berdebar kencang.

Sophie tertawa pelan, memukul bahu Max dengan gemas. "Ingat status kita, Tuan CEO. Kita sedang berada di kantor yang baru saja kita 'selamatkan'."

"Kantor ini milikku, Sophie," jawab Max sambil mengecup leher Sophie dengan lembut. "Dan pemiliknya sedang ingin merayakan kemenangannya dengan ratunya."

Max tidak membiarkan Sophie beranjak. Sentuhan jemari Sophie di rambutnya justru memicu api yang lebih besar di dalam dirinya. Ia mempererat pelukannya pada pinggang Sophie, menekankan tubuh wanita itu lebih rapat ke arahnya hingga Sophie bisa merasakan detak jantung Max yang berpacu liar di balik kemeja mahalnya.

"Max, seseorang bisa saja masuk..." bisik Sophie antara percaya dan tidak, namun suaranya terdengar lemah, kehilangan kekuatannya saat bibir Max mulai menjelajahi garis rahangnya dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut.

"Pintu itu sudah kukunci secara elektronik dari ponselku, Sayang," gumam Max serak di ceruk leher Sophie. "Tidak ada yang berani mengganggu CEO mereka setelah apa yang kita lakukan tadi."

Tangan Max yang besar mulai bergerak nakal, mengusap punggung Sophie dengan gerakan yang mengirimkan gelombang elektrik ke seluruh sarafnya. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma parfum Sophie yang bercampur dengan adrenalin kemenangan. Bagi Max, tidak ada yang lebih membangkitkan gairahnya daripada melihat Sophie berdiri tegak melawan musuh-musuhnya beberapa menit yang lalu.

Max memutar kursi kebesarannya, membawa Sophie bersandar pada meja jati raksasa yang dingin. Kontras antara kulit hangat Sophie dan permukaan meja yang dingin membuat wanita itu membusungkan dada, mencari perlindungan pada tubuh Max.

"Kau sangat mempesona di dalam sini tadi," bisik Max, suaranya kini terdengar rendah dan berbahaya. "Cara kau menatap mereka... cara kau membungkam Henderson... itu membuatku ingin memilikimu saat itu juga."

Ciuman Max kembali menyapu bibir Sophie, kali ini jauh lebih lapar dan posesif. Lidahnya menuntut akses yang segera diberikan oleh Sophie dengan desahan kecil yang tertahan.

Tangan Sophie merambat naik, menjambak pelan rambut di belakang kepala Max, menarik pria itu lebih dalam ke dalam ciuman yang seolah ingin menghabiskan seluruh pasokan oksigen di ruangan itu.

Suasana di ruang rapat yang biasanya dingin dan kaku itu kini berubah menjadi panas dan penuh dengan ketegangan seksual yang sudah lama mereka pendam. Max mengangkat tubuh Sophie, mendudukkannya di atas meja kerja di antara tumpukan dokumen yang kini terserak tak berarti.

Jemari Max mulai menelusuri paha Sophie di balik rok formalnya, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat lutut Sophie lemas.

"Kau milikku, Sophie Adler," desis Max di sela ciumannya. "Hanya milikku."

Sophie hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi Max. Di ruangan yang seharusnya menjadi simbol kekuasaan korporat ini, mereka justru menemukan kebebasan yang paling murni.

Dunia luar dengan wartawan yang rakus dan musuh yang mengintai seolah lenyap, menyisakan hanya mereka berdua dan gairah yang membara di bawah lampu gantung kristal yang mewah.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!