NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Retakan di Langit Navasari

Suara mesin proyektor yang berderit krak-krak-krak di ruang bawah tanah itu seolah menjadi satu-satunya detak jantung yang tersisa di rumah tersebut. Alana masih terpaku, matanya tak berkedip menatap dinding semen yang kini menampilkan sosok Arlo. Pemuda di dalam film itu tampak begitu hidup, meski butiran debu dan goresan pada pita seluloid tua menciptakan efek visual yang membuat sosoknya terlihat seperti hantu yang terjebak dalam cahaya.

Arlo dalam rekaman itu tidak hanya tersenyum. Ia seolah menatap langsung ke arah Alana, menembus sekat waktu yang memisahkan mereka selama puluhan tahun. Di papan kecil itu, nama "Alana" tertulis dengan gaya tulisan tangan yang persis sama dengan surat-surat yang ia terima di kotak pos.

"Bagaimana mungkin, Elian?" suara Alana parau, hampir hilang di telan kegelapan ruangan. "Tahun 1975... aku bahkan belum ada dalam rencana apa pun. Orang tuaku saja belum bertemu."

Elian melangkah masuk lebih dalam, bayangannya memanjang di dinding, bersinggungan dengan proyeksi wajah Arlo. "Pak Surya pernah bercerita padaku saat aku masih remaja. Dia bilang, Arlo tidak jatuh karena kecelakaan mesin biasa. Pesawatnya menghilang dari radar tepat di atas koordinat rumah ini. Tidak ada puing, tidak ada jasad, tidak ada tumpahan bahan bakar. Dia hanya... terserap oleh langit."

Alana mendekati dinding, mencoba menyentuh bayangan Arlo. "Terserap?"

"Ada sebuah anomali di Navasari," lanjut Elian, suaranya kini terdengar berat dan serius. "Para sesepuh desa menyebutnya 'Lubang di Cakrawala'. Pada saat-saat tertentu, ketika tekanan udara dan posisi bintang berada dalam keselarasan yang langka, batas antara dunia kita dan... 'tempat lain' menjadi tipis. Arlo tidak mati. Dia terjebak di sebuah tempat di mana waktu tidak berjalan seperti yang kita tahu. Baginya, mungkin dia baru pergi kemarin. Baginya, masa depanmu adalah masa kininya."

Alana merasakan sensasi dingin merayap di punggungnya. Ia teringat mimpi semalam, tentang lantai kaca dan galaksi yang berputar. Itu bukan sekadar mimpi hasil pengaruh cairan aneh; itu adalah sebuah jendela.

"Jika dia terjebak, kenapa dia menulis surat cinta? Kenapa dia melakukan ini padaku?"

Elian terdiam sejenak, matanya menatap gulungan film yang terus berputar hingga mencapai ujung pita. Cahaya proyektor kini hanya menampilkan kotak putih kosong yang berkedip-kedip silau di dinding.

"Mungkin karena kau adalah satu-satunya frekuensi yang bisa dia capai, Alana. Pak Surya mencoba selama puluhan tahun, tapi dia gagal. Dia bilang, Arlo membutuhkan seseorang dengan 'mata seniman' seseorang yang bisa melihat keindahan di tengah kegilaan. Seseorang yang tidak akan menyerah ketika logika mulai runtuh."

Alana mematikan proyektor. Ruangan itu seketika jatuh ke dalam kegelapan yang pekat, menyisakan bau sisa pembakaran lampu proyektor yang panas. Ia menyandarkan punggungnya pada meja kayu tua, mencoba mencerna fakta bahwa ia sedang jatuh cinta atau setidaknya terobsesi pada kerabatnya sendiri yang menghilang sebelum ia lahir, yang kini berada di dimensi lain.

"Berita dari Jakarta tadi..." Alana memulai, teringat pesan di ponselnya yang ia matikan. "Surat itu bilang jangan goyah. Apakah 'Langit' atau Arlo takut aku akan pergi?"

"Dia takut kehilangan satu-satunya jembatannya ke dunia ini," sahut Elian. "Tapi lebih dari itu, aku rasa dia ingin menyelamatkanmu. Kau hancur di Jakarta, Alana. Jika kau kembali sekarang hanya karena dendam atau pemulihan nama baik, kau akan tetap kosong. Di sini, kau menemukan sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun di kota itu: sebuah keajaiban yang nyata."

Alana mengangguk pelan. Ia tahu Elian benar. Kembali ke Jakarta berarti kembali ke dunia penuh kepura-puraan. Di sini, meski menakutkan, ia merasa hidup. Setiap detak jantungnya terasa lebih berarti.

"Aku ingin melihat tempat itu," kata Alana tiba-tiba.

"Tempat apa?"

"Tempat pesawatnya menghilang. Koordinat yang kakek sebut sebagai 'Jangkar Cahaya'. Kau bilang ada anomali di sana. Aku ingin di sana saat malam tiba."

Elian tampak ragu. "Malam ini adalah malam puncak hujan meteor Quadrantid. Jika teorinya benar, retakan itu akan terbuka lebih lebar dari biasanya. Itu bisa berbahaya, Alana. Kita tidak tahu apa yang bisa tersedot masuk... atau apa yang bisa keluar."

"Aku tidak peduli. Dia menungguku, Elian. Aku bisa merasakannya di bawah kulitku, persis seperti yang dia katakan dalam surat."

Sore harinya, mereka mulai mempersiapkan pendakian ke titik koordinat yang dimaksud. Elian membawa perlengkapan berkemah dan lampu sorot bertenaga baterai, sementara Alana membawa jurnal kakeknya dan batu meteorit kecil yang ia temukan sebelumnya. Ia merasa batu itu adalah semacam 'kunci' atau kompas.

Perjalanan menuju puncak bukit lebih berat daripada sebelumnya. Jalan setapak tertutup oleh kabut yang semakin tebal dan dingin. Pohon-pohon pinus di sini tampak lebih tua, dengan batang yang meliuk-liuk aneh seolah-olah mereka tumbuh mengikuti aliran energi yang tidak terlihat.

Anehnya, semakin tinggi mereka mendaki, ponsel Alana yang sengaja ia nyalakan sebentar untuk memeriksa kompas mulai bertingkah aneh. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan angka-angka acak dan suara statis yang terdengar seperti bisikan ribuan orang yang berbicara bersamaan.

"Jangan lihat ponselmu," kata Elian tanpa menoleh. "Elektronika tidak berfungsi dengan baik di dekat 'jantung' Navasari."

Tepat saat matahari tenggelam dan warna langit berubah menjadi ungu pekat yang dramatis, mereka sampai di sebuah tanah lapang yang gundul. Di tengah lapangan itu, tidak ada rumput yang tumbuh. Tanah di sana berwarna hitam legam, membentuk sebuah lingkaran sempurna berdiameter sepuluh meter.

Di tengah lingkaran itu, Alana melihat sesuatu yang membuatnya terpana.

Bukan pesawat. Bukan puing. Tapi sebuah fenomena optik yang mustahil. Udara di tengah lingkaran itu tampak bergetar, seperti fatamorgana di atas aspal panas, namun ini terjadi di tengah udara pegunungan yang dingin. Bintang-bintang yang berada di balik getaran itu tampak terdistorsi, memanjang dan berputar seperti lukisan Starry Night karya Van Gogh.

"Itu dia," bisik Elian. "Gerbangnya."

Alana melangkah maju, namun Elian menahan lengannya. "Tunggu sampai hujan meteor dimulai. Arlo bilang dalam suratnya, 'Gunakan posisi Sirius malam ini'. Kita harus menunggu Sirius mencapai titik puncaknya."

Mereka duduk di tepi lingkaran hitam itu dalam keheningan. Alana menggenggam batu meteoritnya erat-erat. Hatinya dipenuhi oleh campuran antara rasa takut yang primitif dan kerinduan yang modern. Ia merasa seperti sedang menunggu seorang kekasih di stasiun kereta api, hanya saja stasiun ini berada di ujung alam semesta.

Pukul sepuluh malam, meteor pertama meluncur melintasi langit. Sebuah garis cahaya hijau terang yang membelah kegelapan. Disusul oleh yang kedua, ketiga, dan kemudian puluhan cahaya mulai berjatuhan dari langit seperti hujan berlian.

Pada saat yang sama, getaran di tengah lingkaran hitam itu menguat. Suara dengung rendah yang Alana dengar di hutan tadi pagi kini berubah menjadi suara simfoni yang megah. Alana merasakan batu meteorit di tangannya mulai memanas.

"Sekarang!" teriak Elian di tengah suara angin yang tiba-tiba bertiup kencang secara melingkar.

Alana berdiri dan berjalan perlahan menuju pusat getaran. Semakin dekat ia melangkah, gravitasi di sekitarnya terasa kacau. Langkahnya terasa ringan, hampir melayang. Rambutnya berdiri karena listrik statis yang memenuhi udara.

Di tengah lingkaran, Alana melihat sebuah bayangan mulai memadat. Itu adalah sosok pemuda dari film tadi. Arlo. Ia tidak lagi terbuat dari cahaya perak seperti dalam mimpinya, namun ia juga tidak sepenuhnya padat. Ia berdiri di sana, mengenakan jaket penerbang kulitnya, menatap Alana dengan mata yang penuh dengan kesedihan dan harapan yang tak terlukiskan.

Arlo mengulurkan tangannya. Jarak mereka hanya tinggal dua meter.

"Alana..." Suara itu bukan lagi berasal dari dalam kepalanya. Suara itu nyata, terbawa oleh angin, terdengar begitu dekat dan begitu manusiawi.

"Kau datang..."

Alana mengulurkan tangannya, jarinya hampir menyentuh ujung jari Arlo yang gemetar. Namun, tepat sebelum kulit mereka bersentuhan, sebuah kilatan cahaya dari hujan meteor menghantam atmosfer tepat di atas mereka, menciptakan ledakan cahaya putih yang membutakan.

Tanah bergetar hebat. Alana terlempar ke belakang, jatuh ke pelukan Elian yang sigap menangkapnya.

Saat cahaya itu meredup, sosok Arlo telah hilang. Namun, di tempat ia berdiri tadi, tertancap sebuah benda di tanah hitam itu. Sebuah benda yang tampak sangat modern, sangat kontras dengan segala sesuatu yang antik di rumah kakek.

Itu adalah sebuah alat perekam suara digital dengan layar kecil yang menyala, menampilkan sebuah pesan singkat di layarnya: "PLAY ME".

Dan di samping alat itu, terdapat sebuah bunga mawar yang tidak layu, meski membeku dalam lapisan es tipis yang berkilau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!