🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis rusuh vs Bos dingin
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Ya ampun, ini kopi pahit atau dosa masa lalu sih?"
Pekikan itu meledak di tengah lantai kantor dua belas, tepat pukul delapan lewat dua menit. Beberapa kepala langsung menoleh. Keyboard berhenti berbunyi.
Yura, gadis 25 tahun itu, berdiri dengan satu tangan memegang gelas kopi, sementara tangan lainnya menunjuk kearah isinya dengan ekspresi seolah baru saja menemukan pengkhianatan tingkat tinggi.
"Aku sudah bilang dua gula. Dua. Bukan nol. Ini rasanya seperti air cucian beras," keluhnya tanpa volume turun sedikit pun.
Rani, sahabatnya, mendesah pelan. "Yur... pelankan sedikit suaramu. Itu bos masih ada diruangannya."
"Justru karena itu aku harus jujur," sahut Yura cepat. "Kalau beliau sampai meminum kopi seperti ini, bisa-bisa kita semua dipecat sebelum makan siang."
Dari balik meja, Bimo terkekeh kecil. "Hidupmu benar-benar rumit. Pagi-pagi sudah mengundang konflik."
"Ini bukan konflik," balas Yura sengit. "Ini perjuangan hak asasi manusia atas kopi layak minum."
Pintu ruangan direktur terbuka.
Langkah sepatu kulit terdengar teratur dan dingin, seperti detik jam dinding mahal. Suasana kantor seketika berubah. Udara seolah ditarik keluar dari ruangan.
Pria itu keluar.
Wajahnya datar, jas hitamnya rapi, tatapannya tajam yang seolah mampu membuat laporan keuangan mengaku salah.
Yura menoleh perlahan. "Oh. Selamat pagi Pak es batu. Eh maksud saya, Bapak yang tampan, dan penuh wibawa," celetuknya refleks.
Rani langsung menutup wajah dengan map. Bimo nyaris tersedak air minum.
Pria itu berhenti tepat di depan meja Yura. "Apa yang barusan kamu ucapkan?" suaranya rendah, tenang, namun bahaya.
Yura mengangkat dagu. "Oh... yang tentang es batu ya, Pak? Masa Bapak tidak tahu? Yang bentuknya dingin, bening, dan membuat menggigil."
"Sekarang pukul delapan lewat dua. Kamu terlambat."
Yura mendelik. "Dua menit itu belum bisa disebut terlambat, Pak. Itu masih dalam batas toleransi," jawab Yura cepat. "Lagi pula lift sempat macet, Pak. Satpam juga sedang sibuk mengobrol, dan tampaknya alam semesta sedang tidak berpihak pada saya."
"Alam semesta tidak tercantum dalam kontrak kerja."
"Sayang sekali," gumam Yura.
"Apa?"
"Tidak, Pak. Maksud saya, baik. Saya catat, Pak."
Pria itu melirik gelas kopi dimeja Yura. "Itu kopi siapa?"
"Korban," jawab Yura spontan.
"Yura..."
"Iya, Pak."
"Kamu ikut saya ke ruangan. Sekarang."
"Wah, cepat sekali, Pak. Kita baru saling mengenal tiga bulan yang lalu loh, Pak. Biasanya undangan pribadi menunggu seminggu terlebih dahulu," sahut Yura sambil berdiri.
Rani mencubit legan Yura. "Yur!"
Pria itu berbalik tanpa menanggapi. "Lima menit. Jangan membawa kopi."
"Tenang saja, Pak. Kopinya pun tidak ingin ikut," ujar Yura sambil berjalan mengikuti.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung mencekam.
Pria itu duduk di kursinya, dan menyilangkan tangan. "Duduk."
Yura duduk dan menyilangkan kaki. "Baik, Pak. Ini sesi dimarahi, dipecat, atau diminta mengundurkan diri secara halus?"
"Kamu selalu berbicara seperti ini?"
"Tidak dengan orang lain, Pak. Entah mengapa, kalau dengan Bapak, mulut saya seperti kehilangan rem."
"Kamu tidak merasa takut?"
"Takut, Pak. Sangat takut. Terutama takut tidak memiliki penghasilan."
"Kamu tahu reputasi saya di kantor ini?"
"Tahu. Dingin, kejam, perfeksionis, dan katanya mampu membuat karyawan menangis hanya dengan tatapan."
"Dan kamu?"
"Kalau saya... takut jatuh cinta, Pak. Jika kita terus saling menatap."
Ruangan hening.
Pria itu menatap Yura cukup lama. "Laporan bulan lalu. Mengapa kamu mengubah format tanpa izin?"
"Karena format lama melelahkan mata, Pak. Saya sangat peduli pada kesehatan visual."
"Itu bukan wewenang kamu."
"Tapi hasilnya lebih rapi bukan? Angkanya jelas. Ibu saya saja mengatakan itu bagus, Pak."
"Ibumu tidak bekerja di sini."
"Beliau bekerja dirumah, Pak. Namun... seleranya tinggi."
Pria itu menghela napas pelan. "Saya tidak membutuh karyawan yang ribut."
"Saya tidak ribut, Pak. Tadi hanya komentar kecil."
"Saya membutuhkan disiplin."
"Saya disiplin, Pak. Hanya saja... ekspresif."
"Masalahnya ada pada mulutmu."
"Mulut saya terlalu jujur ya, Pak?"
"Kejujuran tanpa batas adalah gangguan."
"Batasnya dimana, Pak? Di dada Bapak yang dingin itu?" Yura menunjuk pelan.
Tatapan Pria itu mengeras. "Kamu sedang menantang saya?"
"Tidak, Pak. Saya hanya bertanya dengan jujur."
"Kalau bukan hasil kerjamu selalu diatas rata-rata, kamu sudah saya keluarkan sejak lama."
"Bapak kejam sekali. Tapi setidaknya Bapak mengakui saya ini penting," Yura menyeringai.
"Jangan besar kepala."
"Sepertinya sudah terlanjur, Pak. Kepala saya memang besar sejak lahir, tapi dalam batas normal."
Pria itu berdiri. "Mulai hari ini, kamu melapor langsung kepada saya. Tidak ada komentar yang tidak perlu. Tidak ada teriakan. Tidak ada—"
"Kopi pahit."
"Terutama itu."
Yura mengangguk. "Baik, Pak. Tapi ada satu hal."
"Apa lagi?"
"Bapak sebenarnya tidak sedingin itu. Bapak hanya lelah. Mungkin perlu cuti. Berlibur seminggu, atau sebulan juga tidak apa-apa."
Ruangan kembali sunyi.
Pria itu menatap Yura, kali ini berbeda. "Keluar."
"Siap. Terima kasih karena tidak memecat saya hari ini."
Saat Yura membuka pintu, suara pria itu terdengar lagi. "Yura."
"Iya, Pak."
"Besok datang tepat waktu. Tidak ada kesempatan berikutnya."
"Kalau semesta mengizinkan, Pak. Bapak juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi," jawab Yura sambil tersenyum, lalu menutup pintu.
Di luar, Rani langsung menyergap. "Kau masih bisa bernapas?"
"Masih. Dan masih bisa mengeluh juga."
Bimo menggeleng. "Kau itu luar biasa. Bos dingin itu masih bisa menahanmu."
Yura mengangkat bahu. "Mungkin dia membutuhkan sedikit keributan agar jantungnya ingat cara berdetak."
Rani menatap Yura dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Kau sadar kan, hampir saja tadi kariermu hancur?"
"Nyaris," jawab Yura santai. "Tapi belum. Artinya aku masih boleh sedikit sombong."
Bimo mendekat, dan merendahkan suaranya. "Serius. Bos itu tidak pernah memanggil orang dua kali. Biasanya sekali panggil, besoknya kursi sudah kosong."
"Berarti aku istimewa," kata Yura sambil duduk kembali. "Atau dia sedang membutuhkan hiburan gratis."
Rani menghela napas. "Kau itu berbicara dengannya seperti berbicara dengan tembok. Bedanya, tembok itu memberimu gaji."
"Itulah tantangannya." Yura tersenyum. "Jika setiap hari hanya duduk, mengetik, lalu pulang, hidupku bisa layu."
"Layu, tapi aman," balas Rani.
Bimo terkekeh kecil. "Kau tidak melihat tatapannya tadi?"
"Jelas. Seperti mau menelanku hidup-hidup."
"Bukan itu," potong Bimo. "Ada jeda. Sedikit. Seperti... dia kebingungan."
Yura berhenti senyum. "Maksudmu?"
"Seolah dia berpikir, mengapa gadis ini tidak takut padaku," ujar Bimo menirukan nada datar bosnya.
Rani mengangguk. "Biasanya orang sudah gemetar. Kau malah berdebat."
Yura menyadarkan punggung. "Takut boleh. Tunduk tidak. Lagian, dia juga manusia."
"Manusia es," Rani menimpali.
"Es bisa mencair," sahut Yura cepat. "Asalkan suhunya tepat."
Bimo tertawa pelan. "Hati-hati. Jangan sampai kau yang terbakar."
"Tenang saja," ujar Yura sambil mulai mengetik. "Aku terbiasa hidup ditengah badai."
Rani melirik ruang direktur dari jauh. "Pokoknya, kalau besok kau dipecat, aku tidak ikut-ikutan."
Yura melirik sambil tersenyum. "Santai. Kalau aku dipecat, setidaknya aku punya cerita menarik."
"Dasar," Rani menggeleng. "Orang lain menginginkan hidup stabil, sedangkan kau menginginkan drama."
Yura mengetik, lalu bergumam, "Kalau tidak ada drama, entar hidupku sepi."
Dibalik kaca ruang direktur, pria itu berdiri diam. Tatapannya kembali ke meja kerja. Namun kali ini, bukan laporan yang memenuhi pikirannya.
Melainkan suara seorang gadis rusuh dengan mulut lepas, yang entah mengapa, belum mampu ia singkirkan dari benaknya.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺