NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjuangan Di Pasar Bukan Pasar Biasa

Matahari sudah mulai menyinari langit kota Bandung ketika Ridwan keluar dari penginapan kecil yang terletak di Gang Kelinci, dekat kawasan Cihampelas. Kamar yang dia sewa hanya berukuran kecil dengan ranjang tunggal dan meja kayu sederhana, tapi cukup nyaman dan aman untuk tinggal sementara. Biaya sewa yang murah membuatnya bisa menyimpan sebagian uang yang diberikan oleh Kakek Sembilan untuk keperluan lain yang lebih penting.

Dia membawa tas kanvas yang berisi buku-buku pengobatan milik ibunya dan beberapa ramuan obat tradisional yang telah dia buat sendiri dengan resep dari buku tersebut. Setelah bertemu dengan Pak Joko dan mengetahui bahwa pertemuan dengan keluarga Wijaya akan dilakukan besok pagi, dia memutuskan untuk mencoba menjual ramuan obat tersebut di Pasar Cihampelas—selain untuk mendapatkan uang tambahan, dia juga ingin menguji apakah ilmu pengobatan yang dia pelajari dari Kakek Sembilan dan dari buku-buku ibunya benar-benar efektif.

Pasar Cihampelas sudah ramai dengan aktivitas sejak pagi hari. Suara teriakan pedagang, tawar-menawar dengan pembeli, dan aroma berbagai macam makanan serta barang dagangan memenuhi udara. Ridwan mencari tempat yang kosong di lorong tengah pasar, kemudian menyebarkan kain putih di atas tanah untuk meletakkan ramuan obat yang telah dia bawa—ramuan untuk mengobati sakit kepala, maag, radang sendi, dan beberapa jenis luka ringan.

Dia mengenakan baju lengan panjang berwarna coklat tua dengan celana panjang yang sama warnanya, dengan cincin warisan keluarga disembunyikan di bawah lengan bajunya. Dia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu, terutama karena dia tahu bahwa Ratna dan Budi mungkin telah menyebarkan orang untuk mencari dia jika mereka mengetahui bahwa dia masih hidup.

Setelah beberapa menit berdiri diam dengan ramuan obatnya yang terlihat menarik namun belum ada yang mengganggunya, seorang wanita berusia sekitar lima puluhan tahun dengan wajah yang penuh dengan rasa sakit mendekatinya. “Pak, apakah ramuan ini bisa mengobati sakit pinggang yang sudah lama aku derita?” tanya wanita tersebut dengan suara yang lemah dan penuh dengan harapan.

Ridwan segera berdiri dengan sopan, melihat kondisi wanita tersebut dengan cermat. “Ibu sudah merasakan sakit pinggang ini sejak kapan ya?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan perhatian, menggunakan ilmu yang dia pelajari dari Kakek Sembilan untuk menilai kondisi pasiennya.

“Sudah lebih dari setahun, mas,” jawab wanita tersebut dengan mengerutkan dahi karena rasa sakit yang muncul lagi. “Aku sudah ke dokter dan minum obat-obatan, tapi hanya bisa meredakan rasa sakit sementara saja.”

Ridwan mengambil satu wadah kecil berisi ramuan bubuk berwarna coklat tua dari atas kain putihnya. “Ini ramuan dari akar kunyit, jahe merah, dan beberapa tanaman obat lain yang aku kumpulkan dari hutan,” katanya dengan suara yang jelas dan penuh dengan keyakinan. “Cara penggunaannya sangat mudah—campurkan satu sendok makan ramuan ini dengan air hangat dan minum setiap pagi dan malam sebelum makan. Insya Allah dalam waktu seminggu, Ibu akan merasakan perubahan yang signifikan.”

Wanita tersebut melihat ramuan tersebut dengan ragu-ragu, kemudian melihat ke arah wajah Ridwan yang tampak jujur dan penuh dengan perhatian. “Berapa harganya, mas?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran tentang biayanya.

“Cukup dengan sepuluh ribu rupiah saja, Ibu,” jawab Ridwan dengan senyum ramah. “Jika tidak efektif setelah seminggu, Ibu bisa datang kembali ke sini dan aku akan mengembalikan uangnya atau memberikan ramuan lain yang lebih cocok untuk kondisi Ibu.”

Wanita tersebut segera mengambil uang dari dompetnya dan membayarnya. Dia menerima ramuan tersebut dengan hati-hati, menyimpannya dengan aman di dalam tasnya sebelum mengucapkan terima kasih dan pergi dengan langkah yang lebih ringan dari sebelumnya.

Setelah itu, semakin banyak pembeli yang datang ke tempat Ridwan. Ada seorang pria muda yang menderita sakit kepala akibat terlalu banyak bekerja, seorang ibu dengan anak kecil yang menderita demam, bahkan seorang pedagang buah yang memiliki luka di tangan yang sulit sembuh. Ridwan melayani setiap pembeli dengan penuh perhatian, menjelaskan cara penggunaan ramuan dengan jelas dan memberikan nasihat tentang pola makan serta gaya hidup yang sehat sesuai dengan ilmu yang dia pelajari.

Dalam waktu kurang dari dua jam, semua ramuan obat yang dia bawa sudah terjual habis. Uang yang dia hasilkan tidak banyak, tapi cukup untuk membayar biaya makan dan kebutuhan hariannya selama beberapa hari ke depan. Lebih dari itu, dia merasa sangat senang karena bisa membantu orang lain yang membutuhkan dengan ilmu yang dia miliki—ilmu yang merupakan warisan dari ibunya dan neneknya.

“Sangat bagus, mas,” suara seorang pria berusia sekitar empat puluhan tahun terdengar dari belakangnya. Ridwan segera menoleh dan melihat seorang pria mengenakan baju kerja dengan topi karet berwarna oranye berdiri di belakangnya dengan senyum ramah. “Aku melihat bagaimana kamu melayani pembeli dengan baik dan memberikan penjelasan yang jelas tentang ramuan obatmu. Kamu pasti belajar dari orang yang benar-benar ahli dalam pengobatan tradisional ya?”

Ridwan merasa sedikit terkejut dengan pujian tersebut, kemudian tersenyum kembali. “Terima kasih banyak, Pak,” jawabnya dengan rasa hormat. “Ilmu ini aku pelajari dari seorang kakek yang tinggal di hutan dan dari buku-buku pengobatan tradisional milik ibuku yang sudah meninggal.”

Pria tersebut mengangguk perlahan, kemudian mengambil sebuah kartu nama dari saku bajunya dan memberikannya kepada Ridwan. “Aku adalah kepala bagian pengelolaan Pasar Cihampelas, nama aku Pak Slamet,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kami sangat membutuhkan orang seperti kamu di pasar ini—orang yang bisa memberikan obat tradisional yang efektif dan terjangkau bagi masyarakat yang tidak mampu untuk pergi ke dokter atau membeli obat mahal di apotek.”

Dia kemudian menunjukkan sebuah lokasi kosong di sudut pasar yang lebih luas dan teduh. “Kamu bisa menyewa tempat tersebut secara permanen jika kamu mau, mas,” lanjutnya dengan senyum ramah. “Biaya sewaannya sangat murah, dan kamu bisa berjualan setiap hari kecuali hari Minggu. Selain itu, kami akan memberikan izin resmi untuk berjualan obat tradisional agar kamu tidak diganggu oleh pihak berwenang.”

Ridwan merasa hati-nya penuh dengan kegembiraan mendengar tawaran tersebut. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuknya—not hanya untuk mendapatkan penghasilan yang stabil tetapi juga untuk menyebarkan ilmu pengobatan tradisional milik ibunya dan membantu lebih banyak orang yang membutuhkan.

“Terima kasih banyak untuk tawarannya, Pak Slamet,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Aku sangat bersedia untuk menyewa tempat tersebut. Aku akan datang kembali besok setelah mengurus beberapa hal penting dan akan mulai berjualan secara permanen dari hari setelahnya.”

Pak Slamet mengangguk dengan puas, kemudian memberikan informasi tentang cara mengurus administrasi sewa tempat dan izin usaha kepada Ridwan. Setelah itu, dia pergi dengan menyapa beberapa pedagang lain di pasar tersebut.

Ridwan segera membersihkan kain putihnya dan memasukkannya ke dalam tas kanvasnya. Dia merasa sangat bersyukur atas semua yang telah dia dapatkan sejak tiba di Bandung—pertemuan dengan Pak Joko, tawaran tempat berjualan yang baik, dan kesempatan untuk membantu orang lain dengan ilmu yang dia miliki. Dia tahu bahwa besok akan menjadi hari yang sangat penting baginya—hari di mana dia akan bertemu dengan keluarga Wijaya dan mulai mengambil langkah-langkah untuk mendapatkan keadilan bagi ibunya.

Sebelum kembali ke penginapan, Ridwan berjalan ke arah sebuah toko buku kecil yang terletak di dekat pasar untuk membeli beberapa bahan tulis dan kertas bergaris. Dia ingin mencatat semua pengalaman yang dia dapatkan hari ini dan merencanakan langkah-langkah yang akan dia tempuh ke depan—baik untuk usaha pengobatan tradisionalnya maupun untuk perjuangan untuk mendapatkan keadilan bagi ibunya.

Di jalan kembali ke penginapan, dia melihat iklan PT. Dewi Santoso yang terpasang di dinding sebuah gedung besar. Kali ini, dia tidak merasa marah atau sedih—sebaliknya, dia merasa penuh dengan tekad untuk mengambil kembali perusahaan tersebut dan mengembangkannya sesuai dengan visi ibunya. Dia akan menggunakan ilmu pengobatan tradisional yang dia miliki untuk membuat perusahaan tersebut kembali menjadi yang terbaik dan memberikan manfaat bagi banyak orang, seperti yang diinginkan oleh ibunya.

Malam mulai menjelma di atas kota Bandung, membawa kegelapan yang lembut dan hawa yang sejuk. Ridwan masuk ke dalam kamarnya yang kecil namun nyaman, meletakkan tas kanvasnya di atas meja kayu. Dia mengambil buku pengobatan milik ibunya dan membukanya dengan hati-hati, melihat tulisan tangan ibunya yang rapi dan indah di antara halaman-halaman buku tersebut. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya bahwa dia akan terus menyebarkan ilmu pengobatan tradisional yang dia warisi dan akan memastikan bahwa nama ibunya akan selalu dikenang sebagai orang yang benar-benar peduli dengan kesejahteraan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!