NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Andrew baru saja hendak menyalakan kembali mesin mobilnya dan menginjak pedal gas ketika sebuah ketukan ringan di kaca jendela menghentikan gerakannya. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi refleks yang tak bisa ia kendalikan.

​Di sana, di balik kaca yang perlahan ia turunkan, Alana berdiri dengan senyum tipis yang tampak lelah namun tulus. Rambutnya sedikit berantakan karena angin sore, dan ia masih mengenakan apron denim yang penuh noda cat.

​"Aku nggak salah lihat, kan? Ternyata benar ini mobil kamu," sapa Alana lembut.

​Andrew terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan kembali wibawanya yang sempat buyar. "Alana. Kebetulan saya lewat daerah sini."

​"Kebetulan yang cukup sering, ya?" goda Alana pelan, meski matanya menunjukkan bahwa ia tahu Andrew sedang berbohong. "Kenapa nggak mampir? Aku baru saja mau menyeduh kopi. Bukannya kamu janji akan menagih kopi itu kembali."

​Andrew menatap wajah Alana. Ada gurat kesepian yang tersembunyi di balik senyum itu, sisa dari pembicaraannya dengan Ares soal hubungan rahasia mereka. Logika Andrew berteriak untuk pergi, tapi sorot mata Alana menahannya di sana.

​"Ares nggak ada di sini," lanjut Alana, seolah bisa membaca pikiran Andrew. "Dia sedang ada jadwal reading untuk film barunya. Jadi... aku benar-benar sendirian."

​Andrew mematikan mesin mobilnya kembali. Sunyi mendadak menyergap. "Oke, tapi saya hanya bisa sebentar, Alana. Saya ada janji makan malam satu jam lagi."

​"Satu jam sudah lebih dari cukup untuk secangkir kopi," balas Alana sambil melangkah mundur, memberi ruang bagi Andrew untuk keluar dari mobil.

​Mereka berjalan masuk ke dalam galeri yang mulai temaram karena cahaya matahari yang mulai tenggelam. Aroma kayu dan cat minyak menyambut mereka. Alana langsung menuju dapur kecilnya, sementara Andrew berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh emosi-emosi yang tertuang di atas kanvas.

​"Ares cerita soal keputusan manajemennya?" tanya Andrew tanpa basa-basi, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu.

​Gerakan tangan Alana yang sedang mengambil cangkir terhenti sejenak. "Iya. Dia cerita."

​"Dan kamu benar-benar setuju hubungan kalian di rahasiakan dari publik?" Andrew berbalik, menatap punggung Alana. "Kamu tahu itu nggak akan mudah, kan?"

​Alana berbalik, menyandarkan tubuhnya di konter dapur sambil memegang cangkir kosong. "Hidup memang nggak pernah mudah, Andrew. Kamu lebih tahu itu daripada aku. Kalau ini cara untuk menjaga mimpi Ares, aku nggak keberatan jadi bagian dari rahasia itu."

​"Tapi siapa yang bakal menjaga kamu, Alana?" tanya Andrew dengan nada yang lebih dalam, melangkah satu tindak mendekat. "Siapa yang bakal ada di samping kamu saat semua orang menganggap Ares itu jomblo dan memujanya, sementara kamu cuma bisa melihat dia dari jauh?"

​Alana terdiam. Pertanyaan Andrew menghantam bagian paling rapuh di hatinya. Sebelum ia sempat menjawab, Andrew sudah berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Alana tertahan.

​"Jangan terus-terusan mengalah demi orang lain," bisik Andrew. "Karena kadang, orang yang kamu bela nggak sadar seberapa besar luka yang kamu simpan sendiri."

​Detik itu, galeri yang sunyi terasa begitu menyesakkan. Alana bisa merasakan kehangatan dari tubuh Andrew, dan untuk pertama kalinya, ia merasa dipahami oleh seseorang tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Andrew terdiam, menyadari bahwa kata-katanya mungkin terlalu tajam, namun ia tidak bisa menariknya kembali. Alana hanya menunduk, jemarinya mempermainkan pinggiran cangkir keramik yang kini mulai hangat berisi kopi hitam.

​"Duduklah, Andrew," bisik Alana.

​Mereka duduk di sebuah sofa tua di sudut galeri, satu-satunya tempat yang tidak terkena noda cat. Di luar, hujan mulai turun tipis, membungkus galeri itu dalam suasana kedap suara yang intim. Hanya ada uap kopi dan detak jam dinding.

​"Ares selalu bilang kamu adalah orang paling logis yang dia kenal," Alana memulai percakapan, matanya menatap cairan hitam di cangkirnya. "Tapi sore ini, kamu nggak kelihatan logis sama sekali. Kamu kelihatan... khawatir."

​Andrew menyesap kopinya. Rasanya pahit, kuat, dan jujur persis seperti yang ia bayangkan. "Logika saya sedang cuti sore ini, Alana. Dan ya, saya khawatir. Saya tahu dunia yang ditinggali Ares. Itu dunia yang penuh kepalsuan. Saya takut kamu tersesat di sana."

​Alana tersenyum sedih. "Mungkin aku sudah tersesat sejak awal."

​Mereka mulai mengobrol tentang banyak hal. Ternyata, Alana menyukai musik klasik yang sering didengar Andrew saat sedang stres. Mereka mendiskusikan satu lukisan abstrak di sudut ruangan yang ternyata adalah visualisasi dari rasa kesepian Alana. Untuk pertama kalinya, Andrew merasa tidak perlu menjadi "CEO Wijaksana Group". Ia hanya seorang pria yang merasa nyaman berbicara dengan seorang wanita.

​"Kamu tahu," suara Alana memelan, "ini pertama kalinya dalam dua bulan aku merasa benar-benar didengar. Ares... dia banyak bicara tentang mimpinya, dan aku senang mendengarnya. Tapi kamu... kamu justru bertanya banyak hal tentang aku."

​Andrew meletakkan cangkirnya di meja. Jarak di antara mereka menyempit saat ia mencondongkan tubuh. "Itu karena bagi saya, kamu jauh lebih menarik daripada mimpi apa pun yang sedang dikejar Ares."

​Suasana di galeri itu mendadak berubah. Oksigen seolah menghilang. Andrew menatap mata Alana, mencari tanda untuk berhenti, namun ia hanya menemukan keraguan yang bercampur dengan kerinduan yang sama.

​Andrew mengulurkan tangannya, kali ini tidak ragu. Ia menyelipkan jemarinya di belakang tengkuk Alana, menariknya perlahan agar lebih dekat. Alana tidak menolak. Ia justru memejamkan mata, membiarkan dirinya jatuh ke dalam gravitasi pria yang seharusnya tidak ia sentuh.

​Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Andrew bisa merasakan napas Alana yang hangat di bibirnya. Ia bisa mencium aroma kopi dan samar-samar wangi cat minyak yang menempel di kulit wanita itu. Dunia di luar sana, Ares, perusahaan, tanggung jawab keluarga, semuanya memudar, menyisakan ruang sempit yang dipenuhi keinginan yang terlarang.

​Bibir Andrew nyaris menyentuh bibir Alana. Satu detik lagi, maka tidak akan ada jalan kembali.

​Namun, tepat di saat genting itu, bayangan wajah Ares yang tertawa bangga saat mengenalkan Alana di meja makan mendadak melintas di benak Andrew. Sebuah kilatan rasa bersalah yang menghantam sekeras tamparan.

​Andrew berhenti. Napasnya memburu. Ia bisa merasakan jantung Alana berdegup kencang di balik dadanya yang bersentuhan dengan dada wanita itu.

​Dengan kekuatan yang luar biasa besar, Andrew melepaskan tangannya dan mundur. Ia berdiri dengan terengah-engah, membelakangi Alana agar wanita itu tidak melihat matanya yang penuh kehancuran.

​"Maaf," suara Andrew parau, hampir pecah. "Saya harus pergi."

​"Andrew..." suara Alana terdengar seperti bisikan yang terluka.

​"Jangan katakan apa-apa, Alana," potong Andrew tanpa menoleh. "Jangan pernah biarkan saya melakukan itu lagi. Demi Ares... demi kita semua."

​Andrew menyambar kunci mobilnya dan keluar dari galeri itu secepat mungkin, meninggalkan Alana yang masih terduduk lemas di sofa dengan napas yang belum teratur. Di bawah hujan Jakarta yang mulai deras, Andrew sadar bahwa benteng pertahanannya bukan lagi retak, benteng itu sudah runtuh, dan ia sedang berdiri di atas puing-puing pengkhianatannya sendiri.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!