Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 023 : Unit 731 [Eksperimen Manusia]
..."Ada neraka yang diciptakan Tuhan untuk menghukum pendosa, namun ada pula neraka yang diciptakan manusia untuk menghancurkan sesamanya. Beton dan tanah bisa mengubur jasad, namun mereka takkan pernah bisa membungkam jeritan penderitaan yang lahir dari kebencian murni."...
...________...
Roma, Italia – Area Taman Rumah Sakit.
Malam itu, udara Roma terasa menusuk tulang. Adio dengan telaten mendorong kursi roda elektrik yang kini menjadi penyangga hidup Rachel.
Ia membawa Rachel keluar ke taman belakang, berharap udara segar bisa sedikit mengikis aroma antiseptik yang menyesakkan dada.
Adio tidak banyak bicara; ia hanya berdiri di belakang Rachel, memberikan keheningan yang menenangkan di bawah temaram lampu taman yang mulai berkedip.
Bagi Rachel, suasana di depannya mendadak menjadi penuh sesak. Udara yang dingin kini terasa membeku.
Kelima sahabat ghaibnya muncul secara bersamaan: Barend, Albert, Anako, Melissa, dan Gelanda. Mereka berdiri berjejer dengan tatapan penuh rasa bersalah yang sangat kentara.
"Kalian ngapain di situ? Berjejer kayak antrean bansos," celetuk Rachel tiba-tiba, suaranya sedikit parau namun tetap tajam.
"Rachel..." Barend bersuara parau, sosok hantu anak kecil itu menunduk dalam.
"Maafkan kami. Kami tidak berguna. Kami membiarkan tubuhmu hancur."
"Lihat kakimu..." Melissa terisak.
"Harusnya kami yang menanggung itu, bukan kamu."
Rachel menaikkan sebelah alisnya, menatap mereka dengan ejekan pedas khas seorang Gautama.
"Duh, dramatis banget! Kalian itu emang nggak berguna dari dulu, kan aku baru tahu sekarang? Lagian enak tahu jadi aku sekarang. Ke mana-mana didorong Adio, pake kursi roda elektrik mahal. Aku nggak perlu capek lari kalau dikejar hantu lokal sini. Kalian aja yang lari, aku tinggal nonton sambil makan kuaci. Mau tukeran?"
Melihat kelima hantu itu mulai menunjukkan wajah jengkel dan berhenti meratap, senyum Rachel perlahan memudar.
Ia menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang penuh wibawa.
"Dengar. Aku sekarang bukan apa-apa tanpa kalian. Nyai Ratu sudah memberiku kekuatan hebat sebagai gantinya, tapi aku butuh kalian untuk menjadi 'mataku'. Berhenti minta maaf. Mulai sekarang, kalian adalah sayap dan kakiku. Paham?"
Barend mengusap matanya dan mengangguk mantap.
"Paham, Bos!"
Tepat saat itu, dari arah lobby yang remang-remang, dua orang wanita berwajah Jepang berjalan terburu-buru dengan raut wajah sangat kalut.
Mereka adalah Akeo dan Kanao. Langkah mereka serampangan. Saat mencoba melewati jalan setapak yang sempit tempat kursi roda Rachel berada, pundak Akeo tak sengaja menyenggol bahu Rachel. Tangan mereka bersentuhan sesaat.
Deg.
Seketika, kesadaran Rachel terlempar. Ia ditarik masuk ke dalam sebuah gambaran yang sangat mengerikan dan gila.
Rachel melihat sebuah basemen bawah tanah yang gelap. Di tengah ruangan itu, seorang pemuda bernama Takeo—adik dari kedua wanita itu—sedang terikat kuat dengan rantai besi. Takeo bukan lagi manusia; kulitnya melepuh kebiruan dan matanya melotot putih.
Ribuan bayangan hitam mayat tanpa organ sedang mengerumuninya, mencabik-cabik raga ghaib pemuda itu setiap detik.
Saat kedua wanita itu baru melangkah melewati posisinya, Rachel berbisik cukup keras.
"Takeo."
Seketika, Akeo dan Kanao membeku. Adio yang paham segera memutar posisi kursi roda Rachel hingga kini menghadap penuh ke arah kedua wanita itu. Anako muncul begitu saja di samping Rachel, menatap tajam kedua wanita itu.
"How... how do you know that name?"
(Bagaimana... bagaimana kau tahu nama itu?) tanya Kanao dalam bahasa Inggris yang bergetar hebat.
Rachel menatap mereka dengan seulas senyuman. Dia merubahnya menjadi sebuah seringai kemudian.
"Ya, jika kalian hanya mengurungnya. Dia pasti akan mati cepat! Itu bukan sakit medis. Ribuan arwah di gerbang sebelah sedang membunuhnya pelan-pelan. Bawa aku ke sana. Aku akan melihat lalu menolongnya!" tutur Rachel pada mereka.
Terdesak oleh rasa takut, Akeo dan Kanao membawa Rachel dan Adio ke kediaman mereka. Sebuah Villa Tua di Pinggiran Roma.
Di dasar basemen yang dingin, kondisi Takeo jauh lebih buruk. Pemuda itu dipasung di atas dipan besi, meronta dengan geraman yang mengerikan. Adio mengernyit, bau anyir yang keluar dari tubuh pemuda itu lebih busuk dari bangkai apa pun yang pernah ia temui.
Akeo dan Kanao tampak bingung, mereka menangis tanpa tahu apa yang sebenarnya menimpa adik mereka. Rachel menghela napas panjang, matanya menatap udara kosong yang dipenuhi arwah hancur sebelum beralih pada kedua wanita itu.
"Kalian menangis karena tidak tahu apa-apa, tapi sejarah tidak peduli pada ketidaktahuan kalian," ucap Rachel dingin.
"Kalian bertanya bagaimana aku tahu? Arwah-arwah di sekitar adikmu yang menceritakannya padaku. Mereka menunjukkan sebuah tempat di masa lalu... sebuah tempat terkutuk di Distrik Pingfang, Harbin. Tempat itu bernama Unit 731."
Kanao mengerutkan kening, wajahnya pucat pasi.
"Unit 731? What is that?" (Unit 731? Apa itu?)
Rachel menatap mereka dengan tatapan menusuk, suaranya memberat seiring dengan kemunculan Anako yang mulai mengeluarkan aura perlindungan.
"Apakah leluhurmu dahulu seorang tentara?"
"Yes... our great-grandfather was a high-ranking officer..."
(Ya... kakek buyut kami adalah perwira tinggi...) jawab Akeo pelan.
"Leluhurmu bukan sekadar tentara," Rachel menjabarkan dengan nada datar namun mencekam.
"Dia adalah salah seorang pemimpin di Unit 731, sebuah laboratorium neraka di mana manusia diperlakukan lebih rendah dari binatang. Mereka menyebut para korban itu dengan sebutan 'Maruta'. Kalian tahu artinya? Itu berarti Kayu Gelondongan. Bagi mereka, manusia-manusia malang itu bukan lagi manusia, melainkan benda mati yang siap dihabiskan untuk eksperimen."
Rachel menunjuk ke arah Takeo yang sedang meronta.
"Aku melihatnya melalui mata para arwah ini... kakek buyutmu memerintahkan pembedahan manusia hidup-hidup tanpa obat bius. Aku melihat seorang ibu dari Rusia yang dibekukan hidup-hidup bersama anaknya hanya untuk melihat berapa lama jaringan kulit mereka membusuk. Ada petani Tiongkok yang paru-parunya diledakkan di dalam ruang vakum, dan tawanan perang Sekutu yang disuntikkan darah kuda ke pembuluh darah mereka hanya untuk kesenangan medis yang gila! Mereka semua disiksa tanpa anestesi. Menyiksa para korban dengan rasa sakit yang luar biasa. Gila, arghhh.."
Rachel rasanya tak sanggup melihat lebih jauh. Tetapi, apa yang diberitahu oleh para arwah itu harus diceritakan. Agar mereka cukup lega ada menyuarakan suara mereka meskipun bertahun-tahun mereka mati.
Akeo dan Kanao tersungkur ke lantai, menutup telinga mereka seolah tak sanggup mendengar dosa leluhur mereka.
"Lebih dari tiga ribu nyawa dihabiskan di dalam laboratorium itu, dan ratusan ribu lainnya mati membusuk di luar sana karena senjata biologis yang diciptakan leluhurmu!" Rachel melanjutkan dengan amarah yang tertahan.
"Darah yang mengalir di tubuh kalian adalah darah sang penyiksa. Dan di alam sebelah, hutang harus dibayar. Satu orang lelaki di setiap garis keturunan kalian selalu mati gila atau tragis. Itu adalah penebusan dosa! Takeo tidak sakit secara medis, dia sedang menanggung beban gila di tubuhnya karena para korban itu ingin dia merasakan setiap detik penderitaan yang dulu diberikan leluhurmu!"
Takeo menjerit kencang, sebuah jeritan kolektif yang membuat seluruh ruangan bergetar. Rachel tahu, dendam ribuan nyawa dari Tiongkok, Rusia, dan Korea ini terlalu pekat untuk sekadar kata-kata.
"Cukup!" bentak Rachel.
Aura hijau keemasan meledak dari tubuhnya.
"Atas titah yang aku pegang, aku berdiri di sini sebagai penengah!"
Seketika, suasana di dimensi ghaib berubah total. Dari balik bayangan Rachel, muncul para Maung—Senopati berwujud macan raksasa dengan mata menyala—dan Senopati Cakar yang membawa aura tempur luar biasa.
Geraman para Maung membuat ribuan roh korban Unit 731 tersentak mundur ketakutan. Mereka berhadapan dengan kekuatan purba Jawadwipa yang sangat dominan.
Rachel bicara dalam batinnya, membela Takeo bahwa pemuda ini bukan orang yang memegang pisau bedah di masa lalu.
Perlahan, cengkeraman arwah itu terlepas. Mereka menunduk di hadapan para Senopati Rachel dan memudar menjadi kabut kelabu yang damai.
Takeo berhenti meronta dan jatuh pingsan dalam tidur yang tenang. Rachel segera menyentuh lantai, mengunci ruangan itu dengan ajian perlindungan.
"Aku sudah menjamin mereka bertiga dengan ajian ini," ucap Rachel pada Akeo dan Kanao.
"Setelah ini, tidak akan ada lagi yang terjadi. Kutukan darah itu sudah aku kunci. Namun, jika sesuatu kembali terjadi di kemudian hari, cari aku. Aku pasti akan membantu kalian."
Kanao dan Akeo jatuh berlutut penuh syukur, menyadari bahwa wanita di kursi roda ini baru saja memutus rantai neraka yang telah mengikat keluarga mereka selama puluhan tahun. Adio kemudian memutar kursi roda Rachel untuk pergi. Tugas di Roma telah usai, dan Rachel siap membawa "mata" barunya kembali ke tanah air.
_____
Pernahkah kalian mendengar perihal Unit 731?
Sebuah unit pada masa perang dunia yang dimiliki oleh Jepang. Mereka bereksperimen dengan manusia.
Harbin, Tiongkok – Catatan Kelam Masa Lalu.
Sejarah mencatat kegilaan medis yang melampaui batas nalar di sebuah tempat bernama Pingfang.
Di bawah tanah yang dingin, terdapat sisa-isa basemen dan terowongan sempit tempat ribuan nyawa dihabiskan dalam horor yang tak terlukiskan.
Bangunan itu menjadi saksi bisu pembedahan yang dilakukan saat jantung masih berdenyut.
Meskipun tentara Jepang meledakkan kompleks ini pada 1945 untuk menghilangkan bukti, fondasi bawah tanahnya terlalu kokoh untuk lenyap sepenuhnya.
Bau anyir dan hawa kematian seolah terserap ke dalam pori-pori beton, meninggalkan energi sisa yang pekat bagi siapa pun yang memiliki kepekaan batin melampaui batas manusia biasa.
Sekarang, kalian tahu, kan? Kenapa Cina sangat membenci Jepang? Salah satu faktornya adalah ini. Kekejaman Jepang pada Cina dulu sangat gila.
Dan, ya! Jika kalian berminat melihat filmnya. Aku saranin ketik aja di YouTube "UNIT 731".