"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Harga Sebuah Nyawa
Senjata api yang digenggam oleh Arga Dirgantara terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan kulit tangan Maya Anindya. Logamnya seolah menyebarkan dingin ke seluruh tubuh gadis itu, membuat dia merinding. Gadis itu tersentak kaget ketika tubuhnya ditarik paksa untuk bersembunyi di balik meja jati yang sangat tebal serta kokoh — satu-satunya perlindungan di ruangan itu. Suara ledakan kecil dari arah luar jendela kantor membuat kaca-kaca di ruangan itu bergetar hebat seolah akan hancur berkeping-keping, serpihan kaca kecil mulai terjatuh ke lantai.
"Tetap menunduk dan jangan pernah berani mengeluarkan suara sedikit pun," bisik Arga Dirgantara dengan tatapan mata yang sangat tajam serta mematikan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti perintah yang harus dituruti tanpa tanya-tanya, membuat Maya segera menundukkan kepala dengan rapat.
Maya Anindya meremas ujung seragam sekolahnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena rasa takut yang luar biasa. Darahnya berjalan cepat, membuat dia merasa pusing dan sulit bernapas. Dia melihat wajah suaminya yang sangat tenang namun penuh dengan perhitungan matang saat memeriksa magasin peluru logam tersebut — jumlah peluru yang tersisa terlihat jelas di matanya. Keheningan yang menyiksa kini menyelimuti ruangan kerja yang sebelumnya terasa sangat membosankan bagi seorang siswi remaja, menggantinya dengan ketegangan yang bisa dirasakan di udara.
"Siapa mereka dan mengapa mereka ingin membunuh saya, Tuan Arga?" tanya Maya Anindya dengan bibir yang gemetar hebat serta pucat pasi. Suaranya hanya bisikan, takut akan terdengar oleh penembak yang ada di luar. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa dia menjadi sasaran orang yang tidak dikenalnya.
Arga Dirgantara tidak segera menjawab melainkan hanya mengintip dari celah meja untuk memastikan posisi para penembak gelap yang berada di luar sana. Dia melihat bayangan mereka bergerak cepat di seberang taman markas, membawa senjata yang sama besar. Dia segera menarik pelatuk senjata dengan gerakan yang sangat cepat serta terlatih hingga menimbulkan suara denting logam yang sangat nyaring, membuat Maya menutup telinganya dengan cepat. Pria itu menoleh perlahan dan menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh dengan tanggung jawab serta wibawa tinggi.
"Mereka adalah sisa-sisa musuh lama ayahmu yang ingin merampas rahasia negara dari tanganmu," jawab Arga Dirgantara dengan rahang yang terlihat sangat mengeras, tulang rahangnya menonjol karena ketegangan. Dia tidak mau memberitahu lebih banyak, takut akan membuat Maya semakin khawatir.
Pernyataan itu membuat Maya Anindya menyadari bahwa kontrak pernikahan ini bukanlah sekadar permainan kata-kata di atas kertas putih. Ini adalah urusan nyawa yang sungguhan. Nyawanya kini menjadi incaran banyak orang yang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali terhadap gadis polos sepertinya. Dia merasa sangat tidak berdaya saat menyadari bahwa kebebasannya telah ditukar dengan keselamatan diri di bawah perlindungan seorang prajurit yang dia tidak kenal.
"Apakah nyawa saya benar-benar sebanding dengan risiko besar yang Anda ambil saat ini?" tanya Maya Anindya dengan nada suara yang nyaris hilang ditelan ketakutan. Dia melihat Arga dengan mata yang penuh kebingungan, tidak mengerti mengapa pria itu bersedia mengorbankan dirinya untuknya.
Arga Dirgantara justru memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan untuk menunjukkan sebuah dominasi yang sangat kuat serta kaku. Udara di antara mereka menjadi padat, membuat Maya sulit bernapas. Dia mencengkeram bahu istrinya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap siaga memegang gagang senjata api yang sangat hitam legam. Kilatan amarah serta tekad baja terlihat jelas di dalam manik mata perwira yang memiliki banyak rahasia kelam di masa lalunya itu.
"Harga nyawamu adalah kehormatanku sebagai seorang prajurit, jadi jangan pernah meragukan perintahku mulai saat ini," tegas Arga Dirgantara sambil bersiap melakukan sebuah serangan balasan yang sangat mematikan. Dia mengintip lagi dari celah meja, menemukan posisi yang tepat untuk menyerang waktunya telah tiba untuk bertindak.