NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tidak ada yang terjadi.

Keheningan yang tadinya penuh penantian kini berubah menjadi berat dan menyesakkan. Desir angin yang bertiup terasa dingin, gagal mengusir hawa canggung yang menyelimuti alun-alun. Batu Penguji Roh di bawah telapak tangan Jihan tetap diam dan dingin, tak memancarkan seberkas cahaya pun. Redup. Mati.

Jihan membuka matanya. Harapan yang tadinya membumbung tinggi kini hancur berkeping-keping. Rasa dingin yang menusuk mulai menjalari hatinya.

“Berikutnya!”

Suara Penatua Wira terdengar sedingin es, datar dan tanpa ampun, memecah keheningan yang menyiksa itu. Perintahnya bagaikan palu godam bagi Jihan. Di antara kerumunan, bisik-bisik mulai terdengar. Beberapa penduduk desa menggelengkan kepala dengan tatapan iba. Dari sisi panggung, Jihan bisa melihat seringai kemenangan yang terukir di wajah Gading.

“Tidak…”

Ekspresi tak percaya terpahat di wajahnya. Tangannya terkepal erat.

‘Ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah!’

“Tunggu, Tuan Penatua!”

Suara Jihan terdengar putus asa, menolak untuk menerima vonis takdir itu.

“Mungkin… mungkin ada kesalahan. Tolong, izinkan saya mencoba sekali lagi!”

Penatua Wira menghela napas, sedikit rasa jengkel terlihat di wajahnya yang tenang. Dengan satu helaan napas tak sabar, ia melambaikan tangannya, dan batu kristal itu kembali melayang di depan Jihan.

Kali ini, Jihan menekan telapak tangannya dengan segenap sisa kekuatannya, mencurahkan setiap harapan dan tekad ke dalam batu itu. Ia memohon dalam hati, memanggil kekuatan apa pun yang mungkin bersembunyi di dalam dirinya.

Hasilnya tetap sama. Hening yang absolut.

Penatua Wira tidak lagi menatap batu itu. Sekali lagi, ia menatap langsung ke mata Jihan. Tatapannya yang tajam dan tanpa emosi seolah membedah Jihan, melihat setiap jengkal tubuh dan jiwanya. Setelah hening yang terasa menusuk, ia berbicara dengan nada final yang dingin.

“Tidak ada gunanya mencoba lagi. Masalahnya bukan karena kau tidak berbakat.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan setiap kata menancap seperti pisau.

“Masalahnya adalah… Akar Spiritualmu rusak, meridian di tubuhmu tersumbat, dan fondasimu telah hancur.”

“Kau,”

“Tidak akan pernah bisa berkultivasi. Seumur hidupmu.”

Perkataan itu menghantam Jihan seperti sambaran petir di siang bolong. Langit di atas kepalanya seolah runtuh. Suara dengungan tajam memenuhi telinganya, meredam tawa keji yang meledak dari arah Gading dan teman-temannya.

“SUDAH KUDUGA SAMPAH TETAPLAH SAMPAH!”

Tawanya yang menghina diikuti oleh ejekan dari Rama.

“HAHAHA BERMIMPI MENJADI PENDEKAR? DIA BAHKAN TIDAK BISA MENYERAP ENERGI ALAM!”

Cemoohan dan tatapan tajam kini menghujaninya dari segala arah. Warga yang tadi pagi menatapnya dengan rasa ingin tahu, kini memandangnya dengan jijik, seolah ia adalah kotoran di jalan. Ada yang menggelengkan kepala dengan kecewa, ada yang meludah ke tanah dengan terang-terangan. Alun-alun yang tadinya menjadi panggung harapan kini telah berubah menjadi arena terbuka untuk mempermalukannya. Dunia Jihan terasa hancur, pecah menjadi serpihan tajam yang menusuk ke dalam dadanya.

Di tengah hiruk-pikuk penghakiman itu, Gading melihat kesempatannya. Ucapan Penatua Wira barusan memang mengejutkan, aplagi setelah Jihan menunjukan kekuatannya kemarin, tetapi kilatan puas yang keji dengan cepat muncul di matanya. Ia tahu ini adalah momen langka, sebuah kesempatan emas untuk menghancurkan Jihan sepenuhnya.

“Semuanya, dengar baik-baik!”

Suara gading lantang dan penuh keyakinan palsu, sengaja dirancang untuk merebut perhatian.

“Kalian tahu artinya ini, kan? Di dunia ini ada satu dogma yang tak pernah salah. Orang tanpa Akar Spiritual…”

Ia berhenti, membiarkan keheningan yang tegang mencengkeram kerumunan, sebelum meneriakkan tuduhannya.

“…ADALAH PEMBAWA KUTUKAN!”

Teriakan itu menutup kalimatnya seperti vonis mati. Kerumunan yang tadinya hanya berbisik kini mulai bergemuruh. Bisik-bisik ketakutan merayap di antara mereka seperti angin yang membawa bau busuk. Wajah-wajah tegang saling berpandangan, seakan potongan-potongan takhayul lama mulai menemukan tempatnya.

Gading membiarkan bisikan-bisikan itu meracuni udara sejenak sebelum kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih licik. Ia mulai menyebutkan satu per satu malapetaka yang menimpa desa mereka belakangan ini.

“Sungai yang menyusut… kemarau yang tak berkesudahan… binatang buas yang semakin liar… semuanya….”

Jarinya teracung lurus ke arah Jihan yang terpaku di atas panggung.

“...BERKAITAN DENGAN DIA!”

Kini, tatapan yang diarahkan pada Jihan bukan lagi sekadar hinaan atau iba. Di dalamnya ada sesuatu yang lebih purba dan kejam: ketakutan. Ketakutan itulah yang melahirkan kebencian, dan kebencian itulah yang kini memisahkan Jihan dari seluruh dunia yang pernah ia kenal.

“Benar! Anak saya jatuh sakit mendadak minggu lalu, pasti gara-gara dia!” teriak seorang ibu dari tengah kerumunan, suaranya pecah oleh isak tangis.

“Pantas saja kemarau panjang membuat ladangku kering!” sahut yang lain.

“Ternyata selama ini kita membesarkan anak pembawa kutukan!”

Seruan demi seruan meledak, saling sahut, saling menyulut. Di kursinya, Arya Jaya hanya bisa mengepalkan tangan dengan geram, rahangnya mengeras melihat bagaimana warganya begitu mudah termakan hasutan. Sementara tetua desa lain menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Seleksi di panggung terus berjalan, tetapi bagi Jihan, suara-suara itu tak lagi jelas. Dunia di sekitarnya terasa jauh, terdistorsi seperti bayangan di dasar air. Ia hanya berdiri di tempatnya, kosong, sampai sebuah dorongan kasar dari belakang menyadarkannya bahwa ia menghalangi jalan. Tubuhnya terhuyung, lalu ia melangkah turun, setiap langkah seolah menelan sisa tenaga terakhirnya.

Saat melewati Gading, bahu mereka sengaja bertabrakan. Senyum penuh kemenangan mengembang di bibir Gading, matanya berkilat puas. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada penuh racun tepat di telinga Jihan.

“Kau lihat? Inilah perbedaan di antara kita, Jihan.”

Ia menjauh sedikit, menikmati ekspresi kosong Jihan, sebelum melanjutkan.

“Aku dilahirkan untuk berdiri di puncak, sementara kau… selamanya akan jadi sampah busuk yang merangkak di dasar, didesa kecil ini.”

Seringai di wajahnya melebar.

“Anggap saja ini balasan untuk kesombonganmu kemarin. Penduduk desa tidak akan pernah lagi bersimpati padamu.”

Jihan terus berjalan. Kata-kata Gading hanya terdengar sayup, tak mampu menembus kehampaan yang kini memenuhi dirinya. Ia menuruni panggung tanpa menoleh. Di belakangnya, Penatua Wira memanggil nama-nama mereka yang beruntung: Gading, Rama, Indra, gadis misterius itu, dan segelintir anak lainnya. Dalam satu lompatan anggun yang menentang gravitasi, mereka melesat ke langit, menghilang dari pandangan, meninggalkan alun-alun yang kini hanya berisi sisa-sisa harapan yang hancur.

Di antara kerumunan yang mulai bubar dan saling berbisik, Jihan berjalan sendirian. Punggungnya yang kurus terlihat rapuh, seolah memikul beban seluruh dunia. Langkahnya pelan, menyusuri jalan setapak kembali menuju gubuknya, jalan yang kini terasa lebih panjang dan sunyi dari sebelumnya.

Dari kursi kehormatannya, Kepala Desa Arya Jaya bangkit berdiri. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas panjang, tatapannya terpaku pada punggung kesepian itu. Sungguh, ia tak tega melihat semangat dan harapan seorang anak yang begitu tulus harus runtuh berkeping-keping.

Saat pandangannya masih tertuju pada Jihan, sebuah suara pelan namun tajam terdengar dari sampingnya.

“Bukankah sejak awal kau sudah mengetahuinya”

Arya Jaya menoleh. Prana telah berdiri di sana tanpa suara, tatapannya yang dalam sulit diartikan.

“Bukan karena aku tak mau memberitahunya,”

“Hanya saja… aku tidak tega.”

“Benarkah?”

Arya Jaya terdiam sejenak, tatapannya menyiratkan penyesalan yang dalam.

“Justru karena itu aku tidak memberinya informasi soal seleksi ini. Aku sengaja memberinya hari libur, berharap ia tidak akan pernah tahu, dan akan tetap merawat ibunya dirumah.”

Ia menggeleng lagi.

“Tapi aku tak menyangka… takdir begitu kejam menyeretnya ke panggung ini.”

Ia menghela napas lagi, kali ini lebih berat.

“Bagaimanapun, ini tetap salahku. Aku akan menemuinya nanti.”

Prana tidak menjawab. Keduanya terdiam, menatap punggung Jihan yang kini hanya menjadi siluet kecil di kejauhan, membiarkan pemuda itu menelan kenyataan pahitnya seorang diri untuk malam ini.

1
DownBaby
Lanjut thor
DownBaby
aSetelah sekain lama akhirnya Jihan ada yg bantu💪
DownBaby
siapa kah itu?
DownBaby
WHAT?! SEMAKIN MENARIK
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!