NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peluru Terakhir di Cakrawala

​Suara sirine darurat masih meraung di kejauhan saat Elara dan Zian memacu motor sport mereka menembus hujan badai menuju Pelabuhan Sektor 4. Di belakang mereka, markas bawah tanah Gedeon mulai runtuh akibat protokol penghancuran diri yang dipicu secara otomatis.

​"Zian! Kapal itu, The Leviathan!" teriak Elara melalui sistem komunikasi helm. "Satelit menunjukkan peluncur rudal di geladak belakang sudah dalam posisi vertikal. Kita punya kurang dari delapan menit sebelum peluncuran!"

​Zian tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya memutar gas lebih dalam. Motor itu melesat melompati barikade polisi yang sedang kebingungan. Di depan mereka, gerbang pelabuhan dijaga ketat oleh tentara bayaran swasta—kontraktor militer dari organisasi Iron Sight yang disinggung Tristan. Mereka bukan tentara yang bisa diajak bicara; mereka adalah mesin pembunuh profesional yang dibayar mahal untuk memastikan kehancuran ibu kota.

​"Aku akan membuka jalan! Kau jangan berhenti!" perintah Zian.

​Zian melepaskan satu tangan dari kemudi, menarik dua granat asap dari sabuknya, dan melemparkannya ke pos penjagaan. Saat asap tebal menyelimuti area, dia menembakkan peluncur granat bawah laras dari senjata yang ia sangkutkan di samping motor.

​BOOM!

​Gerbang utama hancur. Elara memacu motornya melewati kobaran api, merunduk saat peluru-peluru musuh mulai menghujani udara. Mereka meluncur di antara kontainer-kontainer raksasa yang tersusun seperti labirin baja.

​"Tiga menit menuju peluncuran!" suara Kael terdengar di radio, berderit karena gangguan sinyal. "Elara, Zian, aku berhasil meretas sistem navigasi mereka, tapi mereka mengunci sistem peluncuran secara manual dari anjungan kapal. Kalian harus berada di sana untuk membatalkannya!"

​Mereka sampai di dermaga. Kapal kargo raksasa itu mulai bergerak menjauh dari daratan. Jarak antara dermaga dan dek kapal sekitar lima meter dan terus bertambah.

​"Zian! Jaraknya terlalu jauh!" seru Elara.

​"Jangan pernah katakan terlalu jauh padaku, Mayor!" Zian mengarahkan motornya menuju tumpukan kontainer yang miring, menciptakan tanjakan alami.

"Lompat sekarang!"

​Dalam aksi yang menantang maut, kedua motor itu terbang di udara, melintasi air laut yang bergolak gelap, dan mendarat dengan keras di atas tumpukan kontainer di dek kapal. Elara berguling untuk meredam benturan, sementara motor Zian menghantam pagar besi hingga hancur.

​Mereka langsung disambut oleh rentetan tembakan senapan mesin dari menara anjungan.

​"Berlindung!" Zian menarik Elara ke balik blok mesin kargo.

​"Zian, kau terluka!" Elara melihat darah merembes dari paha Zian, akibat serpihan besi saat mendarat tadi.

​"Hanya goresan. Fokus pada rudal itu!" Zian mengokang senjatanya. "Aku akan menahan mereka di sini. Kau naik ke anjungan. Kau yang paling tahu cara meretas sistem penguncian manual itu, Elara."

​Elara ragu sejenak. Meninggalkan Zian yang terluka di tengah kepungan tentara bayaran adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan. Namun, melihat rudal kimia yang mulai mengeluarkan uap putih sebagai tanda inisiasi peluncuran, dia tahu tidak ada pilihan lain.

​"Jangan mati, Kolonel. Itu perintah," bisik Elara.

​"Laksanakan, Mayor," balas Zian dengan seringai tipis yang penuh tekad.

​Elara bergerak lincah, memanjat tangga luar kapal sementara Zian melepaskan tembakan bertubi-tubi untuk mengalihkan perhatian musuh. Elara menggunakan pisau komandonya untuk melumpuhkan seorang penjaga di balkon lantai dua, lalu menyelinap masuk melalui jendela ruang navigasi.

​Di dalam, suasana sangat tegang. Kapten kapal dan dua operator sedang sibuk di depan konsol merah yang menyala-nyala.

​"Hentikan peluncuran!" teriak Elara, senjatanya mengarah ke kepala sang Kapten.

​"Sudah terlambat, manis," Kapten itu tertawa dingin, matanya menatap layar yang menunjukkan hitung mundur: 00:45. "Sistem ini sudah dikunci dengan kode enkripsi berjalan. Tanpa kunci fisik dari markas pusat kami di luar negeri, rudal ini akan terbang."

​Elara melihat ke arah konsol. Dia melihat kabel sirkuit utama yang terhubung ke modul peluncuran. Pikirannya berputar cepat. Jika dia tidak bisa meretas sistemnya, dia harus menghancurkannya secara fisik, tapi itu berisiko memicu ledakan kimia di tempat.

​"Kael! Jika aku memutus sirkuit pemantik saat hitung mundur di angka satu detik, apakah rudal itu akan gagal?" tanya Elara melalui radio.

​"Secara teori, ya! Tapi gasnya akan bocor di dek kapal! Kau dan Zian akan terkena paparan VX!" jawab Kael panik.

​"Lakukan saja!" Elara berteriak.

​Tiba-tiba, pintu anjungan hantam terbuka. Zian muncul dengan pakaian yang robek-robek dan wajah berdarah, tapi dia masih berdiri. Di tangannya, dia membawa tabung oksigen kecil yang dia temukan di dek.

​"Pakai ini!" Zian melemparkan masker oksigen ke Elara.

​Zian menerjang Kapten kapal, menjatuhkannya dengan satu pukulan telak. Elara segera berlutut di bawah konsol, membuka panel kabel dengan pisaunya.

​00:15... 00:10...

​"Cepat, Elara!" Zian menembaki para penjaga yang mencoba mendobrak pintu anjungan.

​Jari-jari Elara yang biasanya stabil kini sedikit gemetar. Dia memegang dua kabel utama: merah dan biru. "Zian, jika ini meledak..."

​"Maka kita akan mati sebagai pahlawan yang tidak dikenal. Itu bukan akhir yang buruk," sahut Zian, berdiri di depan Elara seolah ingin melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

​00:03... 00:02...

​Elara memotong kedua kabel secara bersamaan.

​ZAP!

​Percikan listrik biru besar menyambar. Layar monitor seketika mati. Rudal di luar mengeluarkan suara desisan keras, asap putih menyembur keluar, namun rudal itu tetap diam di tempatnya. Gagal meluncur. ​Namun, bau tajam seperti bawang putih mulai memenuhi ruangan. Gas VX (9) mulai bocor.

​"Masker! Sekarang!" Zian memasangkan masker ke wajah Elara, sementara dia sendiri hanya menahan napas sambil mencoba menutup celah pintu dengan kain.

​Elara menarik Zian ke arah balkon. "Kita harus lompat ke laut! Arus akan membawa gas ini ke atas!"

​Mereka melompat dari ketinggian lima belas meter ke dalam air laut yang dingin. Saat mereka muncul ke permukaan, jauh dari kapal kargo yang kini diselimuti uap putih mematikan, Elara terengah-engah menghirup oksigen dari tabungnya. Dia mencari Zian di kegelapan air.

​"Zian! Zian!"

​Sebuah tangan muncul dari bawah air dan meraih bahu Elara. Zian muncul, terbatuk-batuk hebat tetapi masih hidup. Mereka berenang menjauh menuju sekoci penyelamat yang dikirim oleh Kael di kejauhan.

​Beberapa jam kemudian, di sebuah rumah aman di pesisir pantai yang sunyi.

​Hujan telah berhenti, digantikan oleh fajar yang mulai menyingsing. Elara duduk di teras kayu, menatap matahari terbit yang berwarna oranye keemasan. Dia masih mengenakan kaos dalam hitam yang lembap. Zian keluar dari dalam rumah dengan bahu yang sudah diperban rapi.

​"Berita pagi ini mengatakan ada 'kecelakaan industri' di pelabuhan," kata Zian sambil duduk di samping Elara. "Pemerintah transisi mencoba menutupi semuanya. Gedeon dinyatakan tewas karena serangan jantung. Tristan menghilang dari rumah sakit militer."

​Elara menoleh. "Jadi, kita tetap menjadi pengkhianat di mata publik?"

​Zian mengambil sebuah map kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Elara. Di dalamnya terdapat paspor baru dan identitas baru untuk Elara, ayahnya, dan Zian sendiri.

​"Untuk saat ini, ya," jawab Zian pelan. "Tapi kita memiliki data aslinya. Kael sudah mengirimkannya ke jaringan jurnalis investigasi internasional. Kebenaran akan merembes keluar sedikit demi sedikit. Gedeon mungkin sudah mati, tapi organisasi yang mendukungnya—Iron Sight—masih ada di luar sana."

​Zian memegang tangan Elara, jari-jarinya bertautan. "Pertempuran kita belum berakhir, Elara. Ini baru satu bab dari perang yang jauh lebih besar."

​Elara menatap langit fajar. Dia merasa lelah, sangat lelah, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia tidak merasa sendirian. Label "Tentara Seksi" terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Di sini, di bawah cahaya matahari yang baru, dia adalah seorang pejuang yang telah menemukan tujuannya.

​"Jadi, ke mana kita pergi sekarang?" tanya Elara.

​Zian berdiri, menarik Elara ikut berdiri bersamanya. "Ke mana saja yang tidak ada di peta mereka. Kita akan menjadi hantu yang memburu para pemangsa."

​Saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di balik pepohonan, Elara melirik ke arah laut. Dia tahu bahwa di luar sana, musuh-musuh baru sedang mengawasi, dan konspirasi yang lebih dalam sedang menunggu untuk diungkap. Namun selama ada Zian di sisinya, dia siap menghadapi apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!