"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun Kembali Asa, Menemukan Tantangan Baru
Tirani tumbang, asa merekah, namun jalan terjal membentang. Mampukah KKN menjadi jembatan menuju kemandirian desa?"
Dengan Pak Kepala Desa dan komplotannya ditangkap, suasana di Sidomukti berubah drastis. Warga mulai berani keluar rumah, berinteraksi, dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Dina, Puri, Ayu, dan Rendra merasa lega dan bersemangat untuk melanjutkan KKN mereka.
"Akhirnya, kita bisa fokus membantu warga tanpa rasa takut," kata Dina dengan senyum lebar.
"Benar," sahut Puri. "Kita bisa melanjutkan proker yang sempat tertunda."
Ayu dan Rendra mengangguk setuju. Mereka tahu bahwa tugas mereka belum selesai. Setelah bertahun-tahun di bawah pemerintahan tirani, Sidomukti membutuhkan bantuan untuk memulihkan diri dan membangun kemandirian.
Mereka kembali meninjau proker-proker yang telah mereka rancang sebelumnya, menyesuaikannya dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang baru merdeka. Mereka juga melibatkan warga dalam setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan, memastikan bahwa program-program KKN benar-benar bermanfaat dan berkelanjutan.
Program penyediaan air bersih kembali menjadi prioritas. Mereka bekerja sama dengan warga untuk memperbaiki sumber-sumber air yang rusak dan membangun sistem irigasi yang lebih baik. Mereka juga memberikan pelatihan tentang pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Program peningkatan kesehatan juga dilanjutkan. Mereka mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis, memberikan penyuluhan tentang penyakit menular, dan membantu meningkatkan fasilitas kesehatan di desa. Mereka juga mengajak para dokter dan perawat dari kampus untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas.
Program peningkatan pendidikan juga tidak ketinggalan. Mereka mengadakan kegiatan belajar tambahan untuk anak-anak, memberikan pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu, dan membantu meningkatkan fasilitas pendidikan di desa. Mereka juga mendirikan perpustakaan desa yang dilengkapi dengan buku-buku dan fasilitas internet.
Namun, di tengah semangat membangun kembali desa, mereka menghadapi tantangan baru. Beberapa warga desa masih trauma dengan masa lalu dan sulit untuk mempercayai orang lain. Mereka merasa takut jika kekuasaan baru akan menggantikan tirani yang lama.
Selain itu, muncul konflik kepentingan di antara warga desa. Beberapa kelompok warga berusaha untuk mengambil alih kekuasaan dan sumber daya yang ditinggalkan oleh Pak Kepala Desa dan komplotannya. Hal ini menimbulkan persaingan dan perpecahan di antara warga desa.
Ayu dan Rendra menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya fokus pada pembangunan fisik dan ekonomi desa. Mereka juga harus membantu memulihkan psikologis warga desa dan membangun kembali kepercayaan dan solidaritas di antara mereka.
Mereka mulai mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan dan solidaritas, seperti pertemuan rutin, diskusi kelompok, dan kegiatan seni dan budaya. Mereka juga mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan ceramah dan nasehat tentang pentingnya persatuan dan kesatuan.
Namun, di tengah upaya mereka untuk membangun kembali desa, mereka merasakan adanya sesuatu yang aneh. Mereka merasakan adanya energi negatif yang masih menghantui Sidomukti, seperti ada kekuatan jahat yang sedang bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk kembali berkuasa.
Mereka mulai melihat tanda-tanda aneh yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Beberapa warga desa melaporkan melihat penampakan hantu dan mendengar suara-suara aneh di malam hari. Hewan-hewan ternak menjadi gelisah dan sering melarikan diri. Tanaman-tanaman tiba-tiba layu dan mati tanpa sebab yang jelas.
Ayu dan Rendra merasa khawatir dan cemas. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang jahat sedang terjadi di Sidomukti. Mereka merasa terpanggil untuk mengungkap misteri ini dan melindungi desa dari ancaman yang tidak terlihat.
Mereka mulai melakukan penyelidikan secara diam-diam. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang dianggap angker, berbicara dengan para sesepuh desa, dan mencari petunjuk-petunjuk yang mungkin tersembunyi di dalam sejarah desa.
Dari hasil penyelidikan itu, mereka menemukan adanya cerita tentang sebuah sekte sesat yang pernah berkuasa di Sidomukti pada masa lalu. Sekte itu menyembah kekuatan jahat dan melakukan ritual-ritual yang mengerikan untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan.
Sekte itu telah dihancurkan oleh para pendahulu mereka, tetapi tampaknya beberapa anggota sekte itu berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Ayu dan Rendra menduga bahwa para anggota sekte yang tersisa itu telah kembali ke Sidomukti dan berusaha untuk membangkitkan kembali kekuatan jahat yang pernah mereka sembah.
Mereka juga menemukan bahwa energi negatif yang mereka rasakan mungkin berasal dari sebuah artefak kuno yang disimpan oleh para anggota sekte itu. Artefak itu diyakini memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran dan perasaan orang lain, serta mendatangkan bencana dan malapetaka.
Ayu dan Rendra menyadari bahwa mereka harus menemukan artefak itu dan menghancurkannya sebelum para anggota sekte itu berhasil menggunakannya untuk menguasai Sidomukti. Mereka memutuskan untuk mencari artefak itu secara diam-diam, tanpa melibatkan warga desa, karena mereka tidak ingin menimbulkan kepanikan dan ketakutan.
Namun, di tengah upaya mereka untuk mencari artefak itu, mereka merasakan adanya seseorang yang sedang mengawasi mereka. Mereka merasakan adanya mata-mata yang mengikuti setiap gerakan mereka. Mereka curiga bahwa para anggota sekte itu telah mengetahui rencana mereka dan sedang berusaha untuk menjebak mereka. Akankah mereka berhasil menemukan artefak itu sebelum para anggota sekte itu berhasil menghancurkan desa Sidomukti?"
Di tengah ancaman yang merayap, mencari sekutu adalah kebutuhan. Mampukah mereka membedakan teman sejati dari musuh yang bersembunyi?"
Ayu dan Rendra menyadari bahwa mereka tidak bisa melawan kekuatan sekte sesat sendirian. Mereka membutuhkan bantuan, seseorang yang memahami seluk-beluk desa dan memiliki keberanian untuk melawan kejahatan yang mengancam Sidomukti.
Mereka mulai menyusun daftar orang-orang yang mereka yakini memiliki potensi untuk menjadi sekutu. Daftar itu berisi nama-nama tokoh masyarakat, sesepuh adat, dan orang-orang yang dikenal memiliki integritas dan kepedulian terhadap desa.
Namun, mereka juga harus berhati-hati. Mereka tidak tahu siapa yang bisa mereka percayai. Bisa jadi, ada di antara orang-orang yang mereka curigai itu yang ternyata berpihak pada sekte sesat.
Mereka memutuskan untuk memulai dengan mendekati Mbah Karto, seorang sesepuh adat yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah desa. Mbah Karto tinggal di sebuah gubuk sederhana di pinggir hutan, jauh dari keramaian desa.
Ayu dan Rendra mengunjungi Mbah Karto pada suatu sore yang cerah. Mereka menceritakan tentang mimpi buruk yang dialami oleh warga desa, tentang penurunan hasil panen, dan tentang kecurigaan mereka terhadap adanya sekte sesat yang kembali beroperasi di Sidomukti.
Mbah Karto mendengarkan cerita Ayu dan Rendra dengan seksama. Wajahnya yang keriput terlihat semakin berkerut, menandakan bahwa ia sedang berpikir keras.
"Kalian telah membuka kembali luka lama," kata Mbah Karto dengan suara lirih. "Sekte itu adalah aib bagi desa ini. Mereka telah melakukan banyak kejahatan di masa lalu."
"Kami tahu, Mbah," jawab Ayu. "Tapi kami tidak tahu bagaimana cara menghentikan mereka. Kami membutuhkan bantuan Mbah."
Mbah Karto terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Aku akan membantu kalian," katanya akhirnya. "Tapi kalian harus berjanji untuk berhati-hati. Sekte itu memiliki kekuatan yang besar dan berbahaya."
Mbah Karto kemudian menceritakan tentang sejarah sekte sesat itu, tentang ritual-ritual mengerikan yang mereka lakukan, dan tentang artefak kuno yang mereka simpan. Ia juga memberikan petunjuk tentang tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyian para anggota sekte itu.
Ayu dan Rendra mendengarkan cerita Mbah Karto dengan seksama. Mereka merasa ngeri mendengar tentang kejahatan yang dilakukan oleh sekte sesat itu.
"Terima kasih, Mbah," kata Rendra. "Informasi ini sangat berharga bagi kami."
"Jangan terburu-buru," kata Mbah Karto. "Kalian tidak bisa melawan sekte itu hanya dengan informasi. Kalian membutuhkan kekuatan dan keberanian."
Mbah Karto kemudian memberikan Ayu dan Rendra sebuah jimat yang terbuat dari kayu Jimat itu diyakini memiliki kekuatan untuk melindungi mereka dari energi negatif dan mendatangkan keberuntungan.
"Jimat ini akan melindungi kalian dari kejahatan," kata Mbah Karto. "Tapi ingat, kekuatan sejati ada di dalam diri kalian. Kalian harus percaya pada diri sendiri dan pada kekuatan cinta dan kebaikan."
Setelah mendapatkan informasi dan jimat dari Mbah Karto, Ayu dan Rendra merasa lebih percaya diri. Mereka tahu bahwa mereka
tidak sendirian. Mereka memiliki Mbah Karto sebagai sekutu, dan mereka memiliki kekuatan cinta dan kebaikan di dalam diri mereka.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*