Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Rencana
Keisya membukakan pintu, dan terlihatlah sosok Bastian yang begitu modis dengan segala yang melekat pada tubuhnya.
Keisya sampai tidak berkedip untuk beberapa saat. Dia lagi-lagi membayangkan ucapan Sisi tentang gambaran Bastian di mata para wanita di kampus.
Tampan, gagah, dan tentunya mapan. Lihat saja barang-barang bermerek yang digunakannya. Semuanya tidaklah murah.
Definisi pria matang idaman kaum hawa.
Dia tidak memungkiri, jika Bastian adalah tipe semua wanita diluaran sana.
Bastian sendiri semakin bangga atas respon yang dia lihat sekarang. Tidak sia-sia dia menyiapkan banyak hal sebelumnya, sampai lupa waktu dan akhirnya terlambat datang dari waktu yang dia rencanakan di awal.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?"
Lamunan Keisya buyar seketika. Dia terkejut dan malu. Rasanya ingin menghilang dari hadapan pria ini sekarang juga.
Ini semua gara-gara Sisi! Otaknya jadi tercemar oleh hal-hal negatif.
"Selamat malam Om" Suara Kayla disusul munculnya tubuh mungil itu dari balik tubuh Keisya, berhasil menyelamatkan kecanggungan. Kaivan pun mengekori adiknya dari belakang.
Samar. Keisya menghembuskan napasnya. Dia sangat tertolong dengan kehadiran adik adiknya.
"Selamat malam Keyla, Kaivan"
Kaivan mengangguk sopan, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Sang kakak adalah kebalikan dari kembarannya yang sangat berisik dan cerewet. Sifatnya jauh lebih kalem dan tenang. Namun akan berubah menjadi sangat menyenangkan jika adiknya mengajak bermain.
"Buat kalian" Bastian mengulurkan dua paperbag pada keduanya.
Keisya menunduk. Dia baru sadar jika Bastian tidak datang dengan tangan kosong. Dia benar-benar hanya fokus pada penampilannya, bukan pada apa yang dibawanya.
"Wah! Apa itu Om?" Kayla menerimanya dengan antusias, begitupun dengan Kaivan.
Ini bukan kali pertama mereka menerima hadiah dari teman Papa-nya ini. Tidak ada rasa lagi sungkan harus menerima atau tidak. Papa-nya pun pernah mengatakan tidak apa-apa menerima pemberian sesuatu jika itu dari Om Bastian.
"Mainan sama sepatu"
"Sepatu? Sepatu yang Kay mau itu?"
Bastian mengangguk.
Kayla melompat senang. Tawanya menguar, "Terimakasih Om. Kay suka!"
"Sama-sama"
Kaivan ikut berterimakasih, dan kembali mendapatkan jawaban serupa dari Bastian.
Kali ini Bastian beralih pada Keisya, yang masih menutup mulutnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.
"Ini buat kamu" Paperbag terakhir ia ulurkan.
Keisya berkedip pelan, "Buat aku?"
Bastian mengangguk tipis, "Ambil"
"Ga usah repot repot Om" Berbeda dengan kedua adiknya, Keisya masih segan pada pemberian Bastian mengingat ini kali pertama baginya.
Bastian tidak menjawab dan tidak bergerak sama sekali. Tangannya masih terulur, menunjukan jika dia tidak menerima penolakan. Dan Keisya tidak memiliki pilihan lain selain menerima.
Dan itulah akhirnya, mau tidak mau bungkusan itu akhirnya sudah berpindah tangan.
"Terimakasih Om"
"Sama-sama"
Senyum tipis Bastian terlihat. Dan itu kali pertama Keisya melihatnya. Dan reaksinya kembali dibuat tidak berkedip. Sebuah respon yang lagi-lagi tidak bisa ia kendalikan.
Setelahnya mereka berdua diam. Mungkin akan terus seperti itu jika Kayla tidak berbicara.
"Om, ayo masuk"
Keisya lagi-lagi meringis samar. Dia menggerutu dalam hatinya atas tingkahnya yang sangat konyol. Dia pun bergegas membuka lebar pintu rumah, dan mempersilahkan Bastian masuk.
Pria itu berjalan masuk lebih dulu mengikuti langkah Kayla dan Kaivan, meninggalkan Keisya sendirian yang sedang menutup pintu.
"Bodoh lo Kei" dia bergumam, merutuki dirinya sendiri. Lalu setelahnya dia berdehem seolah tak terjadi apa-apa dan membalikkan badannya, menyusul kepergian ketiganya.
Di ruang tengah mereka berkumpul, dengan Bibi yang sedang menyuguhkan minuman serta makanan ringan di atas meja di samping sofa. Di bawah, Keyla dan Kaivan sudah duduk berhadapan sedang membuka hadiah masing-masing. Dan Bastian duduk di atas, dimana posisi Keisya sebelumnya.
Keisya sendiri memilih bergabung dengan kedua adiknya. Jika di atas sofa artinya dia harus duduk satu sofa dengan Bastian.
Tidak. Dia tidak ingin terlihat bodoh lagi seperti sebelumnya.
"Gimana kuliah kamu tadi?" Bastian menjadi orang pertama yang memecah suasana. Sekalipun suara si kembar terus terdengar, namun tidak dengan Keisya dan Bastian.
Keisya menoleh sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Tetep masuk, Om. Kebetulan kelas siang, terus Sisi yang gantian jaga mereka berdua"
Bastian mengangguk. Padahal dia sudah tahu hal itu, tapi tetap saja ia bertanya demi menciptakan komunikasi di antara mereka.
"Berapa lama Papa kalian pergi?"
"Belum tahu Om. Tapi perkiraan sekitar tiga hari" Keisya bergeser menatap Bastian serius. "Om ga perlu kesini setiap hari kok, kita baik-baik aja. Ada bibi juga yang nginep nemenin kita"
"Kamu tidak suka saya kesini?"
Keisya menggeleng cepat, "Bukan gitu. Aku cuma takut merepotkan aja" Siapa yang tahu kan, jika Bastian sebenarnya memiliki urusan lain. Namun karena permintaan Papa-nya, dia akhirnya harus membatalkan semuanya.
"Saya tidak merasa direpotkan. Kamu jangan khawatir, setelah kedua adik kamu tidur, saya akan pulang"
Lega rasanya Bastian mengatakan hal itu. Karena khawatirannya sudah di sadari oleh pria tersebut. Perasaan tidak nyamannya perlahan hilang. Semua prasangka liar yang di ucapkan Sisi sepertinya tidak benar-benar terjadi. Pria ini terkesan perhatian karena dia adalah anak teman baiknya.
Tidak lebih.
Yang tidak ia ketahui, Bastian sudah merencanakan banyak hal untuk malam ini. Termasuk beberapa hari ke depan selama Gunawan pergi.
Saat Keisya sedang membantu kedua adiknya tidur, Bastian yang sedang sendirian segera menghubungi seseorang lewat panggilan telepon.
"Bersiap. Tunggu aba-aba dari saya" tanpa menunggu jawaban orang tersebut, Bastian langsung mematikan sepihak dan kembali fokus ke arah tangga.
Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah seringai mengerikan. Dia sungguh tidak sabar menunggu saatnya tiba.
Di sisi Keisya, setelah memastikan kedua adiknya menaiki tempat tidur masing-masing, dia tetap bertahan di sana sampai mereka benar-benar tertidur.
Kayla dan Kaivan masih tidur di kamar yang sama, karena keterbiasaan mereka sejak kecil. Saat Papa mereka mengajarkan untuk tidur terpisah, keduanya sama-sama menolak.
Keyla mengatakan jika dia tidak berani tidur sendiri. Sedangkan Kaivan tidak tega jika adiknya menangis tengah malam.
Jadi jalan tengah yang diambil adalah, mereka diizinkan tidur dalam satu ruangan, namun harus tidur di ranjang terpisah.
Mereka setuju.
Tapi itu tidak selalu seperti itu. Terkadang jika tidak sedang sibuk, Papa-nya akan tidur dengan mereka. Tapi setelah Keisya kembali, kebiasaan itu berubah. Keisya mengambil alih tugas Papa-nya sesekali.
Dia beranjak, berjalan pelan menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar keluar kamar, dia kembali memastikan keduanya sudah terlelap. Setelah yakin. barulah Keisya keluar dari kamar.
Dia menghembuskan napasnya panjang.
Sekarang dia harus turun menemui Bastian, dan mengantarkannya sampai ke depan.
Begitulah tujuan awalnya.
Namun, saat dia masih berada di pertengahan anak tangga, sesuatu terjadi.
Ada suara seperti ledakan kecil yang sepertinya berasal dari arah luar. Lalu setelahnya listrik padam. Semuanya gelap dalam sekejap.
Keisya berteriak..
Tidak, dia tidak takut kegelapan. Hanya terkejut karena situasi yang tiba-tiba. Ditambah lagi posisinya yang tidak tepat, membuat gerakan kecilnya saja berakhir dengan terpeleset dan terjatuh.
Kakinya keseleo.
Tubuhnya meluncur bebas, berguling beberapa kali sampai akhirnya berhenti di anak tangga terakhir.
Teriakannya cukup kencang, sampai ia sempat berpikir akan membangunkan kedua adiknya.
Dalam kegelapan, Keisya meringis. Merintih merasakan beberapa bagian tubuhnya yang terasa sangat sakit.
Selain kaki, lutut dan sikutnya terasa nyeri. Dua bagian tubuh yang berpotensi besar terkena benturan lebih besar dibanding tubuh lainnya.
"Keisya, kamu tidak apa-apa?"
Itu suara Bastian.
Keisya mengangkat pandangannya menuju sumber suara. Namun tak lama dia kembali menunduk saat cahaya terang tiba-tiba menyorot ke arahnya.
Bastian bergerak cepat menghampiri posisi Keisya dengan ponsel yang ia arahkan pada gadis tersebut. Dia berjongkok, meletakkan ponselnya di lantai dengan layar menghadap bawah. Cahaya yang di hasilkan cukup untuk melihat sekitar mereka.
"Kamu jatuh? Mana yang sakit? Kamu bisa berdiri? Biar saya bantu" Dia bertanya beruntun, namun tidak memberikan kesempatan Keisya menjawab.
Dia langsung mengangkat tubuh Keisya ke dalam gendongannya, dan membawanya ke tempat duduknya semula.
Dalam hati Bastian dia tengah mengumati orang suruhannya yang sudah mengabaikan perintahnya untuk bertindak setelah dia memberikan aba-aba, sampai mengakibatkan Keisya terjatuh.
Bukan ini yang dia inginkan.