NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

​Pagi itu, SMA Garuda gempar. Berita tentang Mori yang masuk rumah sakit gara-gara Alina sudah menjadi konsumsi publik. Saat Mori muncul di koridor dengan tangan kanan yang masih terbalut perban dan penyangga lengan (sling), semua mata tertuju padanya. Ada tatapan kasihan, namun lebih banyak tatapan iri karena dua pangeran sekolah masih terus membuntutinya.

​Mori berjalan pelan, mencoba mengabaikan bisik-bisik di sekitarnya. Namun, baru beberapa langkah, sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba menyusup dan menggenggam telapak tangan kirinya yang bebas. Genggaman itu sangat erat, posesif, dan tidak membiarkan ada celah sedikit pun.

​Mori tersentak dan menoleh. Lian berdiri di sampingnya dengan wajah datar namun mata yang berkilat tajam ke arah belakang.

​"Lian! Lepasin, malu dilihatin orang!" bisik Mori sambil berusaha menarik tangannya.

​"Diem, Mor. Atau gue lakuin yang lebih nekat dari sekadar pegangan tangan," ancam Lian rendah.

​Mori melirik ke arah belakang, dan ia baru sadar kenapa Lian tiba-tiba bersikap seperti ini. Di belakang mereka, hanya terpaut beberapa meter, Vano sedang berjalan menuju arah yang sama. Vano tampak rapi seperti biasa, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksukaan saat melihat tangan Lian yang mengunci tangan Mori.

​Lian sengaja memperlambat langkahnya, seolah ingin memastikan Vano melihat dengan jelas siapa yang sedang memegang kendali. Visual Gabriel Guevara-nya benar-benar dalam mode "menandai wilayah".

​"Waduh, waduh! Pagi-pagi udah ada pemandangan pegangan tangan aja nih! Koridor berasa milik berdua ya, yang lain cuma ngontrak?" seru Jojo yang tiba-tiba muncul dari arah loker.

​Jojo tertawa melihat wajah Mori yang sudah merah padam. "Mor, hati-hati lho, tangan kiri dipegang Lian, ntar jantung lo yang copot!"

​"Jojo, berisik!" bentak Mori, makin salah tingkah. Dia kembali mencoba melepaskan tangan Lian, tapi cowok itu justru menautkan jari-jari mereka.

​Di kelas, Jessica mengumumkan kabar penting. "Oke semuanya! Karena Mori—pemeran utama tarian kita—lagi cedera, latihan dance buat pensi diliburkan dulu selama dua hari ke depan. Kita kasih waktu buat tangan Mori mendingan."

​Satu kelas bersorak lega karena dapet waktu istirahat, tapi Lian justru terlihat punya rencana lain. Dia tidak ikut bersorak; dia hanya menopang dagu sambil terus memperhatikan Mori yang sedang kesulitan membuka tutup botol minumnya dengan satu tangan.

​Tanpa diminta, Lian menyambar botol itu, membukanya, dan menyodorkannya ke depan mulut Mori. "Minum."

​"Gue bisa sendiri, Lian..."

​"Minum atau gue yang minum terus gue suapin ke lo?"

​Mori langsung menyambar botol itu dengan wajah kesal namun jantungnya berdebar tak karuan.

​Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, Mori berniat langsung pulang untuk mengistirahatkan tangannya. Dia sudah bersiap memesan ojek daring saat Lian tiba-tiba muncul di depannya, menghalangi pintu kelas.

​"Ayo ikut gue," ajak Lian singkat.

​"Kemana? Gue mau pulang, Lian. Tangan gue masih sakit," tolak Mori.

​"Gue tau tangan lo sakit, makanya gue mau ajak lo jalan-jalan sore. Kita keliling kota, cari angin biar lo nggak stres mikirin Alina atau tarian itu terus," Lian mengambil tas Mori tanpa izin.

​"Nggak mau, Lian. Gue capek—"

​Lian tidak mendengarkan bantahan itu. Sama seperti kejadian kemarin pagi, dia langsung merunduk dan menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Mori.

​"LIAN! JANGAN LAGI!" teriak Mori saat tubuhnya kembali terangkat ke udara.

​Lian menggendong Mori dengan gaya bridal style di sepanjang koridor menuju parkiran. Banyak murid yang masih berada di sekolah langsung bersorak dan bersiul.

​"Gila! Si Raja Basket bener-bener bucin maksimal!" teriak salah satu murid laki-laki.

"Mori, enak ya punya supir pribadi kayak Lian!" goda yang lain.

​Mori menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lian, benar-benar merasa malu sekaligus tidak berdaya. Aroma parfum maskulin Lian menyerbu indranya, membuatnya pusing dalam artian yang aneh.

​"Turunin, Lian... malu banget gue..." gumam Mori lirih.

​"Biarin aja mereka liat. Biar semua orang tau lo itu punya siapa," jawab Lian mantap.

​Begitu sampai di parkiran, Lian mendudukkan Mori dengan hati-hati di jok motor Ninja-nya. Dia memasangkan helm ke kepala Mori, lalu mengancingkannya dengan jarak wajah yang sangat dekat.

​Motor Ninja itu melaju membelah kemacetan kota di sore hari. Lian sengaja tidak mengebut. Dia membawa Mori menyusuri jalanan protokol yang dihiasi lampu-lampu kota yang mulai menyala, lalu berakhir di sebuah jalanan di atas bukit yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.

​Angin sore menerpa wajah mereka. Mori merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan sejak pindah ke sekolah ini. Di atas motor, tanpa sadar Mori menyandarkan kepalanya di punggung lebar Lian. Dia bisa merasakan otot-otot Lian yang mengeras namun memberikan rasa aman.

​"Mor," panggil Lian di tengah deru angin.

​"Ya?"

​"Makasih ya udah nggak benci gue lagi," suara Lian terdengar tulus, tanpa ada nada sombong sedikit pun.

​Mori terdiam sejenak. "Gue masih benci lo, Lian. Lo egois, suka maksa, dan red flag banget."

​Lian tertawa rendah, getaran tawanya merambat sampai ke punggung Mori. "Gue tau. Tapi setidaknya sekarang lo nggak nganggep gue angin lalu lagi, kan?"

​Mori tidak menjawab, tapi tangannya yang tidak diperban tanpa sadar menggenggam jaket denim Lian sedikit lebih erat. Di bawah langit yang berubah menjadi warna jingga keunguan, Mori menyadari bahwa dia mungkin sedang jatuh ke dalam lubang yang paling berbahaya dalam hidupnya. Lubang yang bernama Lian.

​Namun, di balik kebahagiaan singkat itu, Mori tidak tahu bahwa Alina sedang menatap foto mereka yang sedang berboncengan di media sosial dengan mata yang menyala penuh kebencian. Rencana baru yang lebih licik sedang disusun untuk menghancurkan momen Pentas Seni nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!