Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan ke Jantung Macan
Zian mendekat, meletakkan tangannya di pagar balkon, tepat di samping tangan Elara. Keheningan di antara mereka terasa berbeda sekarang. Ada rasa saling pengertian yang tumbuh dari pengkhianatan yang sama.
"Kau tahu, Elara... saat aku melihatmu di Beirut, aku pikir kau hanya alat lain yang digunakan Gedeon untuk menjeratku. 'Tentara Seksi'—umpan klasik. Tapi caramu menembak RPG itu di hutan... kau menyelamatkan nyawaku tanpa ragu."
Elara menoleh, menatap mata abu-abu Zian yang biasanya keras, namun kini tampak sedikit melunak. "Aku melakukan tugas pribadiku, Zian. Dan tugasku memberitahuku bahwa kau lebih berguna hidup daripada mati."
Zian tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar mencapai matanya. "Hanya berguna?"
Zian mengulurkan tangannya, mengusap bekas jelaga di pipi Elara dengan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa membakar di kulit Elara yang dingin. Jantung Elara berdegup kencang, sebuah sensasi yang biasanya ia tekan sebagai seorang agen elit. Untuk sesaat, mereka bukan lagi Mayor dan Kolonel, bukan buronan dan pengejar. Mereka hanya dua orang yang lelah di tengah dunia yang hancur.
Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat terdengar dari dalam. Kael muncul dengan wajah tegang.
"Kolonel! Kita punya masalah. Marek tidak hanya membawa rahasia gudang senjata. Dia punya pelacak GPS biometrik di bawah kulitnya. Mereka sudah tahu posisi kita!"
Suara mesin drone terdengar dari atas. Sebuah drone pengintai Reaper melayang rendah di atas gudang.
"Sial!" kutuk Zian. "Elara, bawa Marek ke ruang bawah tanah! Kael, siapkan bahan peledak. Kita harus meruntuhkan gudang ini saat mereka masuk, atau kita tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup!"
Pintu depan gudang hantam hingga hancur. Tim taktis elit dengan seragam serba hitam dan helm full-face menyerbu masuk dengan granat lampu kilat (flashbang).
BUM!
Cahaya putih membutakan memenuhi ruangan. Elara menarik Marek ke balik lemari besi besar, melepaskan tembakan balasan dengan pistolnya. Zian melompat dari balkon, menembak di udara dengan akurasi yang luar biasa, menjatuhkan dua penyerbu sebelum ia mendarat di balik tumpukan kotak kayu.
"Zian! Mereka terlalu banyak!" teriak Elara di tengah desingan peluru.
"Kael! Sekarang!" teriak Zian melalui radio.
Sebuah ledakan beruntun mengguncang fondasi gudang. Langit-langit mulai runtuh, menghujani para penyerbu dengan beton dan besi tua. Di tengah debu dan kekacauan, Zian menarik Elara dan Marek menuju lubang pembuangan limbah yang menuju langsung ke laut.
"Lompat!" perintah Zian.
Mereka terjun ke air laut yang dingin tepat saat gudang itu meledak sepenuhnya, menelan tim elit Gedeon dalam api dan puing. Di bawah air yang gelap, Elara merasakan tangan Zian meraih tangannya, memastikan mereka tetap bersama di tengah arus yang kuat.
Saat mereka muncul ke permukaan beberapa ratus meter dari lokasi, jauh di kegelapan malam, Elara menyadari satu hal: pelarian ini tidak akan pernah berakhir sampai salah satu dari mereka atau Gedeon mati.
"Ke mana sekarang?" tanya Elara, sambil terengah-engah menghirup udara malam.
Zian menatap cakrawala kota yang berkilau di kejauhan. "Ke satu-satunya tempat yang Gedeon tidak berani datangi. Pusat Intelijen Nasional. Kita akan menyerang jantungnya."
*
Air laut yang dingin masih terasa menusuk kulit saat Elara, Zian, dan Kael merayap naik ke dermaga beton yang berjarak dua kilometer dari gudang yang meledak. Jenderal Marek menggigil hebat, namun ketakutan akan kematian membuatnya tetap bergerak. Di atas mereka, helikopter patroli masih menyisir pelabuhan dengan lampu sorot raksasa, namun Unit Phoenix adalah pakar dalam hal menghilang.
"Gedeon mengira kita sudah mati terbakar atau tenggelam," bisik Zian sambil memeras air dari lengan bajunya. "Itu adalah keuntungan terbesar kita saat ini. Dia akan melonggarkan pengamanan di Pusat Intelijen Nasional karena dia merasa ancaman sudah hilang."
Elara memeriksa pistolnya yang basah, mengeringkannya dengan kain lusuh. "PIN bukan sekadar kantor, Zian. Itu adalah benteng. Sensor biometrik, pemindai retina, dan pengenal pola jalan kaki. Aku pernah bekerja di sana selama enam bulan. Bahkan tikus pun tidak bisa masuk tanpa izin tertulis dari departemen keamanan."
Zian menatap Elara dengan kilatan licik di matanya. "Itulah sebabnya kita tidak masuk sebagai tikus, Elara. Kita masuk sebagai hantu. Kau punya akses biometrik yang masih aktif di database cadangan, bukan?"
Elara tertegun. "Database cadangan 'Echelon'? Itu hanya digunakan jika sistem utama lumpuh. Tapi untuk melumpuhkan sistem utama PIN..."
"Kita butuh pemadaman total di sektor empat," potong Zian. Dia menunjuk ke arah menara pemancar listrik yang menjulang di kejauhan.
"Kael akan mengurus gardu induk. Kau dan aku akan masuk melalui jalur pipa pendingin server. Kita punya waktu tepat tiga menit sejak listrik padam hingga generator darurat menyala. Di jendela waktu itulah, sistem biometrik akan melakukan reboot dan menggunakan database cadangan."
"Dan kau yakin namaku masih ada di sana?" tanya Elara ragu.
"Gedeon terlalu sombong untuk menghapus data agen elitnya secepat itu. Dia butuh catatanmu untuk laporan kegagalan misi Beirut," jawab Zian yakin.
Tiga jam kemudian.
Elara dan Zian berada di dalam lorong sempit pipa pendingin yang berbau ozon dan besi. Mereka merayap dengan gerakan sunyi. Elara mengenakan setelan infiltrasi ketat berwarna hitam yang ia ambil dari safehouse cadangan Phoenix—pakaian yang membuat gerakannya bebas namun tetap memberikan perlindungan balistik ringan.
"Kael, posisi?" Zian berbisik ke mikrofon tenggorokannya.
"Gardu induk dalam jangkauan. Bahan peledak magnetik terpasang. Menunggu perintah," suara Kael terdengar di telinga mereka.
"Eksekusi dalam hitungan tiga... dua... satu... Sekarang."
BUM!
Suara ledakan jauh terdengar, diikuti oleh keheningan yang mencekam. Seluruh lampu di gedung PIN yang terlihat dari celah udara seketika padam. Kota di sekitar mereka gelap gulita.
"Gerak!" perintah Zian.
Mereka keluar dari pipa pendingin dan mendarat di ruang server utama. Kegelapan total. Elara segera berlari menuju terminal akses keamanan. Jari-jarinya menari di atas keyboard dalam kegelapan, hanya mengandalkan memori otot.
"Mengakses sistem Echelon... Memasukkan ID Mayor Elara Vanya... Enkripsi diterima. Membuka pintu lift darurat!"
Klik.
Pintu lift di ujung ruangan terbuka sedikit. Mereka menyelinap masuk tepat saat suara deru generator darurat mulai terdengar. Lampu merah redup menyala, menandakan sistem keamanan sedang dalam mode pemulihan.
"Kita punya sepuluh menit sebelum admin sistem menyadari ada akses ilegal dari database cadangan," kata Elara sambil menekan tombol lantai paling atas—kantor arsip rahasia.
Lift bergerak naik. Di dalam ruang sempit itu, ketegangan fisik antara mereka kembali muncul. Zian berdiri sangat dekat di belakang Elara, tangannya memegang senapan mesin ringan MP7. Elara bisa merasakan napas Zian di tengkuknya.