NovelToon NovelToon
Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Teen School/College / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

​"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
​Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
​Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
​Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
​Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Siapa Pria yang Memberimu Susu Kotak?

Getaran yang sangat hebat itu membuat debu-debu dari langit-langit ruangan berjatuhan menyentuh rambut Gwenola yang sedang bersimpuh ketakutan. Suara logam yang beradu dengan hantaman benda tumpul menciptakan kebisingan yang sangat menyakitkan telinga di dalam lorong rahasia kediaman mewah itu. Xavier tetap berdiri tegak dengan satu tangan memegang senjata api dan tangan lainnya mencengkeram lengan Gwenola agar tetap berada di belakang punggungnya.

"Tetaplah di tempatmu dan jangan berani menoleh sedikit pun ke arah pintu itu," perintah Xavier dengan nada yang sangat penuh dengan otoritas.

Gwenola hanya bisa memejamkan mata sambil memeluk tas sekolah barunya yang kini terasa sangat tidak berarti di tengah ancaman maut. Pintu baja yang sangat tebal itu akhirnya terlepas dari engselnya dengan suara dentuman yang sangat menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam masuk sambil menodongkan moncong senjata mereka ke arah sang pimpinan perusahaan.

"Kalian sangat berani mengganggu ketenanganku di dalam rumahku sendiri!" teriak Xavier dengan sorot mata yang sangat beringas dan mematikan.

Pertempuran singkat terjadi dengan sangat cepat hingga suara letusan senjata api memekakkan telinga Gwenola berkali-kali tanpa henti. Xavier berhasil melumpuhkan penyerang pertama dengan gerakan yang sangat sigap meski bahunya masih terluka sangat parah. Darah musuh menciprat ke arah lantai, menambah aroma anyir yang sangat menyesakkan di dalam ruangan yang kini dipenuhi oleh asap putih tipis.

"Tuan, musuh sudah mundur menuju area taman belakang!" lapor seorang pengawal melalui perangkat suara yang ada di dinding.

Xavier tidak segera mengejar musuh tersebut dan justru berbalik menatap Gwenola yang masih meringkuk di lantai dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan emosinya yang masih meluap-luap akibat serangan mendadak yang sangat membahayakan nyawa mereka. Namun, matanya kembali tertuju pada sisa cairan susu yang mengering di atas seragam sekolah menengah atas milik Gwenola.

"Katakan padaku sekarang juga, siapa pria yang memberimu susu kotak itu sebelum aku kehilangan kesabaranku lagi," tuntut Xavier dengan suara yang sangat dingin.

Gwenola mendongak dengan wajah yang sangat pucat dan mata yang sudah membengkak akibat terlalu banyak menangis sejak tadi. Ia merasa sangat heran karena di tengah serangan musuh yang sangat nyata, Xavier justru masih sangat terobsesi pada masalah sepele. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi saat ia menyadari bahwa kecemburuan Xavier jauh lebih menakutkan daripada peluru musuh yang berterbangan.

"Dia hanyalah teman sekelas bernama Adrian, dia tidak tahu apa-apa tentang pernikahan rahasia kita ini!" seru Gwenola dengan nada yang sangat putus asa.

Xavier mencengkeram rahang Gwenola dengan jari-jarinya yang sangat kuat hingga membuat gadis itu sedikit mengaduh karena rasa perih yang menjalar. Ia seolah ingin menanamkan rasa takut yang sangat mendalam ke dalam jiwa Gwenola agar gadis itu tidak pernah berpaling. Kediaman mewah ini terasa sangat mencekam karena aura posesif yang dipancarkan oleh sang pimpinan perusahaan benar-benar sangat menyesakkan.

"Besok pria bernama Adrian itu akan menghilang dari sekolahmu dan jangan pernah sebut namanya lagi di depanku!" ancam Xavier dengan tatapan yang sangat tajam.

Gwenola menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya yang sangat kuyu dan lelah. Ia merasa sangat bersalah jika harus melibatkan orang lain yang tidak berdosa ke dalam pusaran kegilaan hidupnya bersama Xavier. Namun, ia tahu bahwa setiap perkataan Xavier adalah sebuah perintah yang sangat mutlak dan tidak akan pernah bisa dibantah oleh siapa pun.

"Kumohon jangan sakiti dia, dia orang baik yang hanya ingin membantu siswi yang terlihat sedang kelaparan," rintih Gwenola sambil memegang pergelangan tangan Xavier yang kekar.

Xavier melepaskan cengkeramannya dengan kasar lalu berbalik membelakangi Gwenola untuk membersihkan senjata api miliknya yang mulai terasa panas. Ia tidak memedulikan permohonan istrinya itu dan justru memanggil asisten pribadinya untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap latar belakang Adrian. Rasa benci terhadap pria asing yang mendekati miliknya telah menutupi rasa sakit dari luka fisik yang dideritanya sejak tadi sore.

Malam semakin larut namun ketegangan di dalam rumah tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda sedikit pun bagi penghuninya. Gwenola diminta untuk kembali ke kamarnya dengan pengawalan yang sangat ketat dari dua orang pelayan senior yang nampak sangat tidak bersahabat. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan perasaan yang sangat hancur dan dipenuhi oleh bayangan wajah Adrian yang malang.

"Kenapa hidupku harus berubah menjadi seperti neraka yang sangat indah dan sangat mewah ini?" gumam Gwenola sambil memeluk bantal sutranya yang sangat empuk.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka secara perlahan-lahan dan menampakkan sosok Xavier yang kini sudah mengenakan pakaian tidur sutra berwarna hitam. Pria itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung menuju ke arah tempat tidur di mana Gwenola sedang bersembunyi di balik selimut. Suasana kamar yang luas itu mendadak terasa sangat sempit karena kehadiran sang penguasa bisnis yang sangat dominan tersebut.

"Aku akan memberimu sebuah hukuman agar kau selalu ingat siapa pemilik tunggal atas tubuh dan jiwamu ini," ucap Xavier sambil menarik selimut Gwenola secara paksa.

Gwenola memundurkan langkahnya hingga terpojok di sudut tempat tidur yang sangat besar dengan wajah yang sangat ketakutan dan penuh tanya. Ia melihat Xavier mengeluarkan sebuah kunci kecil yang nampak sangat familiar dari balik sakunya dengan senyuman yang sangat misterius. Pintu kamar kemudian dikunci secara otomatis dari dalam, memutus segala akses bantuan dari luar bagi gadis malang yang sedang gemetar tersebut.

 

1
Unnie
Ellehh, Xavier Xavier
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!