Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah Akbar mengambil barangnya yang sudah ambil Luna lantas tak langsung dipakainya tetapi ia justru berbalik dan mendekat ke arah Luna.
Luna sontak melotot dan refleks mundur seiring Akbar yang berjalan maju. Jarak antara Akbar dan Luna semakin dekat, tatapan mata Akbar yang aneh membuat Luna merasa takut sekaligus khawatir. Punggung Luna pun sampai menyentuh dinding kamar hingga ia hanya bisa berdiri disana dengan otak yang tidak bisa bekerja dengan baik.
Nafas Luna tertahan saat Akbar berdiri tepat di depannya, Luna bahkan bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu dari jarak dua puluh centi. Akbar menundukkan sedikit badannya membuat Luna tanpa sadar menutup kedua mata rapat-rapat.
Deg!
"Kamu yakin tidur disini sendiri?" ucap Akbar dengan santainya sambil memegang rambut Luna yang terurai.
Luna langsung membuka matanya dengar lebar-lebar tak percaya apa yang dikatakan Akbar. aaaaaa.....!!! betapa memalukannya!!
Semburat merah muncul dikedua pipi Luna, sekuat tenaga ia menahan rasa malu yang menjalar hingga ke tulang.
Luna mengumpat dirinya begitu sangat percaya diri dengan sikap Akbar tadi!!
Apa yang mau diharapkannya? Akbar akan menciumnya? Akbar akan memeluknya? Mimpi mu kejauhan Luna...!!
ohh,. tidak kenapa pikirannku begitu memalukan mesum begini?
"Aku akan memakai baju dikamar mandi, kamu tidurlah jika sudah mengantuk. aku tidak akan mengganggu lagi, aku akan tidur di sofa luar." seru Akbar tanpa menunggu jawaban dari Luna, ia langsung masuk kedalam kamar mandi.
Dalam kondisi malu Luna akhirnya membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan pikiran yang masih melayang-layang kejadian tadi.
"Apa yang sebenarnya yang ada dipikiranku ini? kenapa aku sangat berharap lebih? ingat Luna, ia hanya sebatas menghargai satu sama lain di pernikahan ini tanpa ada perasaan lebih kedirimu. sadarkah dirimu luna!!" gumam Luna sambil memejamkan mata dengan memeluk guling.
Sedangkan didalam kamar mandi Akbar tersenyum tipis apa dirinya senang atau hanya perasaan senang karena mengerjai Luna seperti tadi. Ia tahu Luna gugup saat tadi ia mendekati istrinya.
Akbar sengaja berpura-pura akan melakukan sesuatu pada istrinya tadi meski pada akhirnya ia hanya bisa sebatas mengerjainya dan mengambil barang saja. Tak dipungkiri Akbar pun menahan hasrat yang membara didalam jiwa, Luna terlihat menggoda dimatanya hingga pikirannya sedari tadi berputar hanya ada istrinya seorang.
Sepuluh menit kemudian Akbar keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai yang sudah melekat ditubuh kekarnya, ia melihat sekilas istrinya yang sudah tertidur di ranjang. Tak lantas lirikan matanya melihat disamping Luna yang masih kosong tetapi ia yakin Luna pasti hanya ingin tidur sendiri.
Akbar tak memaksa apapun, ia tetap keluar dari kamar dan berjalan kearah sofa panjang. Dibaringkannya tubuh kekarnya tersebut diatas sofa yang tak senyaman alas kasur, ia pun tahu diri dan tak mau banyak menuntut pada istrinya agar tak merepotkan Luna.
Akbar kemudia menutup mata ditengah lampu padam yang mengelilingi seluruh ruang tamu, namun disisi lain Luna kembali membuka matanya ketika Akbar sudah keluar dari kamar beberapa menit yang lalu, sejujurnya Luna tak benar-benar memejamkan matanya sedari tadi ia hanya berpura-pura supaya tak ada kecanggunngan diantara mereka.
Tetapi Luna sangat penasaran, apakah suaminya itu dapat tidur nyenyak diatas sofa panjang itu yang jelas tak ada selimut apalagi cuaca malam ini yang sedang hujan lebat diluar. Sebenarnya kasur yang ia tempati sangatlah luas, tetapi Luna terlalu malu untuk mengajak suaminya tidur bersama. Tapi disatu sisi Luna juga merasa tak tega.
- -
Waktu semakin malam dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam pas, tetapi Luna tetap tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya selalu tertuju pada suaminya.
"Kira-kira Akbar sudah tidur atau belum ya? kenapa aku merasa sangat haus?" gumam Luna sambil menatap arah pintu kamar.
Karena tak bisa tidur dan merasa haus Luna pun bangun dan mengubah posisi menjadi duduk, ia terus memikirkan suaminya di luar sana. Luna merasa kasihan pada lelaki yang berstatus suaminya itu, Akbar baru saja sampai dari perjalanan cukup jauh, suaminya itu tentunya beristirahat dengan tenang dan nyaman.
"Aku sangat haus, lebih baik aku ke dapur sekalian liat Akbar apa ia sudah tidur dengan nyaman apa belum?" tanpa pikir panjang Luna yang kehausan pun keluar dari kamar.
Saat Luna akan membuka pintu rasa bimbang itu hadir kembali memenuhi jiwa Luna, seharusnya ia tak perlu repot-repot memikirkan hal ini toh Akbara sendiri yang datang padanya tanpa Luna minta.
Tetapi sebagai seorang wanita sekaligus istri ia pasti tidak akan memikirkana dirinya sendiri, walalupun Akbar tak pernah melakukan hal sama. Naluri keibuan Luna selalu melekat raganya. Dengan penuh keyakinan akhirnya Luna pun memilih keluar dari kamar untuk melihat suami.
klekk..
Dengan sangat hati-hati Luna membuka pintu agar tak membangunkan Akbar yang nampak tidur disofa ruang tamu.
Dari kejauhan Luna sudah merasa tak tega melihat suaminya, langkah kecil mengiringi Luna melewati sofa yang ditempati Akbar menuju kearah dapur tak jauh tersebut. Luna pun bergegas mengambil segelas air dingin yang berada didalam lemari pendingin yang ada di dapur. Bunyi langkah kaki Luna ternyata terdengar oleh Akbar akan tetapi ia hanya berpura-pura tak mendengarf apapun dan memejamkan matanya.
Tatapan mata Luna terus menatap kearah suaminya, setelah Luna menyelesaikan minumnya ia pu kembali ke kamar tapi ia berhenti tepat dihadapan suaminya dengan hanya menatap Akbar yang masih tertidur. Manik bening Luna berubah sendu saat melihat Akbar yang tertidur dengan posisi merapat agar tak jatuh dari sofa, tangannya pun dilipat di atas dada untuk mengurangi ruang yang tersisa. Kenapa hal sekecilnya ini membuat Luna merasa bersalah? padahal lelaki itu sendiri yang berinisiatif untuk tidur di sofa tanpa Luna suruh. Tapi Luna justru merasa dirinya begitu jahat pada Akbar.
Selang beberapa menit Luna menatap suaminya, ia pun kembali masuk kedalam kamarnya melanjutkan tidurnya karena hari semakin larut dirasanya. pintu kamar Luna kembali tertutup dan mata Akbar pun kembali terbuka lalu melihat kearah kamar yang dihuni Luna lagi.
"Apa yang salah dariku Luna sehingga kamu bisa berbuat sampai sejauh ini, apa kamu akan terus diam dan akan berbicara jika aku yang tidak memulai lebih dulu. Maafkan aku jika membuat dirimu menjadi tak nyaman menjadi istriku." ucap sendu Akbar yang terus menatap arah pintu kamar Luna.
Malam itu pun menjadi malam yang sunyi bagi kedua manusia berbeda jenis dengan ego yang tinggi berada dikamar tersebut. Saling bungkam satu sama lain dengan pemikirannya masing - masing baik itu salah atau benar versi mereka.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦