NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membongkar Korupsi Mantan Bos

Debu sore yang pekat berputar-putar di gang sempit itu, disepuh warna jingga kemerahan dari langit Jakarta yang mulai meredup. Suara makian kasar memantul di antara dinding batako yang berlumut, merobek kedamaian semu lingkungan indekos. Tiga pasang sepatu lars berdebam di atas ubin semen teras yang retak. Bau alkohol murahan dan aroma keringat asin menguar dari tubuh-tubuh kekar berjaket kulit tebal. Mereka berdiri laksana tembok kokoh yang menghimpit jerit ketakutan seorang wanita paruh baya dan anak gadisnya.

“Jangan banyak bacot, Bu! Surat utang ini legal, tanda tangan almarhum laki Ibu ada di sini!” bentak pria bertato ular di lehernya. Suaranya serak dan berat, penuh intimidasi yang sengaja diumbar. Tangannya yang kasar mencengkeram erat kusen pintu kayu yang rapuh hingga terdengar bunyi berderit ringkih.

Lina berdiri pasang badan di depan ibunya yang sudah bersimpuh menahan tangis. Seragam putih-abu-abunya tampak kusut, sisa keringat sepulang sekolah masih menempel di dahi. Tangannya yang gemetar menggenggam erat tali tas kainnya, mencoba mencari secercah keberanian yang tersisa. “Bohong! Ayah nggak pernah pinjam uang sebanyak itu! Kalian sengaja merekayasa bunganya kan? Lepasin ibu gue!” pekik Lina, suaranya melengking namun bergetar hebat di ujung kalimat.

Pria bertato ular itu tertawa hambar, sebuah seringai menjijikkan yang memperlihatkan deretan giginya yang kuning kehitaman. Dua anak buahnya yang bertubuh legam ikut terkekeh, maju selangkah demi selangkah, mempersempit ruang gerak Lina hingga gadis itu terdesak ke sudut tembok yang lembap.

Di ujung gang, di bawah bayang-bayang tiang listrik yang miring, Dika berdiri bergemih. Tangannya masih terbenam di dalam saku celana kainnya yang longgar—sebelah kanan memegangi lembaran cek seratus juta rupiah yang baru saja ia menangkan, sementara mata kirinya yang fana menatap lurus ke depan. Di balik kelopak matanya, Mata Takdir berdenyut perlahan, memancarkan kehangatan tersembunyi yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.

Dunia di sekitar Dika mendadak kehilangan warnanya, berganti menjadi hamparan monokrom abu-abu yang sunyi. Di mata dewa yang terkurung dalam raga fana ini, untaian benang takdir ketiga lintah darat itu terpampang telanjang. Benang-benang hitam pekat sewarna jelaga melilit tubuh mereka, berdenyut dengan energi negatif yang melambangkan kekerasan dan keserakahan yang telah menumpuk bertahun-tahun. Mata Takdir bekerja lebih dalam, membedah struktur anatomi fana mereka, memperlihatkan titik-titik saraf yang redup dan rapuh di area persendian lutut, pergelangan tangan, dan sekat rongga dada.

“Manusia-manusia serakah yang memelihara tabiat iblis,” gema batin Dika mendengus di dalam kesadarannya. Suara batin itu begitu tenang, namun membawa beban wibawa yang sanggup meruntuhkan nyali para jenderal perang di Alam Langit. “Mereka mengira dengan otot-otot besar dan gertakan murahan, mereka bisa menguasai nasib orang lain. Di mataku, garis kehidupan mereka tidak lebih kuat dari selembar benang jaring laba-laba yang rapuh. Cukup satu jentikan, dan seluruh keangkuhan fana ini akan runtuh ke atas tanah.”

Suara batin yang begitu dingin, megah, dan berwibawa itu mendadak menggelegar di dalam kepala Lina. Gadis itu tersentak hebat, matanya yang semula digenangi air mata kepanikan seketika melebar. Rasa dingin yang aneh kembali menjalar di sepanjang tulang belakangnya, membekukan ketakutannya dalam sekejap. Ia menoleh dengan patah-patah ke arah ujung gang, mengenali getaran energi purba yang semalam mengurung kamar kos sempit mereka.

Dika mulai melangkah. Gerakannya lambat, namun setiap tapak kakinya seolah meninggalkan jejak tekanan gaib yang membuat udara sore di gang itu terasa semakin pekat dan berat untuk dihirup.

“Lepaskan tangan kotormu dari wanita itu, manusia fana,” suara Dika mengalir rendah, memecah ketegangan di teras kosan. Kalimatnya pendek, diucapkan tanpa nada, namun entah bagaimana terdengar laksana titah mutlak yang tidak boleh dibantah.

Ketiga preman itu serentak menoleh. Pria bertato ular mengernyitkan alis, menatap Dika dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh penghinaan. Seorang pemuda kurus berkaos biru pudar dengan celana kombor yang sedikit robek di bagian bawah, berani menggertak mereka?

“Siapa lo? Bocah ingusan jangan sok jadi pahlawan di sini kalau nggak mau mampus!” gertak salah satu anak buah preman yang bertubuh paling tinggi, melangkah maju menghampiri Dika sembari melepas papan kayu yang sejak tadi dipegangnya.

Namun, di balik wajah Dika yang sekeras monumen batu kuno, isi kepalanya justru mendadak berputar arah ke jalur yang sepenuhnya konyol.

“Aduh, mampus! Kenapa preman yang badannya kayak kulkas dua pintu itu jalannya ke arah gue sih? Gede banget gila, lengannya sewajah gue! Tenang Dika, tenang... lo itu mantan Kultivator Tertinggi. Jangan kelihatan gemeteran. Tapi asli, ini celana kombor gue longgar banget karetnya, kalau gue salah ambil ancang-ancang tendangan, bisa-biso melorot di depan Lina! Malunya bakal tujuh turunan sampai ke Alam Dewa lagi!”

Lina yang mendengar kepanikan batin Dika yang begitu kontras langsung tertegun di tempatnya. Air matanya berhenti mengalir, bibirnya sedikit terbuka antara ingin menangis karena situasi masih genting, atau meledak tertawa karena kelakuan absurd pikiran pemuda itu. Celana melorot?! Di saat seperti ini dia malah mikirin karet celana?! batin Lina menjerit frustrasi.

Preman berbadan besar itu sudah berdiri tepat di depan Dika, menunduk dengan napas yang memburu bau rokok. Tanpa peringatan, tangan kirinya yang besar melesat maju, berniat mencengkeram kerah baju Dika untuk mengangkatnya.

Di mata manusia awam, gerakan itu sangat cepat dan bertenaga. Namun di bawah pengawasan Mata Takdir, pukulan itu bergerak lambat laksana tetesan air di musim dingin. Dika bahkan tidak perlu menggeser kakinya. Ia hanya memiringkan bahunya beberapa sentimeter ke kiri, membiarkan cengkeraman preman itu luput membelah udara kosong.

Bersamaan dengan gerakan menghindar itu, Dika mengayunkan dua jarinya, membentuk formasi pedang spiritual mini tanpa energi luar, lalu mengetuk pelan titik saraf kelabu di bawah ketiak pria besar itu.

Plak.

Suara ketukan itu terdengar sangat lemah, hampir tak terdengar di antara deru angin sore. Namun, preman berbadan besar itu mendadak mematung. Matanya melotot, seluruh otot di tubuh raksasanya seketika kehilangan daya laksana untaian tali yang diputus paksa. Tanpa sempat mengerang, tubuh kekar itu ambruk ke depan, jatuh berdebam di atas tanah dengan posisi tiarap, lumpuh total tak mampu menggerakkan seujung jari pun.

“Udin! Lo kenapa?! Bangun lo!” teriak pria bertato ular, wajahnya yang semula penuh percaya diri mendadak berubah menjadi tegang melihat anak buah andalannya tumbang hanya dengan sekali sentuh.

“Hahahaha! Berhasil! Teknik ketukan pemutus Qi fana ternyata masih manjur walau tubuh ini cuma punya sisa-sisa energi ampas instan semalam! Rasakan itu, dasar manusia kulkas! Tapi aduh... jari telunjuk gue malah linu banget, kayaknya agak kesleo gara-gara tulang preman itu keras kayak batu kali. Sakit banget demi langit, untung muka gue tetep bisa pasang ekspresi dingin!” ratap batin Dika, sementara tangan kanannya yang berada di dalam saku celana diam-diam memijat jari telunjuknya sendiri dengan gemetaran.

Lina membekap mulutnya sendiri. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Dika menjatuhkan seorang preman besar dalam satu detik dengan wajah yang begitu tenang dan misterius—wajah seorang master beladiri tersembunyi yang tak tersentuh duniawi—namun di dalam kupingnya, suara batin Dika sedang meratapi jari telunjuknya yang kesleo dengan sangat mengenaskan. Perpaduan itu benar-benar merusak seluruh wibawa mistis yang coba dibangun Dika.

Pria bertato ular itu mulai panik. Ia memberi kode kepada anak buahnya yang satu lagi untuk maju bersama. “Sialan, bocah ini pakai dukun! Hajar dia bareng-bareng!”

Kedua preman yang tersisa merangsek maju dari dua arah. Pria bertato ular mencabut sebilah pisau lipat dari balik jaketnya, mengilat tajam memantulkan sisa cahaya senja, sementara rekannya mencoba menerjang pinggang Dika untuk mengunci gerakannya.

Dika menarik napas dalam-dalam. Mata Takdirnya berpendar semakin pekat, garis-garis merah masa depan yang akan terjadi satu detik kemudian terhampar jelas di otaknya. Ia tahu persis ke mana arah mata pisau itu akan diayunkan, dan di mana kaki preman satunya akan menapak.

Dengan satu gerakan memutar yang anggun, Dika menghindar ke kanan. Kaki kirinya bergerak lirik, menyapu tumit belakang preman yang mencoba menerjangnya. Gerakan sapuan itu begitu presisi, memanfaatkan momentum kecepatan lawan sendiri.

Brak!

Preman kedua kehilangan keseimbangan, wajahnya menghantam tiang semen teras indekos hingga mengeluarkan suara benturan yang ngilu, sebelum akhirnya terkulai pingsan di dekat tumpukan ember cuci.

Kini, hanya tersisa pria bertato ular. Tangannya yang memegang pisau mulai gemetar hebat. Aura dingin yang memancar dari sepasang mata emas Dika benar-benar mengunci nyalinya, membuat lututnya terasa lemas seolah sedang berhadapan dengan seekor predator puncak yang lapar.

Dika melangkah maju satu demi satu, memperpendek jarak di antara mereka. “Kertas utang yang kau bawa adalah kepalsuan, dan tangan yang kau gunakan untuk menindas orang lemah hari ini... harus membayar harganya,” ucap Dika, suaranya bergaung berat, memberikan tekanan mental yang luar biasa pada sang lintah darat.

“Aduh, aduh, jangan maju lagi dong, tolong... ini celana gue beneran udah melorot dua senti gara-gara gerakan muter tadi! Kalau gue melangkah sekali lagi agak lebar, ini celana bisa turun ke lutut! Tolong dong pak preman, lo lari aja sekarang atau pingsan sendiri kek, gue udah nggak kuat nahan pinggang celana ini pake tangan di dalem saku!”

Mendengar jeritan batin Dika yang kian histeris menahan celananya, Lina yang sejak tadi menahan napas ketakutan akhirnya tidak bisa membendungnya lagi. Di tengah atmosfer pertarungan yang menegangkan dan menakutkan itu, sebuah tawa kecil tak sengaja lolos dari bibirnya, membuat ibunya yang masih ketakutan menatapnya dengan pandangan heran dan cemas, mengira anak gadisnya sudah gila akibat syok.

Pria bertato ular yang sudah berada di puncak ketakutan psikologis tidak menyadari situasi konyol celana Dika. Melihat Dika yang terus maju dengan tatapan mata emas yang mematikan, mentalnya runtuh sepenuhnya. Ia melemparkan pisau lipatnya ke atas ubin, berlutut dengan kedua tangan terangkat ke atas kepala.

“Ampun, Mas! Ampun! Saya cuma suruhan! Saya nggak bakal balik ke sini lagi, sumpah!” ratap pria bertato ular itu dengan suara serak, wajahnya pucat pasi ketakutan.

Dika berhenti tepat satu langkah di depan preman yang berlutut itu. Ia menunduk, menatapnya dengan keangkuhan seorang calon dewa yang tak tergoyahkan. “Pergi dari sini. Bawa kedua tikus lumpuh ini bersamamu, dan jika bayanganmu kembali mengotori gerbang ini, Mata Takdirku tidak akan lagi memberikan ampunan.”

Tanpa perlu diperintah dua kali, pria bertato ular itu langsung menyeret tubuh kedua temannya yang pingsan dengan susah payah, menjauh dari gang sempit itu secepat yang ia bisa, meninggalkan keheningan senja yang kini mulai merayap naik menggantikan kegaduhan sore.

Dika tetap berdiri tegap, menatap kepergian mereka dengan punggung lurus dan tangan yang masih setia terbenam di dalam saku celananya—berusaha sekuat tenaga menjaga agar celana kainnya tidak melorot jatuh ke atas ubin teras.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!